
" Tidak perlu mencemaskan-Nya, itu akan menjadi urusan-Ku. Tenang saja, meski rasanya sulit untuk menghadapi... tapi tolong percayalah padaku. " tersenyum.
Kira menatap lurus kepada June Sin dengan perasaan campur aduk, rasa tidak nyaman, khawatir, terharu sekalipun rasa senang sedih bahagia juga hadir di dalam benaknya.
" Aku akan berusaha lebih keras lagi agar tidak terlalu membebani-Mu. " ucap Kira tulus dari hati.
Mereka saling tersengih manis.
...----------------...
" Kreet... " suara kursi ditarik.
Xie duduk di kursi meja makan, sontak terkejut dan mempaku, kemudian berucap.
" Kamu membuat makanan hanya untuk dirimu sendiri? "
" O...oh! Benar, aku sangat minta maaf karena akhir-akhir ini aku merasa letih. Masak sendiri tidak apa-apa? " sahut Vanya.
Xie sejenak tak menyahut lalu berkata lagi.
" Mey mana? Belum bangun? "
" Kak Mey sudah bangun dari pagi tadi, sebab mempunyai urusan tergesa-gesa dengan pak Lucky akhir pun langsung pergi begitu saja. " jawab Vanya.
" Dia? " ucap pelan Xie agak syok.
__ADS_1
" bagaimana kamu bisa mengetahui Mey punya urusan dengan pria itu? " tanya Xie lagi.
" Aku sempat bertanya menahan saat Kak Mey hendak membuka pintu meski menjawab dengan buru-buru sekali. " katanya.
Xie terdiam tak lama, lalu ia berdiri dari kursinya sembari berucap.
" Aku ingin memakan roti lapis yang ada di kulkas saja. " berjalan ke arah lemari es.
" Eh? Euuu... tapi menurutku itu buruk, mengapa tidak makan yang lain saja? Roti lapisnya kurang aman pendapat-Ku untuk bisa di konsumsi. " cegah Vanya.
" Tidak mengapa, makanan tetaplah makanan. " sahut Xie sembari duduk kembali.
Mereka pun makan bersama
Xie memerhatikan Vanya, merasa ingin tahu ia pun bertanya untuk memastikan.
Seketika kunyahan makan Vanya terhenti dan mempaku badan. Xie langsung berucap.
" tentu. " kata Xie langsung lanjut makan lagi.
Vanya pun langsung sedikit tertawa akan respons-Nya dengan pernyataan yang dilontarkan Xie baru saja.
" Ahaha... Maaf, tapi sungguh! aku bisa melihat isi dari amplop itu karena ketidak sengajaan. "
" Bagaimana bisa dikatakan seperti itu? " Xie mengolok-olok.
__ADS_1
" Euuu... i...itu karena... ter...tersenggol, lututku menyenggol kursi hingga semua benda itu berjatuhan. " jawab Vanya menggagap panik.
Keruan Xie merasa geli hati dan tersengih.
" Tentu, untuk hal itu mungkin masih bisa aku katakan baiklah. Perlu diingat, tapi lain kali aku tidak bisa mengizinkan-Mu membuka barang apapun itu meski tanpa adanya pengaman, jangan biarkan dirimu tahu sebelum aku lebih dulu mengetahui-Nya, dan... aku berharap kamu paham. " tegas Xie lembut suara.
" Ahaha... Tentu saja Xie, bagaimana bisa aku tidak mengerti, hahaha. " gelak-Nya tersindir.
" oh iya Xie, jika aku boleh tahu... mengapa bisa kamu bertingkah begitu di dalam... gambar itu? " tanya Vanya agak canggung.
" Oh! " jawab spontan-Nya.
" dia menggoda-Ku. Entah punya tujuan apa sebenarnya orang yang mengirimkan barang itu kepada-Ku. " imbuh Xie.
Vanya terdiam sejenang lantaran rasa kaget, lalu berkata.
" Benarkah? tapi... Meski benar pun menurut-Ku... tentang hal itu sangat mustahil untuk bisa kamu lakukan? " bertanya lagi sedikit mengkaku lidah.
" Aku juga berpikir begitu. " sahut Xie.
" Apa yang kamu katakan. " ujar Vanya geli hati tertawa.
Melanjutkan makan, menyibukkan masing-masing tak ada yang membuka percakapan kembali tapi itu tak lama, Xie menyadari tiba-tiba berucap di tengah-tengah sedang makan.
" Aku perlu sementara waktu berada didekat-Nya, lantaran ia diincar oleh beberapa orang. "
__ADS_1
Keruan saja Vanya langsung terperanjat setelah mendengar lekas bertanya.