
" arrghh!! mengapa lama sekali anak itu! Aku benar-benar sudah tidak tahan. Dimana dia? Mana mungkin dia tersesat bukan? " hardiknya mendongkol.
Lucky berjalan ke arah dimana Kira berada, beruntung ia hanya berdiam sejenang disana dan lanjut bergerak menyusuri lorong sekolah.
" Huh... " bernapas lega.
Kira bergegas pergi dari tempat itu, lalu di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang siswi lainnya, dan meminta tolong untuk memberikan barang pesanan milik Lucky.
" ka...kalian ingin pergi kemana? " terengah-engah gagap.
" Oh! Kami tengah menuju toilet, memangnya ada apa? " bertanya kembali.
" Euu... kalian tahu Pak Lucky? " tanya Kira lagi.
" Oh tentu saja. Mengapa? " bertanya
" Aku mempunyai persoalan yang harus segera dilakukan sekarang, ini darurat. Tadi pak Lucky sempat memerintahkan aku untuk membelikan ini, aku tidak bisa menemuinya sekarang, bisakah kalian berjumpa dengan pak Lucky untuk memberikan barang ini? " keluh kesahnya.
" Oh, baiklah. Aku harap kau bisa menyelesaikannya Kira. Kemari, biar aku yang membantu. " tampi siswi tersebut.
" Ah terima kasih. Ini. Pak Lucky menunggu di ruang olahraga dulu, ruangan paling ujung itu, kalian tahu? " ucapnya seraya menyodorkan barang itu.
" Jarang sekali orang berkunjung kesana bukan sil? " kata salah satu siswa tersebut.
" Ya tidak mengapa, tapi dia benar-benar ada disana sekarang kan? " ujar salah satunya.
Kira mengangguk. Tak lama juga mereka langsung berjalan cepat menuju dimana Lucky berada. Kira kembali masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi. Ia merasa aneh karena ternyata kelasnya belum juga memulai lagi pelajaran.
" Guru bahasa inggris datang tidak? " tanya Kira kepada teman yang duduk di depan.
" Pak David berhenti mengajar, belum tahu memang? Jamkos sepertinya sekarang. " menyahut.
Kira terdiam dan hanya duduk untuk menunggu pelajaran selanjutnya. Cukup lama menunggu kemudian, sekonyong-konyong Lucky masuk dari luar menuju kelas Kira, beriringan dengan 2 orang siswa tadi. Sontak jelas ia terkejut juga kebingungan, mengapa laki-laki itu bisa datang kembali.
" Baik, semuanya sudah masuk? " tanya Lucky.
" Sudah Pak. " sahut dari mereka.
Salah satu siswa berkata
" Bukankah jam pelajaran sebelumnya sudah selesai? Mengapa datang lagi? "
Kira langsung melihat ke arah orang yang bertanya.
" Itu dia alasannya. Jam kosong sekarang bukan? Dan karena di pelajaran saya tadi ada sedikit masalah, jadi sekarang masih berlanjut. Tidak perlu khawatir, saya bukanlah tipe pria yang melanggar aturan, hari ini kita juga akan belajar seperti biasanya. Keluarkan buku bahasa inggris kalian masing-masing. " jawab Lucky.
" baiklah! Kita akan memulai kembali pelajarannya. " ucap Lucky seraya membuka buku paket.
Terlihat Kira merasa khawatir sebab hal tadi, tapi rasa gelisah itu mulai memudar setelah melihat sikap Lucky yang begitu tegas bergas fokus dengan pengajaran, sama seperti normalnya kehidupan. Ia pun bisa bertenang di kursinya. Semua siswa-siswi mulai menulis dan memerhatikan. Jam menunjukkan pukul 3 sore, masih terlalu siang bagi siswa di sekolah itu untuk berpulang. Lucky menuliskan sebuah soal pertanyaan untuk dikerjakan oleh para siswa tersebut.
" karena pelajaran selanjutnya juga akan kosong, biarkan saya yang mengisinya. Kita bermain-main hari ini ya? Bisa menjawab persoalan ini dengan benar, bisa pulang cepat sekarang juga " ujar Lucky.
Mereka memperhatikan. Lucky menulis sebuah soal dipapan tulis tersebut. Salah satu dari mereka dipanggil. Murid itu mengerjakan tugasnya dan dapat diselesaikan juga.
__ADS_1
" bagus! Boleh pulang. " ungkap Lucky.
Dan terus begitu, hingga sampai di urutan nomor 22.
" Akira Noie? " panggil Lucky.
Ia pun maju ke depan kelas melewati-Nya, lalu langsung mengambil kapur yang berada di sela-sela bor. Saat Kira melihat soal diatas, sontak terkejut-kejut. Ia tak menduga pertanyaan yang diberikan Lucky untuknya sulit bagi Kira menjawab.
Mereka yang berada dikelas mengamati termasuk juga guru itu. Kira memutuskan untuk mundur.
" Mohon maaf pak, saya tak bisa mengerjakan. " ungkapnya.
" Baik, duduk. " sahut.
Ia berjalan, kembali berdiam di kursinya.
" seterusnya... June sin? " memanggil.
Ia maju ke depan, dan dapat dilakukan dengan baik soalnya tersebut, lalu keluar kelas. Tidak hanya Kira yang mengalami kepayahan dalam mengerjakan tugas tersebut, masih terlihat banyak siswa yang mengisi dari berbagai bangku. Lucky terus memutar absenan untuk memanggil orang menjawab persoalan itu. Putaran ke 2 Kira dipanggil lagi. Ia maju, hasilpun masih tetap sama, ia masih tak mampu menyelesaikan tugas tersebut.
" luangkan waktu lebih banyak lagi untuk kamu belajar! " ucap Lucky.
Lama waktu berjalan, waktu sudah menginjak pukul 17:49 sore. Terlihat hari juga sudah mulai menenggelam. Putaran ke 7 dari 34 siswa tersisa hanya 5 orang lagi termasuk juga Kira. 3 dari mereka akhirnya mampu menjawab pertanyaan yang tertulis di papan tersebut, tertinggal hanya Kira yang terpaku dikursi, juga dengan siswa yang tengah berlangsung mengerjakan didepan kelas. Satu murid itu juga akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya, sekarang hanya tersisa Kira sahaja siswa yang tertinggal.
" seterusnya! " panggil Lucky sembari mencatat nilai di buku.
Kira maju dan mengambil kapur. Lucky berdiri dari kursi, menghampiri Kira. Ia mundur sebab rasa takut panik mendabak, terkejut Lucky mendekatinya. Ia menulis soal di papan tulis.
" silahkan. " ucap Lucky seraya duduk kembali.
" Sepertinya tidak terjadi apa-apa dengan laki-laki ini, apakah dia normal? Aku benar-benar berharap. " batinnya seraya melirik-lirik waspada.
Siapa sangka Kira juga bisa sampai di titik akhir.
" euu... Ini pak. " panggilnya.
Lucky menguap bentuk dari rasa suntuknya menunggu.
" Oh sudah?! " terkejut langsung berdiri memeriksa.
" bagus sekali haaaa akhirnya... " ungkap Lucky serta menguap.
" kamu masih memiliki 6 pertanyaan, mereka yang tercecer juga sama halnya mengerjakan soal itu dengan berapa kali tertinggal. Langsung ditulis semuanya saja ya? bisa dilakukan sekaligus bukan? " ujarnya.
Seketika juga itu keruan sekali membuatnya terkejut.
" Masih memiliki 6 pertanyaan? " tanya Kira.
Benar, Lucky menulis kembali soal pertanyaan yang berbeda dengan jumlah 6 esai.
" Silahkan, mohon perhatikan baik-baik. Ini juga masuk nilai. " pesannya duduk lagi.
Kira mengambil kapur kembali, dan berusaha keras untuk bisa menjawab semua tugas itu dengan benar. Pelajaran yang Lucky berikan lagi untuknya, benar-benar membuat Kira dihantam kekesalan kembali. Ia terdiam berdiri sembari memegang kapur dipapan tulis.
__ADS_1
" kamu tidak menginginkan nilai kamu turun dipelajaran saya bukan? Lakukan dengan baik juga berhati-hati. " pesan Lucky dikursi.
Kira menghela napas dan akhirnya angkat bicara.
" tapi soal yang bapak berikan kepada saya itu, sangat sama sekali sulit dimengerti, bagaimana bisa menyelesaikannya? Ini juga pertama kali bapak masuk bukan? Saya juga berusaha untuk bisa berbaur dengan pelajaran disekolah ini, meski materi sangat dominan berbeda dari sebelumnya saya pelajari. " erangnya menyeringai.
Sontak perkataannya amat membuat Lucky merasa geli hati, ia tertawa kecil.
" Saya juga sama seperti manusia yang pernah kamu temui sebelumnya, yang kamu katakan tadi menunjukkan ke arah mana? Teman-teman kamu yang lainnya terbukti bisa mengerjakan, lalu selama ini, dunia mana yang kamu singgahi? Sampai terlihat nol sekali pengalaman-Mu itu? " olok-olok Lucky dengan tertawa serta berdiri dari kursi.
" dan juga... kamu bolos tadi dalam mengerjakan tugas rumah yang diberikan wali guru kelas ini bukan? Itu sudah terlihat buruk sekali untuk ditunjukkan. Haha... Aku tidak menyangka hal itu bisa terjadi, kamu seorang perempuan, yang seharusnya bisa sangat menjaga diri. " cemooh Lucky lagi.
Kira hanya terdiam.
Lucky menarik napas panjang.
" lalu... huruf apa yang harus saya tulis dikertas ini? Jika tidak bisa, setidaknya hal sesuatu yang kecil apapun itu mampu membantu-Mu untuk masa nanti bukan? Setidaknya disela-sela sebelum menghadapi ujian, nilai seperti ini seharusnya sangat penting? berarti untukmu bukan? " imbuh Lucky.
" Sangat menyesal, mohon maaf. " ungkap Kira pelan suara, menunduk.
Lucky berjalan menghampiri Kira.
" Berikan alat tulis itu. " pinta Lucky.
Kira menyerahkannya dan mundur kembali.
" kenapa mundur? " tanya Lucky.
" Euu? Mohon maaf? " kebingungan.
" Ada apa dengan siswa ini sebenarnya, pertanyaan macam apa yang ingin kamu katakan? masih ingin tinggal lebih lama disini? tentu aku akan mengajarimu hey! " ujar Lucky muka kesal.
" saya ini seorang guru, dan kamu adalah muridnya, lalu apa lagi yang harus dikatakan? kemari! Jangan bermain-main! apakah kamu berpikir bahwa saya ini hanya memiliki waktu untuk berdiam disekolah saja? cepat! " suruh Lucky sedikit kesal.
Kira benar-benar merasa kecewa dengan dirinya, ia tak mengira hari ini pelajaran itu sungguh menekannya, menghampiri Lucky.
" Sangat minta maaf. " ungkap Kira pelan.
" Arrgghh! aku lelah mendengar ucapanmu, diam! Cepat kemari. " geram Lucky seraya meraih tangan Kira dengan sedikit tekanan bentuk rasa dongkolnya. Lucky memegang tangan Kira untuk menuntunnya ikut menulis apa yang digerakkan olehnya.
" paskan tubuhmu denganku, agar tidak ada kesulitan bagiku untuk mengajarimu. " pintanya.
Kira mengikuti arahan darinya, meski rasa canggung mengganggu, ia tetap berusaha untuk tenang, agar situasi tetap berjalan dengan normal. Perlahan Kira untuk melakukan. Lucky hanya menuntun tangan Kira dengan jarak agak sedikit berjauhan, posisi tubuh membelakangi. Semakin lama mengerjakan, semakin Lucky terus menerus menekan tubuhnya dengan sengaja melekat di badan Kira, hingga hal itu membuatnya tersadar juga terganggu tak nyaman hati. Kira berhenti bergerak dan melepaskan diri lalu berkata
" Euu... Se..sekarang saya mengerti pak, biarkan saya melakukannya sendiri. " gagap.
Lucky menarik kuat tangan Kira hingga jatuh kepelukannya, dan ia malah melanjutkan dengan perasaan keras.
" Sulit untuk aku bisa percaya kepada murid sepertimu, cepat lakukan, agar aku bisa menyelesaikannya! " ucapnya membisik dengan suara sedikit agak berat didekat telinga Kira.
Nampak jelas sekali, Kira dipaksa dipeluk erat oleh Lucky. Semakin lama, malah kian bertambah menjadi, terdengar jelas helaan napas Lucky menghembus dibagian telinga-Nya, Kira tetap berusaha untuk tetap tenang meski diancang-ancang ketakutan yang amat hebat. Tanpa diduga Lucky malah nyata menyeleweng, wajah ia pindah ke bagian leher Kira dan berdesah kuat sangat. Akhirnya pun Kira angkat bicara dan mencoba untuk menangkal perlakuan Lucky terhadapnya.
__ADS_1
" A...anu, mohon maaf pak, jika terlalu dekat seperti ini, itu membuat saya kesulitan untuk menulis jawaban ini. " risih Kira meronta-ronta
" Bisakah tubuhmu meluruskan pas dengan tubuhku? Saya dalam kesulitan. Tenanglah. " imbuh-Nya membisik.