
Masih dibawah sinar purnama yang mengambang.
"Kenapa kamu liatin mereka sampai segitunya?" Levin yang menyadari Sheerin senyum-senyum sendiripun menegurnya.
"Nggak kenapa-napa kok. Cuma aku seneng aja, sekarang Clarissa udah move on. Pantesan aja beberapa hari ini dia nggak ganggu lagi aku sama kamu ataupun Nindi sama kak Bima, ternyata dia punya gebetan baru. Hihi." Jawab Sheerin sambil cekikikan sendiri.
"Iya ya, aku baru sadar lho, belakangan ini dia juga jarang nyapa aku di kampus." Balas Levin.
Secepat itu Clarissa move on?
Entahlah!
Sheerin terus memperhatikan gerak gerik Clarissa, dari cara dia melambaikan tangan ke arah laki-laki itu, tersenyum ke arahnya kemudian berjalan menyusuri halaman rumahnya. Hingga bayangan Clarissa tak bisa Sheerin tangkap lagi, menghilang ditelan pintu rumah itu.
***
Nindi menyibak tirai di hadapannya, nampaklah pemandangan di luar sana. Pandangannya menyapu seluruh halaman depan rumah itu. Dan matanya memicing saat menangkap dua makhluk berbeda jenis kelamin sedang mojok di sudut halaman.
Astaga!
Ini tidak bisa di biarkan, jika dua anak manusia sedang berduaan, yang ke tiganya berarti adalah setan.
Enak saja si tengil, dia dengan mudahnya mendapatkan hati Sheerin kembali. Tidak ada usahanya sama sekali. Nindi rasa dirinya harus menjadi ujian untuk hubungan keduanya, laki-laki itu harus mengerti akan kata pengorbanan, agar kelak dia tak pernah berpikir untuk meninggalkan Sheerin lagi.
Nindi kembali menutup tirai itu kemudian berlalu, berjalan melewati suaminya yang masih berkutat dengan laptop.
"Mau kemana sayang?" Bima menegur saat Nindi baru saja membuka pintu.
"Mau kedepan sebentar kak." Jawabnya.
"Jangan terlalu lama, diluar udaranya dingin sekali." Mengingatkan atau perhatian?
"Iya kak, sebentar aja kok. Kalau udah selesai urusannya aku langsung masuk lagi." Patuh Nindi menjawab. Setelah merasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi, Nindipun kembali berjalan keluar rumah.
Bagus sekali, mereka bahkan tak menyadari jika Nindi kini tengah berdiri tepat di samping Levin. Saking asyiknya pacaran. Cih!
"Hey! Udah jam berapa ini?" Sambil memecak, Nindi berkata sinis. Mengusik ketenangan yang sedari tadi tercipta antara Sheerin dan Levin.
Keduanya menoleh.
"Nindi?" Ujar Sheerin saat sadar keberadaan kembarannya itu. Levin melengos sebal, lagi-lagi si urakan. Belum habis kekesalan Levin karena di buat menunggu lama, sekarang apa lagi yang ingin dia lakukan?
"Mau sampai kapan loe disini? Cabut sana loe!" Nindi tak menggubris Sheerin, malah beralih pada Levin yang hanya diam saja.
"Baru juga dua jam." Menjawab tanpa dosa.
"Itu udah lama tau. Udah sana loe balik! Sheerin harus banyak istirahat. Angin malam nggak bagus buat kesehatannya." Sambil memecak Nindi mengomeli Levin.
__ADS_1
Sheerin mengerutkan keningnya melihat kemarahan Nindi yang sudah seperti emak-emak protektif saat mendapati anaknya ketahuan pacaran.
Harga diri Levin jatuh seketika, dimarahi di hadapan orang yang dia cintai. Astaga! Memalukan sekali.
Levin sama sekali tak berniat membalas perkataan pedas dari Nindi, ada Sheerin disana. Dia tak ingin Sheerin mendengar kata-kata kasar keluar dari mulutnya saat bertengkar dengan Nindi.
"Ini juga, ngapain dempet-dempetan gini? Minggir-minggir!" Nindi yang melihat tak ada jarak sedikitpun di antara keduanya, langsung naik pitam. Kemudian menengahi, memisahkan mereka, membuat jarak di antara keduanya.
Sheerin dan Levin merasa terusik, mereka bangkit dari duduknya. Tidak bisa apa dia melihat Levin senang sedikit saja? Sepertinya si Nindi ini menderita jika melihat Levin bahagia. Dan sebaliknya, dia merasa bahagia saat melihat Levin menderita.
"Udahlah Lev, kamu pulang aja dulu. Besok pagi kita jogging bareng." Sheerin berbisik pada Levin agar Nindi tak mendengarnya.
"Iya yang. Besok aku jemput kamu ya!" Membalas dengan cara berbisik pula. Sheerin mengangguk sambil tersenyum.
Nindi semakin geram saat mereka main bisik-bisikan. Mereka menganggap Nindi apa sebenarnya? Marah lagi, dia menjauhkan tubuh Levin dari Sheerin.
"Udah sana loe pulang!" Seru Nindi.
Kemudian ide jahil hinggap di pikiran Levin, jika dirinya tidak bisa balik membalas Nindi dengan kata-kata kasar, tapi Levin bisa membalas Nindi dengan cara memanas-manasi calon kakak iparnya itu, 'kan?
"Ya udah, aku pulang ya yang. Kamu langsung tidur, jangan lupa mimpiin aku. Nanti aku wa kamu kalau udah sampai rumah ya." Berkata dengan nada lebay. Membuat Sheerin terkekeh geli saat mendengarnya.
Apa-apaan sih pacarnya itu?
"Iya, hati-hati di jalannya ya!" Ujar Sheerin.
Nindi merasa dipermainkan. Dia langsung melepaskan tautan tangan Sheerin dan Levin.
"Udah kelamaan! Banyak drama banget sih loe!" Ucapnya sewot.
"Ya udah, aku pulang ya. By! Muaach :*"
Benar-benar menggelikan, sengaja dia melambai-lambaikan tangannya kearah Sheerin dan tak lupa juga kissby. Astaga! Sampai membuat pipi Sheerin bersemu merah di buatnya.
"Lebai banget sih loe! Udaah sana pergi! Buruan!" Nindi sampai harus mengibas-ngibaskan kakinya ke arah Levin, hanya untuk mengusirnya. Mendorongnya juga karena Levin banyak bicara, namun tak kunjung pergi.
"By!" Sheerin melambaikan tangannya, mengiringi kepergian Levin.
Levin hanya membalasnya dengan seulas senyum dari balik helm. Motorpun melesat meninggalkan halaman rumah itu, menembus gelapnya malam ini.
Setelah drama pengusiraan Levin oleh calon kakak iparnya, tinggallah Sheerin dan Nindi disana.
"Loe galak banget sih Nin, kasian kan dia." Ucap Sheerin.
"Biarin aja, dia itu harus berjuang buat bisa sama sama sama loe, biar dia nggak pernah berpikir buat ninggalin loe lagi nantinya." Jawab Nindi.
"Iya gue tau, tapi jangan galak-galak gitu doong. Gue kan masih kangen sama dia." Sheerin memajukan bibirnya, manja. Kemudian memeluk saudara kembarnya itu, membayangkan jika Nindi adalah Levin. Ahh, Levin. Baru saja beberapa menit berpisah hati Sheerin sudah merasakan kerinduan yang teramat besar.
__ADS_1
"Udahlah, simpen aja kangen loe itu buat besok! Kita masuk sekarang!" Ucap Nindi, menggandeng lengan Sheerin untuk segera masuk.
"Ehh Nin." Sheerin menahan diri agar tak tertarik oleh Nindi.
"Kenapa lagi?" Tanya Nindi.
"Itu rumah kosong belum ada yang nempatin juga ya?" Tiba-tiba saja merasa penasaran dengan rumah kosong.
"Belum, ngapain sih nanyain rumah itu? Manusia mana coba yang sudi tinggal di rumah angker kayak gitu?" Jawab dan tanya Nindi.
"Ya nggak apa-apa, cuma gue kepikiran buat beli rumah itu buat di jadiin konveksi. Markas udah sesak banget, udah nggak bisa nampung lebih banyak kain lagi." Jawab Sheerin.
"Kalau mau, loe cari tempat lain aja deh. Jangan rumah itu. Serem tau, ada hantunya lagi. Hii." Nindi bergidig ngeri saat membayangkan kejadian waktu dirinya dan Clarissa ke sana dan mimpi di kejar-kejar hantu.
"Seriusan Nin?" Tanya Sheerin.
"Iya, waktu itu gue kan udah cerita sama loe."
"Oh iya bener. Tapi sekarang loe nggak di gangguin sama hantu itu lagi kan?"
"Nggak sih. Tapi tetep aja ngeri."
"Serem juga ya tetanggan sama hantu."
"Udahlah jangan dibahas lagi, nanti hantunya denger, terus marah lagi. Bisa-bisa kita di gentayangin. Hii"
"Hihihi."
Merekapun ketawa ketiwi, menirukan suara hantu. Kemudian keduanya kompak berlari ke dalam rumah karena merasa takut jika yang sedang di olok-olok menampakkan diri di hadapan mereka.
***
Luis' POV.
Aku menatap wajah Anya yang kini sedang terlelap di sampingku. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan hanya demi diriku dan anak kami, Bima. Entah sudah berapa banyak waktu yang dia relakan terbuang untuk mewujudkan impiannya.
Wanita berambisi tinggi, yang memegang teguh pendiriannya. Kesetiaannya tak bisa si ragukan lagi. Jika Anya adalah wanita lain, mungkin dia sekarang sudah menghianati suaminya yang tak berguna ini. Dan dia akan berubah pikiran, melupakan dendamnya lalu mengabdi sungguhan kepada Lukman yang memiliki segalanya.
Bahkan dulu aku sempat berpikir itu semua akan terjadi. Dimana pendirian Anya akan goyah, melupakanku juga Bima dan hidup bahagia bersama keluarga barunya. Namun semua pemikiranku itu terpecahkan seiring berjalannya waktu.
Anya sering menangis di pelukanku dan berkeluh kesah tentang hidup yang dia jalani bersama Lukman. Dia sama sekali tak bahagia, dia ingin pulang dan kembali bersamaku. Aku menyuruhnya untuk mengakhiri saja semua ini, namun Anya menolaknya. Katanya, perjuangannya baru saja di mulai. Dia berkata jika ia hanya sedang butuh pegangan saat dirinya hampir saja terjatuh.
Kalian tidak akan pernah menyangka jika aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Aku yang sekarang terbentuk akibat kerasnya hidup yang aku jalani.
_______________
Sudut pandang Luis masih berlanjut, tunggu kelanjutannya ya...
__ADS_1