
Nampak dari wajah Guru pria itu benar-benar dipenuhi kejengkelan terhadap ungkapan Kira tadi.
" pulanglah secepatnya, dan kembali saja untuk fokus belajar lagi. Agar keberhasilan bukan hanya kau saja yang bisa menerima. Sepertinya kau kurang bekerja keras, sehingga kegagalan yang datang padamu bisa mudah sekali dihadiahkan kepada orang lain. " sindir Lucky.
Tanpa berlama-lama ia pun langsung pergi meninggalkan.
......................
Kembali berjalan seorang diri menuju ruangan untuk mengambil sisa barang-barangnya.
Setelah urusan Lucky selesai, kini ia pun berencana untuk pulang juga. Melangkah dan terus melangkahkan kaki. Namun tiba-tiba,
" Hiks... Hiks he... " suara esakan nangis seseorang yang datang di telinga Lucky.
Sontak gerakkannya terhenti berangkat. Terdiam. Lalu melirik kesana kemari. tolehannya berjeda di arah jalan samping kanannya.
Lucky melihat seorang perempuan yang tengah duduk di taman sekolah sambil membungkukkan badannya seperti tersedu-sedu menahan tangisan.
" Apa lagi sekarang? Siapa dia? Pukul berapa ini? " gerutu Lucky lalu melihat arloji miliknya.
" 2 sore. 2 jaman lagi matahari terbenam. " memandang kembali ke arahnya.
Pada akhirnya pun Lucky memutuskan untuk menghampirinya.
__ADS_1
Bergerak melangkahkan kaki. Tiba disana, berada di belakang kursi.
" Kira?? " terperanjat ucap spontan dalam hati.
" Hiks... He... " tersedan-sedan mengeras.
" Sebegitu pedihnya ya dia ini? " kata Lucky pelan suara.
Tak lama kemudian, Lucky duduk tanpa Kira sadari. Ia sudah berada di samping-Nya kini.
Lucky menyaksikan gadis itu benar-benar berurai air mata.
" apa yang salah denganmu sekarang ini Kira? " celetuk Lucky mendabak.
Kira terkejut tergugah langsung melihat ke arah sumber suara.
" Gagal di garis awal menurutku disini sudah sewajarnya saja teralami, mau siapapun itu. Kau bisa dikatakan baru memulai masuk. Tenanglah jangan cemas begitu. Di jaman para pelajar yang sekarang, menurutku itu lebih beruntung dibandingkan orang-orang sebelumnya. Bahkan, kalian diberi kesempatan untuk bisa mengubah kembali, bagiku itu pihak sekolah yang sekarang-sekarang ini sungguh terlalu bermurah hati. " imbuhnya.
" hanya kurang bekerja keras saja. Lakukan kembali dengan lebih banyak tenaga juga pemikiran yang terbuka. " nasihat Lucky.
Kira sama sekali tak menyahut ujaran dari Guru tersebut, akan tetapi ia terus memandang serta mengindahkan setiap anjuran yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Berdiam dan berdiam, tentu hal tersebut membuat Lucky merasa kebingungan juga merasa aneh akan sikapnya itu.
" mengapa? Apa yang salah lagi denganmu sekarang? " sembur Lucky.
" A-aa... Mohon maafkan saya pak. " tersadar sigap berpaling.
__ADS_1
" Cobalah berbicara dengan orang yang lebih berpengalaman juga seusiamu tentunya. Ya... Maksud-Ku, mungkin mereka lebih cocok atau bisa menyambung bagaimana gaya mereka menyampaikan ucapanku tadi kepadamu. Cepatlah pergi pulang sekarang, dan coba belajar kembali. " tutur Lucky.
Beranjak berdiri, kemudian pun bergerak meninggalkan. Kira menatap kepergiannya.
Kini hanya tinggal ia yang sendiri berdiam di sekitaran sekolah. Nampak masih saja tak bisa terhindar dari rasa kesal terhadap diri sendiri juga frustrasi berat dengan keadaannya sekarang. Menyingkat waktu, Kira pun juga tak berlama-lama bisa bermenung-menung disana. Ia mulai beranjak pergi. Dari jarak jauh, gadis itu melihat di arah depan jalannya berdiri Lucky yang nampak seperti tak bergerak-gerak sedikit pun.
" Pak Lucky? " ucap pelannya.
Merasa masih ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Kira untuk bertanya-tanya kepada Pria itu, ia menghampiri juga. Di ujung tinggal beberapa langkah sampai,
pandangan Kira mulai teralihkan secara alamiah. Seketika langkahan kakinya kini juga terhenti.
Terkejut-kejutlah dirinya melihat dibalik tubuh Lucky terdampar 2 orang yang nampak dari bagian tubuhnya terdapat luka tembakan.
Mereka tak lain ialah.
" Bu una...?! "
" P-pak Juno?! " syok Kira.
__ADS_1
Jantung berdetak cepat bergemetar akan ketidakpercayaan apa yang dilihatnya sekarang. Napas juga tak beratur.