Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
EKSTRA PART #3


__ADS_3

Nindi menggeliat, masih enggan beranjak dari tidurnya meskipun matanya kini sudah terbuka lebar. Badannya terasa remuk semua. Dia menatap kak Bima yang masih terlelap dalam tidurnya di sampingnya.


Entah kenapa pagi itu rasanya Nindi sangat merindukan suaminya itu. Padahal kan setiap hari mereka bertemu.


Nindi mendekatkan tubuhnya pada kak Bima, mendekap erat-erat tubuh kekar itu. Di hirupnya dalam-dalam aroma tubuh suaminya itu. Nindi selalu merindukan bau itu.


Bima yang merasa terusik dengan kelakuan Nindi, sontak saja membuka matanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Bima.


"Aku kangen sama kak Bima." Jawab Nindi, kemudian kembali menempelkan wajahnya pada dada bidang suaminya itu. Kak Bima memang seperti itu, kalau tidur tidak pernah memakai baju. Membuat Nindi selalu ingin nempel padanya.


"Kenapa? Bukankah setiap hari kita selalu bertemu?" Tanya Bima.


"Aku juga nggak tau. Pokoknya aku lagi kangen aja sama kakak. Peluk aku kak!" Sengaja Nindi menarik tangan suaminya itu agar melingkar di tubuhnya. Dengan suka rela Bima mendekap istrinya itu dan mengelus dengan lembut punggung Nindi.


Astaga!


Kenapa lagi dengan istrinya itu? Semalam dia marah-marah tidak jelas minta di belikan rujak. Dan pagi ini sikapnya begitu manja. Bima mencoba menikmati pelukan hangat antara dirinya dan juga Nindi. Membiarkan tangan istrinya itu bermain-main dengan bulu ketiaknya. Entah kenapa pula akhir-akhir ini jadi suka dengan bulu ketiak kak Bima, dia tak membiarkan suaminya itu mencukurnya. Menurut Nindi, bulu ketiak itu sangat menggemaskan.


Detik berikutnya, Bima melirik ke arah jam dinding. Pukul 5 pagi.


Astaga!


Dia harus segera mandi kalau tidak, maka waktu shalat subuh akan segera berakhir.


"Sayang, kita shalat dulu ya! Sebentar lagi matahari terbit." Ucap Bima selembut mungkin.


"Nggak mau. Aku mau peluk kakak kayak gini terus." Dengan nada manja Nindi semakin mengeratkan pelukannya, enggan di lepaskan.


"Iya nanti kita lanjutkan ya. Tapi sekarang kita harus shalat dulu sayang." Bima berusaha melepaskan tangan Nindi pelan-pelan.


Tanpa diduga, Nindi menunjukkan reaksi marah saat Bima berusaha melepaskan pelukannya. Setelah berhasil melepaskan diri, Bima beranjak dari tidurnya.


"Kak Bima jahat, kakak nggak sayang sama aku." Nindi mencebik, kemudian dia menarik selimut, menutupi sekujur tubuhnya. Lalu Bima mendengar suara isakan di balik selimut itu. Sepertinya Nindi menangis.


Bima menatap tubuh Nindi yang tertutup oleh selimut dengan mulut terbuka. Benarkan itu istrinya? Sejak kapan sikapnya jadi seperti ini? Sebenetar-sebentar marah, sebentar-sebentar manja, lalu menangis tanpa sebab.


"Ayolah sayang. Kamu bilang ingin bersama denganku hingga ke surga? Kita shalat subuh dulu ya!" Bujuk Bima.


Nindipun tak mengerti. Entah setan apa yang sedang merasuki pikiranya itu, dia sendiri merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.


Akhirnya setelah melalui drama panjang, seperti biasa Nindi ikut nebeng pada mobil kak Bima menuju pusat kota untuk membantu Sheerin membuka butiknya.


"Makasih ya kak. Rujak semalam enak banget, nanti malam beliin lagi ya." Ucap Nindi dengan wajah berbinar-binar.


Moodnya sudah berubah lagi sekarang.


"Aku tidak membelinya, aku membuatnya sendiri." Sahut suaminya itu.


"Oh ya? Kenapa nggak beli aja kak?" Tanya Nindi.


"Menurutmu, apa akan ada pedagang rujak yang masih berkeliaran malam-malam?" Tanya kak Bima. Nindi malam cekikikan mendengar pertanyaan dari Bima.


Sepertinya Bima harus membeli stok buah-buahan untuk membuat rujak yang banyak. Untuk jaga-jaga kalau nanti istrinya itu minta rujak lagi tengah malam. Untung saja semalam Bima teringat akan pohon buah mangga dan jambu air yang tumbuh di halaman belakang rumah mereka. Dia memanjat sendiri, memetiknya dan kebetulan ada timun, bengkuang dan juga belimbing. Kemudian dia mengirisnya sendiri.


Tak lupa Bima juga membuat bumbunya sendiri. Demi siapa coba dia rela melakukan pekerjaan konyol seperti itu? Tentu saja hanya demi istri tercintanya itu.


"Kalau kamu sakit, tidak perlu pergi ke butik. Istirahat saja dirumah." Ucap Bima.


"Aku nggak sakit kok kal." Jawab Nindi.


"Sheerin bilang kemarin kamu muntah-muntah di butik. Apa kita pergi ke dokter saja sekarang?" Tanya Bima.


"Nggak usah kak. Kemarin aku cuma masuk angin aja. Sekarang udah nggak apa-apa kok. Kakak anter aku ke butik aja ya kayak biasanya, kata Sheerin bakal ada model baju baru hari ini." Jawab Nindi.


"Ya sudah."


***


Nindi terlihat sedang memakaikan pakaian pada patung, itu adalah model pakaian baru yang tiba hari ini. Selesai dengan itu, tak lupa ia juga memakaikan kerudung pashmina dengan warna yang senada dengan busana muslim itu.


"Sheerin mana ya?" Suara berat itu tiba-tiba menegurnya. Nindi menoleh. Dia lagi, apa yang sedang dia lakukan disini?


"Ada di belakang." Jawab Nindi malas.


"Oke. Gue mau temuin dia dulu. Udah kangen banget gue." Bicara dengan gaya lebaynya. Ingin muntah Nindi melihatnya.


"Ehh, tunggu dulu!" Baru dua langkah Levin berjalan, Nindi memanggil, jadilah Levin kembali menoleh ke arahnya.


"Apa?" Tanya Levin.


"Sini loe!" Nindi melambaikan tangannya ke arah Levin.


"Apa sih? Gue udah nggak kuat pengen ketemu sama Sheerin." Jawab Levin geram karena menurutnya calon kakak iparnya ini sangatlah tidak penting.


"Sini nggak? Kalau nggak gue pecat loe jadi calon adek ipar!" Mengancam lagi. Tidak ada habisnya amcaman bagi Levin.

__ADS_1


"Ancam teruuus." Sambil bicara dengan nada panjang, Levin mendekat.


"Apa?" Bertanya dengan nyolot tepat di depan wajah Nindi.


Nindi menahan tawanya saat mebayangkan ide konyol yang baru saja melintas di pikirannya.


"Kayaknya loe cantik deh kalau pake kerudung ini." Nindi menarik kembali kerudung yang tadi dia pakaikan pada kepala patung.


"Apa? Loe gila ya? Gue kan cowok?" Ucap Levin tak percaya. Hampir saja matanya keluar dari tempag seharusnya.


"Ayolah, plis. Kali ini aja ya ngil. Gue pengen liat loe pake kerudung ini. Ya ya ya. Plis." Dari mengancam, sekarang malah berubah jadi mode memohon. Mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Nggak ada ahh. Ngaco loe!" Ucap Levin sambil bergidig geli. Mengambil ancang-ancang, sejurus kemudian dia ngacir, langsung kabur.


"Mau kemana loe?! Woy!" Seru Nindi setengah berteriak melihat Levin lari.


BUKK!


Sheerin yang mendengar keributan di depan merasa terusik, dia cepat-cepat keluar dari gudang penyimpanan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Tak sengaja dia menabrak seseorang yang berlari terbirit-birit ke arahnya.


"Levin, kamu kenapa lari-larian kayak gitu?" Tegur Sheerin.


"Itu si urakan." Levin berkata sambil menunjuk kearah Nindi yang sedang berjalan menghampirinya. Cepat-cepat Levin bersembunyi di balik tubuh Sheerin. Merasa ngeri.


"Nindi kenapa? Kenapa sih Nin?" Tanya Sheerin keheranan saat Nindi telah ada di hadapan mereka.


"Gue cuma pengen liat dia pake kerudung ini. Pasti cakep deh. Ehh dianya malah lari." Jawab Nindi.


"Tuh kan, permintaannta itu konyol banget yang!" Mengadu pada sang kekasih.


"Loe itu kenapa sih? Dari kemarin tingkah loe itu aneh banget tau Nin. Loe beneran sakit deh kayaknya. Gue anter periksa ke dokter yuk!" Pinta Sheerin.


"Oke. Nanti kita ke dokter. Tapi sekarang plis gue pengen liat si tengil pake ini dulu. Ya ya ya." Kekeh Nindi.


Sheerin menoleh ke arah Levin, meminta persetujuan terlihat Levin yang menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak mau.


"Udah lah Lev. Sekali ini aja turutin dia dulu ya. Biar urusannya cepat selesai." Ucap Sheerin.


"Kamu beneran tega sama aku yang." Levin memasang wajah melas.


"Sini loe!" Nindi menarik tangan Levin agar mendekat kearahnya. Levin meraih tangan Sheerin dan memegangnya kuat-kuat agar tubuhnya tak terbawa oleh Nindi.


Sheerin malah cekikikan melihat kelakuan Nindi dan Levin yang masih saja sering bertengkar. Dengan sengaja Sheerin selalu membantu Nindi untuk mengerjai kekasihnya itu. Menurutnya Levin sangat menggemaskan saat sedang menunjukkan ekspresi memelasnya.


"Duduk loe!"


Dengan cekatan Nindi cepat-cepat memakaikan kerudung tadi pada kepala Levin, takut dia kabur. Levin menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghindar.


"Hihihi." Sepertinya pikiran Sheerin sudah mulai terkontaminasi, tertular oleh sifat isengnya Nindi. Dia mengeluarkan ponsel miliknya dari saku gamis lalu membuka kamera. Mengarahkannya tepat di hadapan Levin.


"Minggir Nin!" Seru Sheerin. Nindi kemudian menggeser posisinya.


"Bagus She. Nanti kita upload di IG." Dengan semangat membara Nindi berkata.


Jprettt!


Jprettt!


"Jangaaaaaaaan!" Levin berseru histeris. Nindi dan Sheerin justru semakin merasa senang.


***


Tahun berikutnya...


Setelah penantian panjangnya selama 4 tahun lebih, akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu Levin tiba juga. Ini adalah hari dimana ia akan mempersunting pujaan hatinya. Sheerin. Hari ini Sheerin akan resmi menjadi miliknya, seutuhnya.


Dengan balutan jas putih Levin nampak gagah duduk di depan pak penghulu. Rasa gugup mulai menyelimuti hatinya manakala menanti kehadiran sang pujaan hati. Jantungnya sekarang sudah dag dig dug tak karuan.


Semua sanak saudaranya kini sudah berkumpul di rumah itu untuk menyaksikan prosesi ijab qobul. Makanan sudah terhidang untuk para tamu. Pelaminan yang indah berhiaskan bunga-bunga telah berdiri kokoh sebagai tempat bersandingnya kedua mempelai.


Semoga semuanya berjalan lancar. Pintanya.


Sementara di lantai dua rumahnya, Sheerin sudah siap dengan balutan kebaya putih yang melekat di tubuh mungilnya. Riasan pengantin, mahkota di atas kepalanya yang akan menjadikannya ratu pada hari ini.


Terlihat kak Yuvi dan Nindi mengapit sang mempelai perempuan dikedua sisi kiri dan kanannya. Yuvi bisa bebas melakukan tugasnya sebagai pengantar pengantin perempuan karena Vini sudah ia titipkan kepada Doni.


Sedangkan Nindi nampak kesulitan berjalan dengan membawa perutnya yang kini sudah membesar. Namun ia tetap bersikeras untuk mengantar Sheerin hingga ke hadapan pak penghulu. Tentu saja, kepalanya kan keras sekalu.


"Mendingan kamu duduk aja deh Nin. Kakak khawatir liatnya." Ucap Yuvi.


"Nggak apa-apa kok kak. Nindi bisa kok." Balasnya.


"Gue kan udah bilang buat undur aja acara pernikahannya. Seenggaknya sampai loe melahirkan nanti." Ucap Sheerin.


"Nggak lah She. Kasihan si Levin, dia udah ngebet banget pengen nikahin loe. Loe mau dia mati gantung diri kalau pernikahannya sampai di undur? Lagian prediksi lahiran gue masih seminggu lagi." Jawab Nindi.

__ADS_1


"Loe yakin?" Tanya Sheerin ragu. Nindi mengangguk pelan. Senyuman mengembang ia perlihatkan agar Sheerin dan kak Yuvi tak merasa khawatir.


Meskipun sebenarnya dia sedang menahan rasa aneh yang tiba-tiba saja menyerang perutnya. Sebisa mungkin dia tak mengeluh. Karena bagaimanapun juga hari ini adalah hari yang telah di nantikan oleh Sheerin dan Levin.


Nindi dan Yuvi mengapit Sheerin, perlahan mereka berjalan menuruni anak tangga. Semua orang yang berada di lantai bawah rumah itu dibuat terkagum-kagum dengan penampilan Sheerin yang terlihat berbeda dari biasanya, pantulan cahaya nampak timbul di wajah teduhnya.


Levin bahkan sampai tak berkedip melihatnya, mulutnya menganga. Bidadari itu sebentar lagi akan menjadi istrinya. Sandi yang duduk di belakang Levin mengusap mulut Levin agar kembali tertutup.


"Awas iler loe nanti jatoh!" Serunya terdengar menyebalkan di telinga Levin.


Levin mendengus sebal, kemudian berusaha untuk membenarkan posisi duduknya yang hampir melorot karena terpesona akan keindahan Sheerin.


Sementara senyum mengembang terus terukir di wajah Sheerin saat menuruni satu persatu anak tangga. Hanya tinggal 5 anak tangga lagi. Namun tiba-tiba, sekumpulan cairan mengalir begitu saja melalui anak tangga yang tersisa.


"Astaga! Itu apa?" Tanya Yuvi panik saat cairan bening itu hampir terinjak oleh Sheerin.


Nindi merasakan gaunnya basah sekarang. Apa yang terjadi? Dia pipis di celana? Ini tidak mungkin. Malu Nindi kelabakan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Astaga Nin. Air ketuban kamu pecah!" Seru Yuvi panik.


Sontak mengundang kepanikan semua orang. Terutama Bima. Secepat kilat dia berlari menghampiri istrinya yang tertegun.


"Sayang, kamu sakit?" Tanya Bima panik.


"Nggak." Jawab Nindi bingung.


"Tapi itu air ketubannya udah pecah Nin." Yuvi menunjuk genangan air di lantai.


Ibu yang mendengar itu, langsung ikut menghampiri mereka.


"Kamu harus segera di bawa ke rumah sakit Nin. Kalau air ketubannya sudah pecah, itu akan berbahaya. Bayimu bisa keracunan nanti." Ucap ibu.


Perut Nindi mendadak menjadi mulas saat ibu menakut-nakutinya seperti itu. Apa iya bayinya bisa keracunan. Nindi meremas gaunnya menahan rasa mulas.


"Awww... Awww." Nindi meringis menahan rasa aneh yang terjadi saat dirinya akan buang air.


"Sayang!" Bima menangkap tubuh istrinya yang sempoyongan dengan wajah super panik.


"Mules banget kak!" Ucap Nindi.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang." Seru Yuvi.


Kepanikan pun tak terelakan, Bima cepat-cepat membopong Nindi untuk si bawa ke rumah sakit bersalin tempatnya cek up selama masa kehamilan. Levin beranjak dari duduknya menghampiri mereka.


"Kenapa sih?" Levin yang sama sekali tak mengerti apa-apa bertanya.


Ibu dan kak Yuvi ikut mengekor di belakang Bima, begitupun Sheerin. Meninggalkan Levin dan mengabaikan pertanyaannya.


Levin ikut mengejar calon istrinya hingga ke teras rumah yang sudah di hiasi dengan backcroun. Ternyata Nindi sudah di bawa masuk ke dalam mobil.


"Ibu ikut!" Seru ibu.


"Iya bu." Balas Bima.


"Aku juga." Ucap Yuvi.


Ibu dan kak Yuvi pun segera masuk kedalam mobil.


"Aku juga." Sheerin yang khawatir akan keadaan Nindi ikut-ikutan, dia mengambil ancang-ancang membuka pintu mobil bagian depan.


Semua orang menatapnya dengan heran. Terutama Levin.


"Sayang, ini kan hari pernikahan kita. Masa kamu tega mau ninggalin aku?" Ucap Levin yang wajahnya kini sudah berubah menjadi merah menahan kesal.


"Tapi kasihan Nindi." Ucap Sheerin.


"Kamu tenang saja. Ada ibu dan kak Yuvi. Kalian lanjutkan saja ijab qobul nya." Ucap Bima.


"Tapi aku khawatir sama Nindi." Dengan wajah paniknya Sheerin berkata. Sheerin hendak kembali membuka pintu mobil.


Keras kepala sekali calon istrinya itu, pasti si urakan yang sudah mencemari pikiran Sheerin. Ini tak bisa di biarkan, dia telah menunggu lama untuk hari pernikahannya ini, dan kini dia tak bisa berbesar hati dan menunggu lebih lama lagi. Sheerin harus menjadi miliknya hari ini juga.


Dengan cepat Levin menarik tangan Sheerin, membawa Sheerin kedalam gendongannya. Membopong lalu menaruh Sheerin tepat di pundak kanannya layaknya karung beras.


"Lev, turunin aku!" Sheerin memukuli punggung Levin minta di lepaskan.


Dengan santainya Levin membawa Sheerin masuk kedalam untuk dia nikahi.


Mobil yang akan membawa Nindi ke rumah sakit perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah. Sheerin melihatnya dengan tatapan tidak terima dalam bopongan Levin. Dia berjanji akan menjadi orang pertama yang melihat keponakannya itu saat lahir ke dunia. Tapi sepertinya janjinya itu tak bisa ia tepati.


Sheerin benar-benar tak rela. Apalagi saat melihat mobil itu hilang dari pandangan matanya.


"Nindiiiiiiii!" Teriaknya memekakan telinga Levin.


________________


Udah ya segini aja ekstra partnya... kalau ada yang kangen sama author bisa mampir di novel THE SECRET #pd banget ya author!! #plak!!

__ADS_1


__ADS_2