Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Pesan Nindi


__ADS_3

"Sheerin!"


Sepasang mata yang baru saja muncul dari balik pintu nampak terkejut saat melihat pemandangan yang sedang berlangsung diruangan itu.


Sheerin terlonjak kaget, kenapa bisa ada dia disini? Cepat-cepat dia membetulkan posisinya agar sedikit lebih nyaman.


Levin masih tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Sheerin sudah sadar. Matanya terlihat berbinar, senyuman langsung merekah di bibirnya.


Dengan gerakan cepat dia berjalan menghampiri kasur yang selama ini menjadi tempat Sheerin hibernasi.


"She, syukurlah kamu sudah sadar!" Reflek Levin memeluk tubuh yang nampak linglung itu, sebagai bentuk rasa syukurnya yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.


Deg!


Tubuh Sheerin rasanya kelu, dia begitu terkejut karena mendapat pelukan secara mendadak, dari laki-laki yang selama ini dia rindukan, Levin.


Rasa haru kemudian menyeruak di setiap sudut relung hati Sheerin, benarkah Levin sedang memeluk dirinya sekarang? Ini bukan mimpi kan? Jika iya ini mimpi, oleh Sheerin tidur untuk selamanya? Rasanya begitu nyaman saat berada di pelukan laki-laki ini, bahkan pelukan ini mampu meredam rasa sakit di kepala Sheerin.


Levin memeluknya dengan erat, seolah tak ingin lagi kehilangan Sheerin.


"Harusnya kamu tiduran aja, jangan duduk kayak gini! Kamu nggak boleh banyak gerak dulu!" Ucap Levin masih tak ingin melepaskan pelukannya.


"Aku haus!" Lirih Sheerin bicara, tepat mengenai indra pendengaran Levin.


Pada saat itulah, Nindi dan Clarissa masuk kedalam ruang rawat inap Sheerin dan menyaksikan drama romantis yang sedang berlangsung secara live itu. Membuat hati Clarissa terbakar api cemburu.


Nindi tersenyum melihat kehangatan yang tercipta diruangan itu. Dia sangat bersyukur karena adik kembar nya itu kini sudah sadar. Dan semoga saja setelah ini tidak ada lagi alasan untuk Sheerin tidak bahagia. Dia sudah menemukan laki-laki yang dia cintai dan mencintainya. Tak ingin merusak momen bahagia itu, Nindi menarik paksa Clarissa untuk keluar dari ruangan itu.


Meskipun perempuan itu berontak, Nindi berhasil menggiring Clarissa keluar dari sana.


"Apa? Kamu haus?" Levin kemudian melepaskan dekapannya, beralih menatap wajah pucat pasi itu. Sheerin mengangguk pelan.


Kemudian, Levin menyambar air mineral yang ada di atas meja, membuka penutupnya lalu menyerahkan pada Sheerin.


"Ini, minum!" Ucapnya.


Sheerin menerimanya dengan hati riang, dahaganya akan segera berakhir. Dia meneguk air itu perlahan, hingga tak terasa dia telah menghabiskan setengah dari isinya. Setelahnya, dia mengembalikan botol itu pada Levin.


Levin meletakkannya kembali ke atas meja. Lalu, memfokuskan lagi pandangannya pada Sheerin. Dia duduk di kursi yang berada di samping ranjang Sheerin. Sheerin nampak membenahi posisinya yang kurang nyaman, posisi dia duduk sekarang berada di atas Levin.


"Gimana? Masih haus?" Tanya Levin, Sheerin menggeleng samar.


"Apanya yang sakit?" Tatapannya tak bisa lepas dari Sheerin, seolah tak ingin Sheerin hilang lagi dari pandangan matanya.


"Kepala." Jawab Sheerin sekenanya.


"Aku panggil dokter dulu ya sebentar buat cek kondisi kamu." Levin beranjak dari duduknya, namun pertanyaan dari Sheerin membuat langkahnya terhenti.


"Aku kenapa?" Tanya Sheerin yang berhasil membuat Levin tetap tinggal.


"Kamu nggak inget? Kamu kecelakaan di depan kampus empat hari yang lalu." Jawab Levin.


Kecelakaan? Ya, Sheerin baru ingat jika dirinya terpental karena ditabrak sebuah mini bus. Rasanya begitu sakit sekali.


Jadi, aku nggak sadar selama itu? Batin Sheerin.


"Kamu buat panik semua orang, terutama aku. Tapi syukurlah, aku senang karena sekarang kamu udah sadar, She!" Ucap Levin.

__ADS_1


Sheerin terdiam, mencoba menyisir kembali kejadian sebelum dirinya mengalami kecelakaan dalam ingatannya. Dan saat itu dia pergi dari kampus sambil menanggung beban hidup yang teramat besar, merasakan kesakitan di hatinya juga di tubuhnya. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, tak ada satupun orang yang perduli dengan dirinya.


"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Sheerin sedikit ketus. Levin terperangah mendengar intonasi nada bicara Sheerin yang menurutnya sedikit tak bersahabat itu.


"Aku nunggu kamu sadar She!" Jawab Levin.


"Buat apa?" Tanyanya lagi.


"Buat..." Levin tak memiliki jawaban atas pertanyaan Sheerin. Sheerin menunggu jawaban apa yang sekiranya akan Levin katakan.


"Kamu nggak tau She, gimana khawatirnya aku saat kamu kecelakaan. Saat kamu bertaruh nyawa dimeja operasi, saat kamu nggak sadar berhari-hari. Kadang aku meresa nggak punya harapan, tapi akhirnya penantian aku nggak sia-sia, kamu sekarang udah bangun." Ucap Levin panjang lebar.


"Apa? Khawatir? Terus, sebelum kecelakaan itu terjadi, kamu dimana? Kamu nggak ada Lev, bahkan kamu bersikap seolah-olah kita nggak pernah kenal. Kamu nggak tau gimana rasa sakit hati yang aku rasain waktu itu." Ucapan Sheerin bagaikan cambuk yang menyiksa hati Levin.


Ya, perempuan itu memang benar, waktu itu Levin bersikap seolah dirinyalah yang paling tersakiti, tanpa mendengarkan kata hatinya yang berseru jika dirinya masih sangat mencintai Sheerin. Dan setelah kecelakaan itu terjadi, mata hati Levin seolah terbuka, dia baru menyadari betapa besarnya rasa cinta yang ia miliki dan teramat takut kehilangan tambatan hatinya.


Melihat Levin yang hanya diam saja, Sheerin kembali mengeluarkan semua beban yang selama ini sudah menggunung di dalam batinnya.


"Kamu nggak perduli sama aku!" Betapa sakitnya hati Sheerin saat mengatakan semua itu, memojokkan Levin.


"Aku minta maaf She!" Sambik tertunduk Levin menjawab.


Sheerin bergeming, dengan diam dia berusaha untuk meredam emosinya, tak ingin bibirnya berkata sesuatu yang bisa menyakiti hati Levin lebih dalam lagi saat dirinya sedang marah.


Levin meraih tangan Sheerin yang selama tiga hari ini selalu dia genggam dalam diam.


"Aku janji aku nggak akan ulangi itu lagi She, tolong maafin aku." Matanya terlihat memelas, Sheerin membuang muka akgar tatapannya tak bertemu dengan mata Levin.


Krek!


"Saya baru saja mendapat kabar jika pasien sudah sadar. Mari kita cek perkembangannya!" Ujar sang dokter.


Levin menjauh dari samping Sheerin, memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan Sheerin. Levin percaya, masih ada banyak waktu untuk meyakinkan Sheerin jika dirinya benar-benar peduli.


"Berbaring dulu ya!" Perawat itu membantu Sheerin untuk kembali berbaring dengan nyaman.


"Tolong tunggu diluar ya!" Kemudian perawat itu mempersilahkan Levin untuk keluar dari sana.


Sebelum pergi, dia menoleh ke arah Sheerin, disana tatapan mata mereka bertemu.


***


"Gimana Sheerin? Dia baik-baik aja kan?" Saat Levin keluar dari ruang rawat itu, Nindi langsung menodongnya dengan pertanyaan.


Nindi hanya nampak sendiri, sedangkan Clarissa sudah tak terlihat wujudnya.


"Gue juga belum tau, dokter lagi meriksa dia." Jawab Levin, wajahnya terlihat ditekuk, sangat lesu sepertinya.


"Loe kenapa lagi sih? Sheerin belum sadar muka loe nggak enak diliat, nah sekarang giliran dia udah sadar muka loe makin nggak enak diliat, tau!" Ucap Nindi dengan nada bicara khasnya jika sedang bicara dengan Levin.


"Kayaknya Sheerin marah sama gue." Menjawab dengan lesu.


"Apa? Sheerin marah?" Tanya Nindi agak terkejut.


"...tapi ya pantes juga sih, bentukan kayak loe gini 'kan memang pantesnya buat dimarahin." Imbuhnya kemudian, membuat Levin menolehnua dengan dahi yang mengerut.


Percuma saja Levin bercerita kepada si urakan ini, dia tidak akan pernah memberikan solusi terbaik untuk Levin. Yang ada dia malah semakin di pojokkan.

__ADS_1


***


Sore itu, selepas Bima pulang dari kantor, dia langsung menyambangi rumah sakit untuk melihat keadaan Sheerin. Sebelumnya Nindi sudah memberinya kabar jika Sheerin sudah sadar.


Perasaan bersalah masih saja menghantui Bima, dia harus meminta maaf atas kejadian dirinya yang menolak Sheerin secara tidak langsung di malam sebelum Sheerin kecelakaan.


Namun saat baru saja tiba di pintu utama rumah sakit itu, dia berpapasan dengan Levin.


"Hey, bukankah Sheerin sudah sadar? Apa kamu tidak menemani dia?" Tanya Bima.


"Iya, tapi saya diusir dari sana." Jawab Levin dengan putus asa.


"Terus kamu menurut saja? Kamu harus konsisten dengan pendirianmu untuk memperjuangkannya." Bima kembali mengingatkan Levin akan janjinya.


"Iya, saya nggak akan mundur kok, anda tenang saja. Saya harus pulang dulu malam ini, besok saya pasti akan balik lagi kesini dan membuat Sheerin memaafkan saya."


"Bagus! Tetap semangat ya!" Bima menepuk pundak Levin, memberikannya dukungan. Levin meresponnya dengan sebuah senyuman, meskipun senyum yang dia paksakan.


Sementara itu, di dalam ruang rawat inap.


Sheerin mengusap kepalanya agak kasar, meskipun rasanya masih ngilu setelah dia mengusir Levin dari sana. Nindi yang melihat itu, sedikit banyak bisa membaca situasi.


Dia paham, Sheerin merasa kecewa pada Levin. Namun jauh dilibuk hatinya Sheerin masih sangat mencintai Levin. Keputusan Sheerin untuk mengusir Levin pasti pilihan yang sulit untuknya.


"She, loe kenapa sih nggak maafin si tengil aja?" Tanya Nindi membuka percakapan.


"Gue nggak tau Nin." Malah menjawab seperti itu. Sebenarnya, Sheerin juga tak tau apa yang sebenarnya dia inginkan. Hanya saja perkataan Clarissa sebelum dia kecelakaan kembali terngiang.


Levin pergi setelah membawanya ke ruang PMI, itu menandakan jika Levin sama sekali tidak perduli kepada dirinya. Membuat ketakutan Sheerin semakin menjadi-jadi, jika Levin hanya ingin mempermainkan dirinya dan menyakiti hatinya lebih dalam lagi.


"Loe kok gitu sih She, loe nggak tau gimana khawatirnya si tengil itu waktu loe kecelakaan? Dia itu beneran sayang sama loe dan dia menyesal dengan apa yanh udah dia lakuin ke loe." Ucap Nindi.


Sheerin terdiam, apa iya Levin mengkhawatirkannya seperti apa yang dikatakan oleh Nindi?


"Jangan sampai nanti loe malah yang jadi menyesal karena sok jual mahal kayak gini. Inget She, ada si Clarissa yang siap kapan aja rebut Levin dari loe! Gue saranin loe cepet baikan sama si tengil." Nasihat Nindi sok bijak.


Sheerin menggigit bibir bawahnya. Dia mulai mempertimbangkan apa yang baru saja di katakan Nindi. Dan, apa tadi? Apa Nindi sedang membela Levin? Tapi kenapa? Bukankah selama ini mereka tidak pernah akur?


"Kenapa loe belain dia sih Nin?" Tanya Sheerin.


"Gue bukannya belain dia, loe tau kan gue sama dia itu gimana selama ini? Kita selalu bertengkar. Tapi waktu gue liat dia meratapi keadaan loe selama beberapa hari kebelakang, gue bisa liat sisi baik didalam diri dia dan gue menyimpulkan kalau dia bener-bener tulus sama loe." Jawab Nindi membuat keraguan didalam diri Sheerin runtuh seketika.


Nindi benar, dia tidak akan dengan mudahnya bicara seperti itu dan membela Levin jika di telisik dari sejarah perjalanan hidup mereka.


"Bisa nggak loe jangan bahas itu dulu sekarang?" Tanya Sheerin.


"Oke kalau gitu, kita beralih kepertanyaan selanjutnya." Nindi menarik nafas panjang sebelum kembali melontarkan pertanyaan.


"Kenapa loe bisa sampai kecelakaan? Dan semalam loe bilang ke gue loe mau nginep di rumahnya Vena. Tapi pas pagi-paginya Tari bilang kalau loe tidur di markas dan loe sakit pagi itu. Kenapa loe nggak bilang yang sebenarnya sama gue?"Mengintrogasi layaknya seorang ibu posesif.


"Astaga Nin, kepala gue sakit denger pertanyaan-pertanyaan loe itu." Pura-pura dia memegangi kepalanya untuk menghindari pertanyaan Nindi yang sedang tidak ingin dia jawab.


"Oke, loe menghindar. Loe itu selalu aja kaya gini She, selalu menutup-nutupi dan nggak pernah mau cerita yang sebenernya ke gue. Loe nganggap gue ini kakak loe bukan sih?"


_________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2