BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
School Test Time Part 6


__ADS_3

" Saya sama sekali tidak membutuhkannya. " tahan Kira sembari menyodorkan bingkisan tersebut.


Lucky menengok.


" Buang saja jika tidak perlukan. " pungkasnya berjalan.


Nampak Guru itu benar-benar tak menghiraukan tampikan darinya. Kira merenungi. Kemudian saja datang seseorang yang masuk ke dalam ruangan.


" Kira. " panggilnya.


Seketika ia pun terbangun.


" O-oh... Anika? A-apa yang sedang kamu lakukan disini? "


" Aku kesini itu karena kamu. Kira! Wah! Sulit Ku-percayai kau bisa-bisanya bersikap kasar begitu kepada Pak Lucky?! " cengangnya ternganga.


" Apakah kamu berpikir begitu? " tanya Kira.


" Tapi... Apa yang membuatmu tidak menyukai kepada Pak Lucky memangnya? " ingin tahu Anika.


" Aku sama sekali tidak pernah berucap, sangat keberatan akan adanya Pak Lucky hadir hidup di dunia ini. " jawab Kira.


" Um... Betulkah? Aku salah ya? Maaf... " malu sendirinya tersengih.

__ADS_1


" Aku tidak beranggapan kamu salah, tapi ya mungkin memang begitu jadinya. " ucap Kira.


Entah sebab apa Anika malah menatap terus ke arah barang pemberian dari Lucky yang tergeletak diatas meja. Ia merasa terusik pun menyangkal.


" a-ada apa? Mengapa bertingkah seperti itu? " ganjil Kira.


" Lalu... Aku juga melihat bagaimana cara kau menanggapi hadiah pemberian dari orang lain, bukankah itu sedikit menggelikan? Hehe... Maksudnya, sudah memang jelas agak tidak mengenakkan hati jika menerima respons reaksi yang kamu berikan tadi begitu? " sindir Anika merasa aneh terhadap Kira.


" O-oh... Anika benar terpikir ya rupanya. Bukankah seharusnya aku yang merasa bingung terhadapmu? Sangatlah eksentrik seorang Guru memberikan sesuatu kepada muridnya? Apalagi, menurutku perkara seperti ini itu, tentu jelas pribadi untuk diperhatikan. " jawabnya.


" Wah... Tidak aku sangka, ternyata pemikiran kita berbeda yah? Tapi hal begitu sudah sangat lazim dilakukan. " cengang Anika.


Kira diam mencermati obrolan lawannya.


" huh... Jadi ingat di waktu pertama kali aku mendapatkan hadiah dari Pak Lucky hari lalu. Sangat manis untuk bisa menerima aaahh... " geram sendirinya.


Seketika Kira tersadar,


" Hah?? P-pak Lucky juga pernah memberikan sesuatu kepadamu? " kejutnya.


" Sama seperti yang ia lakukan terhadapmu sekarang. Dan... Terutama kau itu orang asing baru-baru ini, aku pasti juga menduga bahwa Kira akan merasa terus diawasi oleh Pak Lucky benar, 'kan? " ujarnya lagi.


" laki-laki disini memang terasa gila dengan barang-barang baru. Itu yang aku rasakan di waktu masih berada dalam posisimu seperti sekarang ini. " lanjut bebernya.

__ADS_1


Jelas ocehan darinya sungguh-sungguh membuat Kira terkejut-kejut mendengar.


Merenung serius akan rasa ketidakpercayaan-Nya.



" Dan pada akhirnya, ketidakpahaman serta keganjilan dalam hidup ini memanglah akan bertambah kuat kencang berputar. " renungnya.


" kapan sebetulnya badai bisa berhenti? Setidaknya buat diri mereka mengisi tenaga dulu gitu. Tidak ada rasa lelah yah memang? " lanjut batinnya.


Setelah cukup lama mengobrol akhir pun tiba.


" Ayo kita melihat situasinya sekarang, untuk memastikan sudah usai atau belum pembagian kartu peserta ujiannya. " ajak Anika.


" Um... Baiklah. " sahut Kira.


" Eh tidak tidak! Sebaiknya tunggu saja lebih dulu disini ya? " cegahnya.


" Eh mengapa? Kita pergi bersama saja, aku juga memang ingin jalan kesana. " bingung Kira.


" Benar, kita akan pergi bersama, tapi tolong tunggu disini lebih dulu. Itu karena aku diutus Bu Mey untuk menyusul Vanya. Mungkin beberapa menit. Aku peringatkan kita harus berangkat bersama ke ruangannya Pak Lucky nanti ya. Jadi tolong untuk tetap menunggu! " ucap Anika lekas bersiap.


Keluarlah dirinya meninggalkan Kira disana. Kemudian ia kembali merenungi makanan yang terhampar di meja tersebut. Lalu meraih, dan melihat sarapan itu dengan serius. Kira pun duduk di kursi. Dan pada akhirnya, ia menyantap hidangan itu juga.

__ADS_1


__ADS_2