Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bar-bar


__ADS_3

Nindi dan Bima keluar dari mobil secara bersamaan, berjalan melalui pintu utama rumah sakit itu, sempat bertanya kepada beberapa petugas juga untuk mengetahui dimana Sheerin sekarang berada.


Akhirnya setelah mendapat info yang akurat, pasangan suami istri itu kembali berjalan tergesa-gesa mencari ruangan yang di maksud petugas tadi.


"Ayo kak!" Nindi yang tidak bisa mengendalikan kepanikan dalam dirinya, menyeret Bima yang sebenarnya tidak perlu untuk diseret, karena Bimapun merasakan hal yang sama dengan istrinya itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Bima di hantui oleh rasa bersalah. Baru terfikir jika apa yang dia lakukan terhadap Sheerin kemarin itu sangatlah jahat. Dia menolak Sheerin karena tak ingin perempuan itu mengusik kehidupan bahagianya. Tanpa ingin mengerti betapa Sheerin sedang di timpa masalah dan musibah. Bima akui dirinya egois, keegoisan ini melekat dalam dirinya setelah dia jatuh cinta kepada Nindi dan ingin memilikinya seorang diri, tanpa ingin membaginya dengan orang lain.


Seharusnya, dia bisa berpikir dewasa dengan mengizinkan Sheerin tinggal di rumahnya kemarin. Mungkin hari ini Sheerin tidak akan sakit karena bermandikan hujan semalam yang mengakibatkan dirinya mengalami kecelakaan sekarang.


"Tengil!" Dari ujung lorong, Nindi melihat tubuh Levin melorot dilantai, menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut, dengan beralaskan kedua tangannya yang dilipat di atas lutut itu, terlihat sangat kacau dan frustasi. Apalagi kaosnya yang berlumuran darah, membuat kesan menyedihkan dimata setiap orang yang melihatnya.


Levin bergeming, tak menyahut sama sekali teguran dari Nindi. Membuat Nindi naik pitam. Bima menyadari situasi mulai genting, dia bersiap siaga dengan apa yang akan terjadi disana selanjutnya.


"Bangun loe!" Lagi, Nindi menendang kaki Levin yang meringkuk di lantai. Entah sudah jadi kebiasaan atau hobi Nindi selalu saja ingin menendang Levin saat mereka bertemu. Kesal, itu kesan pertama Nindi saat melihat wajah Levin.


Levin mengangkat kepalanya, nampak lah wajah lecek nan sendu itu sekarang, namun itu tak lantas membuat Nindi merasa kasihan, justru kekesalannya semakin melambung naik.


"Loe apain adek gue, HAH? Loe itu bener-bener keterlaluan ya! Kenapa sih loe selalu aja bikin dia sakit? Gue tau Sheerin salah, tapi bisa nggak loe jangan balas dia dengan cara kayak gini? Loe itu bener-bener banci Lev! Gue nggak terima Sheerin diperlakukan kayak gini." Nindi langsung menyemprot Levin dengan caci makinya, sambil memecak dan menuding-nuding di atas kepala Levin.


Bima masih diam, menurutnya sikap Nindi masih terbilang wajar untuk mengekspresikan rasa sedih di hatinya.


Levin beranjak, meninggalkan lantai dingin yang menjadi saksi bisu, mau mendengarkan bisik dan isak tangisnya dalam diam.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Sheerin, jangan harap loe bisa keluar dari sini hidup-hidup. Gue pastiin loe akan mempertanggung jawabkan semuanya." Ucap Nindi penuh penekanan.


"Puas loe sekarang? Ini kan yang loe mau? Melihat Sheerin menderita? Loe itu bener-bener nggak punya hati ya Lev? Loe selalu aja bikin Sheerin sedih dan kecewa."


"Dasar bego, tolol loe, heran gue, kenapa di dunia ini harus ada orang tolol kaya loe?" Nindi semakin gencar menghina Levin.


"Loe pikir gue mau Sheerin kayak gini? Gue menyesal." Lirih Levin menjawab, tumben dia tak membalas cacian Nindi dengan cara berteriak, cara bicaranya sekarang terdengar sangat memilukan.


Bima pembaca ekspresi yang sangat handal, dia bisa melihat kesedihan yang teramat dalam di mata Levin. Apa mungkin sekarang Levin mulai merasa menyesal karena telah mengacuhkan Sheerin? Tapi kenapa caranya harus seperti ini? Sheerin harus melalui banyak penderitaan hanya untuk menuju kebahagiaannya. Hah, adil kah itu?


Apa? Menyesal? Dia bilang menyesal? Nindi semakin naik darah saat mendengar Levin mengucapkan kata itu.


Dia menarik kaos Levin yang berlumuran darah, kemudian menariknya kuat-kuat, sudah emosi setengah mati, apalagi melihat wajahnya yang sok-sokan bersedih, dia pikir Nindi akan merasa kasihan hanya dengan dia menampilkan wajah sendunya, begitu? Tidak akan!


"KENAPA? KENAPA SETELAH SHEERIN MENGALAMI INI SEMUA LOE BARU BILANG MENYESAL? DIMANA OTAK LOE ITU ? DASAR PENGECUT LOE! GUE PASTIIN SETELAH SHEERIN SADAR LOE NGGAK AKAN PERNAH BISA KETEMU LAGI SAMA DIA!" Berteriak tepat di depan telinga Levin, bahkan gendang telinga Levin rasanya akan pecah mendengar teriakan bercampur emosi Nindi.


Levin tetap bergeming meskipun Nindi menyakitinya seperti ini, melawan pun dia tak mampu, bukan karena takut, hanya saja merasa tak pantas untuk sekedar membela diri, Levin benar-benar menyesal, dia membiarkan Nindi melakukan apapun kepada dirinya, mungkin dengan ini bisa mengurangi sedikit beban di hatinya.


Hey! Apa-apaan ini? Kenapa Nindi berani sekali menyentuh laki-laki lain? Ini tidak bisa dibiarkan, tangan itu hanya boleh menyentuh dirinya seorang. Bima menarik tangan Nindi yang mencekam kuat kaos Levin, dengan sehalus mungkin tentunya.


"Apa sih kak?" Nindi sedikit kesal karena kak Bima menyudahi aksi menggeretak nya.


"Sayang, tolong belikan aku kopi!" Ujar Bima santai, meskipun hatinya terasa panas saat melihat Nindi menyentuh laki-laki lain. Namun Bima tau bagaimana dirinya harus bersikap dan menghadapi istrinya.


"Apa? Kenapa sekarang? Kakak nggak liat aku lagi kasih dia pelajaran?" Protes Nindi.


"Belikan sekarang ya! Aku haus!" Bima menyentuh pundak Nindi sambil tersenyum singkat, membuat Nindi tak mampu menolaknya jika sudah seperti ini. Nindi luluh dengan sikap lembut yang kak Bima tunjukkan.


"Iya!" Akhirnya burung gagak itu berubah menjadi merak khayangan.


Setelah kepergian Nindi, Levin kembali menjatuhkan diri dikursi tunggu kali ini. Nampak pasrah sekali dengan apa yang Nindi tudingkan kepadanya tadi.

__ADS_1


Dari kacamata Bima, Levin sedang rapuh dan terpukul sekarang. Bima paham betul bagaimana rasanya mengkhawatirkan orang yang kita cintai, apa lagi orang itu sedang berjuang antara hidup dan mati sekarang. Bima perlahan mendekat dan duduk di samping Levin. Menepuk bahu Levin pelan.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Sheerin akan kembali sehat seperti semula." Ucap Bima dengan pembawaannya yang tenang, Levin menoleh, kemudian melihat tangan kekar Bima berada di atas pundaknya. Hah, perasaan damai dari dalam diri Bima seperti menular kepada Levin sekarang, perasaannya sedikit tenang dengan kalimat positif yang Bima lontarkan. Menjadikan itu semangat tersendiri bagi dirinya.


"Terimakasih." Ucap Levin, tersenyum singkat walau terpaksa.


Sepertinya disaat-saat seperti ini, Levin membutuhkan banyak sekali orang seperti Bima, bukan seperti istrinya yang membuat suasana semakin keruh dan memanas.


"Apa kamu benar-benar menyesal?" Tanya Bima.


"Ya, ternyata apa yang anda katakan waktu itu benar. Hanya penyesalan yang saya dapatkan dari keegoisan. Andai saja saya lebih cepat menyadari semuanya, mungkin Sheerin tidak akan merasakan kesakitan sekarang." Matanya mulai berkabut lagi, membuat pemandangan di hadapannya menjadi blur.


"Semuanya belum terlambat, Sheerin pasti senang mendengar kabar jika kamu sangat mencemaskan nya. Berjanjilah setelah kalian melewati masa sulit ini, jangan pernah kamu berpikir untuk meninggalkan Sheerin lagi." Ucap Bima.


***


Clarissa dan kakak senior yang merawat Sheerin tadi baru saja sampai di rumah sakit, taksi yang membawa mereka terjebak macet, sehingga tak bisa mengimbangi ambulance yang membawa Sheerin. Tentu saja, ambulance selalu menjadi prioritas.


Sudah sangat gelisah sekali hati Clarissa sekarang, dia mendengar dengan jelas saat Levin mengucapkan kata-kata cintanya kepada Sheerin. Bahkan Clarissa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara Levin menangisi mantan sahabatnya itu.


Cih!


Ini semua tidak adil, kenapa lagi-lagi Sheerin berada satu langkah didepan Clarissa. Banyak sekali do'a yang Clarissa panjatkan dalam hati, semoga saja Sheerin cepat mati, dan jikapun nyawanya masih bisa di selamatkan, semoga saja dia mengalami lumpuh atau cacat atau apalah yang membuat Levin tak lagi mencintai Sheerin.


"Semoga Sheerin nggak kenapa-napa ya Ris!" Ucap si senior, Clarissa menyunggingkan bibirnya. Jangankan mengamini, malah dia berpikir sebaliknya.


Sementara itu,


Nindi keluar dari kantin rumah sakit itu sambil mendumel sendiri, secangkir kopi panas dia pegang di tangan sebelah kirinya, belum puas hatinya memaki si tengil itu tadi. Bahkan semua kata cacian dan makian yang sudah hafalkan sepanjang perjalanan, kini mulai berterbangan tersapu angin. Nindi jadi lupa lagi. Dia tau, membelikan kopi pasti hanya alasan kak Bima untuk mengusir Nindi secara halus. Oke, Nindi bisa memahami itu, kak Bima pasti tidak ingin melihat keributan, apalagi ini adalah rumah sakit.


Clarissa dan kakak senior terlonjak kaget saat melihat sosok berwujud Sheerin kini berada di hadapan mereka.


Saling melirik satu sama lain dengan tatapan penuh kebingungan, diamnya mereka seperti mengatakan 'Bukannya Sheerin kecelakaan dan sedang kritis?'


"Sheerin, kamu nggak kenapa-napa?" Tanya kakak senior, dia melangkah menghampiri Nindi dan menyentuh pundak perempuan itu, memastikan keadaannya. Sedangkan Clarissa masih belum sadar sepenuhnya, dia begitu syok, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Saya bukan Sheerin, saya kembarannya." Jawab Nindi seadanya. Mulutnya menjawab pertanyaan kakak senior, sedangkan matanya tak lepas dari Clarissa, masih menyimpan dendam yang teramat besar didalam hatinya.


"Oh, aku baru tau, maaf. Aku seniornya Sheerin, sempet nanganin Sheerin juga waktu pingsan tadi di kampus. Sekarang gimana keadaan Sheerin?" Tanya senior.


"Belum tau, dokter juga belum keluar dari ruang IGD."


"Jangan bersedih, Sheerin anak yang kuat, dia pasti bisa melewati masa kritisnya."


"Makasih ya." Tersenyum singkat.


Clarissa baru ingat, sebelum Sheerin kecelakaan dia mengatakan jika dia memiliki kembaran, dan kembarannya lah yang meninju Clarissa waktu itu. Berarti dia juga yang sudah menikah dengan kak Bima. Tidak terima, masih memiliki dendam karena perempuan kurang ajar itu pernah membuat tulang hidungnya patah.


"Oh, jadi loe kembarannya Sheerin. Pas banget ya kita ketemu disini." Ucap Clarissa sinis.


"Mau apa loe?" Tanya Nindi sewot.


"Nggak kenapa-napa. Gue cuma heran aja, ternyata bukan cuma wajah kalian aja ya yang mirip, tapi kelakuan kalian juga sama. Tukang rebut gebetan orang."


"Astaga, loe masih sempet-sempetnya bahas itu sekarang?" Tanya Nindi.

__ADS_1


"Iya lah, biar seluruh dunia tau gimana kelakuan busuk kalian. Loe udah mukul gue, terus ngebohongin semua orang dengan ngaku sebagai Sheerin. Lempar batu sembunyi tangan. Dasar pengecut!"


Hah? Apa? Pengecut? Kenapa Nindi yang jadi dilempari oleh kata itu? Bukankah tadi dia yang mengatai Levin dengan kata itu?


"Terus apa hubungannya sama loe? Loe itu nggak penting, jadi buat apa juga gue kasih tau ke loe kalau gue bukan Sheerin?" Mulai nyolot, kenapa sih isi di dunia ini lebih banyak orang yang menyebalkan nya dari pada orang baiknya?


"Loe sama si Sheerin itu sama-sama nggak tau diri, gue nggak tau pelet apa yang udah kalian kasih buat kak Bima dan Levin sampai mereka lebih milih kalian?" Pertanyaan Clarissa yang sontak memancing emosi Nindi.


Tak terima, kata-katanya itu sudah sangat melukai harga diri Nindi dan juga adiknya. Memangnya siapa dia? Sampai berani dia bicara seperti itu. Fix, dia minta diberi pelajaran.


Byur!!


"Whaaaa." Clarissa menjerit histeris.


Kopi setengah panas mendarat dengan sempurna di perut Clarissa, untung saja suhu kopinya sudah mulai menurun, jika tidak, Nindi pastikan perut kerempeng Clarissa akan melepuh.


"Mampus loe!" Tidak merasa bersalah sama sekali, justru sangat puas dengan hasil kerjanya sendiri.


"Astaga, Ris." Senior nampak panik, bingung, mau marah kepada Nindi juga tidak mungkin, dia kan orang yang berpendidikan, beda dengan si Clarissa.


"Loe bener-bener kurang ajar ya!" Clarissa mengambil ancang-ancang, sudah sangat marah.


Jurus andalan mulai dia keluarkan, menjambak rambut Nindi.


"Apa loe? Mau main jambak-jambakan? Ayo, gue ladenin!" Nindi yang sudah paham akan gelagat Clarissa, akhirnya membalas jambakan itu saat tangan Clarissa sudah mencengkam rambutnya.


"Astaga! Berhenti! Ini rumah sakit!" Senior heboh sendiri, bingung bagaimana caranya memisahkan mereka.


Di depan ruang IGD, perbincangan ringan antara Bima dan Levin teralihkan oleh keributan yang terjadi di ujung koridor sana. Mereka menoleh bersamaan, nampak pemandangan yang pernah Bima lihat sebelumnya. Mereka kembali main jambak-jambakan, tak tanggung-tanggung, sekarang malah di depan umum.


Reflek kedua laki-laki itu beranjak dan berjalan menghampiri Clarissa dan Nindi.


"Sayang, hentikan!" Seru Bima sambil memegangi pundak Nindi.


"Nggak bisa kak, dia yang mulai duluan." Nindi membela diri.


"Cla, udahlah!" Levin menarik bahu Clarissa, untunglah tidak terlalu sulit, akhirnya mereka mau mengakhiri aksi brutal itu.


Nindi dan Clarissa terlihat sama-sama mengatur nafasnya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Bima, dia memperhatikan setiap jengkal tubuh Nindi, takut ada yang luka. Nindi sama sekali tak berminat menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Loe itu bener-bener keterlaluan ya Nin, nggak dimana-mana nggak sama siapa pasti aja main keroyokan. Loe bener-bener bar-bar." Ucap Levin.


"Dia yang jambak gue duluan!" Ucap Nindi.


"Tapi dia yang nyiram gue pakai kopi, liat baju gue jadi kotor!" Mamerkan bajunya sebagai barang bukti.


"Loe pantes mendapatkan itu, setelah mulut loe fitnah gue sana adek gue! Kakak senior saksinya. Iya kan? " Nindi tak mau kalah.


"Keluarga pasien Sheerin?" Seorang dokter dan beberapa perawat nampak menghampiri mereka. Sontak itu membuat perdebatan mereka teralihkan. Kini, sang dokter yang menjadi pusat perhatian mereka.


"Iya dokter, bagaimana keadaan Sheerin sekarang? Dia baik-baik saja kan?" Levin yang langsung menjawab pertanyaan dokter dan membalasnya dengan pertanyaan.


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2