BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
School Test Time Part 4


__ADS_3

" um... Tapi data ini mengatakan hal yang berbeda dari pernyataan kamu. Yang benar, punya saudara kandung? " bingung Lucky.


" O-oh... Pak Lucky bertanya apa? " sadar Kira.


" Punya saudara sedaging? " ulangnya.


" Tidak ada pak. " jawabnya.


" A-aa begitu. Lalu nama siapa ini, Nana? Siapa dia yang tertera di kartu keluargamu? " ganjil Lucky.


" O-oh... Dia saudara perempuan tiri saya. Kenapa memangnya pak? " tanggap Kira.


" Begitu, 'kan? Ada apa dengannya? Melamun di saat seperti ini? " gumam Lucky agak kesal.


Guru itu menarik napas lalu berkata lagi,


" hushhh... Cukup rumit ya rupanya skenario kehidupan kamu. " ujar Lucky.



" hanya tinggal hidup berdua saja ya? " lanjutnya.


Kira mengangguk.


Tak berlama-lama, Guru itu pun kembali mewawancarai Kira dengan agak cepat untuk mempersingkat waktu. Selesai sudah giliran Kira. Ia beranjak berdiri.


" tunggu tunggu. " tahan Lucky.


Hendak berdiri, Kira terhenti.

__ADS_1


" I-iya? Ada apa pak? " herannya.


" Ambillah benda yang berbentuk kotak itu di dekat hadapan sampingmu. " suruh Lucky sembari sibuk menulis sesuatu.


Gadis tersebut yang nyata keruan kebingungan pun melihat kesana kemari untuk mencari maksud dari ucapan Lucky.


" A-aa... Mohon maaf pak, um... Yang mana ya? " linglung Kira.


" Astaga... Yang benar saja. Itu, yang benda kotak yang berwarna biru. Tidak mungkin kau tidak akan tahu, 'kan? Anak sebawahan kamu saja pasti mengerti. " imbuh Lucky menyahut.


" O-oh... Ini? " tanya Kira lagi seraya mengangkat benda tersebut.


" Hah? " Lucky mendongakkan kepala untuk menoleh.


" eh bukan! Itu tempat pembuangan abu tembakau-Ku! Letakkan kembali! " sangkal Lucky.


" Oh! Mohon maaf. " ucap Kira sigap bertindak.


" in--!! " tunjuk keras Lucky terhenti.


" O-oh... Apakah kantong ini?? " bingung Kira.


" A-aa... Iya begitulah. " sahut Lucky malu sendiri sambil duduk lagi.


" O-oh... Lalu a-artinya? Um... Ingin dikemanakan ini memangnya pak? " gagap Kira.


" Benar tidak tahu?? " kata Lucky seraya menulis kembali.


" ya ampun... Kau ini yah, ambil itu untukmu. "

__ADS_1


" O-oh... Buat saya?? " gugu Kira agak syok.


" Sudahlah cepat kembali, memang tidak melihat bahwa waktu terus berjalan? " pinta Lucky.


" A-aa... I-iya. Terima kasih pak. Saya permisi. " ucap Kira terbingung-bingung sambil membawa benda di atas meja tersebut beranjak pergi.


Saat tiba di depan pintu, mereka yang berdiam hadir di luar ruangan sontak saja terkejut-kejut membelalak melihat Kira keluar membawa sesuatu ditangannya.


" Yu! Yu! Yu! Lihat dia. " syoknya.


" Wah benar-benar penggoda sampah yah rupanya. Persetan! Senjata seperti apa sebenarnya yang sudah ia biuskan kepada Pak Lucky? " dongkolnya murka.


" Sudah?? " tanya Vanya.


" Oh... Iya. " angguknya.


" O-oh... Ini apa? " ujar Vanya balik.


" Um... " gagu Kira seraya melirik ke sekeliling.


Kemudian ia pun dibawa pergi dari sana.


" Ada apa Kira? " tanya Vanya.


" Oh... Bukan apa-apa. " sahutnya.


" Eh?? Apa yang salah denganmu? " tambah bingung Vanya.


Cukup lama berdekatan bersama, pada akhirnya Vanya pergi duluan sebab ada urusan mendadak memanggilnya. Kini Kira ada seorang diri. Melihat situasi sedikit tidak menyamankan, ia memutuskan untuk berniat pergi ke sebuah ruangan yang sebelumnya juga pernah Kira kunjungi. Dalam perjalanan menuju tujuan, nyata memang benar dari awal ia menduga, tak ada sama sekali tercium bau manusiawi di wilayah sana. Masuklah dirinya ke ruangan tersebut. Tujuan sebetulnya Kira ingin berdiam disana, itu karena merasa penasaran tinggi terhadap isi di dalam kantong yang Lucky berikan padanya. Duduk di kursi, lalu Kira membuka.

__ADS_1



" Bekal? " dalam hati Kira berdekup kencang seketika.


__ADS_2