Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Ketakutan Sheerin


__ADS_3

Kira-kira siapa yang bakalan meninggal ya dalam insiden ini? Apa Levin yang kecelakaan waktu jalan menuju rumah kosong? atau mama Anya? Atau Sheerin? Kita simak yuuk!


"Aaaaa." Sheerin menjerit histeris saat tempat persembunyiannya kini telah tak berbentuk lagi. Bahkan ponsel yang sedari tadi ada di genggamannya kini terlempar entah kemana. Sheerin tak lagi memikirkan tentang ponselnya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana dia bisa selamat. Dirinya benar-benar sudah ketahuan sekarang.


Sheerin memejamkan matanya, menutup telinganya saat Luis mendekat ke arahnya. Sedangkan Fira tak hentinya memohon agar Luis tidak menyakiti Sheerin.


"Hahaha, kamu tidak akan bisa lari dari sini, nasibmu akan sama seperti ibumu. Hahaha." Tawanya terdengar mengerikkan di telinga Sheerin. Dia sedikit mengintip, nampak lah sosok Luis yang kini berada tepat di hadapannya sedang tersenyum jahat.


Sheerin bringsut mundur untuk menghindari Luis. Namun sayang, punggungnya kini telah menyentuh tembok. Sehingga dia tak dapat mengelak dari Luis.


"Ampuuun paman, tolong lepaskan Sheerin!" Jalan terakhir yang di tempuh Sheerin yaitu memohon dan menghiba setelah di buat tak berkutik oleh perbuatan Luis yang mengancam itu.


"Tolong jangan lukai putriku. Biarkan dia pergi!" Intonasi bicara Fira yang biasanya pelan, kini naik beberapa oktaf. Wajahnya nampak menegang saat Luis semakin mendekat ke arah putrinya.


"Mama, tolong Sheerin!" Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang memanggil Fira dengan sebutan mama. Ia begitu terharu, matanya memanas. Andai saja mereka tidak di pertemukan dalam situasi seperti ini. Mungkin tangisan Fira itu adalah tangisan kebahagiaan.


"Lepaskan putriku! Habisi saja aku sekarang juga!" Seperti induk ayam yang jika anaknya terancam pasti akan bertindak, begitupun Fira. Dia bisa terima jika dirinya yang Luis sakiti, namun dia takan tinggal diam jika darah dagingnya yang dilukai.


"Tenang saja Fira. Aku tidak akan menghabisimu, tapi aku juga tidak akan melepaskan putrimu. Seseorang yang sudah masuk ke tempat ini, dia tidak akan bisa keluar lagi. Hahaha." Luis terus saja tertawa jahat.


Sheerin berusaha untuk mencari keberadaan ponselnya di tengah keremangan itu. Perlu kejelian untuk melakukannya. Hanya benda itu satu-satunya harapan Sheerin sekarang. Dia harus kembali menghibungi Levin. Keadaannya sudah mendesak.


Namun apa Sheerin bisa melakukan panggilan pada Levin sementara kini Luis berdiri dengan angkuh di hadapannya.


Matanya tak berhenti mencari, itu dia! Jaraknya cukup jauh dari posisi Sheerin saat ini. Sheerin berusaha untuk meraih benda itu dengan susah payah. Luis yang menyadari pergerakan Sheerin tak tinggal diam. Saat sedikit lagi tangan Sheerin menyentuh ponselnya, Luis menendang ponsel itu sehingga ponsel itu kini semakin jauh dari jangkauan Sheerin.


****!


Bagaimana ini?


"Jangan harap kamu dapat menggunakan benda itu lagi!" Luis nampak marah karena Sheerin berusaha untuk mencari pertolongan. Dia mengeluarkan senjata api dari saku celananya.


Sheerin tak menyangka jika Luis memiliki benda ilegal itu. Namun tidak dengan Fira, dia sudah tak asing saat melihat benda itu berada di tangan Luis. Karena benda itu selalu dijadikan Luis untuk mengancam dirinya.


Luis mengarahkan senjata api itu pada satu titik. Sebelum akhirnya dia menarik pelatuknya dan...


DOOOOR!


***


Kelopak mata Bima yang semula terpejam kini terbuka lebar-lebar. Suara tembakan itu terdengar jelas di telinganya sehingga mengusik tidur lelapnya.


Dia sedang tidak bermimpi, dia bisa mendengar dengan jelas suara peluru yang di tembakkan. Namun, dari mana asal suara itu?


Mulai cemas, Bima beranjak dari tidurnya. Mencari keberadaan istrinya. Baru sadar kalau mereka tertidur di kamar yang terpisah. Entah kenapa dia jadi mencemaskan Nindi apalagi saat istrinya itu tidak ada dalam pantauannya.


Dengan gerakan cepat Bima turun dari atas kasur, berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar ayahnya itu. Ternyata listrik kini sudah kembali menyala. Di lewatinya ruang tengah, kemudian berjalan menaiki anak tangga untuk bisa sampai di lantai dua atau lebih tepatnya kamarnya bersama Nindi.

__ADS_1


Sesampainya di atas, dia langsung memutar handle pintu, untuk memastikan apakah istrinya itu ada di dalam atau tidak. Karena firasatnya kini benar-benar tidak enak setelah mendengar suara tembakan itu.


Krek!


Pintu kamar ternyata tidak di kunci. Tumben, biasanya istrinya itu selalu mengunci pintu saat malam hari. Apalagi kini saudara kembarnya juga sedang menginap disana.


Namun begitu, Bima bisa dengan mudah masuk kedalam tanpa harus menggunakan kunci cadangan.


Dia mendorong pintu perlahan, pandangannya langsung tertuju pada satu titik, dimana istrinya yang sedang terlelap di atas kasur. Tentu saja Bima bisa membedakan antara Sheeruin dan Nindi. Selain dari pakaiannya yang terakhir kali mereka gunakan, juga ada perasaan bergejolak di hatinya saat melihat istrinya.


Namun, Bima tak melihat saudara kembarnya ada di sana. Kemana Sheerin? Saat dilantai bawah tadipun Bima tak menemukan Sheerun. Bima berjalan cepat menghampiri Nindi. Dia mengguncang pipi Nindi pelan.


"Sayang, bangunlah!" Serunya lirih.


Mata Sheerin mengerjap saat tidurnya terusik. Di kuceknya mata yang terasa lengket itu.


"Kenapa kak?" Sadar tak sadar Nindi menjawab dengan suara paraunya.


"Aku mendengar suara tembakkan tadi. Apa kamu mendengarnya?" Jangan ditanya, Nindi tidak akan ingat apapun jika sudah nempel dengan bantal dan memeluk guling dan berkelana di alam mimpi.


"Nggak." Jawabnya singkat.


"Lalu, dimana Sheerin? Firasatku tidak enak." Tanya Bima lagi.


"Sheerin?" Nindi menoleh ke sampingnya, tempat dimana terakhir kali Sheerin tertidur.


"Di bawah juga Sheerin tidak ada. Kemana dia di tengah malam seperti ini?" Tanya Bima.


"Aku juga nggak tau kak." Nindi menyambar ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Matanya memicing saat melihat banyak sekali pesan chat yang Sheerin kirimkan padanya.


Di bacanya satu persatu pesan itu, dadanya bergemuruh, amarahnya memuncak, matanya terasa panas. Semua perasaan bergejolak di dalam hatinya. Benar-benar sialan ayah mertuanya itu! Sebenarnya apa sih maunya dia?


Bima yang menyadari perubahan sikap istrinya itu nampak kebingungan.


"Ada apa sayang?"


***


DOOOOR!


Sheerin menutup rapat-rapat telinganya saat Luis menarik pelatuk pistol miliknya, ponselnya kini sudah hancur lebur. Dia tak menduga Luis senekat itu. Sheerin takut kalau setelah ini giliran dirinya yang Luis tembak.


Fira memejamkan matanya saat mendengar suara tembakan itu. Dia tidak bisa membayangkan kalau Luis akan melakukan hal yang sama terhadap Sheerin.


"Tenang saja, aku hanya melakukan pemanasan tadi." Ucapnya dengan santai tanpa beban.


Tiba-tiba saja Luis berjongkok tepat di hadapan Sheerin, dia mengikatkan tambang pada kedua pergelangan tangan Sheerin agar anak itu tidak kabur. Berontakpun tak ada gunanya, Sheerin malah semakin merasa kesakitan.

__ADS_1


Kemudian Luis mencengkam lengannya kuat-kuat.


"Aargh!" Sheerin meringis saat tangan Luis mencengkamnya dengan kasar.


"Kamu tau Fira, apa yang akan aku lakukan terhadap putri kesayanganmu ini?" Luis menatap ke arah Fira, Sheerin berusaha melepaskan cengkaman tangan Luis, namun tenaganya masih kalah kuat dengan tenaga Luis. Sehingga kini malah tangannya yang terasa sakit akibat berontak.


Firapun tak dapat berbuat apa-apa, kakinya kini di pasung, rantai besi juga membelenggu tangannya.


"Jangan, jangan sakiti Sheerinku!"


"Tolong lepaskan aku paman!" Sheerin berseru.


"Aku akan menikmati tubuhnya terlebih dulu sebelum aku melenyapkannya. Sepertinya dia masih perawan. Dan kamu akan menyaksikannya sendiri dengan mata kepalamu. Hahaha."


Apa? Dia bilang apa? Luis Benar-benar tidak waras. Sheerin terlihat ketakutan sekarang. Tubuhnya menegang saat Luis mengancamnya seperti itu. Namun Sheerin sendiri tau jika itu bukanlah gertakan semata. Dia tau apa yang di ucapkan Luis pasti akan jadi nyataan.


Dasar laki-laki terkutuk! Bahkan Sheerin tak sudi saat tangan Luis menyentuh tangannya seperti ini. Tua bangka menjijikan!


"Lepaskan aku paman! Lepaskan!" Sheerin terus berontak saat tangan Luis berbuat kurang ajar menyusuri wajahnya. Sheerin tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


"Tolong jangan lakukan itu. Lakukan saja padaku, jangan hancurkan masa depan putriku!"


"Dia sudah tidak memiliki masa depan Fira, hidupnya akan berakhir di tempat ini sebentar lagi. Lagi pula aku sudah bosan dengan tubuhmu, aku ingin meraskan sensasi berbeda dari putrimu ini. Hahaha." Seperti bocah yang mendapat mainan, Luis nampak sangat bahagia.


"Cuih!" Sheerin meludahi wajah Luis. Luis memejamkan matanya saat wajahnya kini basah karena diludahi Sheerin.


"Kurang ajar sekali kamu!" Luis membentak Sheerin dengan nada tinggi. Luis semakin menggila, dia merobek piyama yang Sheerin kenakan, hingga kini tanktop Sheerin terlihat dengan jelas.


Sheerin menangis sesegukan. Sedangkan jeritan Fira semakin histeris.


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


***Mau kasih visualnya, sayang di simpen di galeri terus


Sheerin



***Nindi



Bisa Sheeein, bisa Nindi 😁***


__ADS_1



__ADS_2