BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode 17


__ADS_3

"Haha," girang Lucky.


"Masuk ke sana," suruhnya sambil menunjuk.


Kira menoleh ke arah yang ditunjuk dan terdiam.


"Mungkin ruangannya lumayan kotor, tapi saya yakin bahwa kamu bisa melakukannya dengan baik, bukan?" lanjut Lucky.


Kira mengangguk kembali.


"Iya Pak. Permisi," ucap Kira pergi masuk ke dalam.


"Lakukan dengan benar ya? Berbohong itu sikap yang buruk, kerjakan sebaik mungkin. Cepat juga, karena waktu untuk kamu masuk kembali ke dalam kelas tidak banyak," peringat Lucky di depan pintu.


Kira mulai tugasnya, memindahkan barang-barang terlebih dahulu keluar dari ruangan. Ia mulai menyapu, sebelum itu, Kira melirik sejenak kepada Lucky akan ekspresinya ketakutan. Ia pun pergi meninggalkan Kira seorang diri.


Lama waktu berjalan, dia mampu menyelesaikan pekerjaannya hanya saja, baru satu ruangan dengan waktu sesingkat itu bisa terselesaikan. Kira mengangkut kembali barang-barang yang dikeluarkan tadi untuk dibawa masuk ke dalam.


Tertinggal satu barang lagi untuk disimpan, hendak meletakkan tiba-tiba saja tanpa diduga ada seseorang yang datang mendabak langsung memeluk Kira dari belakang. Hal itu membuat Kira gelisah ketakutan, tapi ia berusaha tetap tenang dan berkata.


"Anu... Maaf? Ada apa ini?" gemetar risih.


"Kira," panggilnya membisik di dekat telinga.

__ADS_1


Setelah mendengar suaranya, jelas ia merasa tidak asing akan panggilan itu.


"Xie?" syoknya memanggil.


Sekonyong-konyong Xie malah menyentuh bagian paha Kira dan perlahan mengangkat rok miliknya tersebut, seketika juga Kira menyangkal.


"Tunggu, apa ini? Hei, ada apa denganmu? Lepaskan tolong!" bantahnya sambil menahan-nahan rok agar tidak terangkat ke atas.


Kemudian, Xie mendorong diri serta menempelkan tubuh Kira ke tembok, alhasil mereka berdua berdempetan seraya berpelukan karena tekanan keras dari Xie, sehingga tidak mampu membuat Kira lepas.


"Apa yang kau lakukan?! Lepas! Mengapa kamu ini??" imbuh Kira panik meronta-ronta melepaskan diri.


"Tenanglah Kira, jika kamu terus begini maka aku akan melebihi dari sikapmu, bahkan diluar keinginanmu. Dengarkan aku saat ini, apakah kamu masih menganggap dirimu penting? Diam dan dengar saja. Tidak ingin kehilangan kendali sekarang? Mohon agar tetap tenang agar aku masih mampu mengekang-Nya," desahnya serta napas berat.


Kira perlahan anteng meski gemetar ketakutan beriringan dengannya. Engah-engah Xie juga ikut memeluk. Setelah saling bertenang, lalu Xie memegang kedua pipi milik Kira dan mengelus-elus lembut perlahan. Tiba-tiba Xie melekatkan bibirnya dengan Kira.


Kira terpaku sangat saat Xie melakukan hal tersebut. Terlihat jelas air mata berkaca-kaca di kedua alat penglihatannya Kira.


Berhenti sudah Xie bertingkah, ia perlahan melihat kembali wajah Kira. Mereka mempaku. Mendabak sesuatu mengenai kepala Xie, terasa seperti sebuah kepalan kertas yang dilempar.


Ia berbalik dan ternyata memang benar ada satu orang pria yang tengah anteng dari tadi berdiam di dekat pintu, orang tersebut tak lain adalah Lucky.


"Hebat sekali kamu ini ternyata. Tidak apa-apa, lanjutkan saja," olok-olok Lucky.

__ADS_1


Guru itu pun langsung menutup pintu ruangan tersebut. Tiba-tiba saja hal yang sangat mengejutkan bagi Xie, datangnya kepala sekolah menghampiri Lucky di luar ruangan, jelas sekali bisa dilihat dari dalam kaca ruangan itu.


Ia pun bergegas pergi dengan memegang tangan Kira untuk dibawa pergi agar tidak dapat diketahui. Tapi siapa sangka saat Xie mengajaknya, Kira masih terdiam terpaku di tempat, terlihat seperti orang yang hilang kesadaran. Karena melihat Lucky juga kepala sekolah itu berjalan masuk ke dalam, sontak saja Xie lekas pergi bersembunyi di ruangan itu.


Terdengar suara pintu dibuka. Benar saja mereka masuk.


"Sangat bagus, bersih," ujar Kepala Sekolah itu sembari melihat kesana kemari.


"Oh! Apakah dia yang melakukan semua ini Lucky?" kejutnya lagi.


Lucky mengangguk.


"Sendiri?" lanjut ucap Kepala Sekolah.


"Sepertinya dia memang melakukannya Pak," sahut Lucky.


"Hei, kamu!" panggil Lucky.


Kira masih tetap diam dalam posisinya. Tak ada jawaban, sehingga membuat mereka kebingungan. Lucky menghampiri, dan mereka saling berhadapan.


"Semuanya sudah selesai?" lirih Lucky bertanya di hadapan Kira.


Setelah mendengar suara yang berbeda dari sebelumnya, Kira pun tersadar. Terkejutnya ia melihat seseorang yang sudah berdiri di depannya itu.

__ADS_1



"Oh, maaf. Ada apa, Pak?" kelisahnya.


__ADS_2