BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Wild Night #2


__ADS_3

Jelas sekali Kira terperanjat mata membelalak menyaksikan kecelakaan terjadi di hadapan-Nya.


Tiba-tiba saja ada sebuah tangan merangkul bahu Kira spontan ia langsung menoleh, terperanjatlah ia melihat yang berada disamping-Nya itu adalah Je lelaki tadi yang mengganggu, keruan saja sigap melepaskan diri menjauh dari-Nya. Rasa takut yang tak biasa luar biasa besar datang kembali menghantam. Wajah menampakkan khawatir juga resah melihat laki-laki itu datang lagi.


" Ada apa? Mengapa terkejut? " tanya-Nya.


Tentu Kira tak menanggapi omongan darinya dan terus menatap tajam risih terhadap Je. Ia malah tersenyum seraya berujar.


" kau baik-baik saja, 'kan? Serangan itu sama sekali tak melukai tubuhmu, 'kan? Ya... sudah aku duga bahwa dia akan memelihara-Mu karena hal itu aku sama sekali tidak ragu-ragu melepas kendaraan tadi, meski begitu rasa cemas terhadap dirimu tentu ada. Juga... aku berpikir matang semua pasti akan baik-baik saja sebab ada dia di sekitar-Mu. "


Kira tak mengacuhkan ricauan darinya masih terus di posisi yang sama.


" berhenti melihat-Ku dengan tatapan seperti itu. Ayo kita pulang bersama. Di luar dingin, berteduhlah denganku untuk mencari kehangatan bersama. " ajaknya nada lembut suara agak besar.


Tanpa pikir panjang Kira pun langsung melarikan diri cepat menjauh dari tempatnya.


" mengapa dia menyukai sekali permainan kucing-kucingan? " keluhnya tersenyum.


" Tap tap tap tap... " Kira berlari cepat.


Terlihat dia sudah lumayan jauh meninggalkan tempat tersebut. Merasa masih belum cukup aman dan berjaga-jaga takut Je masih dalam posisi pengejaran. Ia pun memutuskan untuk bersembunyi sembari duduk terlebih dahulu sudah sejauh mana ia berupaya apakah berhasil kabur atau masih terancam. Engah-engah Kira sampai terdengar jelas sekali diiringi detukan jantung-Nya yang juga bergerak cepat sangat.


Cukup lama waktu berjalan, ia menoleh sedikit ke arah sisi belakang.


" Huuuh... " hembus lega Kira menarik napas.


Sekonyong-konyong hal yang sangat mengejutkan diluar perdugaan tiba, ada yang memegang tangan Kira dari samping spontan langsung melihat dan ternyata eh ternyata, Je daritadi sudah berada disana duduk bersampingan bersama dengan Kira tapi hal itu sama sekali tidak disadari olehnya. Keruan ia langsung menjauh ekspresi wajah sangat terperanjat.


" Uh!! " terkejut-kejut beranjak berdiri.


Hendak berlari lagi, tetapi Je sigap menahan keras tangan Kira.


" lepas lepas lepas! " panik Kira meronta-ronta.


" Diam!!! " lantangnya berteriak.


Saking menggelegar-Nya bentakan dari Je hingga mampu membuat Kira terkaku mendiam.


" aku sudah bual dengan tingkah konyol yang daritadi kau lakukan! Ini lebih merepotkan dari yang aku kira, benar-benar membuang waktu. " jengkel-Nya marah seraya menggenggam kuat tangan Kira.


" tenanglah, aku juga mengetahui bagaimana bersikap lembut kepada wanita, tapi jika kau yang malah bertingkah sebaliknya aku peringati! Akan melebihi sikap yang kau berikan kepadaku! " ketusnya.

__ADS_1


" alangkah lebih baiknya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri dibandingkan orang lain. " lanjut ucapnya.


" Buk!! " meninju.


Siapa sangka ternyata Anju yang baru saja dihancurkan bangkit lagi menendang kuat punggung Je hingga jatuh terpental cukup jauh dan langsung terbentang terhembas menelentang di atas tanah. Tak lama kemudian Je bangun seketika dan berdiri tegak tersenyum melihat ke arahnya.


" Jangan terburu-buru begitulah... aku sama sekali belum melempar sepatah kata apapun kepadamu, ayolah... kita bisa berkenalan lebih dulu? " kelakar Anju mengolok-olok.


Je lalu berjalan menghampiri Anju, mereka berdua berhadapan.


" Ku-beri kau kesempatan untuk pergi dengan keadaan yang sekarang. " ujar Je.


Sontak itu menjadi bahan tawaan Anju.


" Haha... apa itu? Dari kalimat yang kau lontarkan baru saja... seperti-Nya itu ungkapan keputus asaan, sangat tidak asing di telinga-Ku ini. " jawab Anju menertawakan.


" Aku bersungguh-sungguh. " ringkasnya dengan tatapan dingin sinis juga tajam. " peringat Je.


" Aku sama sekali tidak merasa seperti yang kau pikirkan, aku mengenal baik kau ini termasuk jenis lawan seperti apa, pengalaman-Ku dalam hal ini bukan sekali atau dua kali, kau dengar? perlu aku ingatkan-- " ricaunya terhenti.


" Buk!! " meninju keras.


" Banyak mulut! " ujar Je beriringan menghajar.


Kira terkejut juga panik gelisah terhadap kondisi Anju takut akan sesuatu yang terjadi melebihi tragedi sebelumnya. Tak lama laki-laki itu juga bangkit lagi. Siapa menduga tanpa berselang waktu Je kembali menghadapi dan menghantam terus-menerus kepada-Nya, Anju pun berhasil menahan tangan si penyerang lalu tanpa pikir panjang langsung menangkis melawan-Nya, kini posisi berpindah tempat Anju berada di atas melumpuhkan Je dan terus berulang bergiliran. Nampaknya ketangkasan juga kekuatan mereka seimbang. Sudah terdengar jelas engahan mendalam dari paru-paru keluar melalui mulut sebab rasa letih payah-Nya mereka saling menghadapi merebut celah untuk menggapai kemenangan. Merasa sudah jemu bosan dengan persaingan Je berlari cepat ke arahnya, melihat tindakan tersebut pun sontak membuat perasaan Anju juga ikut meluap, sayang diluar perkiraan Je pas sudah berada di hadapan Anju ia cekat menyisi berpindah posisi ke arah lain hingga hal itu tentu peluang emas bagi Je untuk melumpuhkan-Nya.


" Jleb... Jleb... Jleb... " suara tertusuk.


" Akh! " erang-Nya.


Je menusuk di bagian bahu Anju secara bertubi-tubi seraya menendang badannya hingga akhirnya ia jatuh berguling ke bawah.


" argh! " rintih Anju bersuara pelan.


" sialan! Saking terlalu fokus juga cukup kesulitan-Nya aku berkelahi dengannya sampai tidak memperhatikan hal yang lain-Nya. Dia adalah gerombolan pengacau tentu benda semacam ini sangat lazim pasti selalu dibawa-bawa tidak jauh dari diri mereka. " gerutuannya dalam hati.


Benda kecil seperti itu bukanlah halangan untuk Anju menyerah, ia bangkit kembali meski sebagian tubuhnya sudah dipenuhi memar juga darah yang baru saja bercucuran banyak di bahunya tersebut. Anju meregangkan kedua tangannya seraya tersenyum tersengih, raut wajah juga tingkah-Nya terlihat seperti tidak terjadi apa-apa yang menimpa-Nya baru saja.


Kira yang menyaksikan daritadi jelas mulai merasa khawatir takut akan kondisinya Anju saat ini. Akhir pun ia berupaya untuk membantu dengan cara usahanya sendiri. Ia memainkan layar ponsel melihat siapa yang dapat dihubungi dipercaya bisa menyelesaikan masalah ini.


" Apa sebaiknya menelpon polisi saja? " pikirnya.

__ADS_1


Niat disangkal seketika oleh dirinya sendiri.


" eh tidak-tidak! Jika dilihat-lihat kembali pertarungan antara mereka seperti sepasang geng motor liar sekali, akan sangat merepotkan bagi Anju nanti, tentu aku juga akan terlibat.


Menggulir terus menggulir, jempol tangan Kira tertahan melihat kontak bernama Xie, merasa sudah tak ada pilihan, keadaan juga mendesak sangat, menggerahkan hasil pun berkeputusan menghubungi-Nya.


" Pecundang yang sebetulnya mereka yang bergantung kekuatan kepada benda-benda, aku sangat tercengang baru mengetahui bahwa kau berpegang hidup ke barang sekecil ini? Haha... hey... ayolah, jangan menjadi orang yang tidak berguna. " goda Anju memanas-manasi agar menimbulkan luapan amarah di lawannya tersebut sembari melepaskan benda tajam yang tertancap di tubuhnya itu.


" Tenanglah, tidak perlu merasa panik begitu dengan sampah itu, senjata milik-Ku yang sebenarnya sudah ada di dalam dirimu, mereka juga sedang bekerja keras mengalir dalam darahmu agar menyebar menyeluruh. " ucap Je tersenyum licik.


Seketika Anju kebingungan merasa ganjil dengan apa yang baru saja diucapkan Je. Sekonyong-konyong,


" Celaka! Sial! Tanganku secara perlahan mati rasa, pisau itu... brengsek! Ternyata ia juga meletakkan racun di kilauan senjata itu. " gumam Anju mulai merasa khawatir panik.


" Bagaimana? Ingin sudahi saja? " ujar Je mengejek.


" Aku merasa tidak asing dengan rasa kekukuhan racun ini, akan menyebar dengan cepat jika banyak bergerak! aku akan mati. " gerutusnya dalam benak hati Anju.


" Hehe... " geli hati Je mengolok-olok.


Tak lama mengkaku, Anju akhirnya memutuskan mengambil sabuk pinggang-Nya lalu bergegas-gegas mengikat benda tersebut di bahu bagian atasnya dengan tarikan begitu kencang sekali, setidaknya untuk memperlambat racun itu bekerja.


" Waktu menyingkat, akan mati sia-sia jika melanjutkan menghadapi pria ini. Aku hanya perlu menghindar darinya saat ini, lalu bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyelamatkan nyawaku. Dan tentunya... juga sembari membawa wanita itu. " rancangan-Nya dalam hati.


Anju berlari cepat menghampiri Je untuk melawan lagi.


" Buk, dhuak! " saling meninju.


Nampak disini Anju benar-benar mengenaskan sukar bergaduh dengan Je.


" Mati kau!!! " lantang-Nya.


" Bruk... " Anju kalah telak terbaring di tanah berposisi tengkurap.


Terlihat ia tak bergerak sedikit pun usai jatuh dihantam. Je berjalan perlahan menghampiri, lalu tanpa dipikir ia menginjak kepala Anju.


" Ouch!... " menahan kesakitan.


Kekhawatiran menerjang Kira langsung, tangan ia ikut bergetar sebab rasa takut yang mencekam dirinya.


" Aku sudah memberitahu-Mu sejak awal. Mengapa manusia akhir-akhir ini diberi perilaku baik membantah? dan malah menyuruh mereka untuk berbuat buas. Aaahh... padahal perlu diketahui juga, tentu itu bukanlah keinginan mereka sendiri ternyata. " ejek Je menyindir serta menekan kuat kakinya yang berada di kepala Anju.

__ADS_1


Sudah terlihat sekali darah mulai terlihat dibagian hidung juga Anju seketika batuk tak biasa mengeluarkan darah, wajah-Nya juga sangat memilukan untuk dilihat.


Jantung Kira berdegup kencang, keringat dingin membasahi penuh sekujur tubuhnya terutama di bagian muka.


__ADS_2