
" Bisakah Kakak tidak mengatakan hal itu kepada Xie? " ucapnya
" i'm scared ( aku takut )" imbuh Vanya tersenyum serta mengeluarkan air mata.
Mey yang melihat pun bisa mengerti, dan merenspons ujaran dengan menganggukkan kepala juga ikut tersenyum.
" terima kasih. " ungkap Vanya, serta menutupi wajah mensedu-sedu menahan tangis diiringi tawaan.
......................
Jam menunjukkan pukul 06:17 pagi. Kebisingan siswa-siswi terdengar jelas sekali di telinga.
" Whoooosh!... Tap... Tap... " terdengar seseorang berlari cepat.
" Bruk... " menabrak.
" Ouch!! " rintih kesakitan.
" Sialan! Sakit kau tahu! " berangnya.
" Maaf!! " sembari gesit berlari kembali.
" Akh menyebalkan! " mendongkol.
" Cia! Kemari " seru seseorang melambai.
Ia menoleh dan ternyata ia adalah Yuri juga Nana teman sekelasnya yang tengah duduk bersama. Ia pun menghampiri dan ikut duduk dengan sedikit masam muka.
" Kau ikut tidak nanti minggu depan? " bertanya.
" Hah? Ikut kemana maksudmu? " menjawab.
" Sudah Ku-duga bahwa kau pasti melewatkan hal itu. Minggu depan, di luar kota nanti akan mengadakan joyland festival besar besaran kau tahu? " menjelaskan.
" Benarkah?? Darimana kau mengetahui hal itu? " tanya lagi.
" Aku tahu itu. Percayalah... Ada banyak orang yang mengenali-Ku. Terkadang memang begitu sisi terang mempunyai banyak teman. Mereka mengadakan acara itu dengan hanya memberikan syarat membawa banyak teman, semakin beramai-ramai orang datang semakin ramah mereka memperlakukan kita sebagai tamu. " menjelaskan.
__ADS_1
" Benarkah? " terpelongo.
" Bukan itu yang aku sanjungi. Kau tahu? Mereka mengundang penyanyi populer tahun ini!! Arrghh! Aku akan mati disana saja nanti, kau tahu? Aku tidak akan kembali lagi kemari haha " gelakak, senda gurau.
" Haha aku juga. " kelakar-Nya.
Seketika Cia teralihkan perhatian kepada teman yang satunya. Beda lain dari mereka yang daritadi bersenang-senang tapi Nana hanya diam termangu. Ia pun bertanya.
" ada apa Na? Adakah sesuatu yang membuat dirimu berpikir sampai sekeras itu? Katakan? " tanya Cia.
Ia menyahut
" Aku mengkhawatirkan kondisi Silence. Aku sudah berapa kali mengajak dia untuk ikut bergabung bersenang-senang bersama kita, tapi tetap saja menolak. " susah hati serta menghela napas.
" Aku tidak tahu pasti tapi, sepertinya rumor yang di sebarkan anak-anak akhir ini kental sekali bukan? Bagaimana jika memang benar bahwa Silence sungguh-sungguh menanggapi sikap pak Lucky selama ini? " ujar Yuri.
Sontak perkataannya membuat Cia tercengang-cengang juga kebingungan.
" Menanggapi? S..s..suka maksudmu? " ringkasnya.
" apa karena Pak Lucky tidak hadir di Sekolah ini? Jadi maksudmu, Silence merasa putus kehidupan begitu? Kurang tersemangati? " kata Cia lagi.
" Dia sudah absen hambir 3 bulan lebih. Mengapa dia lama sekali mengambil cuti? " jawab Yuri.
" Apakah itu masalah? " gelak manis Cia.
" Tidak, bukan itu. Ini yang sebenarnya ingin aku katakan, ada rumor bahwa pak Lucky mengambil cuti bukan karena urusan keluarga, melainkan ia asik bersenang-senang menjumpai banyak wanita di luar sana. Akh... Ini tidak masuk akal sungguh, bagaimana bisa Silence menyukai pria murahan bermata keranjang sekali seperti dia. " jelas Yuri kembali.
" Pak Lucky sudah 3 bulan absen dari Sekolah. " gumam Cia.
Sekonyong-konyong Vanya datang didampingi Xie, dengan kasar melemparkan sebuah sapu hingga pas di wajah Nana.
" He Nana! Kau masih niat tidak untuk bersekolah disini hah!? Kenapa denganmu? " gusar
Jelas sekali perlakuan Vanya di bantah oleh mereka.
" Kau yang kenapa? Gila memang Vanya! " cela Yuri.
__ADS_1
" Aku salah? Katakan dimana letak kesalahan-Nya? Ini sebagai peneguran! Anak lain tengah melakukan tugasnya membersihkan sekolah bersama-sama, lalu dimana rasa tanggung jawab dia hah!? Kamu ingin dipisahkan regu? Aku bisa lakukan itu sekarang juga Nana. Bagaimana jika lakukan tugas nanti sendiri? Dikasih hati malah minta jantung. Otak kamu gunakan untuk apa sebenarnya? " tegas bergas Vanya.
Mereka berdua hanya diam dengan ekspresi wajah sebal. Cia meraih tangan Nana yang masih terdiam duduk untuk dibawa pergi dari tempat itu.
" Ayo " ajaknya.
Saat mereka berjalan pergi dengan meninggalkan kata
" kenapa dia ini? Tidak bisa lakukan sesuatu dengan baik-baik atau bagaimana? " ocehnya mengumpat sembari berjalan.
Xie hendak pergi tapi niatnya ditahan oleh Vanya.
" Ingin kemana? "
" Bukankah kau baru saja mengatakan hal itu tadi? " sahut Xie dingin serta pergi.
......................
" Ssss " terdengar suara air keran mengalir.
" Tidak apa-apa? " tanya Xie menunduk memerhatikan pel miliknya dibersihkan.
Kira yang melihat pun terkejut juga canggung kebingungan. Tidak ada sahutan dari Kira, dan Xie mencoba untuk berkata kembali seraya melihat ke arahnya.
" aku mendengar kabar dari seseorang bahwa kau mengalami kecelakaan. Apa yang terjadi? " kikuk.
Sontak juga Kira melihat ke wajahnya Xie akan respons ia terkejut.
" Oh... eu...euuu aku baik. Hehe " tersengeh serta memalingkan wajah kembali.
Suasana menjadi hening, tiba-tiba tangan Xie memegang untuk mengangkat muka Kira yang tengah menunduk memperhatikan pel miliknya juga. Mereka saling bertatapan.
" Mengapa banyak sekali luka di wajahmu, mereka juga bergoresan. Kau... " ujar Xie dengan suara berat.
Ucapan Xie terhenti juga melepas pegangannya karena mendabak datang seorang siswa menghampiri mereka, sama halnya berniat untuk membersihkan kain pel lantai.
Suasana menjadi hening kembali.
__ADS_1