
Lukman baru saja keluar dari kantor saat matahari hampir terbenam, dia berjalan ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya. Sudah hampir satu minggu ini dia kembali ke kantor demi memenuhi tanggung jawab kepada setiap anak perusahaan dan juga seluruh karyawannya.
Setelah berhasil mengeluarkan mobil dari deretan kendaraan roda empat yang terparkir disana, akhirnya mobil milik Lukman mulai bergerak perlahan meninggalkan area kantor yang luas itu.
Sebenarnya, dia memang sudah lelah mengurusi segala hal, jika tidak memikirkan nasib ribuan karyawannya, mungkin Lukman akan berhenti tidak mau kembali lagi untuk mengurusi bisnisnya. Apa lagi semenjak dirinya melakukan operasi jantung, tubuhnya jadi sangat mudah lelah.
Mungkin apa yang dikatakan Anya waktu itu memang benar, jika sekarang sudah waktunya untuk dirinya pensiun dan menikmati masa tua.
Namun, apa memilih Bima sebagai penerus pimpinan perusahaan adalah suatu hal yang tepat? Bahkan sampai saat ini Lukman masih menimang-nimang keputusannya itu.
Sambil menatap lurus ke arah jalanan, Lukman terus berpikir, dia harus secepatnya mengambil keputusan, atau selamanya pikirannya tidak akan pernah merasa tenang.
Pikirannya mulai meracau kemana-mana, membayangkan jika semisal Sheerin mengandung lalu melahirkan seorang anak, maka Lukman adalah orang pertama yang akan merasa sangat bahagia. Mungkin masa tuanya akan berkesan jika di hiasi oleh gelak tawa cucu-cucunya. Sungguh idaman sederhana seorang pria tua yang merindukan pelukkan hangat dari anak-anaknya.
Lampu di jalanan satu persatu mulai menyala, menyambut sang malam yang sebentar lagi tiba. Disaat-saat seperti ini pandangan Lukman mulai kabur karena sedari dulu dia memang menderita rabun senja.
Dia meraba-raba jok sebelah dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tetap setia memegangi setir, ingat jika tadi dirinya meletakkan kacamata itu disana agar lebih mudah untuk mencari.
Cukup lama Lukman mencari keberadaan kaca matanya, setelah tangannya berhasil menemukan benda itu, Lukman segera memakainya.
Namun apa yang dia dapatkan di hadapannya?
Mata Lukman membulat dengan sempurna, mulutnya terbuka lebar-lebar saat penglihatannya mulai kembali setelah memakai kacamata. Kemudian terdengar suara klakson panjang yang saling bersahutan dari arah luar.
Tiiid... Tidiiiiiiddddddd.....!
Ternyata, tanpa disadari Lukman telah menerobos lampu yang satu menit lalu menyala merah, tangannya yang berada diatas setir bergetar dengan hebat saat sadar dirinya tengah berada dalam bahaya.
BRAKKKK!
Kemudian dia merasakan jika mobil yang dia kendarai terseret dengan kekuatan yang luar biasa seiring dengan suara keras itu terdengar, entah benda apa yang batu saja menabrak mobilnya, tapi yang pasti kendaraan itu jauh lebih besar sehingga mampu membuat mobil Lukman terpental sampai entah berapa meter jauhnya.
Seketika, Lukman merasakan sakit di sekujur tubuhnya, hantaman itu tak berhenti sampai sekali, meskipun dia memakai sabuk pengaman, namun dia tak bisa menghindar dari kecelakaan yang baru saja di alaminya.
Sakit yang dia rasakan sekarang, jauh lebih menyakitkan dari pada ketika dirinya terkena serangan jantung. Badannya terasa remuk, serasa tulang-tulangnya telah terlepas dari rongga tubuhnya, otaknya bahkan kini tak mampu lagi berpikir, hanya bayang-bayang hitam yang berkelebatan di hadapannya.
Kini tubuhnya terhimpit oleh kerangka mobil yang hampir menyatu, hanya terhalang oleh tubuh tak berdaya nya. Mobil milik Lukman ternyata penyok setelah di tabrak oleh mini bus, apa lagi minibus itu menabrak tepat dibagian kemudi.
Sebuah mini bus terjungkal sesaat setelah menabrak sebuah mobil jenis APV, hantaman yang begitu kuat sehingga kendaraan itu sendiri tak mampu lagi mempertahankan pertahanannya. Suara gemuruh dan teriakan kepanikan para penumpang terdengar riuh di dalam sana, hanya orang-orang tertentu yang mungkin bisa selamat dalam kecelakaan ini, bahkan supir mini bus itu sendiri tewas ditempat.
Tak menyangka jika ini adalah hari terakhir dimana Lukman bisa melihat dunia, semua keindahan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya hanyalah sebuah fana.
Harapan untuk menimang cucu, harus sirna dalam satu kedipan mata. Namun, harapan lainnya kembali muncul, di sana, tepatnya di keabadian, bidadari-bidadari yang selalu dia rindukan pasti telah menunggunya. Bibirnya mengembangkan seulas senyum seiring saat jiwanya terbang melayang, meninggalkan raga yang selama ini menjadi tempatnya bernaung. Terlihat dengan jelas binar-binar cahaya ke tentraman di wajah pucat itu, Lukman berpulang kepangkuan Tuhan dalam kedamaian tepat saat adzan maghrib berkumandang.
***
"Saya sangat tertarik, selain modelnya yang unik-unik dan kekinian, harganya juga lumayan oke." Seorang pria paruh baya bicara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Berbagai jenis kerudung hasil produksi rumahan terlihat berantakan di hadapannya.
Sheerin mulai melipat satu persatu sample yang baru saja diperlihatkan pada calon resellernya. Levin yang jadi juru bicaranya disana.
"Tentu saja, kami selalu memberikan harga terbaik untuk para reseller, karena kami adalah tangan pertama, kami memproduksinya sendiri, jika bapak berkenan, silahkan singgah ke konveksi kami. Kami pasti akan sangat senang."
"Jika ada waktu luang, insyaallah saya akan mampir kesana. Tapi sepertinya saya harus segera pamit sekarang, hari pun sudah mulai gelap. Tidak terasa kita telah menghabiskan waktu selama dua jam disini." Ucap pria itu dengan bahasa formalnya, Levin berusaha untuk menyamainya.
"Baiklah, kurir kami akan mengirimkan barangnya besok pagi ke rumah bapak." Ucap Levin.
"Baiklah, kalau begitu, semoga saja kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar dan awet ya!" Pria itu beranjak kemudian mengulurkan tangan ke arah Levin. Merekapun saling berjabatan tangan menandakan kerja sama yang baru saja dimulai.
"Amiin, terimakasih banyak bapak telah percaya kepada kami." Ucap Levin.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pamit sekarang. Assalamualaikum." Pria itu mengatupkan tangannya kearah Sheerin sambil mengangguk dan tersenyum.
"Waalaikumsalam." Jawab Sheerin dan Levin serempak.
Sheerin yang melihat senyum itu, jadi teringat akan senyum hangat sang ayah. Jika dilihat-lihat, mungkin usia pria itu tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Ahh, ayah, Sheerin jadi rindu ayah. Kapan kiranya ada kesempatan dia untuk menemui ayahnya? Ada banyak kerinduan dan pertanyaan didalam benak Sheerin yang selama ini hanya bisa dia pendam sendiri.
"Hey!" Levin menjentikkan jarinya tepat di hadapan wajah Sheerin. Membuat Sheerin terlonjak kaget.
"Kamu melamun Nin?" Tanya Levin sambil terkekeh kecil, mentertawakan ekspresi kaget Sheerin yang terlihat lucu menurutnya.
"Ehh, nggak kok." Sheerin terpaksa harus mengembangkan senyum untuk menutupi kegugupannya.
"Gimana? Udah beres semua?" Tanya Levin.
"Belum, masih banyak ini." Sheerin menunjuk ke setumpuk kerudung di atas meja.
"Ya udah, aku bantu lipatin ya!" Sheerin mengangguk, kemudian merekapun mulai merapihkan kerudung itu untuk kembali dimasukkan kedalam tas.
"Lev!" Seru Sheerin ditengah kesibukan itu.
"Ya?" Sahut Levin.
"Makasih ya! Kalau nggak ada kamu, mungkin aku nggak akan bisa seperti ini sekarang. Membuka usaha dan merubah perekonomian keluarga." Ucap Sheerin.
"Ini komitmen aku Nin, aku akan selalu berdiri di belakang kamu apapun yang terjadi." Balas Levin.
"Emm, Lev, soal pertanyaan kamu yang wakt...." Ucapan Sheerin terhenti saat tiba-tiba ponsel Levin yang tergeletak diatas meja berdering.
"Sebentar ya, papa telfon. Aku angkat dulu di belakang!" Levin kemudian beranjak setelah Sheerin memberikan isyarat melalui anggukan kepala.
Sheerin menghembuskan nafas beratnya, apa iya keputusannya untuk menerima cinta Levin dan menjadikannya sebagai kekasih itu sudah tepat? Hatinya begitu resah, entah apa sebenarnya yang dia resah kan? Cinta Levin? Tapi senyuman pria paruh baya tadi menjadi kandidat lain yang menyebabkan keresahan di hatinya, Sheerin membayangkan jika senyuman itu adalah milik ayahnya.
PRANG!
Seorang pelayan datang dan dengan sigap membersihkan serpihan gelas dengan hati-hati. Karena merasa bersalah dan tidak enak hati, Sheerinpun ikut membantu mengumpulkan beling itu.
Mama Anya dan Luis baru saja memasuki pintu restoran, pemandangan pertama yang dia lihat adalah dua orang perempuan muda sedang membersihkan lantai, mama Anya tidak bisa melihat wajah keduanya karena posisi mereka yang membelakanginya.
"Dasar ceroboh." Begitu Mama Anya mencibir.
"Sudahlah Anya, jangan dibahas. Ayo kita duduk di sebelah sana saja!" Luis berseru sambil menunjuk salah satu meja yang hanya terhalang satu meja dari meja Sheerin.
Mama Anyapun tak mau ambil pusing, dia mengikuti Luis yang sudah berjalan terlebih dulu.
Sheerin kembali duduk di kursinya setelah semua pecahan gelas telah berhasil di bersihkan. Perasaannya benar-benar tak tenang sekarang. Sebebarnya, apa yang sedang terjadi kepada hatinya?
Tapi hal yang lebih membuatnya lebih tak tenang lagi sekarang adalah, dia melihat sosok menyeramkan itu tak jauh dari tempatnya berada. Di telannya saliva dengan susah payah.
Terlihat dengan jelas mama Anya sedang memesan menu kepada seorang pelayan, begitupun pria yang bersamanya itu.
Tapi, tunggu dulu!
'Siapa pria itu? Itu bukan ayah. Tapi kenapa mama Anya terlihat intim sekali dengan pria itu?'
Dengan gerakan cepat Sheerin menyambar salah satu kerudung dan memakainya untuk menutupi kepala. Sengaja dia berpindah posisi pada kursi yang tadi di duduki oleh resellernya. Dari tempat itu, Sheerin bisa mendengarkan apa yang sedang mama Anya dan pria asing itu bicarakan.
"Aku sudah Luis. Si tua bangka itu benar-benar keras kepala!" Terdengar mama Anya bicara.
'siapa yang dia maksud dengan si tua bangka?'
__ADS_1
"Sudah ku bilang Anya, rencanamu itu hanya buang-buang waktu saja." Si pria yang bersama mama Anya itu menyahut.
"Kembali saja pada rencana awal kita, jika tidak bisa di bujuk secara baik-baik, maka kita pakai jalan kekerasan." Ucap mama Anya.
"...Kita harus menyingkirkan Lukman secepatnya, dengan begitu tidak ada lagi penghalang untuk kita menguasai seluruh aset kekayaan yang di milikinya." Imbuhnya kemudian.
'A... Apa? Lukman? Jadi mama Anya ingin menyingkirkan ayah, begitu? Suaminya sendiri? Hanya demi harta?' Sheerin benar-benar tak menyangka jika hari ini dia mendapatkan fakta mencengangkan ini.
Berarti sekarang ayahnya sedang berada dalam bahaya, mereka mengincar nyawa sang ayah.
Tidak, mama Anya tidak akan bisa menyingkirkan ayah semudah itu, Sheerin harus segera bertindak dan bergerak cepat. Dia harus memastikan jika ayahnya baik-baik saja sekarang.
Sementara mama Anya ada disini, Sheerin harus pergi menemui ayahnya. Iya!
Sheerin menjejalkan kerudung yang belum selesai dia lipat kembali kedalam tas dengan gerakkan cepat. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan meja itu, sebelum dirinya ketahuan, tentu saja.
Disaat yang bersamaan, Levin datang dari arah toilet.
"Nin, udah selesai?" Tanya Levin.
"Udah, ayo kita pulang sekarang!" Jawab Sheerin.
"Kamu kenapa? Kaya panik gitu?" Tanya Levin.
"Nggak kenapa-napa kok, ayo cepet kita pergi dari sini!" Sheerin menarik tangan Levin, sebelum nantinya laki-laki itu kembali bertanya yang aneh-aneh.
"Ya udah, sini tasnya biar aku yang bawa. Berat!" Levin mengambil paksa tas dari tangan Sheerin. Merekapun mulai berjalan keluar menuju pintu utama restoran itu.
Sengaja Sheerin meminta Levin untuk mengantarnya pulang terlebih dulu ke rumah. Meskipun dia harus cepat menemui ayahnya, tapi ada beberapa alasan yang menjadi bahan pertimbangannya. Selain si Levin ini orangnya keponya setengah mati, pasti dia tidak akan berhenti bertanya jika Sheerin memintanya untuk diantar ke rumah Lukman. Sheerin juga harus mengambil gelang kaki Nindi yang sama persis dengan miliknya untuk di pertanyakan kepada sang ayah.
"Nin, aku nggak bisa lama-lama, papa minta aku nganterin dia melayat rekan bisnisnya yang baru saja meninggal karena kecelakaan." Ucap Levin sesaat setelah mereka tiba di gang menuju rumah kontrakan Nindi.
"Oh, ya udah, bagus kalau gitu." Dengan begitu, Sheerin tidak perlu buang-buang tenaga untuk mengusir Levin. Bukannya Sheerin tak rindu, hanya keadaan yang sedang mendesaknya untuk tidak membuang-buang waktu lagi.
"Lho, kok bagus sih?" Tanya Levin dengan dahi yang mengerut.
"Ehh, nggak kok. Ya udah, kamu cepetan pulang, kasihan nanti papa kamu nunggu lama." Jawab Sheerin.
"Ya udah deh, nanti kalau udah pulang melayat nya aku VC kamu ya!" Ucap Levin.
"Iya!"
"By!" Levin melambaikan tangannya tanda perpisahan.
"By!" Sheerin membalas lambaian itu sebelum akhirnya motor Levin melesat dan hilang ditelan gang.
Sheerinpun mulai berjalan ditengah keremangan. Dia melihat pintu rumahnya yang sedikit terbuka, tanpa berpikir panjang dia segera masuk. Tak lupa dia kembali menutup pintu agar tak ada nyamuk yang ikut masuk.
"TdssdghxDbjfsazzccbjgf." Terdengar suara bisikan-bisikan lembut dari dalam kamar saat Sheerin hendak memasukinya. Di urungkan niatnya, dia lebih memilih menguping dari luar, yang membuat dirinya tertarik untuk mendengarkan adalah, Yuvi yang membawa-bawa nama Nindi. Sepertinya ibu dan Yuvi sedang bicara serius dengan Yuvi.
"Gimana kalau seandainya nanti Nindi ketemu sama ibu kandung dan keluarganya. Dia pasti lebih memilih bersama mereka dan Nindi pasti akan ninggalin kita Bu!" Ucap Yuvi.
"Tidak Vi, ibu yakin Nindi tidak akan pernah meninggalkan ibu. Meskipun ibu tidak melahirkannya, tapi ibu yang sudah merawat dan membesarkannya sampai sekarang."
Tunggu - tunggu! Apa ini? Apa Sheerin sedang salah dengar? Tidak! Telinganya masih berfungsi dengan normal. Jadi ternyata, selama ini Nindi bukan anak kandung ibu?
Sheerin sudah tak dapat menahan diri lagi, diapun membuka pintu kamar lebar-lebar. Sontak ibu dan Yuvi menoleh kearahnya, wajah keduanya terlihat panik.
"Nindi!"
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....