Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
32


__ADS_3

Seperti biasanya, Bram membukakan pintu mobil saat melihat adanya Elizabeth.


"Pagi" sapa Bram mencoba senormal mungkin.


"Plok" Elizabeth memukul bahu Bram. "Ini baru benar, kak Bram" puji Elizabeth " Pagi" balas Elizabeth tentang sapaan Bram tadi dengan senyum yang merekah. Bram masih mengusap bahunya yang di pukul Elizabeth, bukan karena sakit tapi karena terkejut.


"Apa anda akan langsung ke kampus, nyonya?" Tanya Bram mencoba mengingatkan Elizabeth tentang kampus, karena Elizabeth tak kunjung masuk ke dalam mobil, karena saking senang mendapatkan handphone dia sampai lupa menanyakan pada Abraham apa dia boleh ke toko buku.


"Iya, kak Bram" Elizabeth langsung masuk ke dalam mobil.


Sebelum Bram mengendarai mobilnya, ada yang menghadang mereka.


"Maaf, nyonya. Apa saya boleh menumpang" ucap orang yang sepertinya terburu-buru.


"Kau tidak pulang semalam, kak Kim?" Tanya Elizabeth.


"Saya baru sampai tadi pagi, nyonya. Dan Motor saya sedang mogok, apa saya boleh menumpang anda?"


"Tentu, Kak"


Sekertaris Kim, langsung masuk di samping Bram.


"Hari ini hari terakhir anda dihukumkan, Kak?" Tanya Elizabeth pada Sekertaris Kim.


"Eh iya. Apa anda butuh bantuan?"


"Ah tidak kok. Aku hanya ingin tau saja!"


Elizabeth mengeluarkan bukunya dan mulai membaca. Banyak yang pelajaran yang tertinggal selama Elizabeth tidak masuk.


"Melihat anda seperti ini, sama seperti tuan saat sedang fokus" batin Sekertaris Kim "Tapi aku harus bagaimana sekarang? Sedangkan sebentar lagi sampai ke kampus"


"Bram, di mana Handpone mu? Handpone ku seperti tertinggal aku mau mencoba memiscallnya" ucap Sekertaris Kim ke Bram sambil memberikan kode pada Bram.


"Ini, Sekertaris Kim handphone saya. Tidak biasanya anda meninggalkan handpon, anda"


Dengan kesal, Sekertaris Kim mengambil handphone Bram. Bukannya menelpon dia malah memutar-mutar handpone itu.

__ADS_1


"Kenapa bos malah terlihat kesal? Perasaan tadi dia baik-baik saja"


Sekertaris Kim membuka handphone tersebut dan mencari kontak nomor di sana.


"Kau tidak menyimpan nomor ku Bram?!" Tanya Sekertaris Kim menaik oktafnya.


"Apa yang anda katakan Sekertaris Kim? Saya pasti menyimpan nomor anda dan tuan besar. Apalagi saya sangat hafal nomor Anda dan tuan besar"


"Tapi aku tak menemukan nomorku?!" Fiks Sekertaris Kim bertambah emosi.


"Saya selalu menyimpannya dengan nama Sekertaris Kim. Coba anda perhatikan lagi, Sekertaris Kim"


"Aku akan membunuhmu, Bram"


Sekertaris Kim mencoba mencari lagi dan benar ada namanya. Sekertaris Kim mencoba menelpon dan...


"Kau miskin sekali Bram, sampai pulsa pun tidak ada"


"Sa..." Ucap Bram berhenti, karena melihat Sekertaris Kim sudah mengepalkan tangannya dan siap memukul Bram.


"Maafkan saya, Sekertaris Kim. Sepertinya saya lupa membeli pulsa"


"Aduh aku harus menemukan Hpku segera"


Sekertaris Kim melirik ke arah Elizabeth dan Elizabeth masih fokus dengan bukunya.


"Nyonya?!" Panggil Sekertaris Kim pada Elizabeth. Elizabeth mendongak dan melihat kearah Sekertaris Kim.


"Apa saya boleh meminjam Handphone anda sebentar. Saya mau miscall Hp Saya. Saya lupa menaruhnya di mana?"


"Ah" Elizabeth diam sejenak.


"Saya harus menemukan handphone saya, nyonya. Karena masih banyak tugas yang belum saya lakukan. Saya juga harus menelpon client penting. Saya bisa kena marah, tuan besar jika tidak menelponnya"


Elizabeth membuka tas dan mengeluarkan kotak pemberian Abraham. Elizabeth mengeluarkan handphonenya.


"Bagus! Sepertinya nyonya belum membuka handphone itu"

__ADS_1


"Tapi saya juga tidak tau, ini ada pulsanya atau tidak, kak Kim. Soalnya handphonenya baru di berikan sama Abraham tadi pagi dan aku juga belum membukanya" ucap Elizabeth menyerahkan handphone tersebut ke Sekertaris Kim. Sekertaris Kim segera menerimanya.


"Terimakasih, nyonya" Sekertaris Kim mencoba menelpon handphonenya dan tidak ada yang mengangkat telpon tersebut.


"Bagaimana, kak Kim? Apakah bisa? Kakak taruh dimana? Apa terjatuh?" Tanya Elizabeth.


"Sepertinya tertinggal di rumah. Saya akan memeriksanya di rumah nanti, nyonya" Bram mengembalikan handphone itu ke Elizabeth.


"Aku harap memang tertinggal di rumah, kak"


Ada rasa lega yang tampak di wajah Sekertaris Kim. Entah apa yang dia lakukan dengan handphone milik Elizabeth tersebut.


Elizabeth memainkan handphonenya itu, sudah ada grup-grup kelasnya, banyak sekali chat yang yang terlewatkan. Ada chat dari Reyhan dan Raisya, hanya itu dan yang lain tidak ada. Jadi dia lebih memilih membuka pesan dari grup kelas pelajaran yang akan dimasukkan sekarang dan membacanya.


Di depan gerbang kampus.


Seperti biasa Bram membukakan pintu mobil untuk Elizabeth.


"Terima kasih atas bantuannya, nyonya" ucap Sekertaris Kim santai.


"Sama-sama, kak Kim"


Elizabethpun langsung turun.


"Selamat belajar, nyonya" ucap Bram kaku.


"Coba ganti, kak Bram! Itu terlalu kaku" Balas Elizabeth "Mungkin... Semangat!" Ucap Elizabeth dengan mengacungkan tinjunya ke atas, untuk menyampaikan betapa semangat dirinya. "Ah tidak-tidak. Mungkin tak usah ucapkan apa-apa. Sepertinya lebih baik"


"Saya akan mencoba sesuai suasana anda saja, nyonya. Untuk hari ini, Semangat belajarnya, nyonya"


"Ya lumayanlah" ucap Elizabeth malas


"Terimakasih sudah mengantar"


Bram kembali masuk dan melihat Sekertaris Kim sedang memainkan handphone.


"Bukankah kata anda handpone anda tertinggal, bos?" Tanya Bram penasaran.

__ADS_1


"Diamlah?! Aku masih sibuk. Kau kemudian saya mobil ke markas" ucap Sekertaris Kim yang masih sibuk mengetik di handphonenya tersebut.


__ADS_2