
Langit mulai mendung, entah akan turun hujan atau memang waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat? Yang jelas, jam berapa pun sekarang, itu sama sekali tak mengganggu perjalanan Metha untuk membawa Leddy ke rumah sakit terbaik di Singapura. Semua staff terlihat sibuk, mengurus perlengkapan yang dibutuhkan Leddy saat di
perjalanan nanti. Dengan ditemani dua dokter senior dan beberapa orang perawat, Metha sedikit bernafas lega. Saat ini Leddy belum memberikan reaksi apa pun, masih sama saat dirinya dibawa ke rumah sakit, hal itu membuat Metha sedikit tenang.
Dari kejauhan, Mahe menatap mobil ambulance yang akan membawa Leddy ke bandara tanpa berkedip. Ada penyesalan yang terlintas dihatinya, ia sangat sedih melihat kondisi Leddy.Akan tetapi, ia pun tak mampu melakukan apa pun saat ini, nasi telah menjadi bubur. Semua kejadian yang menimpa Leddy tak akan bisa dihindar.
Pria itu hanya bisa berharap, semoga mantan kekasihnya bisa bertahan hidup dan dapat menghadiri pernikahannya dengan Viona nanti.
“Maaf Leddy. Aku belum bisa menjadi pria yang baik untukmu, aku hanya memberikan luka dan kesedihan padamu. Aku tak pantas untuk terus berada disisimu, aku pria brengsek yang tak tahu terimakasih,” ujarnya saat mobil ambulance itu melintas di hadapannya.
Mahe menyeka air mata yang membasahi pipinya, pria itu hendak berbalik namun ditahan oleh seseorang.
“Mau kemana lo,” ujar orang itu yang memegang tangan Mahe erat.
Mahe mengernyitkan dahi, tak menyangka kehadiran dirinya diketahui oleh dokter Farhan. “Farhan. Gue_” belum selesai ia bicara, Farhan terlebih dahulu melayangkan pukulan di wajahnya.
Mahe terjatuh, ia pun berusaha bangkit, namun lagi dan lagi dokter Farhan tak memberikan pria itu kesempatan untuk membela diri. Farhan terus saja memukul wajah Mahe hingga penuh dengan memar dan lebam.
“Bangsat lo. Selama ini gue percaya lo akan jaga sepupu gue, kenapa lo nyakitin dia, ha?” bentaknya.
Mahe membuang ludah, kemudian pandangannya kembali teralih pada Farhan. “Kenapa lo berhenti? Ayo pukul gue, pukul gue sampai lo puas, Han!” pintanya.
Dokter Farhan mendesis, ia tak menyangka akan ditantang oleh sahabatnya sendiri. Selama ini Leddy nggak tahu jika dokter Farhan dan Mahe berteman baik, gadis itu terlalu membenci Farhan sehingga apa pun tentang kehidupan Farhan, Leddy tak pernah tahu, termasuk persahabatan keduanya.
“Sialan lo Mahe. Setelah sekian lama gadis itu menghilang dan meninggalkan diri lo, dengan senang hati lo menerimanya kembali dan menyakiti perasaan sepupu gue. Dimana letak hati dan nurani lo itu, ha?” bentaknya dengan sangat keras.
Mahe terdiam, ia tahu saat ini yang pantas disalahkan atas kondisi Leddy adalah dirinya, bukan takdir maupun Viona. Ia yang terlalu bodoh untuk menjauh dari seorang gadis yang selama ini mencintainya dengan tulus. Mahe pun tak menyangka sikapnya akan berdampak seburuk ini pada gadis itu.
__ADS_1
“Maaf, Han.” Satu kalimat itu yang mampu ia ucapkan saat ini.
Farhan tersenyum kecut, menarik nafas dan berusaha untuk mengatur emosinya. “Lo bilang apa?” tanyanya menghampiri Mahe. “Maaf? Setelah apa yang terjadi dan lo cuma bilang maaf?*** lo.”
“Gue tahu, kesalahan gue tak bisa dimaafkan. Tapi, Han, gue juga nggak tega melihat kondisi Leddy seperti ini makanya gue datang.”
“Lo nggak tega melihat kondisinya saat ini, terus kenapa lo menyakiti hatinya? ***, sialan lo.” Dokter Farhan tak mampu lagi untuk menahan emosinya. Ia seperti orang kesetanan saat menghajar Mahe. Sedangkan pria itu malah pasrah menerima setiap pukulan yang membuat wajahnya penuh darah.
Para perawat petugas yang melihat pertengkaran itu berusaha untuk menjauhkan tubuh Farhan dari atas tubuh Mahe. Mereka menatap horor pada wajah yang penuh dengan luka itu.
“Jangan berani-berani lo muncul di hadapannya lagi. Pergi sejauh mungkin dengan istri tercinta lo itu, jika gue melihat lo di sekeliling Leddy, gue pastikan lo udah nggak ada di dunia ini.” Farhan meninggalkan Mahe sendiri, begitu pun dengan perawat tadi. Tak ada yang berani membantu pria itu karena mereka sangat patuh dan takut pada Farhan.
“Gue tahu lo kecewa, Han. Tapi, nggak gini juga kali, sialan, sakit gue,” ujarnya yang berusaha untuk berdiri.
***
Mahe tiba di rumahnya setelah magrib, membuat Viona yang dari tadi menunggu bernafas lega. Gadis itu berlari menghampiri Mahe yang masih duduk di dalam mobil. Entah apa yang dipikirkannya, membuat Mahe enggan untuk keluar. Dirinya belum siap melihat Viona yang telah menghancurkan hubungannya dengan Leddy. Jika Viona tak
“Sayang, keluarlah. Aku dari tadi menunggumu,” ucap Viona.
Mahe keluar dari mobil itu dengan wajah tak suka. Viona terkejut melihat wajah pria itu penuh dengan darah.
“Astaga, kamu kenapa bisa berdarah begini?” teriaknya histeris.
“Nggak usah pedulikan aku, aku baik-baik saja.”
“Nggak, sayang. Kita harus ke rumah sakit, obati lukamu dulu,” ujarnya sembari memegang wajah Mahe.
Pria itu menepis tangan Viona dengan kasar, menatapnya dengan tatapan tidak suka. “Aku kan sudah bilang, aku baik-baik saja. Jangan hiraukan aku, saat ini aku nggak mau diganggu.”
“Maksudnya?” Viona mengernyit tak paham.
__ADS_1
“Pergilah, Viona. Pergi sejauh mungkin, jangan ganggu aku lagi. Dari awal seharusnya aku mengerti, bahwa hubungan kita sudah lama berakhir. Aku terlalu bodoh, tega menyakiti wanita yang telah menemani di saat diriku terpuruk.” Mahe berlalu meninggalkan Viona yang tampak tidak suka.
“Jadi, kamu mencintainya?” tanya Viona yang berhasil menghentikan langkah Mahe.
Pria itu terdiam, tak bisa menjawab apa pun saat ini. Viona menghampirinya sembari tersenyum yang seakan sudah tahu jawaban pria itu. “Aku tahu mencintaiku, Mahe. Selamanya akan seperti itu. Saat ini, tak ada wanita lain selain aku di hatimu,” ujarnya kepedean.
Mahe memilih meninggalkan Viona, pertanyaan seperti tidak perlu untuk dijawab. Namun, lagi dan lagi teriakan Viona menghentikan langkahnya.
“Berhenti memikirkan dia, Mahe. Leddy cuma wanita penggoda yang telah merusak hubungan kita.”
Mahe geram, apa yang dikatakan gadis itu tentang Leddy tidaklah benar. Bukankah dokter Leddy yang telah menyelamatkan hidupnya? Leddy juga yang telah memberinya tumpangan untuk tinggal di rumahnya, bukankah hubungan mereka kandas ulah Viona sendiri? Lantas mengapa Viona tega menyalahkan Leddy yang tak tahu apa-apa.
“Berhenti menyalahkan Leddy, gadis itu tak tahu apa-apa,” ujar Mahe saat berada di hadapannya.
“Kenapa? Apa aku salah?”
“Jelas kamu salah, Viona?” bentaknya yang membuat Viona melotot tak percaya. ”Leddy tak tahu apa-apa tentang kita di masa lalu. Hubungan kita kandas karena kamu sendiri yang memilih pergi dengan pria lain. Kamu tahu, aku bahkan nggak memikirkan kamu tega melakukan hal itu padaku. Di saat semua tamu undangan sudah hadir, kamu menghilang. Kamu tak pernah memikirkan tentang perasaanku yang sedih mendengar hal itu.”
“Mahe, aku nggak kabur. Tapi, aku diculik.” Viona berusaha untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Kamu pikir aku percaya?” Viona menitikkan air mata mendengar kalimat itu. Jadi, selama ini Mahe berpikiran dirinya telah berkhianat dan kabur dengan pria lain.
“Itu benar, Mahe. Jason, pria itu dendam padaku. Dia yang telah menculik saat aku masih berada di apartment.”
“Drama apa ini, Viona? Kamu pikir aku percaya dengan dongeng kuno ini? zaman sekarang mana ada hal begituan, kalau pun kamu diculik karena pria itu dendam, aku percaya kamu tidak ada di dunia ini lagi. Mungkin kamu sudah di alam yang beda.”
“Mahe.”
“Pergilah, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku sudah muak melihatmu." Mahe meninggalkan Viona yang kaku di halaman rumah. Gadis itu tak percaya apa yang didengarnya barusan. Mahe berubah, setelah melihat kondisi. Apa mungkin pria itu mencintainya?
Viona memegang dadanya yang terasa sakit. Seperti ini rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, mungkin seperti ini yang dirasakan dokter Leddy.
__ADS_1