
Kira hanya diam serta menatap tajam. Xie menceritakan waktu ia bertemu pertama kali dengan Kira.
" dia kakak yang tidak berguna bukan, aku tahu bahwa ia juga mengetahui tentang dasar kota ini. Sepenuhnya dialah bibit masalah dalam kehidupanmu bukan? " goda Xie.
" Jangan pernah mendatangiku lagi. Jika terus begitu, aku akan benar-benar menjatuhkan diriku sendiri. " ringkas Kira langsung pergi meninggalkan Xie.
Siapa duga ternyata keberadaannya mereka daritadi sudah diawasi oleh Lucky hingga sampai disana. Melihat kejadian yang menimpa Xie antara Kira pun, Lucky tersengih senang memantau tidak jauh darisana, ia berpura-pura menjadi seorang pelanggan di sebuah resto.
Kira tiba di rumah dan masuk ke dalam, saat hendak menutup pintu ia bermenung sejenak, lantaran memikirkan hal yang sudah terjadi sebelumnya.
" mengapa semakin tambah dan bertambahnya waktu, lingkungan ini semakin hari semakin jauh dari yang aku bayangkan. Sejujurnya ada apa dengannya, sebelum itu aku tidak pernah melihat sikap dia begitu, sungguh! Aku sangat terkejut dengan perubahannya sekarang. " gumam Kira.
" Darimana? " gema seseorang bertanya.
" Uh! " kejut sangat Kira sigap menoleh ke belakang.
" June Sin! Ah! Aku kira orang lain menerobos masuk kemari. " ujar Kira agak kesal.
Laki-laki tersenyum. Seketika ia tersadar kembali dan melirik pakaian yang dikenakan Kira saat ini.
" Kamu darimana? Dan... mengapa bisa masih memakai seragam sekolah? Bukankah tadi sudah ganti baju? Aku merasa begitu. " ucap June Sin ganjil hati.
" Oh! " gugup panik.
Alhasil Kira mengkaku lidah.
__ADS_1
" Diam? " kata June Sin.
Masih tidak ada sahutan darinya sebab rasa bingung harus menjelaskan mulai darimana.
" sudah pasti telah terjadi sesuatu denganmu tadi. " duga June Sin.
Nampak gadis itu masih termenung. Tak lama juga ia langsung buka mulut menjelaskan.
" June Sin. " ucapnya wajah muram.
" aku mengira kamu tidak perlu membahas hal ini lagi. " ungkap Kira mensendat-sendat.
" kamu juga sudah mengetahuinya bukan? " lanjut.
" Hah? " bingung June Sin.
Mendabak telepon berdering.
" S..selamat malam Ju..june Sin. " sapa orang itu di dalam telepon gugup.
" Oh! Iya selamat malam " sahut June Sin.
" Te...terima kasih. bagaimana? Apakah... aku membangunkan malam-Mu? " imbuh cakapnya.
" Oh! Tentu saja tidak. Maaf sebelum itu... Siapa yang sedang berbicara dengan saya ini? " tanya-Nya.
" Oh... " ucap pelan orang tersebut kecewa hati.
__ADS_1
Sekonyong-konyong ia malah menutup telepon June Sin.
" Kenapa dengannya? " bingung June Sin.
" Ponsel baru? " tanya Kira.
" Oh! Benar. Aku baru saja membeli ini saat diperjalanan pulang tadi. " jawab June Sin.
" Apa ada masalah menimpa-Mu di tempat kerja? " ujar Kira lagi.
" Sulit untuk bisa Ku-ungkapkan keluh kesah ini kepadamu, tidak bisa dibohongi, sepertinya memang benar sesuai dengan perkataanmu. " sahut June Sin.
" ada satu keluarga yang menyewa resto malam tadi, sepertinya mereka tengah melakukan sebuah pesta untuk merayakan hari tunangan anak mereka. Sangat melelahkan sungguh, saking repotnya itu dilakukan, hingga-hingga aku kehilangan ponsel milik-Ku. " imbuh-Nya.
" Apakah begitu. " Kira susah hati.
" I...iya. " sahutnya. kebingungan.
" June Sin, siapa yang menduga ternyata pak Lucky masih mengganggu-Ku sampai sejauh ini. Aku sempat menghubungi-Mu untuk memberitahukan, tapi nyatanya takdir tidak merestui kita. " buka Kira.
" Apa maksudnya itu? Apa lagi yang telah terjadi sekarang? " menyeringai.
" Aku juga mengira bahwa ia mungkin hanya memberiku ancang-ancang saja tapi nyatanya tidak, seseorang telah datang kesini tadi dan memecahkan jendela kaca di kamarku itu. Sulit Ku-duga, selembar kertas kembali tiba untuk mengingatkan agar aku tetap bertemu dengannya juga. " jelasnya.
" Bagaimana mungkin? " gelisah.
Terlihat dari wajah June Sin mulai merasakan kekhawatiran lagi.
__ADS_1
" aku sudah memastikan itu bahwa mereka tidak akan pernah mengganggu-Mu lagi. " imbuh-Nya.
" Bagaimana kamu bisa menjamin hal itu? " tanya Kira.