
Sampai di rumah .
"Akh capeknya" ujar Elizabeth menjatuhkan tubuhnya di kasur itu.
"Capek, ya? Abraham melepaskan jasnya dan lainya "Mandilah, Elis. Abis itu, kita makan. Aku sudah menyuruh mereka menyiapkan yang kau ingin kan"
"Em. Aku ingin istirahat sebentar" balas Elizabeth.
"Kenapa tidak mandi dahulu? Setelah makan,kau bisa langsung istirahat. Em" ucap Abraham yang mengusap kepala Elizabeth lembut.
"Sebentar, ya? Aku tidak bisa tidur nanti. Aku mau belajar, sebentar lagi UAS" jawab Elizabeth yang malah memendamkan kepalanya ke dalam kasur...
"Em. Tidurlah. Aku mandi dahulu. Setelah itu, aku akan membangunkan mu"
"Iya"
Abaraham beranjak dan pergi mandi...
Hari- hari berlalu, hubungan antara Abraham dan Elizabeth semakin dekat.
"Pagi..." Sapa Elizabeth yang terbangun dan merenggangkan seluruh ototnya.
Abraham tersenyum dan mengecup bibir Elizabeth dan tangan Elizabeth terulur
meletakkannya di leher Abraham. Ini sudah menjadi rutinitas mereka setiap pagi.
"Capek ya?!" Tanya Abraham yang tau bahwa Elizabeth masih ujian dan sibuk membuat proposal untuk magang di SAS.
"Lumayan capek sih. Honey"
"Ujian mu terakhir kan?"
Elizabeth manggut-manggut dan menunjukkan wajahnya yang lelah. Abraham mengecup Elizabeth lagi dan mengusap kepala Elizabeth lembut. Kemudian lanjut mencium pipi kanan dan kiri Elizabeth. Elizabeth mendorong Abraham.
"Aku ada ujian.. Jangan aneh-aneh" balas Elizabeth.
"Kamu wangi sih" ucap Abraham sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Wangi dari mana? Bau iler malah iya" bantah Elizabeth
"Tapi kamu wangi" Abraham menciumi seluruh wajah Elizabeth.
"Sudah! Bangun! Aku mau mandi" mendorong Abraham menjauh
"Mandi bareng" pinta Abraham.
"Bukan mandi yang ada. Bisa jadi 1 jam lebih saya mandi. Udah ah. Telat nanti adanya" Elizabeth berlalu masuk kamar mandi...
"Bagaimana proposal mu? Apa sudah di terima SAS?" Tanya Abraham saat Elizabeth masih mengikat rambutnya
"Udah aku kirim kemarin. Sekitar 2 minggu baru diumumin siapa yang di terima"
"Oh"
Abraham sebenarnya sudah menghubungi pihak SAS mengatakan istrinya akan mengirimkan proposal izin magang, sekitarnya tuan SAS bisa mempertimbangkannya dengan baik. Pihak SAS juga sudah membalasnya dan akan mempertimbangkan, namun tidak akan memspesialkannya dan berharap pihak D'company memahaminya, karena kami tidak akan membedakan status, karena dekengan. Di mata kami, mereka sama, sama-sama mahasiswa. Terimakasih.
Abraham pun memakluminya, karena memang perudahan Sasendri terkenal dengan kesetaraan, bahkan tidak ada namanya bawaan ataupun orang dalam, semuanya sama. Mungkin masih ada yang sistem seperti itu di kalangan bawahan Sasendri, namun jika sampai ketahuan, maka yang di pecat bukan yang di bawa dan pembawa, tapi juga penerima dan jajarannya. Kadang lebih baik mereka tidak menerima orang itu dari pada mereka yang menerima akibatnya di lain waktu, bahkan lebih baik mereka melaporkan si pembawa jika memaksa, karena ada from pengajuan yang akan segera membalas dan menindak lanjutinya secara cepat. Mereka sangat baik, namun kejam pada kejahatan itulah Sasendri grup. SAS (Sosiality Amerika Sasendri)
Logonya Sasendri tapi di bawah logo ditulis
Seperti biasa Abraham mengantar Elizabeth, kemudian Abraham ke Harvad University, karena ada urusan dirinya dengan Dion.
"Kenapa mukamu seperti itu, ham?" Tanya Dion, melihat muka Abaraham sedikit kusut.
"Elis istriku, Yon. Dia mau magangnya di SAS"
"Kenapa tidak di D'company, Ham?"
"Aku tidak masalah di mau magang di mana, Yon. SAS juga perusahaan yang besar dan pasti akan banyak pengalaman yang akan dia dapatkan,"
"Lalu kenapa mukamu seperti itu?"
Abraham masih memutar otak memasukan anak-anak buahnya untuk masuk ke SAS untuk melindungi Elizabeth, Taukan sistem rekrutmen SAS?
"Kenapa?!" Tanya Dion "Apa kau menghawatirkan kalau istrimu tidak di terima?" Tanya Dion memastikan.
__ADS_1
"Aku bukan takut dia tidak diterima. Jika tidak keterima di SAS aku akan langsung menerimanya. Masalahnya jika dia keterima"
"Aku rasa dia adalah kandidat yang baik, mahasiswi dari luar negeri, menerima mahasiswa, proposal penelitian pernah lolos dari pusat penelitian Amerika ( Result Amerika penelitian).
Abraham terkejut dengan pernyataan Dion. Bagaimana dia bisa tau, tentang semua itu?
"Kau tau dari mana, yon?" Tanya Abraham mencari tau.
Kemarin, Dion membaca sekilas tentang mahasiswa magang dan melihat ada proposal Elizabeth dan kawan2. Selain itu, dia juga sudah mencari tahu tentang Elizabeth. Untuk saat ini dia harus diam dan tidak boleh ada yang tau, takutnya akan jadi bumerang untuk Dion bahkan Rini dan Shaquille.
"Rini kan kerja di sana, Yon. Dia lihat di meja bosnya. Karena ada nama istri kamu, dia jadi tertarik, jadinya ia baca sekilas dan Rini cerita sama aku" Dion membuat alasan.
"Oh gitu. Aku juga baru tau juga, Yon. Aku...." Abaraham terhenti dan Dion mengerutkan keningnya, entah apa yang telah membuat temannya ini menjadi bimbang.
"Aku merasa Elizabeth saat sebelum pergi dan setelah pergi aku merasa ada 2 Elizabeth yang berbeda"
"Maksud kamu, Ham?" Tanya Dion "Elizabeth yang pacar kamu dan Elizabeth istri kamu berbeda?" Abraham menaikan kedua bahunya, tanda dia juga tidak tau...
"Kamu suka yang mana?" Tanya Dion kembali
"Tapi apapun juga dia istri kamu. Walaupun kamu suka dia yang dahulu, tapi kamu harus terima dia yang sekarang, Ham" lanjut Dion sebelum Abraham menjawab.
"Aku suka dia yang sekarang, Yon"
"Bagus dong. Ingat Ham pernikahan itu ikatannya sama tuhan, 1 seumur hidup. Engga ada yang salah orang ataupun salah takdir. Tuhan sudah mengaturnya dengan baik. Kamu harus jaga dia baik-baik. Kalau ada masalah selesaikan baik-baik. Jangan sampai kamu menyesal. Orang ketiga itu harus di buang jauh-jauh. Siapapun orangnya, kamu harus tetap memilih istri kamu, Ham" nasehat Dion.
"Iya, Yon" Abaraham mengiyakan saja, walau sebesar-besarnya dia sedikit binggung dengan ucapan Dion tersebut.
"Aku yakin pada mu, Ham. Ingat! Kamu harus memilih dengan bijak"
"Aku makin tidak mengerti, Yon. Apa yang sedang kau bicarakan? Kita sedang membicarakan tentang Elis yang magang di SAS dan aku tak ada masalah dengan Elis saat ini. Orang ketigapun tak ada. Aku sudah berjanji, menjaganya seumur hidupku"
"Kau akan mengerti suatu saat, Ham" balas Dion. "Sudahlah. Jadi apa yang membuat mu bimbang tadi, saat istrimu itu daftar di SAS?" Dion mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Keamanan Elis disana" jawab singkat Abraham.
"Apa yang kau takutkan, Ham? Keamanan SAS terjamin, dan aku yakin dia pasti akan baik-baik saja"
__ADS_1
"Kau tidak tau aku, Yon. Musuhku mungkin jika di hitung ada 1 kota ini saking banyaknya. Mereka banyak yang mengharapkan aku hancur bahkan mati. Aku tau keamanan Sasendri, tapi Elizabeth hanyalah mahasiswi magang, mereka tidak akan terlalu peduli dengannya"
"Aku harap begitu" jawab singkat Abraham