Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
bab 52


__ADS_3

Elizabeth sudah berdiri di depan lift, namun Elizabeth bingung kenapa lift ini tidak ada tombol buka dan tutup pintu. Waktu pertama Elizabeth datang dia tidak terlalu memperhatikan Bram secara detail, dia terlaku terpukau dengan kemegahan kantor itu.


"Ada yang bisa saya bantu, nona"ujar seseorang yang berpakaian rapi, saya rasa dia karyawan atau resepsionis di sana.


"Ah aku mau naik, mba. Tapi ini buka liftnya Bagaimana, ya?" Jawab Elizabeth sopan dan masih terlihat bingung.


"Maaf nona. Lift ini tidak dapat digunakan. Ini lift khusus. Hanya petinggi saja yang bisa mengunakannya. Membuka lift ini dengan kartu pengenal" jawabnya.


Elizabeth hanya membalas oh tanda mengerti.


"Kalau saya boleh tau, anda akan ke lantai berapa, nona?"


"Lantai paling atas" jawab Elizabeth. Lantai paling atas hanya ada Abrahan, Dorris, dan juga Sekertaris Kim


.


"Siapa yang akan anda temui, nona?" Tanyanya penasaran.


"Abaraham" jawab Elizabeth santai


"Apa anda telah membuat janji?" tanyanya sedikit terkejut.


"Harus ya, mba?"" Tanya Elizabeth polos. Dia membalas dengan senyuman.


"Maaf nona untuk bertemu tuan besar Abraham harus membuat janji terlebih dahulu, karena tuan besar sangat sibuk dan tidak semua orang bisa menemuinya" jawabnya menjelaskan.


"Ada apa ini, Del?" Tanya 2 orang yang datang bertanya.


"Engga apa-apa, mba. Nona ini mau ke lantai atas naik lift ini. Dia mau bertemu tuan besar Abraham. Tapi dia belum membuat janji" jelasnya.


Mereka berdua melihat pakaian Elizabeth nyang formal dan biasa. Melihat itu dia tersenyum sinis.


"Maaf ya tuan besar kami sibuk. Jadi harus buat janji. Buat janji pun kalau engga dia setujuin juga engga bisa bertemu dengan dia. Engga asal-asal aja, dateng langsung ketemu dia" balas seseorang dari mereka dengan nada yang tidak bersahabat.


"Dan satu lagi. Lift ini khusus jadi engga sembarangan orang bisa lewat. Kami pun engga bisa, padahal kami udah karyawan" ucap salah satunya.

__ADS_1


Elizabeth melihat nama yang tertera di kartu pengenal Felicia Ananta dan Nestika Chu Sian (Karyawan) dan mba yang pertama Delisca Dexicta (Resepsionis)


"Maaf ya nona. Anda harus kembali dan buat janji terlebih dahulu untuk bertemu tuan besar" ujar Delisca sopan.


"Kamu dari sales perusahaan apaan sih? " Tanya Feli jijik "Saya rasa loe engga usah susah-susah buat janji sama tuan besar, tuan besar kami pasti engga mau ketemu kamu"


"Kamu kenapa sih, Fel? Dia kan sendang berusaha loh" balas Delisca. "Maaf ya, nona. Mereka memang orangnya kek gitu. Disini juga banyak karyawan baru yang berhenti karena dia" lanjut Delisca.


"Diam kamu! Saya juga bisa buat kamu di pecat juga. Cuma Resepsionis juga belagu" bentak Feli.


"Benarkah?!" Tanya Elizabeth tidak percaya pada Delisca.


"Loe engga tau ya. Bapaknya Feli adalah magajer di sini" balas Nesti sombong


"Oh cuma magajer, toh. Oh magejer" balas Elizabeth yang mulai tidak suka pada 2 wanita itu.


"Kamu?!" Dia menunjuk Elizabeth. " Kamu lihat, ya.. "Pak satpam" Feli memanggil satpam dan satpam pun mendekat.


"Ada apa ini?" Tanya Satpam.


" Baik! Mari, non"


Melihat Elizabeth yang datang bersama Bram pak satpam terkejut dan memberi hormat. Elizabeth memberikan isyarat dan menyuruh satpam tersebut untuk mengikuti keinginan Feli.


"Tunggu!" Elizabeth menghentikan satpam. "Kalau aku engga mau kek mana?" tanya Elizabeth.


"Pak kenapa diam?" Pak satpam manggut dan akan memenggang tangan Elizabeth pelan dan ketakutan.


"Bapak berani pegang saya. Saya engga mau tanggung jawab, ya" ujar Elizabeth menakuti satpam itu. "Lagipula aku diam aja dari tadi. Dari tadi kalian kan yang berisik" lanjut Elizabeth.


"Pak? mau di pecat? Saya telpon bapak saya, ya" Feli mengeluarkan handponenya dan akan menelpon.


Pak satpam memberikan hormat pada Elizabeth.


Elizabeth merebut handponenya.

__ADS_1


"Kami berani, ya? kembaliin handpone saya" ujar Feli sambil berusaha merebut handponenya di tangan Elizabeth dengan sengaja Elizabeth menjatuhkan handpone itu. Handpone itupun pecah menjadi 3, batunya sampai terlepas.


"Ups. Jatuh" ucap Elizabeth sambil menutup mulutnya mengejek.


"Handpone ku" ucap Feli lirih.


"Kamu tau engga handpone gua harganya mungkin gajihmu setahun tau, baru bisa beli handphone gua. Loe harus ganti, kalau engga gua laporin polisi loe" ucap Feli kesal.


"Mampus loe" ujar Nesti ikut-ikutan.


Elizabeth memberikan muka nyelenehnya membuat Nesti kesal dan Feli engga lihat aja karena dia malah fokus pada handponenya.


"Eh kamu berani banget ya?" ujar Nesti sambil mendorong-dorong bahu Elizabeth sampai Elizabeth mundur beberapa langkah. Elizabeth tersenyum sinis, mengambil tangan itu dan memelintirnya.


"Aw aw aw aw" ujar Nesti.


Kerumunan mulai berdatangan bertanya ada keributan apa?


"Lepasin teman gua, engga? " ujar Feli yang siap membantu Nesti.


"Berani kamu mendekat aku patahin tangan kamu" acam Elizabeth, namun Feli masih saja maju tanpa takut.


Elizabeth teringat ingat dengan kartu VVIP yang Abraham berikan. Dia mencari di dompetnya dan menunjukkan kartu itu.


"Kartu VVIP" ucap mereka kompak.


"Alah itu pasti kartu palsu" ujar Feli yang tidak percaya.


Elizabeth mendekat pada lift dan meletakan pada tempat kartu dan pintu lift terbuka. Semua melonggo.


"Saya rasa ini sudah jawabannya" balas Elizabeth dan masuk ke lift. "Satu lagi saya bukan sales. Jika ingin tau tanya langsung pada Abraham. Setelah ini, kamu kamu" Elizabeth menunjuk pada Feli dan Nesti, tunggu akibatnya"


Lift pun tertutup.


"Mampus. Kena batunya kan loe?" Ucap Delisca. "Saya berharap banget dia ngadu sama Tuan besar dan loe di pecat"

__ADS_1


"Mana mungkin gua di pecat. Gua yakin sebentar lagi dia juga di usir dari ruangan tuan besar. Lihat aja pakaiannya kek gitu. Mana mungkin kenal tuan besar" ujar Feli membanggakan diri.


__ADS_2