
Di dalam mobil, mata mama Anya menyipit saat melihat motor yang di bawa Luis terparkir di pinggir jalan, lebih tepatnya di belakang pohon. Benarkah? Dia tidak salah lihat, kan? Kemudian dia menajamkan penglihatannya. Semakin di lihat-lihat, semakin ia yakin jika itu adalah motor yang jarang sekali keluar dari garasi rumahnya. Salah, bagasi rumah milik Lukman tepatnya.
"Kenapa dia memarkirkan motornya disana?" Gumam-gumam kecil terdengar. Mama Anya kembali melajukan mobilnya, matanya kembali jelalatan saat melihat kehancuran pada gerbang rumah kosong samping rumah Luis itu. Apalagi ada sebuah motor yang mesinnya masih menyala, itu menjadi kejanggalan tersendiri bagi mama Anya.
"Kenapa bisa hancur begitu? Tidak biasanya rumah itu terang. Manusia mana yang mau berkunjung ke sana?" Suara berisik dari dalam tersamarkan oleh deru mobil yang ia kendarai. Mama Anya tak ambil pusing dan merasa tak perlu tau tentang urusan orang lain. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar rumah Luis. Setelahnya ia turun.
Barulah keributan dari dalam rumah kosong itu mulai tertangkap indra pendengarannya setelah mesin mobil ia matikan. Mama Anya berusaha untuk tutup telinga dan tidak perduli dengan apa yang terjadi di rumah kosong itu.
Untung saja dia memiliki kunci cadangan pagar dan juga pintu rumah itu, sehingga dia bebas keluar masuk tanpa harus menunggu Luis yang membukakannya.
Namun ternyata, pagar rumah Luis tidak di kunci, keterluan sekali penghuni rumah ini. Mereka sampai lupa mengunci pagar. Bagaimana jika nanti ada pencuri yang masuk? Bergegas ia berjalan masuk melewati pagar itu.
Pendengarannya kembali terusik oleh suara ribut di rumah sebelah. Mama Anya mempercepat langkahnya. Dia kembali dikejutkan saat mendapati pintu utama rumah Luis juga tidak di kunci.
Benar-benar keterlaluan!
Mama Anya mendorong masuk pintu itu kedalam, sehingga pintu terbuka lebar-lebar.
Kosong. Sepi. Tak ada satu makhluk hidup pun yang berkeliaran disana. Mungkin penghuni rumah ini sedang terlelap di alam mimpi. Ini adalah kesempatan yang baik untuknya bisa melihat Bima dari jarak dekat secara diam-diam. Tak lupa ia juga membawa sebuah kado untuk putra kesayangannya itu. Rencananya ia akan meletakkan hadiah itu tepat di samping Bima tertidur. Dan saat Bima terbangun nanti, mama Anya yakin jika Bima akan terkejut dan merasa senang atas hadiah yang ia berikan.
Hah, Bima. Bolehkah ibumu ini mencium mu sekali saja? Walaupun kamu tidak pernah menyadari jika ibumu ini sangat mendambakanmu?
Jika melihat Bima, ia kerap kali teringat akan pertama kali dirinya jatuh cinta terhadap Luis. Sosok Bima adalah cerminan diri Luis di masa mudanya. Kegagahannya, ketampanannya, kemurahan hatinya, kesabarannya, kelembutannya. Membuat mama Anya muda mabuk kepayang pada sosok Luis. Hampir semua sifat Luis yang dulu kini ada di dalam diri Bima. Tanpa sadar mama Anya tersenyum saat mengingat cinta antara dirinya dan Luis di masa muda. Semua kenangan yang tak pernah terhapus dalam memori ingatannya meskipun waktu terus bergulir dengan cepat. Bahkan jarak yang tercipta tak mampu memusnahkan rasa cintanya pada sosok Luis. Mama Anya sangat mencintai Luis baik itu dulu, masa kini maupun di masa depan.
Namun semua itu berubah 180° setelah aku meninggalkan Luis demi membalaskan dendam. Luis tak sebaik dulu pada semua orang, dia merangkap jadi pria yang tempramen dan mudah marah. Hanya ada satu manusia yang tetap ia perlakukan dengan baik. Yaitu aku. Bahkan Bima, anak kandungnya sendiri ia perlakukan dengan kasar. Katanya biar dia tumbuh menjadi pria kuat dan tak cengeng. Dan benar saja. Hasil didikan Luis itu tak sia-sia. Bima kini tumbuh menjadi laki-laki yang tak bergantung pada siapapun. Dia bisa berjalan di atas kakinya sendiri.
Mama Anya tersadar dari lamunan panjangnya, ia harus segera menemui Bima agar semakin cepat pula ia pergi dari rumah ini. Sebelum ada orang yang memergokinya. Dia sebenarnya bosan jika harus berhadapan dengan dua anak kembar itu. Kasihan sekali mereka, mereka harus menanggung akibat dari kesalahan yang ayah mereka lakukan.
Namun mama Anya berusaha untuk menutup mata dan hatinya agar dapat berlaku tega terhadap mereka.
Setelah berjalan menaiki anak tangga, mama Anya di hadapkan dengan pintu kamar Bima. Lagi-lagi pintu kamar Bima tidak dikunci. Padahal ia sudah menyiapkan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Bima ini.
Krek!
Mama Anya membuka pintu kamar itu perlahan. Tidak ada siapapun. Dimana Bima? Apa dia tidur di kamarnya Luis? Dia melewatkannya tadi karena mengira Bima tidur di kamarnya. Tapi, kemana putrinya Lukman? Dia juga tidak ada. Aneh.
__ADS_1
Mama Anya kembali menutup pintu kamar Bima. Lalu menuruni anak tangga untuk sampai di lantai bawah. Kemudian dia berjalan mendekati kamar Luis. Langsung saja ia membuka pintu itu karena ia tau jika Luis jarang sekali mengunci pintu kamarnya.
Kosong. Kemana perginya semua makhluk penghuni rumah ini? Rumah nampak begitu sepi. Mama Anya mendengus kecewa. Ia tak dapat berjumpa dengan Bima sekarang, padahal ia telah menyiapkan kado istimewa di hari istimewanya ini.
Kemudian teringat akan kebisingan yang terjadi di rumah kosong itu. Apa mungkin mereka sedang berada disana? Tapi untuk apa? Rasa penasarannya kini mulai muncul ke permukaan. Tidak ada salahnya kan jika dia mengecek dan memastikannya sendiri kesana?
***
"Ayah, Levin, tolong hentikan!" Bima berusaha memisahkan Luis dan Levin yang sedang berbaku hantam. Meskipun Luis nampak sudah kelelahan dan terus-terusan kalah dari pemuda itu, tapi dia sama sekali tak menyerah. Dia terus saja menyerang Levin meskipun Levin selalu dapat menghindari serangan dari Luis.
Bima berdiri di antara dua laki-laki berbeda generasi itu. Menghalangi Luis yang berusaha untuk kembali menyerang Levin.
"Ayah anda yang sudah mengurung Sheerin di sini." Ucap Levin seraya menunjuk ke arah Luis.
"Tidak, dia sendiri yang menyerahkan diri dengan datang ke tempat ini." Luis menunjuk Sheerin yang kini menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Fira. Sedang menangis haru.
Nindi berdiri, dan berjalan menghampiri ke tiga laki-laki itu. Dia sudah muak dengan ayah mertuanya itu. Ternyata selama ini dia menyembunyikan rahasia besar di balik cerita rumah angker ini.
"Ayah bener-bener keterlaluan. Kenapa ayah tega mengurung mama di sini selama bertahun-tahun? Dimana hati nurani ayah?" Nindi dengan nada tinggi membentak Luis.
"Nindi benar ayah. Kenapa ayah melakukan semua ini? Ini sudah masuk kedalam kategori kejahatan." Bima sendiri yang anaknya mengaku jika ayahnya itu jahat.
"Tutup mulutmu Bima!" Luis membentak Bima.
"Kalian tenang aja, polisi sebentar lagi datang buat nangkap paman Luis." Ucap Levin.
"Heu, kenapa kamu menelpon polisi?" Bima yang merasa keberatan. Bagaimanapun juga Luis adalah ayahnya, dia tidak akan merasa bahagia jika ayahnya harus mendekam di balik jeruji besi.
"...kita bisa membicarakan semua baik-baik." Sambungnya kemudian.
Nindi terdiam, dia percaya jika suaminya ini dapat menyelesaikan masalah dengan bijak.
Luis yang sudah tertangkap basa dan merasa terpojokpun bingung harus berbuat apa. Dia mengambil langkah seribu untuk kabur.
"Ayah!" Nindi dan Bima berseru bersamaan saat melihat Luis berlari menuju ke arah pintu.
__ADS_1
Nasib sial menghampiri Luis, saat hendak keluar melalui pintu itu, dirinya menabrak seseorang yang menurutnya lebih menyeramkan di bandingkan polisi. Dia adalah mama Anya. Kedua mata itu saling bertemu, Luis menatapnya penuh ketegangan, sedangkan mama Anya melihatnya dengan bingung.
"Luis, apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya mama Anya.
Luis nampak gelagapan untuk menjawab. Dia benar-benar telah terkepung sekarang. Kemudian mama Anya mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan. Di tempat ini cukup ramai juga, dengan hanya di terangi sorot senter dari ponsel. Dia melihat satu persatu siapa saja yang ada di sana.
Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju pada mama Anya. Tak terkecuali Fira. Dadanya bergemuruh saat mengenali jika yang berdiri di ambang pintu adalah Anya, baby sister kedua bayinya dulu yang telah menyabotase kecelakaan yang ia alami. Semua kehancuran hidupnya berawal dari Anya.
Deg!
Mama Anya membelalak saat menangkap sosok yang kini tengah terkulai di atas lantai berdebu itu dengan kaki yang di pasung. Rasanya, otaknya kini tengah kesemutan. Tidak mungkin, dia bahkan tak ingin percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Fira." Ucapnya dengan bibir gemetar.
Sheerin mengangkat wajahnya saat mendengar suara familiar itu.
"Anya, kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?" Ucap Fira.
Luis tak berkutik, dia menelan saliva nya dengan kasar, apa yang akan terjadi setelah ini? Dia berharap jika bumi menelannya saat ini juga.
Levin menghampiri Sheerin, dan membimbingnya untuk berdiri.
"Kamu nggak kenapa-napa?" Levin memperhatikan Sheerin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyibak anakan rambut yang berantakan di pelipis Sheerin, terasa lembab. Sheerin nampak masih ketakutan, tangannya gemetar sambil menghalangi bagian bajunya yang robek.
Perempuan itu menggeleng samar tanpa menjawab, ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya.
Levin melepaskan jaket yang ia kenakan lalu memakaikannya pada Sheerin. Kemudian ia mendekap kekasihnya itu agar sedikit tenang, mengusap-usap pundak Sheerin dengan lembut. Dan berhasil. Sheerin merasa aman berada di dekapan Levin.
Mama Anya beralih menatap Luis meminta pertanggung jawaban. Luis terlihat ketakutan ditatap mama Anya seperti itu.
"JELASKAN INI SEMUA PADAKU LUIS!"
______________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca... coret-coret juga di kolom komentar biar author semangat buat nulisnya...
__ADS_1