
Di kampus, Elizabeth duduk di samping Reyhan dan juga Raisya. Saat Elizabeth masuk ke kelas kedua temannya itu sudah melambaikan tangan mereka.
"Pagi" sapa mereka saat Elizabeth duduk.
"Sepertinya ada berita baik nih. Wajah anda cerah sekali, nyonya" Ejek Raisya karena dari masuk tadi Elizabeth terus tersenyum. Elizabeth yang tadinya tersenyum, langsung menarik senyumnya itu mendengar ucapan Raisya.
"Nyonya, nyonya. Kamu hilangin mood aku saja pagi-pagi aja, Sya" ucap Elizabeth kesal.
"Dih. Ada apasih dengan nyonya, Lis? Sensitif amat loe?" Tanya Raisya lagi penasaran.
"Engga ada apa-apa sih. Cuma terasa tua aja gitu di panggil nyonya"
"Eh. Lis, Loe udah beli hp baru, ya? WA gua udah centang biru nih. Parah. Engga di bales ceks ceks ceks" Ujar Reyhan menunjukkan chatannya dengan Elizabeth yang sekarang sudah centang biru.
"Beneran tah?" Raisya juga membuka hpnya dan melihat chatan dengan Elizabeth yang sama-sama sudah centang biru seperti punya Reyhan.
"Hp baru loh" ejek Raisya dan mengadahkan tangannya.
"Kamu mau apa, Sya?" Tanya Elizabeth pura-pura tidak tau.
"Bongkar hp barulah" jawab Raisya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Tapi kalian jangan kaget, ya?!" Ujar Elizabeth menambah penasaran Reyhan dan Raisya tentang handphone apa yang Elizabeth beli?.
Elizabeth mengambil tasnya dan menaruh tas itu di pangkuannya, belum terbuka Reyhan sudah menarik tas itu.
Reyhan dan Raisya sibuk membongkar tas Elizabeth dan pada terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Handphone pengeluaran terbaru?!" Ucap kaget Raisya.
"Kau tau, Sya. Harganya ratusan dollar yang jenis ini" ujar Reyhan kembali.
"Wah. Loe bilang lagi kesusahan Lis. Ini loe bisa beli Handphone baru" ujar Raisya menunjukkan Handphone itu pada Elizabeth.
"Loe udah di kirimin sana ayah loe, Lis? Gajihan belum kan ya Lis? Kan belum sebulan juga kan kerjanya?" Ujar Reyhan.
"Ayah?!" Tanya Elizabeth pelan "Bagaimana bisa yang ada di sini selalu bertentangan dengan yang di sana? Lalu siapa yang benar?"
"Hallo?!" Ucap Raisya melambaikan tangannya di hadapan Elizabeth yang melamun.
"Loe mikirin apa sih, kok tiba-tiba melamun?"
"Hem Hem" dehem Reyhan yang masih fokus pada handphone Elizabeth.
"Ada yang nelpon loe, Lis" ujar Reyhan memberikan handphonenya pada Elizabeth.
"Siapa? Perasaan belum ada yang tau aku punya handphone" ujar Elizabeth pwlanyang mengambil handphone itu dari Reyhan, Raisya yang ada di tengahpun dapat melihat nama yang tertera.
"Huh. Hem Hem" kini giliran Raisya yang berdehem.
Elizabeth melihat siapa yang menelponnya, tertera My ❤️. "Siapa ya? Apa?!" Elizabeth mengangkatnya.
__ADS_1
"Pagi?!" Sapa dosen yang masuk.
Elizabeth belum bicara apa-apa dosennya sudah masuk.
"Dosennya sudah masuk" ucap Elizabeth mengakhiri panggilan Abraham. Iya yang menelpon Elizabeth adalah Abraham.
setelah telponnya dimatiin Elizabeth, Abraham menelpon Doris.
"Doris, bawakan aku kopi" ucap Abraham menelpon Doris. Saat ini Abraham ada di kantor. Dia pergi saat Elizabeth sudah pergi ke kampus.
Abraham jarang sekali mau tinggal di rumah. Saat ada Elizabeth dia lebih lama lagi di rumah itu, waktu serasa sangat cepat, namun saat Elizabeth pergi waktu berjalan sangat lama dan membosankan, akhirnya dia memilih berangkat ke kantor.
"Baik, Tuan besar" balas Doris.
Tidak lama Doris masuk dengan segelas kopi dan sepiring cemilan. Doris meletakan gelas kopi dan sepiring cemilan itu di meja Abraham.
"Aku tidak meminta cemilan. Hanya segelas kopi!"
"Tuan besar, bukankah kata anda, anda akan beristirahat di rumah hari ini? Saya hanya memikirkan kesehatan anda saja, tuan"
"Em. Aku hanya disini 3 jam saja. Bawa kembali cemilannya! Aku tidak lapar!"
"Tapi, tuan..."
"Kau ingin membantahku?! Aku sudah sarapan tadi pagi dengan Elizabeth!"
"Ah. Baik, tuan" Doris mengambil kembali piringnya dan membiarkan segelas kopi di sana.
Abraham ketika sedang sibuk seperti ini, sering sekali melupakan makannya. Doris hanya menghawatirkan bosnya itu, akan sangat berbahaya jika bosnya itu tidak makan sampai makan siang nanti apalagi katanya sekarang sakit.
Doris meninggalkan ruangan itu dan kembali keruangannya.
“Ada apa ini?” Ucap Doris saat melihat laptopnya itu.
“Sepertinya ada yang ingin bermain- main”
Dengan serius Doris mengotak atik laptopnya.
Setengah jam Doris serius dengan laptopnya, Doris menelpon seseorang.
“Nick,aku butuh kamu?!”
Hanya itu yang diucapkan Doris. Tanpa menunggu jawaban Doris langsung menutup telponnya. Nick adalah salah satu anak buah doris (Pernah keluar di salah satu episode sebelumnya. Nick saat ini juga bekerja di D’company.
Tidak lama Nickpun datang.
“Ada apa, tuan Doris?”ucap Nick masuk keruangan Doris.
“Kau lihat ini!” ucap Doris menunjukkan layar laptopnya pada Nick. Nick menunjukkan wajah terkejut.
“A...Apa ini, tuan Doris?”
__ADS_1
“Mereka berusaha masuk kedalam keamanan D’company. Aku percayakan padamu, cari tau siapa mereka?”
Nick membuang nafas lega.
“Apa anda belum mengetahui siapa mereka, tuan?” tanyanya hati-hati
“Jika aku sudah tau, apa mungkin aku menyuruhmu?! Aku sudah cari tau dimana kau harus memulai. Tugasku masih banyak jadi aku serahkan seterusnya padamu"
“Baik, tuan” Jawabnya
.
“Dor?!” Seseorang masuk , Doris langsung berdiri dan Nick langsung menunduk hormat.
“Ada apa, tuan besar?” Tanya Doris hormat pada Abraham.
“Tumben sekali, tuan besar kesini. Pasti ada tugas baru”
“Ah, ada Nick juga. Apa kabarmu, Nick?” Abraham melangkah dan duduk di sofa di ruangan itu.
“Baik, tuan besar. Bagaimana dengan luka anda apa sudah sembuh?” tanya balik Nick pada Abraham.
“Kau bisa liat sendiri, Nick. Aku baik-baik saja”
“Apa ada yang anda butuhkan, tuan besar?” tanya Doris dan duduk di depan Abraham.
“Melihat Nick di sini, Kurasa kau sudah tau”
“Iya,Tuan besar. Saya akan menyerahkan semuanya pada Nick”
“Aku percayakan padamu, Nick” ucap Abraham pada Nick yang masih berdiri.
“Aku tidak akan menggangu kalian. Aku akan pulang sekarang. Kau urus urusan disini!” perintah Abraham pada Doris
.
“Baik, tuan besar"
Abraham berdiri dan melangkah pada Nick.
“Bagaimana kabarmu, Nick?”
“Saya baik, tuan besar” Jawab Nick
“Lalu kabar keluargamu?” tanya abraham kembali. Nick melirik Abraham sekilas.
“Keluarga saya semuanya baik-baik saja, tuan besar”
“Baguslah!” Abraham menepuk pundak Nick dan melangkah pergi dari ruangan itu.
see you next time
__ADS_1