Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Ayah


__ADS_3

Satu jam berlalu...


Bima dan Levin menunggu dengan harap cemas, apa lagi yang bisa mereka lakukan? Dasar para laki-laki tidak beguna! Setidaknya lakukanlah sesuatu, jangan hanya bisanya menunggu.


Meskipun hatinya sedang merasa cemas, namun wajah Bima tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar dan tak terbaca.


Dalam diam, Levin berdo'a sebanyak-banyaknya kepada Tuhan, semoga ada mukjizat dan Sheerin bisa kembali sembuh seperti semula seperti apa yang dikatakan Bima. Levin bersumpah, jika Tuhan mengabulkan do'anya kali ini, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan.


Tak pernah disangka jika bersama dengan perempuan itu menjadi suatu hal yang paling berharga saat ini. Dan kini Levin paham, mungkin Tuhan ingin membuat dirinya mengerti akan arti kehilangan agar kelak dia tak pernah berpikir untuk kembali meninggalkan Sheerin.


Levin menoleh saat merasakan kehadiran seseorang di hadapannya.


"Minum dulu Lev, loe pasti haus!" Ternyata Clarissa, menyodorkan minuman kaleng di hadapan Levin.


"Thanks Cla!" Ucap Levin, Clarissa mengangguk sambil tersenyum samar, kemudian duduk di samping Levin.


Bima memperhatikan gelagat Clarissa dari posisinya duduk, sepertinya Clarissa menyukai Levin, terlihat sekali, dia sangat perhatian, apalagi pandangan matanya yang sama sekali tak berkedip saat melihat Levin meneguk minuman kaleng itu.


"Gue baru inget Cla!" Ujar Levin setelah menghabiskan tegukan terakhirnya.


"Inget apa?" Tanya Clarissa.


"Sheerin kenapa bisa ada di jalan ya tadi? Terakhir yang gue liat dia masih pingsan di ruang PMI?" Bahkan hati Clarissa mendidih saat Levin menyebut nama Sheerin. Seperti ada ribuan jarum yang menikam jantungnya.


"Andai aja gue nggak telat balik ke kampus, mungkin dia nggak akan mengalami kecelakaan seperti ini." Menyesal lagi, jika ingat kejadian itu, Levin merasa benci terhadap dirinya sendiri. Tidak bisa kah perempuan itu menunggunya sebentar lagi? Levin pasti kembali.


"Udah lah Lev, alurnya memang harus kaya gini." Malas sebenarnya membahas tentang Sheerin, namun Clarissa harus merubah topeng di wajahnya agar Levin tak semakin terlepas dari genggannya.


Nindi datang dibopong seorang perawat yang telah berhasil mengambil sesuatu yang berharga di dalam tubuhnya, darah.


Sungguh, rasanya lemas sekali. Sudah di suruh untuk tetap beristirahat di ruangan, namun Nindi ngeyel ingin bertemu dengan Bima. Bima beranjak saat melihat kehadiran Nindi, segera mengambil alih tugas si perawat.


"Sayang, kamu sakit!"


"Nggak kenapa-napa kok kak, cuma pusing sedikit aja."


"Duduklah sayang!" Bima membimbing Nindi untuk duduk.


"Saya permisi!" Pamit sang perawat, kemudian dia masuk kedalam ruang IGD yang sedari tadi tertutup rapat.


"Alah, segitu aja manja." Cibir Clarissa, Nindi sedikit menoleh namun tak bereaksi berlebihan, tubuhnya benar-benar lemas untuk sekedar melayani ocehan Clarissa. Jika kondisinya tidak sedang seperti ini, maka Nindi pastikan jika si Clarissa itu akan pulang dengan pakaian compang-camping.

__ADS_1


"Gue lagi nggak mood buat debat sama loe ya!"


BUKKK!!


Ruang IGD terbuka lebar, muncul beberapa orang perawat yang mendorong brankar keluar dari ruangan itu. Semua orang bisa melihat jika Sheerin lah yang sedang terbaring lemah tak berdaya di atasnya.


Levin terlonjak kaget saat tiba-tiba saja pintu itu terbuka, reflek dia berdiri dan mulai melangkah mendekati Sheerin, ada beberapa perawat dan seorang dokter juga disana.


"Sheerin, bertahan ya! Aku yakin kamu pasti kuat!" Digenggamnya erat-erat semua jemari Sheerin, menyalurkan kekuatan, entahlah hal itu bisa berpengaruh atau tidak terhadap kondisi Sheerin.


Clarissa mendengus sebal melihat drama yang dilakoni Levin itu. Bima dan Nindi ikut menghampiri saat merasa dokter akan menyampaikan suatu hal.


"Kondisi pasien semakin memburuk, kami akan memindahkannya ke ruang operasi dan melakukan pembedahan sekarang juga." Tutur sang dokter, wajahnya memantulkan ketegangan. Menandakan jika kondisi Sheerin sangat tidak baik-baik saja benar-benar menghawatirkan.


"Lakukan apapun dok, asalkan dia bisa sembuh." Bima yang menjawab, sedangkan Levin hanya sibuk mengamati wajah Sheerin yang nampak memucat.


"Kalau masih kurang darahnya bisa ambil punya saya lagi dok." Ucap Nindi.


"Tidak sayang, nanti darah kamu habis." Bima dengan panik mencegah.


"Untuk saat ini, masih belum diperlukan. Kamu harus menstabilkan dulu kondisi tubuh kamu." Ucap dokter.


Kemudian, dokter itu memberi isyarat kepada para perawatnya, yang langsung di tanggapi dengan anggukan kepada dari mereka. Kembali mendorong brankar, membuat pautan tangan Levin dan Sheerin terlepas begitu saja.


Hati Nindi mulai terenyuh melihat itu, dimana seorang laki-laki tengil menitihkan air matanya hanya untuk seorang perempuan. Hah, benarkah itu adalah si tengil? Laki-laki menyebalkan yang selalu saja mengusik ketenangan hidup Nindi?


Kenapa sekarang Nindi malah melihat sisi lain dari si Levin itu? Hati memang mudah rapuh jika berhubungan dengan kata kehilangan. Manusia mana yang ingin merasakan sebuah kehilangan? Tidak ada.


Si tengil dan si urakan kini tengah berada dalam situasi yang sama-sama takut kehilangan, dengan pikiran dewasanya Nindi merasa perlu menguatkan Levin. Agar mereka sama-sama kuat menghadapi cobaan ini.


Puk!


Tangan Nindi jatuh tepat di pundak Levin, membuat si pemilik bahu itu menoleh.


"Sheerin pasti sembuh. Kalau perlu, gue bakalan kasih semua darah yang ada di tubuh gue buat dia." Ucap Nindi lirih.


Levin menganga tak percaya mendengar perkataan Nindi, benarkah itu si urakan? Jika iya, kerasukan setan mana dia di siang bolong seperti ini? Setan di rumah sakit ini?


Bukannya menjawab, Levin malah bengong saking kagetnya Nindi bisa bicara dengan nada selembut itu. Bahkan saat perempuan itu tadi datang, sikapnya masih kasar, pakai tendang-tendang bokong Levin segala lagi.


***

__ADS_1


Sheerin tak tau tempat apa yang sedang dia pijaki ini, sejauh mata memandang, hanya nampak ilalang. Berlangitkan awan putih nan bersih. Di hirupnya dalam-dalam aroma khas tanah setelah diguyur hujan.


Sheerin melihat di depan sana ada sebuah jembatan kayu yang membelah sebuah sungai. Ada seseorang berpakaian serba putih, berjalan hendak menyebrangi jembatan kayu itu.


Namun mata Sheerin menyipit saat mengenali dari postur tubuh bagian belakang laki-laki itu.


"Ayaah!" Sheerin memekik saat menyadari jika itu adalah ayahnya.


"Ayaah!" Sekali lagi Sheerin berteriak karena sang ayah sepertinya tidak mendengar teriakan Sheerin tadi. Namun tubuh itu tak kunjung berbalik arah, laki-laki itu masih dengan tenangnya melangkahkan kaki.


Sheerin merasa ada yang janggal dengan ini semua, kemudian diapun berlari menghampiri Lukman sebelum ayahnya itu berhasil menyebrangi sungai.


"Ayah mau kemana?" Tanya Sheerin saat dirinya telah berada di belakang Lukman.


Ayahnya itu menoleh, nampaklah wajah pucat pasi namun memancarkan sebuah gemerlap.


"Nak!" Hanya satu kata yang keluar dari bibir ayah.


"Ayah mau kemana yah? Sheerin kangen ayah!" Ucap Sheerin, ingin dia memeluk ayahnya itu untuk menumpahkan semua penyesalan dan kerinduan yang bersemayam dalam kalbu. Namun, seperti ada dinding tak kasat mata yang memisahkan antara dirinya dengan Lukman.


"Ini waktunya ayah beristirahat nak, jaga diri kamu baik-baik ya!" Bicara sambil tersenyum.


"Kalau gitu, aku ikut ayah ya! Aku juga lelah yah, aku ingin istirahat untuk selamanya sama ayah sama mama." Ucap Sheerin.


"Belum saatnya nak, jalan kamu masih terbentang luas di depan sana. Dan satu hal yang perlu kamu ketahui nak, ayah tak menemukan ibu mu di manapun. Ibumu masih ada bersamamu." Ucapan Lukman yang membuat tanda tanya besar di kepala Sheerin.


"Maksud ayah apa?" Tanya Sheerin. Namun bukannya menjawab, bibir ayah hanya melemparkan sebuah senyuman padanya.


"Sheerin! Sheerin!"


Sheerin mendengar suara berat seseorang memanggil namanya dari belakang. Menoleh, seseorang itu muncul dari balik ilalang yang menjulang.


"Levin!" Pekiknya kemudian.


"She, ayo kita pulang!" Seru Levin. Disana, Levin terlihat begitu tampan, Sheerin sampai terpesona dengan wajah itu.


"Aku mau sama ayah aja." Ucap Sheerin.


"Pulanglah bersama dia nak, ayah pergi. Ingat pesan ayah, jaga diri baik-baik."


"Jangan pergi ayah, jangaaaan!" Teriakan Sheerin seiring dengan menghilangnya Lukman ditelan sebuah sinar yang menyilaukan mata.

__ADS_1


_________


Jangan **lupa** tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2