
Kira tertegun melamun.
Jio yang menyaksikan, sontak pun merasa.
" hey dengar ya, aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu tertekan atau juga sebagai tempat pelampiasannya amarahku sekarang ini. " ucap langsung Jio.
" A-ah... T-tidak! Hehe... B-bukan begitu. Tentu saja tidak masalah. " Kira tersadar tersengeh.
" Um... Sudah, lupakan saja ya dengan semua yang pernah aku katakan tadi. " pungkasnya.
Nampak mereka berdua sedang jalan bersama di tepi jalanan.
" oh iya Kira, bagaimana jika kita pergi ke taman hiburan? Sepertinya masih terlalu siang, bukan? Ya untuk pergi berpulang sekarang? " ujarnya.
Tak ada sahutan dari Kira. Jio yang demikian melihat gadis itu, malah terdiam memandang lurus seperti orang sedang melamunkan sesuatu.
" Kira?? " panggilnya.
" Um... Jio, apakah benar dengan semua perkataanmu tadi itu? " ujarnya.
" Hah?? " ganjilnya.
__ADS_1
" o-oh... Apakah kau masih memikirkannya? "
" jika memang benar begitu, lalu bentuk jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar keluar dari mulutku ini? Meski di ulang pun, jelas tidak ada bedanya dengan apa yang aku ucapkan tadi, 'kan? " sindirnya.
" A-aa... Benar. " kata Kira, wajah tampak berawai.
" Tuk, tuk. Kasak... " suara gesekan sepatu mereka mengenai aspal.
Berjalan terus menyusuri tepi jalanan.
" Lantas... Upaya apa yang bisa dilakukan mereka agar berhasil lulus tahun sekarang juga? " tanya Kira mendadak.
" Oh... Bukankah aku sudah mengatakannya? " ujar Jio.
" Begitu? Um... Seperti yang aku tangkap juga tahu, mereka harus bisa menguasai semua pelajaran it-- eh tidak tidak! Bukan semua, tapi hanya 3 nilai mata pelajaran yang harus sekali mereka stabilkan, fisika, matematika, juga bahasa inggris. Ketiga pelajaran itu yang sudah diterapkan sejak dulu di sekolah Suciko. " paparnya.
" ujian peluang emas yang disebut-sebut itu, akan datang secara tak biasa. Mereka hadir tampil berbeda dari sebelum-sebelumnya kita pelajari. Itulah kesulitan yang aku maksud. Dan kini pun aku berkeputusan untuk pindah saja, daripada nanti harus mengulang kelas kembali dari awal masuk sekolah, apa-apaan itu?! Membuang-buang waktu. Mengulang selama setahun mungkin tidak masalah bagiku, meski memalukan juga. " lanjut bebernya.
Setelah mengindahkan semua ungkapan dari Jio, keruan membuat Kira tertegun mendiam saking tertekan-Nya akan situasi yang datang menghampiri tersebut.
" mengapa kamu terpaku kembali? Tunggu ini aneh, mengapa kau terlihat begitu tertarik jika aku membahas perihal masalah itu? Apakah ada seseorang yang dekat denganmu yang rupanya juga tidak lolos ujian itu hah? " rasa ingin tahu Jio meninggi.
__ADS_1
" A-aa... T-tidak! B-bukan begitu singkatnya. Um... Hanya ingin tahu saja. Benar katamu, aku tertarik sekali mau tahu lebih mengenai hal itu. " elaknya.
" Oh begitukah? Um... Sangat tidak biasa sekali telingaku mendengar ungkapan seperti itu. Tapi sudahlah, mungkin wajar bagimu. " kata Jio.
" Sebaiknya aku tetap menutupi tentang kondisiku sekarang ini. Setidaknya satu orang yang harus juga diwaspadai itu memutuskan pergi menjauh dari sekolah. Aku merasa lebih tenang meski 1% yang aku dapat. Terutama dia adalah teman dari Sundry. " ucap Kira dalam hati.
" Apakah orang-orang diluar kota sana memiliki rasa tingkah laku sama seperti dirimu juga? " sembur Jio.
Seketika Kira gagu menjawab.
" A-aa... I-iya. S-sejujurnya aku juga kurang mengetahui, karena manusia-manusia di dunia ini tentu memiliki prinsip yang berbeda-beda dari yang kita ketahui. "
" Begitu? Aaa yasudahlah. " pungkas Jio.
Melangkah dan terus melangkahkan kaki sembari bermenung-menung, kemudian Kira berucap kembali.
" Lalu, celah apa yang bisa mereka lakukan agar mendapatkan juga ketiga nilai terpenting itu? Jio? "
" Hah? Oh... Mengapa bertanya haha? " ujar laki-laki tersebut tertawa mengejek.
" jelas kau juga mengetahuinya, 'kan? " lanjut olok-oloknya.
__ADS_1
" T-tidak, aku tidak tahu. " sahut Kira.
Nampak Jio menghela napas kencang karena rasa geli hatinya yang menggelitik. Lalu menjawab,