
" ah Kira benar, apa June Sin sekarang ada di rumahmu? " tanya Lucky.
Jelas saja ia pun terkejut-kejut panik seketika.
" A-aa... " gagu Kira
" Apa? " bingung Lucky.
" Jadi dia memang benar sudah mengetahuinya? Perlukah aku masih tetap menahan dan berlanjut berpura-pura saja? " tepekurnya menggelisah.
" Apa ini! " hardik Lucky murka.
" sesusah itukah untuk bisa di jawab? Oh oh apakah setiap pertanyaan-pertanyaanku juga selalu mengagetkanmu? Apakah selalu mengandung pengusikan bagimu? " sosor Lucky.
" T-tidak, sama sekali bukan begitu benar-benar m-mohon maafkan saya. " ungkap Kira panik.
" Sudahlah hey Kira, bebannya kondisi hidupku ini yang sekarang saja bagiku sudah cukup! Jangan kau menambah-nambahkannya ya?! Aku sangat berharap kamu bisa membantu setidaknya meski sedikit. Menurutku di usiamu yang sekarang juga lumayan matang untuk bisa menjalani hidupnya keras, 'kan?! Argh... Benar-benar sudah jemu. " hardiknya mengeluh kesah.
Melihat tanggapan yang dibeberkan Lucky sontak membuat Kira merasa tertarik.
" sial! Siapa memangnya mereka sesuka-suka begitu menyuruh. Argh! Seharusnya waktu itu aku jadi langsung saja meminta resign, dengan begitu hidup ini pasti tidak terlalu menghajar diriku. " gerutunya lagi.
__ADS_1
Kira hanya mampu memerhatikan ricauan mulut dari Guru tersebut.
" hey, sebenarnya aku tidak ingin mengganggu makan pagi seseorang, aku tidak biasa dalam bidang begitu tapi bisakah aktivitasmu ini bisa di percepat? " pinta Lucky.
" Hah? " linglung Kira.
................
" Ini, mohon maaf atas ketidaknyamanan-Nya pak. " tutur Kira seraya menyodorkan secangkir minuman meletakkan di atas meja ruang tamu.
" Terima kasih banyak. Maaf mengganggu harimu juga. " jawab Lucky.
" Tidak, sangat merasa terhormat. Terima kasih sudah berkenan mampir. " sangkal Kira duduk di sofa berhadapan dengan Lucky.
" Iya pak silahkan. Mohon maaf hanya bisa memberikan sebisa yang saya buat. " ucap Kira kembali.
" Tidak, ini sudah lebih dari cukup. "
Kira mengangguk-angguk.
" jadi... Dimana dia sekarang? Bisa segera dipanggilkan? " tanya Lucky.
__ADS_1
Kira diam tak menjawab sejenak kemudian ia pun angkat bicara.
" Dia sudah 3 hari belum pulang. " papar Kira.
" Hah?? A-apa sekarang maksudnya? " bingung Lucky mengkerutkan wajah.
" Pak Lucky, sungguh-sungguh minta maaf, saya sudah berniat ingin mengatakan ini sebelumnya tapi pak Lucky mendesak bergesa-gesa hingga tidak memberikan saya kesempatan untuk berbicara. " belot Kira.
" Ahaha... Lucu sekali ternyata kau ini ya haha... " Lucky berdesah menertawakan.
" he! Memangnya manusia mana yang mampu menahan kesabarannya menunggu sampai kau angkat bicara hah? Aku sama sekali tidak pernah melihat hasil apapun yang menyambut baik dari setiap jawabanmu itu. Semua tindakanmu tidak ada yang lain selain hanya diam dan berdiam saja, tolong kondisikan itu hey Kira! Argh!! " kesalnya marah.
" argh Kira, sikapmu sangat mengganggu siapapun itu yang berada di sampingmu. Bisakah kau menghentikan-Nya? " lanjut gusarnya.
" Sangat menyesal, mohon-- " ungkap Kira terpotong.
" Diam!! Diam!! " bentak Lucky dengan lantang.
" argh... Biarkan diri ini menyejuk dulu, tenanglah... Tolong diam. " lirih Lucky sembari memejamkan mata menengkan diri.
Seketika Kira pun gentar, berusaha diri untuk tetap tenang meski getaran tubuh nampak jelas sekali tak bisa Kira tolak. Diam duduk menunduk. Sudah cukup waktu berjalan, Lucky kembali membuka mata spontan melihat ke arah Kira.
__ADS_1
" hey hey hey, apakah kamu menangis? " syok Lucky.