
"Senang deh ada teman baru seperti kamu, Lis" ujar Anggra.
"Aih. Kamu terlalu memuji, Rin. Kamu aja yang hambel orangnya, makanya aku bisa langsung dekat. Aku tuh pendiam tau" balas Elizabeth.
"Masak sih?!"
Mereka saat ini sedang di dalam mobil, akan mengantarkan Anggra dan Shaquille pulang terlebih dahulu, dikarenakan Dion tidak dapat menjemput dan Abraham dan Elizabeth tidak tega meninggalkan ibu dengan seorang anak yang imut itu harus naik taksi. Saat ini, Abraham dan Bram duduk di depan. Bram yang menyetir. Elizabeth, Anggraini, dan Shaquille duduk di belakang. Shaquille duduk di pangkuan Anggra dan sudah tertidur.
"Kapan-kapan kita ketemuan lagi, yuk. Kalau engga salah suamiku sebentar lagi ada jadwal seminar di Massachusetts deh. Kita bisa kumpul lagi, sekali aku kenalin sama suami aku" lanjutnya.
"Bagus tuh. Aku akan ajak kalian berkeliling kampus. Ada tempat makan yang enak dekat kampus. Kamu harus coba, Rin. Di sana menyediakan makanan khas indo yang lezat tau. Pemiliknya asli orang Indo lagi"
"Wah udah engga sabar untuk mencobanya"
"Aku jadi pengen nih. Aku juga udah lama engga kesana. Mana enak dan pas di kantong anak kuliahan. Bisa hemat"
"Hahaha ada aja kamu, Lis. Anak kuliahan istri Abraham Duken itu kantongnya sebesar apa, ya?" Canda Anggra.
Elizabeth melirik Abraham yang duduk tepat di depan Anggra, setidaknya Elizabeth masih bisa melihat sebagian Abraham.
Walau udah cukup lama Elizabeth sudah menjadi istri Abraham yang memiliki perusahaan D' company yang terkenal rasaksa itu, bahkan Abraham sudah memberikan kartu kredit padanya, namun Elizabeth masih tidak biasa menghamburkan uang, dia masih Elizabeth yang dulu yang suka berhemat.
"Kalau kumpul-kumpul ya. Lis. Suami kamu itu ya selalu aja sibuk sama Shaquille, bahkan ada Dion pun masih agak sibuk sama Shaquille. Shaquille juga lengket terus saja Abraham" ucap Anggra sambil mengusap kepala Shaquille yang terlelap.
Benar kata Anggra, Abraham tadi juga sibuk dengan Shaquille daripada mengobrol dengan mereka berdua. Elizabeth mengira, mungkin karena mereka berdua adalah wanita.
"Cepatan nyusul gih. Biar Shaquille juga ada temannya juga" mendengar itu, Elizabeth hanya bisa tersenyum kaku saja.
Sampailah di sebuah rumah. Mobil itu masuk kedalam pekarangan rumah yang cukup luas, namun rumahnya cukup sederhana. Maksudnya mewah tapi tidak terlalu mewah, ya cukup sederhana mendekati mewah. Ya gimana ya? jika di bandingkan rumah Abraham ya kalah sih.
beberapa orang keluar dari rumah..
__ADS_1
"Terima kasih ya, Ham Lis. Malah merepotkan kalian berdua" ujar Anggra yang langsung menggendong Shaquille. Abaraham lah yang membukakan pintu untuk Anggra, bukan karena apa-apa karena dia sekalian mau pindah tempat duduk ke belakang di samping Elizabeth.
"Engga ngerepotin sama sekali, Rin. Malah senang aku tuh, bisa tau rumah kamu. Jadi aku kan bisa main ke sini" balas Elizabeth basa-basi.
"Mainlah. Pintu ini akan selalu terbuka, tapi chat dulu ya, Lis. Aku sama suami ya pura-pura sibuk lah, jadi jarang di rumah" jawab Anggra di jawab senyuman manis Elizabeth.
Setelah Anggra keluar, Abraham pun masuk ke dalam mobil
"Kalian tidak mau mampir dahulu?"
"Sudah malam, Rin. Kapan-kapan" jawab Abraham.
"Bener ya. Aku tunggu loh. Lis Main ke sini. Engga jauh banget kok"
"Ya, Rin. Aku udah mau mulai magang juga sih. udah mulai semester tua"
"Oh iya. Dah" Anggra menutup pintu mobil.
Mobil meninggalkan perkaranggan rumah itu..
Seseorang tergesa-gesa berjalan mendekat.
"Kamu sudah pulang?" tanya Dion yang berjalan cepat kearah Anggra dan mengambil alih Shaquille dari gendongan Anggra. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
"Naik apa pulang, Rin?" tanya lagi Dion.
"Diantar Abraham dan juga istrinya"
"Oh baguslah. Aku udah Khawatir, yang. kalau sampai kalian naik taksi"
Dion meletakan Shaquille dengan hati-hati anggra dia tidak terbangun. Anggra merapihkan selimutnya dan mereka berdua meninggalkan Shaquille dan kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
"Kerjaan mu udah selesai, mas?"
"Alhamdulillah sudah, yang" jawab Dion. "Apa kata Abraham saat tau aku engga bisa datang di, yang?"
"Abraham hanya memaklumi aja kok. Dia engga banyak komentar. Tapi ya mas harusnya kamu jangan kek gitu. engga enak aku sama Abraham dan istrinya. Kita yang ngundang, kita yang engga datang"
"Lain kali, mas lihat jadwal lebih teliti deh" balas Dion. "Bagaimana dengan istri Abaraham?orangnya kek mana?" tanya Dion yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku seperti pernah ketemu dengan dia. wajahnya itu engga asing deh, mas"
"Ya mungkin pernah ketemu di suatu tempat. Dunia ini kan kadang kecil, yang"
"Iya mungkin" balas Anggra " Orangnya enak kok. Seneng deh punya teman kek dia. Orangnya baik, keknya"
"Syukur deh. Kamu kan jadi tambah teman juga"
"Tapi aku agak aneh sih mas. Menurut data yang di cari kakek kan ya. Elizabeth itu ibunya orang indo sudah almarhumah, ayah Amerika. Tapi kok awal nama ayahnya engga ada, tapi yang sekarang nama ibunya yang engga ada" ujar Anggra sambil memegang handphonenya. Dion melihat ke arah handphone Anggra dan melihat data tentang Elizabeth.
"Darrel Liman? kamu udah minta tolong kakek cari tau nama ayahnya ini, Rin. Maksud aku cari tau nama keluarganya. Aku kek pernah dengar nama ini.
"Kata kakek sih dia masih akan cari tau"
"Kita harus berhati-hati, yang. Dekat sama orang-orang seperti ini. Jangan sampai ada korban lagi"
"Iya, mas"
"Sudahlah. Sekarang kita istirahat dahulu. Besok kita masuk kuliah. Kamu ada jam pagi, bukan?"
"Iya"
Anggra langsung masuk kekepelukan Dion, mencoba mencari kehangatan, Dion mencium dahi Anggra, dan akhirnya mereka berdua terlelap dalam tidur indah mereka.
__ADS_1