
"Yang menjadi pertanyaanya sekarang adalah, dimana ibu kandung kalian? Kenapa dia menghilang setelah berpamitan untuk pergi menemui ayahmu?" Bima bertanya setalah panjang lebar ibu bercerita.
Bahkan Sheerin telah menunjukkan foto yang di berikan bi Iin tadi pada ibu, dan ibu mengatakan jika perempuan di foto itu memanglah perempuan yang telah menitipkan Nindi kepadanya.
"Ibu juga tidak tau, mungkin telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat ibu kalian hendak menemui suaminya." Ibu berspekulasi.
"Apapun yang terjadi, aku yakin ibu masih hidup, mama Anya pasti tau sesuatu!" Ucap Sheerin.
"Nanti kita bahas lagi tentang masalah ini, sekarang semuanya sudah jelaskan jika kamu benar-benar saudara kembar Sheerin. Istirahatlah dulu, kamu pasti lelah semalaman tidak tidur." Bima berkata pada Nindi.
"Iya, kak."
"Kita istirahat di kamar gue ya Nin, biar ibu sama kak Yuvi setelah makan istirahat di kamar tamu." Sheerin merangkul lengan Nindi.
"Ya udah, ayo!" Jawab Nindi.
Perkataan Sheerin membuat Bima gelisah. Bagaimana bisa seorang perempuan yang telah menikah tidak memilih istirahat bersama suaminya?
Sheerin dan Nindi mulai pergi meninggalkan Bima, ibu dan Yuvi. Bima mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Nindi tanpa menghiraukan dirinya berlalu, dia terlihat begitu mesra dengan saudara kembarnya itu, jadi disini, siapa sebenarnya suaminya Nindi itu? Sheerin atau Bima?
Dan pagi menuju siang inipun Bima habiskan dengan kegelisahan yang menyelimuti hatinya.
***
Jika pada pagi harinya matahari sama sekali tak menampakkan wujud, maka seperti menunjukkan kehebatan nya, siang ini dia bersinar dengan begitu gagahnya.
Levin berencana untuk menemui dua perempuan yang wajahnya begitu mirip, bahkan dia sendiri tak yakin dia bisa membedakan mana Nindi yang asli dan Nindi palsu, Levin tau Sheerin namanya.
Dia akan membuat semuanya menjadi lurus, agar tak terjadi peperangan antara hati dan pikirannya. Sepanjang mata kuliah berlangsung pun dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi.
Namun baru saja motornya keluar dari gerbang utama kampus, dia melihat sosok perempuan yang tadi pagi meloloskannya dari ejekan si ibu kantin. Clarissa. Dia tengah berdiri di bawah teriknya sinar matahari.
Mengingat kebaikan yang telah dia lakukan, tidak ada salahnya, kan Levin memberi dia tumpangan? Hitung-hitung membalas budi.
Levin menghentikan motornya tepat di depan Clarissa.
"Hai, lagi nunggu siapa?" Tanya Levin setelah membuka pelindung di kepalanya.
"Ehh, hey. Lagi nunggu taksi online, tapi nggak tau kenapa tiba-tiba aja drivernya ngebatalin pesanan gue." Clarissa menunjukan layar ponselnya agar Levin percaya.
"Oh, kalau gitu pulang bareng gue aja." Ucap Levin kemudian.
Clarissa terlihat kegirangan, jiwa baperan nya langsung melonjak ke angkasa lepas. Seorang cowo ganteng bermotor keren menawarinya pulang bersama. Jika di dunia sinetron, maka si cowo itu tengah naksir pada si cewe. Apa mungkin Levin menyukainya pada pandangan pertama saat mereka bertabrakan di koridor?
Ahh, kepercayaan diri yang Clarissa miliki memang tak ada habisnya.
"Gimana, mau nggak? Ini panas banget lho!" Ucap Levin mengembalikan Clarissa kedunia nyata.
"Ehh, iya. Kalau loe nggak keberatan." Ucap Clarissa.
__ADS_1
"Ya udah, ayo naik!"
Clarissapun bergerak cepat, dia tanpa memikirkan apapun lagi segera naik ke jok belakang motor Levin.
***
Nindi menatap Sheerin yang tengah tertidur dengan lelap di sampingnya, sedangkan dirinya yang meski semalaman tidak tidur, masih tetap tidak bisa memejamkan matanya dengan benar.
Kenyataan memang tak seindah harapan. Hatinya begitu gelisah memikirkan semua yang terjadi di dalam hidupnya, ibu ternyata bukanlah ibu kandungnya. Dan Sheerin adalah saudara kembarnya. Sedangkan ayah kandungnya baru saja meninggal dunia. Ini semua terjadi begitu cepat, bahkan Nindi masih merasa asing dengan dirinya yang sekarang.
Nindi tak seceria sebelumnya, bahkan kegalakan yang melekat di dalam dirinya seolah hilang tak berbekas. Nindi tidak mengenali dirinya yang sekarang.
Dia mengacak-acak rambutnya hingga kusut, betapa banyak beban fikiran di dalam kepalanya itu. Sekuat apapun dia berusaha untuk menghindar, namun kenyataan tidak dapat di pungkiri. Nindi harus tetap melanjutkan hidupnya, sebagai Shireen? Tidak-tidak, bahkan nama itu terdengar aneh saat ada orang yang memanggilnya nanti.
Nindi tak bisa tinggal diam, dia harus kembali berbicara dengan ibu agar fikirannya lebih tenang.
***
"Bu!" Nindi berucap sambil mendorong handle sampai pintu itu terbuka separuhnya.
"Nindi?" Seru Yuvi, Yuvi bisa mengenalinya dari pakaian yang Nindi kenakan tentunya.
"Ibu mana?" Tanya Nindi setelah berdiri di hadapan Yuvi, matanya jelalatan kesana kemari mencari keberadaan sang ibu.
"Ibu lagi di kamar mandi, mau apa? Katanya kamu mau istirahat tadi?" Tanya Yuvi.
"Nindi masih nggak percaya kak, kenapa kalian menyembunyikan rahasia sebesar itu dari Nindi?" Nindi mulai mengeluarkan keluh kesahnya.
Nindi tertunduk lesu.
"Ya udah, sekarang jangan sedih gitu ahh, ini bukan kamu banget."
"Tapi Nindi masih bingung."
"Nggak usah bingung, yang penting sekarang, jalani hidup sesuai dengan alur yang udah Tuhan buat. Tapi kakak harap kamu jangan melupakan kakak sama ibu. Kakak sayang sama kamu Nin, waktu kecil dulu kakak seneng banget gendong kamu. Tapi sekarang adik kakak ini udah gede, malahan melangkahi kakaknya nikah duluan." Yuvi terawa sumbang di akhir kalimat.
"Ahh, kakak ini. Tapi kak Bima baik banget lho kak. Meskipun dia tau kalau Nindi udah membohongi dia, dia madih tetap bisa terima Nindi."
"Ya bagus dong, itu artinya suami kamu itu sangat mencintai kamu. Kakak ikut berbahagia buat kamu."
"Kakak sendiri gimana sama bang Doni?" Tanya Nindi.
"Kamu belum tau soal pernikahan kakakmu itu yang akan dilaksanakan bulan depan Nin?" Nindi dan Yuvi menoleh ke arah sumber suara. Ternyata ibu baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung menjawab pertanyaan Nindi.
"Apa? Serius? Ahhh, selamat ya kak! Aku ikut seneng, seneng banget malah. Akhirnya kakak mau terima lamarannya bang Doni." Nindi langsung berhambur memeluk kakak angkatnya itu.
"Iya, do'ain ya biar semuanya lancar." Yuvi menjawab dengan senyum malu-malu.
"Ibu juga ikut bahagia, kedua putri ibu akhirnya bisa menemukan pendamping hidup masing-masing." Ibu berkata dengan sendu.
__ADS_1
Nindi dan Yuvi yang tengah berpelukan menoleh ke arah ibu, terlihat jelas jika ibu sedang merasa bersedih.
"Ibu tenang aja, ibu bisa ikut Nindi kok. Biar nanti Nindi yang bicara sama kak Bima, pasti kak Bima mengizinkan ibu tinggal sama Nindi." Nindi beranjak dan beralih memeluk ibu dari sisi kiri
"Atau ibu juga bisa ikut aku, Doni pasti mau menerima ibu dengan senang hati." Yuvi ikut memeluk ibu dari arah kanan. Mereka bertigapun saling berpelukan, membuat suasana haru di ruangan tertutup itu kian terasa.
Ada tetesan air di sudut mata ibu, menandakan tangis kebahagiaan. Tak sia-sia dia mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk membesarkan Yuvi dan Nindi. Mereka mau membalas jasa mulianya selama ini.
***
Saat matahari semakin condong ke arah barat, saat itu pula Levin baru saja tiba di rumah. Niatnya untuk menemui Sheerin sepertinya harus ditunda. Hatinya belum siap menerima kenyataan pahit dan kembali terluka. Mungkin dia membutuhkan setidaknya beberapa banyak waktu untuk bisa mencerna apa yang terjadi.
***
Sheerin terjaga dari tidur saat merasa kantung kemihnya mulai penuh, diapun bergegas pergi ke tandas.
Selesai dengan urusannya itu, Sheerin kembali, namun dia tak menemukan sosok perempuan yang terakhir kali bersama dengannya, Nindi.
Sheerin kemudian keluar dari kamar dan mulai mencari Nindi di bawah. Dia yakin pasti saat ini Nindi sedang bersama kak Bima. Saat tiba di lantai bawah, Sheerin melihat kak Bima yang sedang membereskan ruang tamu untuk di jadikan tempat tahlilan nanti malam. Namun Sheerin tak bisa melihat keberadaan kembarannya itu disana.
"Kak!" Sheerin berseru.
Bima hanya sedikit menoleh kearah Sheerin, kemudian kembali buang muka, dan berjibaku dengan pekerjaannya lagi.
"Kak Bima!" Seru Sheerin sekali lagi karena merasa tidak di gubris perkataannya.
"Ada apa Sheerin?" Tanya Bima tanpa menoleh lagi.
"Kok kak Bima tau aku Sheerin?" Tanya Sheerin mancing Bima agar dia mau bicara.
Sejenak Bima menghentikan aktivitasnya, dan menatap Sheerin dengan intens.
"Selain dari pakaian yang kamu kenakan, juga tidak ada perasaan yang bergejolak di hatiku seperti saat aku bersama dengan kembaranmu itu." Jawaban Bima begitu jujur tentu saja dengan intonasinya yang datar dan terkesan tak perduli. Di lanjutkannya lagi pekerjaannya.
Sheerin menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban yang sebenarnya sangat tak ingin di dengarnya itu. Kesannya, si kak Bima ini sedang memamerkan hubungannya dengan Nindi dan menunjukkan kepadanya kalau Bima sangat bahagia bisa menikahi Nindi. Oh Sheerin tau sekarang, mungkin dia sedang memanas-manasi Sheerin karena dulu saat hendak dijodohkan, Sheerin malah kabur.
Baiklah, Sheerin tidak akan terpengaruh sedikitpun, dia sama sekali tidak menyesal telah lari dari perjodohan itu. Justru disini Sheerin menjadi orang yang paling beruntung bisa terhindar dari pernikahan dengan orang datar dan kaku seperti kak Bima ini. Pastilah sangat membosankan berada satu atap dengan pria macam itu. Yang Sheerin tak habis fikir adalah, kenapa Nindi bisa sampai tergila-gila pada laki-laki kutub utara ini?
Entahlah!
Di hatinya kini hanya terukir satu nama, Levin, yang telah dia kecewakan perasaannya dan dia patahkan hatinya. Wajah Sheerin mendadak sendu ketika mengingat Levin. Apa disana Levin juga merindukan Sheerin? Seperti Sheerin merindukan Levin?
Ahh, pastilah sekarang laki-laki itu sangat membenci dirinya. Yang di cintai Levin kan Nindi, bukan dirinya. Hati laki-laki itu pasti semakin hancur saat mengetahui jika sekarang Nindi telah di persunting oleh laki-laki lain.
Haruskan Sheerin menemui Levin untuk meminta maaf atas semua yang terjadi? Bagaimanapun juga Sheerin memang bersalah disini. Dolak dan di maki, itu pasti. Tapi Sheerin harus menerima semua konsekuensi yang ada, atau selamanya hatinya tidak akan baik-baik saja. Meskipun dia sendiri tau bagaimana perihnya rasa dibenci oleh orang kita cintai akan seperti apa.
"Dari pada melamun disana, lebih baik cepat pergi, kamu hanya menghalangi orang yang sedang bekerja disini." Ucapan tajam yang keluar dari mulut kak Bima menyadarkan Sheerin dari lamunan panjangnya.
Dan perkataannya itu berhasil membuat Sheerin kesal. Jadi, pemilik rumah ini sebenarnya siapa?
__ADS_1
_________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...