
Sheerin telah memantapkan langkahnya setelah banyak hal yang ia lalui di dalam hidupnya. Sebuah ilham tiba-tiba saja menghampiri dirinya dan menggerakkan hati Sheerin untuk lebih dekat dengan yang maha kuasa.
Kepergian ibu kandungnya, ayahnya, mama Anya dan Luis seperti hantaman keras untuk dirinya. Ia sadar, semua makhluk yang bernyawa pasti akan kembali pada sang pencipta. Sebab itu Sheerin ingin lebih khusyu dalam beribadah dan mendo'akan kedua orang tuanya.
Berbekal koleksi kerudung yang ia buat sendiri, Sheerin mulai membenahi diri. Setelah bercermin selama berjam-jam, dan dengan menyebut Bismillah, Sheerin pun melangkah. Mulai saat ini sampai seterusnya, jilbab insyaallah akan selalu melekat di kepalanya. Menjadikannya mahkota untuk melindungi diri.
"Masyaallah. Ini beneran loe She?" Nindi tak percaya jika yang berdiri di hadapannya kini adalah saudara kembarnya.
"Wah, selamat ya She, loe udah dapet hidayah. Dan gue yakin usaha kerudung loe pasti bakalan semakin laku kalau loe yang jadi modelnya." Ucap Tari, dia meraih tangan Sheerin dengan antusias.
"Amin, makasih ya Tar. Usaha kerudung gue juga nggak bakalan semaju sekarang kalau nggak ada kalian yang ngurusin." Ucap Sheerin sambil melempar senyum.
Sedangkan Levin, dia sama sekali tak berkedip saat melihat bidadari yang baru saja turun dari kayangan. Seakan dirinya sedang terhipnotis oleh pesona ayu seorang Sheerin Auliandra Zifaran.
Roni menyenggol lengan Levin saat menyadari tingkah anehnya.
"Kondisikan mata loe! Udah mau copot itu!" Ucap Roni yang langsung membuat Levin tersadar.
"Istighfar Lev!" Bima ikut berkoar.
"Astagfirulloh." Levin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Semua orang terlihat tertawa melihat kelakuan Levin.
"Makanya, buruan nikahin dia biar bebas mandanginnya." Nindi buka suara lagi.
"Kita udah sepakat buat lanjutin kuliah dulu Nin." Ucap Sheerin mengklarifikasi.
"Iya, setelah wisuda insyaallah." Ucap Levin membenarkan.
"Kita do'ain yang terbaik buat kalian. Sekali lagi selamat ya She." Ucap Roni kali ini.
"Makasih ya kurirku. Ya udah, anterin gue ke pelaminan yuk! Gue belum ngucapin selamat sama pengantinnya." Sheerin menarik tangan Nindi.
"Ekhm." Levin berdehem kecil, karena merasa di cueki, padahal sedari tadi dia sudah menunggu Sheerin dengan tidak sabaran.
"Aku nggak di ajak nih." Memasang wajah melasnya, Levin protes.
"Haha, iya iya. Ayo kita ke sana!" Akhirnya Sheerin dan Levin di antar Nindi menuju pelaminan, tempat pengantin berada. Sedangkan kak Bima, Tari dan Roni sudah lebih dulu mengucapkan selamat tadi. Dan melanjutkan untuk mencicipi lagi hidangan yang telah di sediakan.
***
Sheerin dan Nindi berjalan beriringan naik ke atas pelaminan. Sedangkan Levin mengekori nya dari belakang. Yang pertama mereka hampiri adalah ibu yang berada di sebelah kiri pelaminan.
"Ibu!" Sheerin meraih tangan ibu dan menyaliminya. Ibu membalas dengan mengusap pundak Sheerin.
"Kamu terlihat sangat cantik nak." Ucap ibu.
"Terimakasih bu. Gimana kondisi ibu sekarang?" Tanya Sheerin.
"Ibu sudah lebih baik nak. Tinggal 2 bulan lagi pengobatan ibu selesai. Nin, kamu ajak Sheerin makan ya!" Jawab dan titah ibu.
"Iya bu, Nindi nanti temenin Sheerin makan." Jawab Nindi.
"Tidak usah bu. Biar saya aja yang temenin Sheerin." Levin menimbrung.
"Ya sudah. Nak Levin juga jangan lupa cicipi hidangannya ya!" Seru ibu.
"Pasti bu." Levin tersenyum menanggapi perkataan ibu.
"Bu, Sheerin boleh peluk ibu sebentar?" Tanya Sheerin.
"Tentu saja boleh nak. Sini!" Ibu meraih tubuh Sheerin dan memeluknya lembut.
Hati Sheerin menghangat. Pelukan seperti ini yang ia rindukan dari ibu. Ibu sangatlah murah hati, membuat Sheerin merasa nyaman saat berada di dekatnya.
"Datanglah kapanpun yang kamu inginkan nak. Tangan ibu akan selalu terulur untuk kalian." Ucap ibu yang dapat Sheerin dengar dengan jelas.
"Makasih ya bu. Sheerin pasti bakalan sering butuh ibu." Balas Sheerin.
Nindi jadi terharu saat melihat mereka berpelukan seperti itu. Iapun ikut-ikutan memeluk ibu.
Setelah selesai dengan urusan peluk-pelukannya, kini Sheerin beralih pada pengantin baru yang menjadi raja dan ratu disana.
Yuvi menyambut hangat tamunya yang satu ini.
"Subhanallah, ini beneran kamu Sheerin? Cantik sekali." Merekapun cipika cipiki, Levin menyalami Doni, memberi ucapan selamat ldan berbasa-basi sedikit.
"Selamat ya kak, akhirnya kalian udah sah jadi suami istri sekarang. Nggak akan ada lagi yang berantem di malam hari. Ibu juga bisa tidur nyenyak mulai hari ini." Ucap Sheerin sambil mengingat drama percintaan antara Doni dan Yuvi yang tidak ada habisnya.
"Haha, masih inget aja kamu." Yuvi tergelak.
"...kamu pertahankan ya pake jilbab seperti ini, kamu terlihat semakin bersinar." Yuvi memperhatikan Sheerin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Insyaallah, do'ain Sheerin ya kak." Ucap Sheerin malu-malu.
"Oh iya, ini hadiah pernikahan buat kalian dari aku sama Levin. Semoga suka ya!" Sheerin memberikan kado yang sudah ia siapkan kemarin bersama Levin.
"Makasih ya! Kakak do'ain biar kalian cepet halal juga." Ucap Yuvi.
"Amiin." Levin yang paling kencang mengamini.
"Ngebet banget sih loe!" Nindi mengerlingkan matanya.
Levin sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terpancing. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga Sheerin untuk berdamai dengan Nindi. Tapi jika sedang khilaf, Levin tidak menjamin.
Merekapun melakukan swa foto, setelah itu turun dari pelaminan karena masih banyak tamu undangan dari pabriknya kak Yuvi yang ingin memberikan selamat.
"Duh, gue kok jadi kangen sama kak Bima ya." Ucap Nindi tiba-tiba.
"Kangen apanya? Tadi aja kalian baru ketemu." Balas Sheerin.
"Lebay banget sih loe. Gue tau loe cuma mau pamer kan sama kita?" Ucap Levin.
"Haha, biasa aja tuh. Loe nya aja yang baperan." Balas Nindi.
"Makanya buruan nikah. Biar tau gimana rasanya witwiw witwiw." Nindi menaik turunkan alisnya menggoda. Membuat wajah Sheerin merah merona. Setelah itu tanpa rasa berdosa sedikitpun dia pergi meninggalkan mereka dan berjalan menghampiri kak Bima.
"Yang, kita nikah sekarang aja yuk! Kamu nggak pengen apa?" Sepertinya si Levin ini sudah termakan oleh hasutan dari Nindi. Apalagi saat melihat pengantin di atas pelaminan, lalu Sheerin yang kini terlihat lebih bersinar. Hatinya terasa panas dan terbakar ingin cepat-cepat meminang pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"Kita kan udah sepakat Lev!" Sheerin kembali mengingatkan Levin akan komitmen mereka. Levin mendengus kecewa, dia gagal menggoyahkan pendirian kekasihnya itu.
Seseorang menghampiri Sheerin dan Levin yang sedang mengobrol.
"Hai." Perempuan itu menyapa.
"Clarissa?" Ucap mereka bersamaan. Kemudian matanya beralih pada laki-laki tinggi yang berdiri di samping Clarissa.
"Kenalin, ini cowok gue. Namanya Reza." Ucap Clarissa. Levin dan Sheerin saling melempar tatapan.
"Hai, gue Levin. Ini Sheerin. Kita temen satu fakultasnya Clarissa." Levin menyalami pacarnya Clarissa itu.
"Gue Reza. Senang bisa kenal sama kalian. Terimakasih juga sudah mengundang kita ke acara ini." Reza tersenyum dan menjabat tangan Levin. Levin membalas senyumnya.
Sheerin baru ingat jika laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan yang ia lihat malam itu. Ternyata benar-benar semudah itu Clarissa move on? Namun itu bukan rahasia umum lagi. Waktu Clarissa naksir kak Bima saja dia bisa dengan cepat berpindah suka pada Levin.
"Congrast ya Ris. Gue do'a in supaya kalian bahagia terus." Ucap Sheerin.
"Amin, makasih." Balas Clarissa sekenanya.
Sebenarnya, Clarissa hanya ingin pamer akan pacar barunya. Ingin membuktikan jika dia tak semenyedihkan seperti apa yang Nindi bilang waktu itu.
Dia tak ingin hatinya semakin sakit karena mengharapkan cinta yang tak pasti. Sedangkan ada Reza yang kini berdiri tegak di sampingnya. Mata hati Clarissa mulai terbuka saat Reza mintanya menjadi kekasih. Tentu saja Clarissa yang baperan dengan mudah jatuh hati pada laki-laki itu. Selain tampan, Reza juga pemilik sebuah kafe. Tak ada alasan untuk Clarissa menolaknya.
Pantas saja beberapa minggu terakhir ini Clarissa seolah hilang di telan bumi, ternyata dia sedang di sibukan dengan pacar barunya. Namun Clarissa tetaplah Clarissa, gengsinya tak pernah kendor. Dia masih saja bersikap sok jual mahal kepada Sheerin.
Biarlah, biar waktu yang akan mengilhami hati Clarissa. Meskipun Sheerin sendiri tak tau kapan waktu itu akan tiba.
Sheerin mempersilahkan Clarissa dan pacarnya untuk mencicipi hidangan. Sekarang, satu pasangan lagi yang menghampiri Sheerin dan Levin.
"Lea." Ucap Sheerin sumringah saat melihat sahabatnya datang. Namun wajahnya berubah kaget saat melihat laki-laki yang tak asing sedang merangkul Lea dan berjalan ke arahnya.
"Sandi." Pekik Sheerin dan Levin bersamaan.
Senyum cerah memancar dari wajah dua sejoli itu, kenapa mereka bisa datang bersamaan? Sambil gandengan tangan pula? Batin keduanya.
"Rin, gue kira loe yang nikah tau. Ternyata bukan ya. Hihi." Lea cekikikan sendiri dalam rangkulan sandi.
"Loe hutang banyak penjelasan sama gue Le! Ini maksudnya apa?" Sheerin menunjuk tangan mereka yang berpautan.
"Woi, lepasin itu tangan anak orang! Bukan muhrim, dosa tau!" Levin mengambil langkah seribu, lalu menepis tangan Sandi, terlepaslah pautan tangan mereka.
"Ngiri aja loe. Kalo mau, pegang aja tangan cewe loe itu. Kenapa harus ganggu kebahagiaan orang lain coba?" Sandi menggerutu karena kesenangannya di ganggu Levin.
Levin melirik ke arah Sheerin, nampak perempuan itu menggelengkan kepala. Levin jadi segan untuk sekedar menggenggam tangan Sheerin. Pasalnya, jilbab yang di pakai Sheerin seolah menjadi benteng yang menghalangi dirinya untuk bisa menggapai tambatan hatinya itu.
Sabar Levin, Tuhan sedang menguji kesabaranmu saat ini. Dia ingin melihat sampai sejauh mana dirimu dapat bertahan.
***
Sheerin dan Levin terpaksa memenuhi permintaan Yuvi untuk menyumbangkan sebuah lagu. Mereka sempat dilanda kebingungan, kira-kira lagu apa yang cocok untuk mereka nyanyikan berdua?
Setelah berdiskusi, akhirnya mereka sepakat. Dan, disini Sheerin dan Levin kini berada. Di atas panggung hiburan untuk memenuhi requestan dari pengantin perempuan. Sheerin tau jika pengantin adalah ratu sehari. Jadi apapun yang dia inginkan, maka harus di penuhi. Baiklah!
Nada indah dari piano menjadi pembuka lagu yang akan di bawakan oleh Sheerin dan Levin.
Sheerin
Seakan akan menyentuh jantung hatiku
Apakah ini satu isyarat sebuah pesan dari hatimu
Ungkapkan rasa cinta engkau pendam
Sheerin menatap ke arah Levin, nampak Levin juga sedang menatap ke arahnya. Mereka saling melempar senyum sehingga makna lagu yang mereka bawakan semakin dalam.
Sheerin dan Levin
Biarkan hati Bicara katakan semua rasa kita
Hentikanlah kebisuan membohongi kita
Biar hati yang berjanji
Dia tak mungkin bisa berdusta
Tentang rasa cinta kita
Tulus dari hati
Sepanjang lirik yang mereka nyanyikan, mata mereka tak berpaling sedikitpun. Benar-benar menjiwai lagu itu hingga sampai ke hati semua orang yang mendengarnya.
Levin
Senyuman di bibirmu selalu tersimpan di hati
Seakan akan menyentuh mesra jiwaku
Sheerin
Apakah ini satu isyarat sebuah pesan dari hatimu
Ungkapkan rasa cinta engkau pendam.
Sheerin, Levin
Biarkan hati bicara katakan semua rasa kita
Hentikanlah kebisuan membohongi kita
Biar hati yang berjanji dia tak mungkin bisa berdusta
Tentang rasa cinta kita
Tulus dari hati
Levin
cinta kita selalu jadi milik kita berdua untuk selamanya
__ADS_1
Sheerin
Biarkan hati bicara katakan semua rasa kita
Hentikanlah kebisuan membohongi kita
Biar hati yang berjanji dia tak mungkin bisa berdusta
Tentang rasa cinta kita
Tulus dari hati
---song by : Ruri Repvblik ft Cyntia Ivana- Pesan Dari Hati---
(Wajib dengerin guys, lagunya itu jleb banget, ngena di hati.)
Lagu pun di akhiri kembali dengan lantunan piano yang indah. Meskipun lagu telah berakhir, namun tatapan mata kedua insan itu belum ingin mereka akhiri.
Suara riuh tepuk tangan para tamu menyadarkan mereka kembali. Sheerin nampak salah tingkah karena kelakuannya sendiri.
"Terimakasih." Ucap Sheerin dan Levin bersamaan. Kemudian, merekapun turun dari panggung.
"Hati-hati yang!" Levin menuntun Sheerin saat hendak menuruni anak tangga.
"Iya."
Tanpa mereka ketahui jika di pojokan sana ada dua mahluk yang sedang meratapi nasib mereka yang kurang beruntung dalam masalah percintaan.
"Hiks, semua orang udah pada punya pasangan. Terus gimana sama gue? Kapan gue dapet cowok?" Revi berkata sambil menirukan orang yang hampir menangis.
"Iya nih bos, gue juga. Kapan ya gue punya pacar? Kok kita senasib ya bos? Orang lain pada punya gandengan, sedangkan kita cuma bisa mewek dipojokan gini." Vena ikut-ikutan baper.
"Huaaaa." Keduanya pun saling berpelukan, menangisi nasib mereka. Cukup lama. Setelah sadar akan apa yang mereka lakukan...
"Ihh apaan sih loe pake peluk-peluk gue segala? Sory ya, gue masih normal, dan gue sukanya sama cowo." Revi menepuk-nepuk bajunya yang baru saja tersentuh oleh Vena lalu mengoleskan hand sanitizer pada tangannya.
Vena merasa di hina dengan tindakan Revi, dia pikir Vena ini virus pembawa penyakit apa? Sampai-sampai dia harus pakai hand sanitizer segala? Vena menatap sebal ke Revi.
"Loe pikir gue sudi bos? Gue juga masih normal kali, gue juga berharap bakalan dapet jodoh yang kayak suaminya si Nindi itu. Apa stok cowo kayak dia itu masih ada di dunia ini bos?" Tanya Vena.
Merekapun memperdebatkan tentang laki-laki yang mereka idamkan, ingin seperti inilah, seperti itulah. Yang semuanya hanya ada di dalam angan-angan mereka semata.
***
Sementara di sisi lain, Nindi memberikan tepuk tangan untuk penampilan Sheerin tadi.
Sedangkan kak Bima terdengar mengomentari lagu yang di nyanyikan oleh Sheerin dan Levin tadi.
"Suara mereka bagus ya. Mereka juga serasi sekali." Ucap Bima.
"Iya kak, tapi serasian kita sih. Ehh." Nindi langsung menutup mulutnya menggunakan jari saat sadar jika mulutnya itu telah lancang.
Bima tersenyum samar saat mendengar perkataan Nindi.
"Kita ambil foto berdua ya sayang!"
Tumben sekali suaminya Nindi itu minta foto bersama? Padahal, diakan anti sekali dengan yang namanya di foto. Tapi tak apalah, ini sesuatu yang langka terjadi. Harus segera di abadikan.
Nindi pun membuka ponselnya dan menyalakan kamera. Nindi berpose dengan hanya menunjukkan deretan giginya, Bima mengikuti gaya Nindi itu.
Satu foto berhasil mereka ambil dengan hasil yang memuaskan.
"Satu kali lagi ya sayang!" Ehh, kak Bima minta lagi. Kecanduan mungkin dia.
"Oke." Nindi kembali mengarahkan kamera.
Nindi ganti gaya, dia sengaja memonyongkan bibirnya karena bingung juga mau bergaya seperti apa. Pasalnya, dia juga tidak terlalu suka di foto.
Krek!
Tanpa di duga, Bima malah mencium bibir Nindi yang. Nindi terlonjak kaget, satu foto berhasil di abadikan lagi dengan pose yang tertangkap adalah Bima sedang mencium bibir Nindi.
Astaga!
Apa ada orang yang melihat? Nindi harap tidak.
"Kakak apaan sih." Wajah Nindi bersemu merah menahan malu. "Inikan tempat umum."
"Ya sudah, kita pulang sekarang yuk! Aku ingin." Bima berbisik di telinga Nindi. Membuat mata Nindi membulat dengan sempurna.
"Nah, rupanya kalian disini. Ayo kita foto bareng di pelaminan!" Pengantin perempuan datang dan menghampiri pasangan suami istri itu.
"Maaf, aku kurang suka foto. Kalian saja!" Ucap Bima.
"Ahh, kakak curang. Tadi aja minta foto, sekarang malah nggak mau. Ya udah kalau kakak nggak mau, aku juga nggak mau." Nindi mengancam.
"Ayolah Nin, plis. Buat kenang-kenangan. Kakak nikah cuma mau satu kali seumur hidup lho. Jadi kapan lagi kita bisa foto bareng?"
Akhirnya dengan segala keterpaksaan, Nindi dan Bima diseret Yuvi untuk foto bersama di atas pelaminan.
Ternyata sudah ada Sheerin dan Levin disana. Geng amburadul juga sudah kumpul semua. Pelaminan kini sudah sesak, Revi dan Vena saling dorong karena merasa kalau posisi mereka kurang pas, takut tidak tertangkap kamera.
Setelah melalui drama untuk menentukan pose yang pas...
"1, 2, 3..."
Krek!
Sebuah foto pun diambil dengan sempurna. Semua orang nampak tersenyum bahagia di dalam foto itu. Bima terlihat merangkul Nindi, Levin malah memperhatikan Sheerin yang sedang tersenyum.
Terkadang, kita harus menutup mata dan telinga dari semua kenyataan pahit demi melindungi diri kita dari kerasnya hantaman hidup -Nindi-
Bahagia itu kita yang tentukan, jalan mana yang akan kita tempuh? Jalan yang lurus atau jalan berbelok? Sekuat apapun kita berusaha untuk lari dari kenyataan, nyatanya takdir takan pernah salah menemui tuannya -Sheerin-
___________________
THE END...
__ADS_1
Maaf kalau endingnya kurang ngena, bingung juga otornya...