Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bertahanlah


__ADS_3

"Ris, loe kenapa siram gue?" Tanya Sheerin masih dengan intonasi halusnya.


"Loe memang pantas mendapatkan itu setelah apa yang udah loe lakukan ke gue selama ini!"


"Gue udah bener-bener muak sama loe. Pertama Alvin, kedua kak Bima, dan sekarang loe juga mau rebut Levin dari gue? Iya? Hah?"


"Loe itu bener-bener nggak tau diri ya? Setelah loe di usir sama kak Bima terus sekarang loe mau coba buat deketin Levin? Hahaha, menyedihkan banget sih hidup loe itu!" Melipat kedua tangan didada dengan angkuh.


"Dengerin aku baik-baik ya Ris, aku nggak pernah nikah sama kak Bima, yang nikah sama kak Bima itu Nindi, kembaran aku." Sheerin berusaha sepelan mungkin menjelaskan pada Clarissa, dengan harapan Clarissa mau mengerti.


"Hah? Hahaha." Tawa Clarissa seketika meledak memenuhi ruangan itu.


Dahi Sheerin mengerut melihat reaksi Clarissa.


"Loe itu kalau ngeles cari alasan yang masuk akal dikit dong, sejak kapan loe punya kembaran? Haha." Tawa mengejek kali ini.


"Aku serius Ris, aku juga baru tau soal aku punya kembaran. Tapi percayalah Ris, yang mukul kamu itu bukan aku."


Clarissa kemudian terdiam, Sheerin adalah tipe orang yang selalu berkata jujur, Clarissa tau itu selama menjalin persahabatan dengannya. Lantas jika seperti itu, bukan tidak mungkin jika Sheerin akan kembali merebut laki-laki incarannya.


Ini tak bisa dibiarkan.


"Oke, terlepas siapapun yang nikah sama kak Bima itu sekarang udah nggak penting lagi. Yang jadi masalah disini adalah, loe jauhin Levin, jangan pernah muncul lagi di hadapan dia." Ucap Clarissa tegas.


"Maaf Ris, untuk urusan Levin aku nggak bisa ngalah lagi sama kamu."


"Apa maksud loe?" Matanya sudah hampir copot.


"Aku kenal Levin jauh sebelum Levin kuliah disini, aku cinta Levin Ris, terserah kalau kamu mau semakin benci sama aku. Karena sekarang udah terlambat, aku nggak akan pernah bisa membalikkan lagi hati kamu seperti dulu. Aku lelah menghiba maaf dari kamu. Dengan atau tanpa kamu jadi sahabat aku, bumi masih terus berputar, dan kehidupan terus berlanjut."


"Gue tegasin sekali lagi sama loe ya! Levin sukanya sama gue, jadi loe nggak usah mimpi dan kepedean, dia cuma kasian aja liat loe jadi dia bawa loe kesini. Cewe norak kaya loe itu nggak pantes buat Levin!" Nada bicaranya semakin meninggi.


"Oh ya? Levin yang bawa aku kesini?" Tiba-tiba saja bunga kasturi bermekaran dihati Sheerin mendengar kabar itu, ahh, andai saja dia tidak pingsan tadi, pasti dia bisa melihat bagaimana reaksi Levin saat itu. Tapi jika Sheerin tidak pingsan, maka sudah dipastikan Levinpun tak akan membawanya kesini.


Astaga! Clarissa lupa jika Sheerin tidak tau soal itu, diakan pingsan tadi. Pastilah perempuan itu semakin besar kepala sekarang. Clarissa tampak berpikir.


"Kalau Levin sukanya sama kamu, kenapa kamu harus takut kalau aku deketin dia?" Pertanyaan Sheerin bagaikan sambaran kilat di telinga Clarissa.


Clarissa kehabisan kata-kata, dia menarik tangan Sheerin secara paksa.


"Ikut gue!"


"Kemana Ris?" Kelabakan dia mengikuti langkah kaki Clarissa.


"Diem loe!"


Clarissa menyeret Sheerin hingga ke halaman belakang kampus.


***


Levin menepikan motornya di parkiran sebuah apotek.


Sial! Di apotek yang letaknya dekat dengan kampus, ternyata obat yang di resep kan seniornya tadi sedang habis. Terpaksa Levin harus mencari apotek yang agak jauhan.


Dia berjalan memasuki apotek itu dengan tergesa, menunggu dengan gelisah saat penjaga apotek masih melayani pembeli lain. Beberapa menit menunggu bagaikan setahun yang dia rasakan.


Saatnya tiba giliran Levin.


"Mba, ini! Cepat ya, teman saya sedang pingsan." Ucap Levin tak sabaran.


"Iya, sebentar, kami harus teliti jika masalah resep." Ujar si penjaga apotek.


Sudah memainkan jarinya diatas etalase kaca, sudah berubah-ubah posisi juga saat menunggu si penjaga toko menyiapkan resep itu. Akhirnya yang dia tunggu-tunggu datang juga.

__ADS_1


"Ini, totalnya jadi seratus dua puluh tiga ribu delapan ratus rupiah." Si penjaga apotek menyerahkan resep itu pada Levin.


Secepat kilat Levin merogoh dompetnya dan memberikan sejumlah uang kepada penjaga itu. Kemudian menyambar obat, hendak berlalu pergi.


"Ehh, tunggu dulu!" Cegahan dari si penjaga apotek mengurungkan niat Levin untuk cepat-cepat pergi dari sana.


"Apa sih mbak?" Menjawab dengan kesal.


"Pakai kresek ini." Si penjaga apotek memberikan Levin sebuah kresek hitam.


"Ahh, udah nggak usah." Levin mengibaskan tangannya, menolak mentah-mentah, sudah mau berlalu pergi.


"Ehh, mas!" Dia berseru lagi, membuat Levin geram dan ingin mencakar wajah si penjaga apotek itu.


"Apa lagi sih?" Sudah naik jadi level emosi sekarang.


Nggak tau orang lagi buru-buru apa?


"Ini kembaliannya." Si penjaga apotek menyodorkan uang pecahan.


"Astaga!" Levin menyambarnya dari atas etalase dengan geram kemudian dengan gerakan cepat dia berjalan keluar dari gedung apotek, sebelum si penjaga menyebalkan itu kembali memanggilnya.


***


"Kamu kenapa sih Ris?" Sheerin yang masih pusing terpaksa harus mengikuti Clarissa samapi kehalaman belakang kampus.


"Loe pikir Levin suka sama loe? Hah?" Clarissa membentak Sheerin.


"Jangan mimpi loe! Kalau iya Levin suka sama loe, dia nggak akan pergi gitu aja setelah bawa loe ke ruangan PMI, dia itu cuma KASIHAN sama loe. Dimata Levin, loe itu kayak butiran debu, nggak ada artinya sama sekali." Ucap Clarissa.


Deg!


Mendengar itu, bunga kasturi yang baru saja bermekaran, dalam sekejap mata berubah menjadi layu. Perkataan Clarissa ada benarnya juga, jika Levin ingin memperjuangkan dirinya, harusnya Levin ada dan menggenggam tangannya saat Sheerin membuka mata.


Melihat Sheerin yang terdiam, Clarissa yakin jika perempuan itu sudah termakan dengan omongannya. Itulah kebodohan Sheerin, dia sangat mudah terhasut oleh mulut orang lain.


"Ngerti kan loe sekarang?" Tersenyum penuh kemenangan.


***


Levin membuka ruang PMI dengan kasar, dia berharap, dia akan menjadi orang pertama yang Sheerin lihat saat perempuan itu sadar.


"Sheerin!" Kelabakan sendiri saat tak menemukan sosok Sheerin diatas kasur. 'Kemana dia?'


Sudah sempat mencari ke toilet, namun di sanapun Sheerin tak ada. Perasaannya mulai gelisah, perempuan itu sedang sakit, jika terjadi sesuatu kepadanya bagaimana?


Levin keluar dari ruang PMI, mencari orang yang mungkin bisa ditanyai. Kebetulah Levin melihat senior yang tadi memeriksa Sheerin sedang mengobrol dengan mahasiswa lain, segera Levin menghampirinya.


"Kak!"


"Ada apa?" Tanya si senior saat Levin menyela obrolannya.


"Sheerin kok nggak ada di ruangan PMI ya? Kira-kira kakak tau dia kemana?" Tanya Levin.


"Ahh masa? Dia kan lagi pingsan, mana bisa dia pergi?" Senior tak percaya.


"Coba kakak cek deh."


Akhirnya merekapun menuju ke dalam ruam PMI, dan benar saja, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Senior membantu Levin untuk mencari Sheerin di semua area kampus. Karena bagaimanapun juga, Sheerin adalah pasiennya, dan sedikit banyak dia harus bertanggung jawab, bukan?


***


Sheerin keluar dari gerbang utama kampus, meskipun langkahnya terseok-seok karena kaki seolah tak mampu untuk menahan berat tubuhnya, namun Sheerin berusaha untuk pergi dari sana. Meninggalkan kepahitan yang selalu saja Clarissa jejalkan kedalam mulutnya, andaikan saja dia bisa sedikit saja menutup telinga untuk apa yang Clarissa katakan, pasti hatinya takkan sehancur ini sekarang.

__ADS_1


Levin tidak perduli terhadap dirinya, dia hanya KASIHAN, ya, kasihan. Begitu kata yang di tegaskan oleh Clarissa berkali-kali. Sebegitu menyedihkannya Sheerin mengemis cinta kepada Levin? Sedangkan menoleh saja laki-laki itupun tak sudi.


Deng!


Pusing, kepala Sheerin yang mulanya memang sakit, kini semakin sakit akibat terlalu banyaknya hal yang harus dia pikirkan. Dari mulai masalah di keluarganya, masalah kak Bima yang ingin dirinya tak mengusik Nindi, tentang Clarissa dan Levin. Semua dia pikul sendiri di pundaknya, tanpa ada seorangpun yang tau akan penderitaan yang dia alami, tentang keresahan yang selalu saja melanda jiwa.


Dia berjalan sambil memegangi kepalanya yang berdentum-dentum, bahkan kini penglihatannya mulai kabur dan...


Tiiidd....


"Woy! Cari mati loe!" Teriak si pengendara mobil pada Sheerin.


Astaga! Apa yang terjadi? Sheerin tak sadar jika dirinya hampir saja terserempet mobil.


"Maaf, maaf." Bahkan Sheerin tak bisa melihat wajah si pengendara mobil itu, penglihatannya benar-benar buruk saat ini.


Sheerin mendengar suara mobil yang kembali di lajukan. Syukurlah, Sheerin bisa terhindar dari mobil itu, ternyata Tuhan masih berbelas kasih menyelamatkan nyawanya.


Bukannya menepi, Sheerin justru semakin jauh melangkah ke tengah jalan. Entah apa yang dia pikirkan, dia mengira jika langkah yang dia ambil sudah benar. Namun nyatanya, itu akan membawa dirinya kedalam masalah yang lebih besar.


Dari kejauhan, Levin baru saja keluar dari gerbang kampus, dia terpaksa mencari keluar area kampus karena tak menemukan Sheerin dimanapun, sementara perasaan aneh terus saja bermunculan dalam benaknya.


Levin melihatnya, iya, Sheerin. Sudah bernafas lega karena bisa menemukannya. Namun ketakutannya justru semakin membuncah saat sebuah mini bus bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Sheerin.


Dan, apa yang sedang perempuan itu lakukan ditengah jalan? Apa dia tak melihat sedang berada dimana dirinya sekarang? Dia seperti orang linglung.


"Sheerin, awas!" Levin berlari sekuat tenaga kearah Sheerin, berteriak histeris sambil berseru menyuruh Sheerin menepi. Namun sayang, langkah kakinya bahkan kalah cepat dengan mini bus yang melaju kencang kearah Sheerin.


"Sheerin!" Suara itu, suara merdu yang selalu Sheerin rindukan itu memanggil namanya, terdengar begitu hangat. Ini bukan mimpi, kan? Sheerin dalam ketidak sadarannya masih bisa menyanjung suara itu.


Sampai akhirnya dia merasakan hantaman keras menerpa tubuhnya...


"Aaaaaaaa." Dalam sekejap mata, semua yang dia lihat hanyalah gelap. Merasakan jika sang bayu telah menerbangkan dirinya ke udara. Namun, kenapa terbang rasanya sesakit ini? Hingga akhirnya puncak kesakitan itu Sheerin rasakan saat tubuhnya terpental di atas aspal panas.


"Sheerin!" Levin histeris saat melihat tubuh bersimba darah Sheerin di tepi jalan. Levin memang menyuruh Sheerin menepi, namun bukan dengan keadaannya yang seperti ini.


Kakinya melemas saat darah segar itu mengalir dari kepala dan bagian tubuh Sheerin yang lainnya. Namun sekuat tenaga dia berusaha untuk meraih tubuh tak berdaya itu.


"Sheerin, bangun Sheerin!" Di rengkuhnya kepala itu, hingga kaos putih yang melekat ditubuh Levin kini berubah warna menjadi merah karena darah Sheerin yang terus menerus menerobos keluar.


"Kamu harus kuat, aku janji nggak akan pernah tinggalin kamu lagi. Aku janji, asal kamu bangun." Bahkan kini air matanya sudah mengalir dengan deras. Andai saja dirinya bisa lebih cepat dari mini bus itu, pasti Sheerin tidak akan mengalami kecelakaan ini.


"Aku sayang kamu Sheerin, aku sayang."


Di dekapnya erat-erat tubuh lemah itu sambil memohon-mohon.


Seluruh tubuh Sheerin rasanya kaku, untuk sekedar membuka matapun rasanya sangat berat. Namun, tekadnya begitu kuat, dia ingin memastikan jika dirinya tidak sedang bermimpi sekarang. Telinganya masih bisa berfungsi dengan normal saat mendengar suara yang sangat dia rindukan mengucapkan janji-janji itu.


Samar dia melihat wajah yang dia kasihi berada tepat di hadapannya. Ingin tangannya terulur dan meraih wajah itu, namun sulit sekali untuknya melakukan itu.


Benarkah Levin menyayanginya seperti apa yang dia katakan? Jika iya, maka bahagia sekali hati Sheerin. Namun, apa harus menunggu Sheerin merasakan kesakitan dulu baru Levin mau mengakuinya? Maka Sheerin rela merasakan kesakitan seperti ini sepanjang hidupnya.


"Levin, maaf." Lirih bibirnya berucap.


Membuat hati Levin tercabik hanya dengan kalimat sependek itu.


"Ini bukan waktunya minta maaf. Kita kerumah sakit sekarang, kamu pasti sembuh. Pasti."


"Tapi aku nggak kuat." Bahkan suaranya hampir habis.


"Bertahan She, kamu pasti kuat, demi aku." Levin mengusap pelipis Sheerin yang juga bermandikan darah.


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2