Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bendera kuning


__ADS_3

Aww!" Dia merintih kesakitan.


"Jangan banyak bergerak dulu, kakimu terluka parah!" Aku menahannya agar tetap berada diposisi semula.


Perempuan itu mengangguk, entah apa yang dia pikirkan, tapi sepertinya dia sedang ketakutan, apa mungkin dia mengira jika kami adalah orang jahat?


"Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Kenapa bisa malam itu kamu dan bayimu berada disana?" Tanya kakek.


Perempuan itu menatap tajam kearah kakek.


"Bayiku, mana bayiku?" Tanyanya panik.


"Sabar dulu ya, bayimu sedang bermain dengan putriku, dia aman disini." Aku paham betul bagaimana khawatirnya dia sekarang. Dia menghembuskan nafasnya berkali-kali.


"Kenapa kamu membiarkan anak sekecil itu menelan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi?" Pertanyaan kakek berhasil membuat dahi perempuan itu mengerut.


"Obat tidur? Saya tidak pernah memberinya obat tidur. Sebelum kecelakaan itu terjadi, bayi saya mengalami kejang-kejang. Saya hendak membawanya ke rumah sakit, lalu ditengah perjalanan mobil saya di sabotase orang sebelum akhirnya masuk kedalam jurang."


"Sabotase? Apa mungkin ada orang yang ingin mencelakakan kamu dan bayimu?" Tanyaku beropini.


"Ya, kamu benar, ada yang mengincar nyawaku dan bayiku. Tapi siapa?"


"...Anya, ya! Anya pasti tau sesuatu. Aku harus menemuinya sekarang!" Dia kembali akan beranjak, aku dengan sigap menahannya.


"Kamu mau kemana? Kamu baru saja sadar!" Cegah ku.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanyanya.


"Satu minggu." Jawabku.


"Apa? A... Aku harus pergi sekarang, aku harus menemui suamiku, sebelum dia kembali pulang ke ibukota."


"Tapi kamu belum sembuh betul."


"Tidak ada waktu lagi!" Perempuan itu bersikeras.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya kakek menengahi perdebatan antara aku dan dia. Dia mengangguk cepat.


"Pergilah, kembali pada keluargamu." Jika kakek sudah bicara, aku bisa apa?


"Terimakasih!" Diapun berjalan dengan langkahnya yang tertatih.


Apa yang aku rasakan? Dia akan pergi? Membawa bayinya? Kenapa aku merasa tidak rela? Aku sudah terlanjur menyayangi bayi itu.


"Maaf!" Perempuan itu terhenti tepat diambang pintu. Aku mengangkat kepala untuk menatap padanya.


"Apa aku boleh menitipkan putriku padamu sebentar? Aku merasa jika bayiku berada dalam bahaya, ada yang mengincar nyawanya dengan memberinya obat tidur." Ucapnya yang membuatku terlonjak senang. Tentu saja aku bersedia, karena selama dia tak sadarkan diri, akulah yang merawatnya, memandikannya, memberinya susu formula, menidurkan dan menyuapinya.


"Bayimu aman bersamaku." Ucapku sambil tersenyum.


"Apa perlu kakek mengantarmu?" Tanya kakek kemudian.


"Tidak kek, saya sudah terlalu banyak mereporkan kalian. Tapi, jika boleh, bisakah kalian meminjamkan ku uang?"


"Tentu saja! Pergilah dan ungkap kebenarannya!" Ucap kakek.


"Terimakasih, aku pasti akan kembali menjemput putriku dan membalas semua kebaikan kalian."


Flash back off...


***


"Namun nyatanya, sampai saat ini ibumu tak kunjung kembali untuk menjemputmu." Ibu mengakhiri dongengnya dengan menitihkan air mata.


Sedangkan Sheerin, sedari tadi pipinya sudah dibanjiri dengan air mata. Begitupun dengan Yuvi.

__ADS_1


Astaga!


Sheerin masih belum bisa berpikir dengan jernih, dia tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka. Jika dirinya bisa sesesak ini saat mendengar cerita ibu, lalu bagaimana dengan Nindi? Apa dia bisa menerima semua kenyataan yang ada?


"J... Jadi, apa ibu kandung Nindi sekarang masih hidup, bu?" Tanya Sheerin kemudian.


"Ibu tidak tau pasti, apa dia masih hidup atau sudah tiada sekarang. Apa yang dikatakan Yuvi benar, kamu sudah dewasa sekarang, kamu berhak tau siapa dirimu sebenarnya, carilah dia, nak!" Ibu menepuk pundak Sheerin.


Sheerin baru ingat, dulu ayah pernah berkata jika ibu kandungnya meninggal akibat kecelakaan, hanya sebatas itu yang Sheerin ketahui tentang ibunya. Apa ibu kandung Sheerin dan ibu kandung Nindi disini adalah orang yang sama?


Ayah, ya! Semua jawaban pasti ada pada ayahnya. Sheerin harus menemui ayahnya sekarang dan akan mengungkap semua kebenarannya, siapa yang sebenarnya berniat jahat untuk mencelakai ibu kandungnya dulu, juga tentang kebenaran jika Sheerin memiliki saudara kembar atau tidak.


"Aku harus pergi sekarang!" Sheerin beranjak dari duduknya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Yuvi sambil menahan tangan Sheerin.


"Aku mau pergi sebenar, ada seseorang yang harus aku temui." Jawab Sheerin.


"Pergilah nak, tapi tetap ingat satu hal, jika kamu sudah menemukan keluarga dan ibu kandungmu, jangan pernah lupakan ibumu ini. Ibu begitu sangat mencintaimu." Ibu berkata sambil memegangi pipi Sheerin yang lembab.


Ohh, hati Sheerin benar-benar sersentuh sekarang. Ibu begitu dalam menyayangi Nindi yang sama sekali bukan darah dagingnya, seseorang yang tak memiliki ikatan apapun, namun dangan murah hati dia mau memberikan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk mencintai Nindi.


Sedangkana mama Anya? Dia hanya bisa memberikan Sheerin rasa perih, rasa sakit yang selamanya akan terus mengendap dalam hati.


Astaga!


Mama Anya! Kenapa Sheerin sampai melupakan rencana jahat mama Anya kepada ayahnya?


"Aku janji bu, tapi sekarang aku harus pergi dulu!" Ucap Sheerin, intonasinya terdengar tergesa-gesa.


"Pergilah!" Ujar ibu memberikan restu.


Sheerin berjalan menuju kearah lemari, diambilnya gelang kaki yang dia sembunyikan diantara tumpukan baju. Ibu dan Yuvi menatapnya tanpa berkata sepatah katapun, mereka tak tau apa yang sedang dilakukan Sheerin karena posisinya yang membelakangi. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Sheerin kembali menatap ibu dan Yuvi.


"Waalaikumsalam."


***


Nindi dan Bima tengah berada dalam perjalanan menuju ibu kota, setelah mendapat kabar buruk dari mama Anya, Nindi langsung mengemasi seluruh pakaiannya dan meninggalkan acara pesta ulang tahun perusahaan tempat Bima bekerja yang masih belum usai.


Nindi tak hentinya menangis didalam mobil itu, dia tak tau kenapa hatinya bisa sehancur ini saat mendengar kabar kematian Lukman, padahal Lukman bukanlah siapa-siapa. Tapi kenapa rasanya sesesak ini? Seperti ada batu besar yang menghimpit diantara kiri kanan depan belakang dan atas bawah dirinya. Nindipun tak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi.


Nindi pernah merasakan perasaan seperti ini, sekali dalam seumur hidupnya, yaitu saat kematian kakek buyut. Dan kini Nindi harus kembali merasakan hal tergetir itu dalam hidupnya.


"Tenanglah She! Kamu harus ikhlas, ayahmu adalah milikNya, dan kepadaNya-lah dia akan kembali." Sedari tadi kak Bima tak berhenti melontarkan kalimat bijaknya, namun nyatanya, itu tak berhasil membuat hati Nindi jadi lebih baik.


Bima bergantian menatap Sheerin palsu yang tengah menagis sesegukan dan jalanan beraspal di depan sana, kesihan sekali istrinua itu. Hatinya pasti sekarang tengah terkoyak hebat saat ini, Bimapun pernah merasakan hal serupa, ditinggalkan pergi untuk selamanya oleh orang yang berarti dan begitu kita teladani dalam hidup. Ibunya, ya, ibunya. Meskipun bukanlah kematian yang memisahkan mereka, namun rasanya jauh lebih menyakitkan, karena dengan begitu, berarti ibunya sama sekali tidak menginginkan kehadiran Bima didunia ini lalu memilih untuk pergi dan tak kunjung kembali hingga detik ini.


"Semua makhluk yang bernyawa, pasti akan menemui ajalnya, hanya saja waktu dan caranya berbeda-beda. Percayalah She, surga sedang menanti ayahmu." Ucap Bima.


Nindi hanya terdiam, otaknya terus saja berperang melawan hatinya. Apa yang harus dia katakan kepada Sheerin? Nindi yakin hati Sheerin pasti lebih hancur dari pada dirinya saat tau ayahnya telah tiada.


Bagaimana Nindi bisa mempertanggungkan jawabkan semuanya, dia tidak ingin Sheerin merasakan hal yang sama dengannya, karena rasanya kehilangan itu benar-benar tak sedap. Tapi bagaimanapun juga, Sheerin berhak tau, dia adalah putri kandung Lukman satu-satunya.


Tiba-tiba saja ponsel Nindi berdering ditengah keheningan itu, dengan gerakkan cepat Nindi mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


"Ya, halo ma." Ucap Nindi dengan suara serak.


"Kamu sudah sampai mana sekarang? Kenapa lambat sekali sih? Jenazah ayahmu sudah akan di pulangkan kerumah." Disebrang sana mama Anya mengomeli Nindi.


Dari nada bicaranya, Nindi sama sekali tak menangkap adanya kesedihan, dia masih bisa memarahi Sheerin palsu dalam situasi seperti ini.


"Ya udah, aku nggak jadi ke rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah aja kalau gitu."


"Hemm." Mama Anya menyahut singkat. Nindi tak ingin banyak berdebat sekarang, hatinya begitu lelah, segera dia menutup sambungan telfon itu.

__ADS_1


"Ada apa She?" Tanya Bima.


"Kita langsung pulang kerumah aja kak, jenazah ayah dalam perjalanan." Jawab Nindi.


"Ya sudah."


***


Baru saja Sheerin tiba didepan rumah Lukman, namun dia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hatinya bergejolak dan bertanya-tanya.


Sebuah mobil ambulance melintas di hadapannya setelah keluar dari pekarangan rumah yang sedari kecil Sheerin tinggali itu. Dan, apa ini? Kenapa kenapa ada bendera kuning yang berkibar di depan rumahnya. Lalu, sedang apa orang-orang itu berkerumuh di rumahnya malam-malam seperti ini?


Deg!


Sedetik kemudian Sheerin menyadari, jika ada sesuatu yang tidak beres. Otaknya langsung menangkap kemungkinan yang terjadi.


'Siapa yang meninggal?' Tanyanya dalam hati. Kakinya perlahan mulai melangkah tanpa disadari, meskipun rasanya bergetar, namun Sheerin tak mampu menahan diri untuk tidak masuk kedalam sana dan mencari tau jawaban atas pertanyaannya.


"Nggak, jangan ayah, jangan ayah!" Sheerin berharap seperti itu.


Beberapa orang yang Sheerin ketahui sebagai tetangganya menegur dirinya.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya pak Lukman ya Sheerin, dia pasti sudah tenang disana. Ayahmu orangnya begitu dermawan dan berhati baik. Allah pasti memberinya tempat terbaik." Ucpa pria paruh baya itu yang berhasil membuat darah Sheerin berhenti mengalir dan membeku seketika.


'Apa? Jadi benar? Ayah?'


Sheerin berlari masuk kedalam rumah, langkahnya terhenti di ambang pintu saat menyaksikan pemandangan menyesakkan dada itu, dimana tubuh kaku sang ayah terbaring tak bernyawa ditutupi oleh sehelai kain.


"Ayaaah!"


Semua orang yang berada diruangan itu menoleh kearah Sheerin, dia berlari menuju jasad sang ayah, tangis kesedihan pecah seketika. Di bukanya sehelai kain yang menutupi wajah jenazah itu, dan benar saja, nampak sebuah wajah yang sangat Sheerin kenali setiap lekuknya, tersenyum dengan bibir pucatnya. Sheerin benar-benar tak menyangka, itu benar-benar ayahnya.


Kenapa? Kenapa takdir tak bersikap adil kepadanya? Kenapa takdir begitu tega merenggut satu-satunya manusia yang Sheerin miliki? Disaat semua rahasia dan kejanggalan didalam hatinya belum terpecahkan.


Kenapa? Kenapa ayah pergi secepat ini? Bahkan Sheerin belum sempat membuatnya bahagia dan membalas semua jasa-jasanya, justru di sisa-sisa waktu yang ayahnya miliki, Sheerin malah memilih pergi meninggalkannya, demi mencari kebahagiaan yang semu.


Menyesal, ya, Sheerin menyesal. Tapi penyesalan sudah tak berlaku sekarang, nasi telah menjadi bubur, nyawa yang telah hilang, tidak mungkin akan kembali lagi. Begitulah hukum alam.


"Ayaah, bangun ayah, ayah harus bangun, Sheerin janji Sheerin nggak akan meninggalkan ayah lagi, Sheerin akan menemani ayah disini! Tapi ayah harus bangun!" Sheerin menangis histreris sambil mendekap tubuh tak bernyawa sang ayah dan mengguncangnya, air matanya bahkan sampai menetes mengenai jasad Lukman.


"Non Sheerin yang sabar ya, tuan sudah tenang disana. Menangis didepan jasad apalagi sampai air matanya jatuh ke jasad itu tidak baik non." Bi Iin berusaha menjauhkan Sheerin dari jasad Lukman.


"Sudah sampai kamu ternyata, mana suamimu?" Mama Anya yang baru datang entah dari mana menegur Sheerin.


Sheerin menoleh, lalu menatapnya dengan tajam dan menusuk, namun bagi mama Anya itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa.


Dia, ya! Dia wanita yang sudah menyebabkan ayah kehilangan nyawa. Bukan, dia bukan wanita, dia adalah iblis berkedok wanita. Ini sudah sangat keterlaluan, bahkan tindakkannya sudah diluar batas normal.


Jika biasanya saat berhadapan dengan mama Anya Sheerin selalu ketakutan, tapi tidak untuk kali ini. Emosi didalam jiwanya begitu membuncah, sehingga bisa mengalahkan rasa takutnya sendiri. Bahkan kini perasaan takut itu sudah berubah menjadi muak.


Sheerin beranjak, kemudian semakin menajamkan lagi tatapannya pada mama Anya, bersiap untuk meminta pertanggung jawaban. Biarkan saja, mama Anya tidak akan bisa menyakitinya sekarang, disini terlalu banyak orang, ada pak RW, para tetangga dan rekan-rekan bisnis Lukman.


"Mama yang udah bunuh ayah! Dasar manusia berhati iblis!" Sekuat tenaga Sheerin mendorong bahu mama Anya hingga si pemilik bahu hampir saja tersengkur, beruntung ibu-ibu tetangga segera menahannya.


Semua orang yang ada disana tercenang, kenapa Sheerin bertindak seperti orang yang sedang kesurupan?


Ya, bagaikan semut yang jika diinjak-injak, pasti dia melawan dengan cara menggigit. Apalagi dengan manusia, Sheerin sudah merasakan sakit yang teramat sakit, dan ini adalah puncak tertinggi dimana dirinya di sakiti. Apa Shreein masih harus tetal diam? Tidak!


"Apa yang kamu lakukan?" Mama Anya membentak Sheerin.


_____________


***Episode selanjutnya, Nindi dan Sheerin akan bertemu di rumah Lukman. Terus gimana ya reaksi semua orang saat tau Sheerin ada dua?? hayoo... ada yang penasaran nggak yaa?


jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca***...

__ADS_1


__ADS_2