
" A-apa maksudnya itu? Tidak mungkinlah terjadi, bagaimana kamu bisa berkesimpulan begitu? " sangkal Kira mengkerut.
" Apa yang kamu pikirkan sebenarnya Kira? Jangan pernah berkata bahwa aku ini orang bodoh... Aku tidak akan bermain-main jika berbicara sudah masuk sedalam ini. " menatap tidak suka.
" A-aa a-aku tidak berucap begitu... Um... " panik Kira tergagap-gagap.
" um... Apakah perkataanmu itu benar? Tapi aku sama sekali belum pernah mendengar dari pihak-- " ujar Kira dihentikan.
" Untuk apa??! Buat apa mereka melakukannya? Aku tanyakan itu padamu? " selang Jio.
Seketika juga gadis tersebut terdiam.
" Yasudahlah kita makan bersama saja... Menurutku bukanlah hal yang penting untuk dibahas. Siapa juga yang peduli. " pungkas Jio.
" benar ya, rasanya sedikit tiak enak ternyata jika makan sambil berbicara. " imbuhnya.
__ADS_1
Kira yang terdiam hanya mengindahkan lelaki itu, sontak ikut memulai menyantap hidangannya. Waktu terus bergerak, nyata Jio nampak seperti tak memulai percakapan kembali.
Usai sudah akhirnya mereka pun pergi pulang. Jalan bersama-sama di tengah terangnya cahaya rembulan.
Kira yang demikian merasa tak nyaman hati dengan peristiwa sebelumnya yang menimpa mereka berdua, sontak memberanikan diri untuk membuka perbincangan.
" Um... Anu, aku... Benar-benar minta maaf ya padamu. Tolong dilupakan saja. " ungkapnya tergugu-gugu.
" Bukanlah hal yang mudah untuk aku tetap bisa bertinggal di sekolah itu. " celetuk Jio.
Kira yang tadinya memandang dengan penuh ketidakenakan hati serta menggelisah resah, kini memalingkan wajahnya menunduk, seketika juga langsung merenungi ucapan dari laki-laki tersebut.
__ADS_1
" Apakah begitu? Benar-benar tidak memiliki upaya apapun lagi untuk bisa dilakukan ya? Hm... Mungkin kini rasa paham-Ku lebih baik dari sebelumnya. Maaf ya, atas sikap yang aku tunjukkan padamu tadi. " tutur Kira wajah tampak sedih.
" Meski kau sebetulnya bertanya, memang tidak ada jalan lagi untuk bisa menjadi jembatan pengantar kesana... Tapi wajibnya juga aku beritahu, sangatlah mustahil bisa menjustifikasikan diri dengan pria bajingan itu. Argh... Sekali saja melihat wajahnya membuatku, rasa hasrat menggejolak benar-benar ingin sekali membunuhnya. " kecamnya berdesah.
Kira yang memerhatikan sontak juga merasa terkejut akan paparan yang di lemparkan lelaki tersebut.
" O-oh... Apakah begitu? Um... " gagunya.
Merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya, saat itu juga Kira langsung bertanya.
" um... M-memang, apa kaitannya? Sejujurnya saja aku sama sekali tidak mengerti. " tergugu-gugu Kira lanjut berkata.
" Ya ampun... Betulkah tidak paham? Begini, mungkin memang benar adanya kesempatan untuk aku yang gagal ini bisa maju kembali dengan tetap bertahannya di tempat itu. Namun satu-satunya cara ialah tak lain, tidak jauh kita harus menguasai pelajaran-pelajaran yang akan diberikan nanti. Ingat! Semua itu akan terasa jelas berbeda dengan pelajaran kita sebelumnya. " ujar Jio.
" Menurutku tidak ada berbedanya dengan perkataanmu yang tadi terdahulu. " bingung Kira menyindir.
__ADS_1
" Masih tidak paham ya? Manusia mana memangnya yang mampu melakukan semua itu hah? Meski diberikan kesempatannya ini, itu bukan berarti mereka semua benar-benar akan mendapatkan buah yang manis diakhir nanti. Hanya 1% saja yang sungguh bisa lulus, dari banyaknya siswa yang ikut bertinggal disana coba kau pikir, hanya 1%! Itu pun jika ia bisa menjawabnya dengan benar. Jika gagal, sudah jelas mereka semua gagal di ronde kesempatan tersebut. " ricau Jio.