
" Pak Lucky apa kabar? " tersenyum.
Nampak ia tak menyahut dan malah menatap terus terhadapnya.
" beberapa kumpulan orang tidak berguna telah menyebarkan rumor aneh tentang pak Lucky. Bagaimana? Apakah memerlukan bantuan dari saya? " menyindir.
Tak lama, belum lama mereka berdua mengobrol tiba-tiba tanpa di sangka, Kira masuk hendak masuk ke ruangan Guru pria itu bertujuan ingin mengatakan sesuatu. Alhasil, sebab melihat kehadirannya Silence disana membuat niatnya terhenti berjalan.
" Eh!? " kejutnya sigap menyembunyikan diri di balik pintu.
" ada tamu rupanya? Sepertinya akan merepotkan jika melanjutkan niatku tadi. " gumam Kira bingung.
" Huh... Mau bagaimana lagi. " sahut Lucky menghembuskan napas seraya duduk di kursi.
Kira bisa mendengar jelas percakapannya.
" Siswi itu... Perempuan yang sama di waktu-- Oh! Aku benar-benar jelas sekali bisa mengingatnya. " duga Kira dalam hati.
" melihat situasi juga perlakuan yang lumayan cukup berbeda untuk ditunjukkan oleh mereka berdua, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Perbedaan dengan orang-orang lainnya, jelas sangat terlihat. Terutama dari sikapnya pak Lucky terhadap siswi itu. Sejujurnya, ini sungguh membuatku penasaran sekali. " lanjut ricaunya.
Akhir pun gadis itu dengan perasaan ingin tak ingin, lantaran kondisinya yang lumayan cukup mengkhawatirkan jika diketahui seseorang juga. Bersi keras juga memerhatikan obrolan mereka di balik pintu melihat dari celah yang terbuka.
" kau tidak pulang? " ujar Lucky.
" Lebih tepatnya belum pak Lucky. " jawab Silence.
" Ya... Baiklah, usaha yang bagus. Kamu sudah bekerja dengan keras. " tutur Lucky.
__ADS_1
" Terima kasih banyak pak Lucky. " tersenyum manis.
Keheningan di sela cakapan antara mereka. Nampak raut juga tingkah dari Silence, seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Gurunya tersebut.
" anu... Pak Lucky-- " ungkapannya terhenti.
Sekonyong-konyong saja,
" Kira! " panggil seseorang di luar ruangan dengan nada bunyi lumayan keras.
Sontak seruan itu jelas membuat Lucky juga Silence teralihkan perhatian.
" Celaka! " panik Kira langsung berlari mengarah ke orang yang memanggilnya itu, lalu membungkam mulutnya serta bergegas-gegas berlari sedikit menjauh dari tempat keberadaannya Lucky. Ikut menyembunyikan diri juga dengannya.
" A-ada apa? A-aku jadi terbawa gelisah takut kau tahu. Apa yang salah Kira? " bingung temannya agak khawatir.
Ia memutuskan untuk menoleh sedikit ke arah ruangan Pak Lucky.
" sepertinya aman. Apakah benar mereka tidak mendengar sama sekali lantangan darinya? " gumam Kira.
" Kira? " bingung temannya yang disamping.
" O-oh... Ada apa? " linglungnya menyahut.
" Ada apa?? Tunggu, bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu padamu? Kira kamu kenapa? Apa sedang terjadi sesuatu disana? Memangnya apa itu? " bertanya-tanya.
" O-oo itu, tidak ada. " pungkasnya.
__ADS_1
" Ada apa dengan tingkahmu sebenarnya? " ganjilnya.
" Vanya, ada perlu apa kamu kesini? " tanya Kira.
" Aku mencari-carimu daritadi, di kelas itu juga anak-anak sepertinya sudah lama pergi. " bebernya.
" Sudah lama pergi? " agak syok.
" o-oh... Aku baru mengingatnya. Sulit dipercaya, ternyata memang benar mereka bertindak begitu. " batin Kira tersadar.
" ada masalah apa kamu ingin menemuiku? " lanjut tanya Kira.
" Begini, malam tadi Kak Mey menitipkan pesan untuk aku sampaikan kepadamu. Kira, dia membutuhkanmu, temui Kak Mey di rumahnya. " paparnya.
" O-oh... Begitu. " paham Kira agak enggah hati.
" baiklah, dimengerti. Sebenarnya, malam ini adalah kesempatan bagus juga bagiku, menyiapkan kembali untuk ujian mendatang nanti. Tapi tentu tidak masalah, akan aku usahakan. " jawabnya.
Setelah urusan Vanya dengan Kira selesai, benar ia langsung pergi lebih dulu.
" aku benar-benar penasaran, bagaimana situasinya sekarang. " ucap Kira menoleh kembali ke arah ruangan Lucky.
Merasa tak ingin ada masalah melebihi sebelumnya yang menimpa Kira, alhasil ia pun berkeputusan untuk pergi pulang juga. Akan tetapi, saat hendak melangkahkan kaki tiba-tiba
" Kira. " panggil seseorang dari arah belakangnya.
Sontak ia pun terhenti.
__ADS_1