Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Naik pelaminan


__ADS_3

Matahari perlahan mulai merangkak naik, pagi menjelang siang kala itu.


Sheerin berusaha untuk membuka matanya yang terasa begitu berat. Dia menatap ke sekitar, buram. Kemudian mengerjap beberapa kali sampai akhirnya objek di depan matanya dapat ia lihat dengan jelas.


"She, loe nggak kenapa-napa?" Sheerin melihat ada Nindi di sana, wajahnya terlihat cemas. Sheerin memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


"Gue habis mimpi buruk Nin." Ucap Sheerin dengan suara paraunya. Nindi terdiam saat mendengar jawaban Sheerin.


"...gue mimpi kalau kita baru aja ketemu sama mama, tapi mama Anya nembak dia Nin. Dan mama meninggal saat itu juga." Ucap Sheerin dengan bibir gemetar saat mengingat kejadian yang ia sebut sebagai mimpi.


"...untung aja gue cepet bangun Nin." Sambungnya kemudian. Nindi merasa sangat kasihan kepada saudara kembarnya itu. Ia tau, sedari kecil Sheerin tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang yang tulus dari seorang ibu. Pastilah peristiwa semalam sangat mengguncang jiwa dan raganya. Lain hal dengan Nindi, ia bisa menerima semua yang terjadi dengan ikhlas dan mendo'akan agar ibu kandungnya itu khusnul hotimah.


"Loe nggak mimpi She, mama Anya nembak mama kita. Kita harus kembali kehilangan orang yang baru aja kita temukan." Ucap Nindi dengan hati-hati, takut Sheerin merasa tersinggung atau apa.


Sheerin menangis saat sadar jika semua kejadian mengenaskan itu memang bukan lah mimpi. Dia tau jika itu semua adalah kenyataan pahit yang harus ia terima. Namun ia hanya berharap jika semua itu adalah sekedar mimpi. Ia ingin memiliki seorang ibu, ia ingin berbakti dan meraih surganya. Namun, itu semua hanyalah angan-angan belaka karena ibunya telah tiada.


Melihat Sheerin yang menangis tersendu-sendu, Nindi menariknya kedalam pelukan. Mengusap punggung Sheerin agar ia berhenti menangis. Nindi tau, hati Sheerin mudah rapuh.


"Loe nggak usah khawatir She, meskipun mama sama ayah udah nggak ada, tapi kita punya ada ibu. Loe bisa menganggap ibu seperti ibu kandung loe. Ibu pasti nggak akan keberatan. Dan satu hal yang perlu loe tau. Gue akan berusaha buat gantiin mama sama ayah buat loe. Gue yang akan jagain loe She." Ucap Nindi terdengar tulus.


Sheerin malah semakin kencang menangis, dia memeluk Nindi lebih erat.


Sedangkan kak Bima dan Levin di sibukan dengan prosesi pemakan ke tiga orang yang meregang nyawa akibat hantaman peluru.


Bima menatap dua gundukan tanah di hadapannya. Terlihat taburan bunga yang masih segar bertebaran di atasnya. Meskipun rasanya berat, namun Bima tetap harus mengikhlaskan kepergian mereka. Air mata hanya akan membuat mereka merasa tersiksa disana.


Yang bisa ia lakukan adalah, mendo'akan mereka agar Tuhan mau mengampuni dosa-dosa yang pernah mereka lakukan semasa hidup. Katanya, do'a anak soleh akan di dengar dan dapat meringankan siksaan di alam kubur.


Bima membuka ayat suci al-qur'an, membaca surat Yaasin, melantunkan ayat demi ayat di dalamnya. Menggetarkan hati Levin yang mendengarnya.


Sedangkan orang-orang yang ikut mengantarkan Luis dan mama Anya ke peristirahatan terakhir mereka kini satu persatu telah membubarkan diri karena prosesi pemakaman telah usai.


Banyak masyarakat yang merasa tercengang dengan kejadian ini. Bahkan Clarissa sendiri sekarang merasa takut terhadap Bima, ternyata dia adalah anak dari seorang psikopat. Clarissa bergiding ngeri saat pagi hari mendengar keributan di sebelah rumahnya. Ternyata gosip yang beredar tentang rumah hantu itu hanyalah kabar burung semata. Bukan hantu yang menghuni rumah itu, melainkan tawanan paman Luis.


Ia tak ingin lagi berurusan dengan keluarga Bima, atau bisa jadi nanti dirinya akan bernasib sama dengan perempuan yang paman Luis sandra itu. Hiiii.


Sedangkan Fira di makamkan tepat di samping Lukman. Tak jauh dari posisi makam Luis dan mama Anya.


Levin melihat Bima dengan tatapan kagum. Jika dirinya yang sedang berada di posisi Bima saat ini, ia tak yakin ia bisa setegar laki-laki itu. Kuat sekali suaminya Nindi itu. Si urakan beruntung karena memiliki suami seperti Bima.


Levin tak ingin mengganggu kegiatan Bima itu, iapun memutuskan untuk pergi terlebih dulu untuk melihat keadaan kekasihnya. Terakhir kali yang ia tahu, Sheerin masih belum sadarkan diri.


***


Waktu pun bergulir, tak berjalan cepat ataupun lambat, semua telah tertakar dan memiliki porsinya masing-masing.

__ADS_1


Kehilangan mungkin bukan suatu hal yang menyenangkan bagi siapapun. Apalagi kehilangan orang yang sangat dekat dengan kita. Itu yang mungkin Bima rasakan setelah ditinggal Ayah dan ibunya untuk selamanya.


Pun dengan Nindi, namun, keduanya berusaha untuk saling menguatkan, saling menyembuhkan hati yang sama-sama terluka dengan kejadian mengenaskan yang menimpa anggota keluarga mereka.


Sampai saat ini Sheerin masih terus belajar untuk menerima kenyataan jika dirinya harus kehilangan sosok yang baru ia temukan. Kehadiran Levin menjadi penguat untuk dirinya. Tak ada seharipun yang Levin lewatkan untuk menghibur dan meyakinkan Sheerin. Bahwa jangan menangisi apa yang telah pergi dari hidup kita, namun tersenyumlah untuk apa yang masih tersisa.


Kata-kata Levin jadi motivasi tersendiri bagi Sheerin. Dia bersyukur karena kini ia di kelilingi oleh orang-orang yang perduli terhadap dirinya. Levin, Nindi, Lea, Vena, geng amburadul, ibu dan kak Yuvi. Ya, Sheerin harus tetap tersenyum untuk mereka.


Kini, Sheerin, Nindi dan kak Bima menempati rumah Lukman, rumah yang menjadi saksi bisu dimana Sheerin di besarkan dengan segala bentuk siksaan dari mama Anya. Namun begitu, Sheerin sama sekali tak merasa dendam kepada ibu sambungnya itu, karena ia paham dendam bisa memghabisi diri kita sendiri. Justru Sheerin mendo'akan agar mama Anya mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan. Dan berharap jika Tuhan mau memaafkan semua dosa-dosa mama Anya.


Rumah kosong yang Luis gunakan untuk menyekap Fira kini sudah di hancurkan, tempat itu dibiarkan mejadi tempat terbuka untuk anak-anak bermain. Sedangkan rumah Bima akan dijual. Dan Bima juga telah resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Kini Bima tengah berusaha untuk membangun kembali perusahaan Lukman yang terbengkalai belakangan ini.


***


***


***


Terlihat mempelai kali-laki dan perempuan tengah sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang. Tak jarang mereka dimintai foto bersama. Dengan senang hati dan senyum yang mengembang mereka meladeni keinginan tamu mereka.


Pelaminan yang indah menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan background untuk berswa foto dan di jadikan bahan postingan di media sosial.


"Selamat ya. Akhirnya kalian sah jadi suami istri." Ucap salah satu tamu.


"Selamat ya. Semoga langgeng dan di kasih momongan secepatnya." Ucap tamu lainnya.


"Amin amin, makasih ya." Dengan kompak kedua mempelai itu mengamini do'a sang tamu.


Senyum merekah tak pudar sepanjang resepsi itu berlangsung.


Di sisi yang berbeda, tepatnya di atas panggung hiburan, nampak geng amburadul yang sedang menggelar konser perdananya. Hah! Akhirnya keinginan anggota geng tidak jelas itu terkabul juga, menunjukkan kemampuan mereka di hadapan banyak orang.


Untung saja selama ini mereka berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga kini saat acara berlangsung penampilan mereka tidak buruk-buruk amat.


Bima tersenyum di tempatnya saat sang istri yang nampak bahagia di atas panggung sana sambil memainkan alat musik gitar. Ia sendiri tak menyangka jika istrinya itu memiliki bakat tersembunyi.


Setelah membawakan satu lagu yang sedang naik daun, geng amburadulpun turun dari panggung, di gantikan oleh biduan wanita. Satu lagu dangdut pun di nyanyikan. Suasana semakin meriah saat salah satu tamu memberikan saweran pada biduan itu.


Nindi terlihat berjalan menghampiri suaminya.


"Cape sayang?" Tanya Bima saat Nindi berdiri di hadapannya.


"Nggak terlalu kok." Jawab Nindi sambil tersenyum. Bima mengambil satu tisyu dari atas meja, kemudian menyusut peluh yang membasahi pelipis Nindi. Senyum Nindi semakin lebar mendapat perhatian dari suaminya itu.


"Makasih ya kak." Ucap Nindi tulus.

__ADS_1


"Kamu pasti lapar setelah bermain gitar tadi. Aku suapi ya!" Bima harus berjalan beberapa langkah pada sebuah stand untuk mengambil siomay, makanan kesukaan istrinya itu. Setelahnya ia kembali menghampiri Nindi.


Tanpa canggung, Bima menyuapi Nindi siomay itu. Dan tanpa rasa malu sedikitpun Nindi menerima suapan itu.


"Enak?" Tanya Bima. Nindi mengangguk-anggukan kepalanya, tidak bisa menjawab karena mulutnya kini penuh dengan siomay. Ketagihan, Nindi membuka lagi mulutnya agar Bima memberikan lagi siomaynya.


Bima terus menjejalkan siomay ke mulut Nindi.


"Hayo! Pacaran aja kalian kerjaannya." Tari dan Roni datang mengganggu keasyikan Bima dan Nindi.


"Biarin aja. Emangnya kalian, jomblo. Wle." Nindi menjulurkan lidahnya ke arah Tari dan Roni.


"Kata siapa? Kita udah resmi jadian lho." Roni meraih tangan Tari, lalu mengangkatnya ke udara. Memamerkan pada pasangan suami istri itu.


"Wah, seriusan? Kapan? Kok gue nggak tau?" Tanya Nindi yang kini malah antusias dengan berita yang mereka sampaikan. Wajah Tari bersemu merah, malu-malu mengakui.


"Baru aja. Kalian adalah orang pertama yang kita kasih tau. Iya kan Ay!" Jawab Roni lalu meminta persetujuan kekasihnya itu.


"Iya." Ucap Tari sambil tersenyum.


"Waah, selamat ya. Gue nggak nyangka lho. Kalian ini diam-diam menghanyutkan. Tau-tau udah jadian aja. Nggak tau kapan PDKTnya." Ucap Nindi.


"PDKT mah tiap hari Nin, cuma gue baru berani ngungkapinnya sekarang." Jawab Roni.


"Selamat ya untuk kalian, semoga kalian secepatnya menyusul mereka naik pelaminan." Ucap Bima.


"Terimakasih kak. Amin."


Tiba-tiba Levin datang menimbrung percakapan mereka.


"Hey, kalian liat Sheerin nggak?" Tanya Levin kemudian.


"Nggak tuh, bukannya tadi dia bilang mau berangkat di jemput sama loe ya?" Jawab dan tanya Nindi.


"Tadinya sih gue mau jemput dia. Tapi dia nolak, katanya dia mau datang sendiri." Jawab Levin.


"Nah lho, Sheerin kemana dong?" Tanya Tari bingung.


"Assalamualaikum." Suara tak asing terdengar menyapa. Nindi, Bima, Levin, Tari dan Roni menoleh bersamaan.


Pemandangan yang menyejukan mata langsung tertangkap oleh indra penglihatan mereka. Mulut semua orang terbuka saat melihat Sheerin dengan penampilannya yang berbeda. Sebuah jilbab nampak melekat di kepala perempuan itu. Terlihat sangat anggun dan cantik. Apalagi seulas senyum yang merekah di bibirnya, membuat Sheerin menjadi sosok yang sempurna di mata Levin.


______________


Ternyata masih belum tamat guys, tunggu satu episode terakhir nya ya... 🥰

__ADS_1


__ADS_2