
" Sudah tentu mereka harus lebih dan lebih dan lebih dan lebih banyak belajar dari biasanya. "
Saat itu juga Kira membeku merasa aneh bingung terhadap Jio.
" ada apa? Tidak percaya? Mengapa kau memasang wajah begitu?! Inilah faktanya. " ujar Jio agak kesal.
" Apakah mereka semua tidak melakukan belajar sebelumnya? " sindir Kira.
" Bukan begitu maksud-Ku. Mereka wajib memiliki guru privat yang bertingkat s 10. Disitulah kesempatan emas terjamin adanya dapat dimiliki. Perlu kau ingat juga, mustahil untuk bisa bertemu dengan beliau, karena Pak Wil sudah tiada. Hanya itu satu-satunya harapan yang mereka mungkin punya. " Jio menjelaskan.
......................
Kira merenungi buku-bukunya sambil bertepekur.
" Situasi macam apa sekarang? Mengapa bisa begini? " termangu.
" Tak-tak, tak-tak... " suara detikan jam terdengar jelas di dalam kesunyian kamar Kira.
" Aku tidak menduga ini malah menjadi membrutal menyulitkan, dengan jutaan serangannya yang datang tanpa disangka begini. " lanjut keluh kesah Kira dalam hati.
" jika mereka menyediakan kesempatan, tetapi mengapa malah emas tumbang yang mereka beri kepada kami? Benar-benar dibuat sengaja atau bagaimana ini sebetulnya? " bingung gelisah Kira.
" kenapa dengan mereka itu ya!? " lanjut geramnya.
__ADS_1
Triring-triring... ponsel Kira mengeluarkan bunyi 2 kali.
Sigap ia pun menoleh langsung memeriksa.
" Kira Kira! Pergi ke klub malam ayok! Sekarang aku sedang di rumah Xie, kita pergi bersama-sama! " tulisnya dalam pesan pribadi.
" aku juga mengajak Xie! Sepertinya akan sangat seru pergi bertiga! " lanjutnya.
" Benar tidak bertanya dulu ya? Aneh sekali rupanya. Waktu tadi, teman dari Sundry juga tak menanyakan sama sekali bahwa aku ini sebetulnya lulus atau tidak. " ganjil Kira.
Nampak ia mempaku diam menatap ponselnya. Kemudian, mulai memainkan dengan agak serius. Menggulir dan menggulir.
" Guru privat tingkat s-10 di kota suciko. " tulis Kira di kolom pencarian ponsel.
Tap...
Kira terhenti di sebuah halaman.
" Mr. Arata? " bacanya.
" siapa dia? " terbingung-bingung.
Alhasil rasa ingin tahu serta kelisah ikut menyerta, tak lupa dengan jantung juga terus berdetak kencang di dada Kira.
__ADS_1
Tap...
Melanjutkan penelusuran lebih dalam. Mata terhenti bergerak, tubuh membeku serta wajah mengkerut saking terkejut-kejutnya melihat hasil pencarian ponsel tersebut.
Triring-triring... ponsel bersuara 2 kali.
" Oh tidak bisa ya? Um... Yasudah tidak apa-apa. " ucapnya dalam tulis obrolan.
" Kira! Bagaimana jika besok kita pergi ke sekolah? Bersama? Tidak masalah, itu juga kalo kamu ingin... " imbuhnya.
" Pergi ke sekolah? " Kira mengkerut.
" punya rencana apa memang " balas Kira dalam ponsel.
" Hehe... Bukan apa-apa, hanya sepertinya sedikit membuatku tertarik melihat mereka yang belum berhasil lulus di tahun sekarang ini hehe... Bukankah itu juga menjadikanmu terpikat ingin menonton bersama? " papar Vanya.
Sontak Kira pun bingung juga merasa bertanya-tanya.
" Memang besok sekolah masih berlanjut? Maksudnya bagaimana? Tertarik melihat mereka yang tidak lulus? T-tunggu, aku sama sekali tidak mengerti maksudmu itu apa? "
" Hah? Haha... Hey kamu kenapa Kira? Bolos memerhatikan ya rupanya?? Haha... Tidak mendengar sama sekali pidato yang Pak Lucky itu sampaikan selepas pembagian kelulusan tadi ya? " olok-olok Vanya tergelak.
__ADS_1
" jadi begini, izinkan aku mengulanginya. Tadi Pak Lucky memberitahukan, diantara para siswa-siswi yang tidak lulus diperintahkan untuk datang dikeesokan harinya. Aku juga tidak tahu mereka akan diperlakukan apa, tapi pasti sepertinya sedikit membuatku tertarik untuk melihat. Umm... Lebih tepatnya, benar-benar penasaran tinggi tingkat tower! Bagaimana? Ingin pergi atau tidak? " beber Vanya.