Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
faktanya


__ADS_3

Ponsel mama Anya yang dia letakkan diatas meja berdering, dirinya yang sedang memasukkan sesuap demi sesuap makanan kedalam mulut, terpaksa harus menghentikan aktifitasnya terlebih dulu, kemudian meraih benda pipih itu. Dahinya mengerut manakala melihat nomor asing lah yang ternyata melakukan panggilan.


"Siapa Anya?" Tanya Luis yang melihat mama Anya seperti orang kebingungan.


"Entah, nomor tidak di kenal." Mama Anya memperlihatkan layar ponselnya pada Luis.


"Angkat saja." Setelah mengucapkan kata itu, Luis meneguk segelas teh hangat yang dia pesan sebelumnya.


Mama Anya mengangguk kemudian dengan gerakkan cepat menggeser pola hijau pada layar layar ponselnya.


"Halo, selamat malam?" Tanya mama Anya kemudian.


"Halo, selamat malam juga. Apa benar ini dengan ibu Anya, istri dari bapak Tengku Lukmansyah Zifaran?" Kemudian orang disebrang sana balik bertanya.


"Ya, benar, ini saya sedang bicara dengan siapa ya?" Tanya mana Anya, dia melirik Luis yang juga tengah menatapnya.


"Saya dari pihak rumah sakit, ingin mengabarkan jika pak Lukman baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang jasadnya sudah berada di rumah sakit Medika. Mohon ibu segera datang untuk mengurus jenazah." Berita duka yang mungkin bagi sebagian orang adalah berita bahagia.


"Apa? Jenazah? M... Maksudnya suami saya meninggal, begitu?" Tanya mama Anya tak percaya.


"Iya bu, korban meninggal di TKP, saya turut berduka cita atas kepergian beliau."


Mama Anya langsung memutuskan panggilan itu, jantungnya berdebar-debar cukup cepat, nafasnya tersengal. Bukankah dirinya dan Luis baru saja menyusun rencana untuk melenyapkan Lukman, tapi kenapa Tuhan malah mendahului rencana yang telah dia susun dengan sangat rapi?


"Hahaha, baguslah Anya, jadi kita tidak perlu repot-repot dan mengotori tangan kita untuk melenyapkannya." Luis menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Melihat mama Anya yang hanya terdiam dengan raut wajah yang syok, Luis lalu kembali berkata.


"Ada apa denganmu Anya? Seharusnya kamu merasa senang dengan berita bahagia ini. Akhirnya musuh kita lenyap dari muka bumi, dan tujuan kita selama ini telah tercapai, kita akan menguasai seluruh aset kekayaan miliknya dan menikmatinya bersama-sama." Luis berkata penuh kemenangan.


"Seharusnya dia tidak mati semudah ini, bahkan aku belum sempat membalas apa yang telah dia perbuat terhadap kita dimasa lalu. Aku ingin melemyapkannya dengan tanganku sendiri, Luis!" Mama Anya terlihat mengepalkan tangannya.


"Semua sudah terjadi Anya, berarti Tuhan tidak ingin membuat kita bekerja lebih keras untuk melenyapkan dia. Sudah cukup berpuluh tahun kita berjuang bersama, mengorbankan segalanya, kini saatnya kita menikmati hasil dari jerih payah kita selama ini." Luis menyentuh pundak mama Anya kemudian mengusapnya perlahan.


"Kamu benar, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Mama Anya hendak beranjak, namun niatnya terhenti saat Luis kembali berkata.


"Kita harus menyuruh Sheerin pulang, pasti pertunjukkan ini akan semakin menarik." Seringai jahat muncul dibibir Luis, membayangkan Sheerin yang pasti akan menangis meraung-raung diatas jasad ayahnya.


"Ahh, kamu benar Luis. Mereka juga sudah terlalu lama berlibur." Mama Anya kembali mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Sheerin palsu.


***


"Nindi!" Ibu dan Yuvi memekik bersamaan saat melihat Sheerin berdiri di ambang pintu kamar. Matanya terlihat berkaca-kaca, seperti ingin menuntut penjelasan lebih, namun bibirnya seolah tak mampu untuk berkata.


Ibu dan Yuvi kemudian saling menatap satu sama lain, seperti seorang maling yang ketahuan sedang mencuri, wajah keduanya terlihat panik. Mereka berpikir jika Nindi tidak akan pulang saat itu. Ibu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Sheerin yang tertegun, dia merangkul pundak Nindi palsu untuk membuatnya sedikit tenang. Pasti tidak mudah mengetahui kenyataan jika dirinya bukanlah darah daging ibu, sedangkan sedari kecil, tangan ibunyalah yang selalu Nindi genggam, kemanapun ibu pergi, Nindi pasti mengekor di belakangnya.


"Apa yang kamu dengar nak?" Tanya ibu memastikan.


"Aku dengar semua bu, tapi aku harap kalau yang ibu dan kak Yuvi bicarakan tadi itu semuanya nggak bener. Aku anak kandung ibu, kan? Ibu yang melahirkan aku, kan?" Entah kenapa Sheerin merasa sedih, seolah jika dirinya adalah benar-benar Nindi, pasti Nindi juga akan meraskan rasa sakit seperti yang tengah ia rasakan.


"Nindi berhak tau, bu! Dia sudah mulai dewasa, sampai kapan kita akan menyembunyikan rahasia ini?" Perkataan Yivi semakin menguatkan sugaan Sheerin.


"Maksud kak Yuvi apa?" Tanya Sheerin.

__ADS_1


"Sebelumnya ibu minta maaf nak, mungkin memang benar apa yang dikatakan Yuvi, ini waktunya untuk kamu mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya." Ucap ibu terdengar lirih. Sheerin bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya.


"Ibu bukanlah wanita yang melahirkan kamu, nak. Tapi ibu adalah wanita yang merawat dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, sejak kehadiranmu, ibu sudah menganggap kamu sebagai putri kandung ibu sendiri, ibu tidak pernah membeda-bedakan antara kamu dengan Yuvi, ibu sangat menyayangimu, nak." Ibu mengelus rambut Nindi palsu, menegaskan jika dirinya teramat menyayangi Nindi.


"Apa ini juga yang menjadi alasan kenapa kak Yuvi nggak mau nikah selama ini?" Sheerin beralih menatap Yuvi.


"Ya, kakak takut kalau kamu sudah menemukan keluarga kamu, lalu kamu akan pergi meninggalkan ibu sendirian." Jawab Yuvi sambil menunduk.


"Kakak nggak perlu melakukan itu, aku nggak akan pernah meninggalkan ibu." Ucap Sheerin.


"Pergilah, nak! Cari keluarga dan ibu kandungmu!" Ucap ibu kemudian.


"Jadi, ibu kandung aku masih hidup, begitu? T... Tapi kenapa dia malah meninggalkan aku bu?" Tanya Sheerin.


Ibu menghela nafas panjang, kemudian dia membimbing Sheerin untuk duduk di samping Yuvi, Sheerin hanya menurut. Yuvi memberika segelas air pada Sheerin, Yuvi tau jika adiknya itu masih syok dengan fakta yang baru saja dia ketahui.


Sheerin meneguknya lalu mengembalikan gelas itu pada Yuvi, tak bisa dipungkiri jika separuh cairan dalam tubuhnya telah menguap pergi.


"Ibu akan menceritakan bagaimana mulanya kamu bisa bersama dengan ibu. Jadi, begini ceritanya..."


Flash back on...


Ibu's POV


Pagi itu, aku tengah menyapu halaman depan rumah. Dedaunan kering selalu saja berjatuhan dari pohon mangga, padahal kemarin sore aku sudah menyapunya hingga bersih tak tersisa, namun nyatanya, pagi ini dedaunan itu sudah kembali berserakkan.


Bukan hal yang aneh memang, apalagi semalam telah terjadi hujan badai yang cukup mengerikkan, pastilah banyak daun dan sampah yang berterbangan tersapu oleh sang bayu.


Dari jarak 20 meter, aku sudah bisa melihat kedatangan mobil pick up milik kakek yang bergerak mendekat ke arahnya, jalanan yang tidak merata dan banyaknya bebatuan membuat pergerakkan mobil kakek bergerak zigzag seperti akan terjungkal kekiri lalu kekanan. Namun akhirnya mobil itu berhasil berhenti dengan selamat tepat di sampingku.


"Sudah sampai bah, alhamdulillah." Abah, begitulah aku sering memanggilnya. Kemudian aku mencium puggung tangan kakek.


Semenjak suamiku berpulang kepangkuan sang pencipta, kini aku hanya tinggal bersama kakek dan putri semata wayangku, Yuvi namanya.


"Sarapan dulu ya, bah! Hani sudah masak terong yang kemarin sore di panen." Aku melihat ada yang aneh dengan gelagat kakek, wajahnya seperti orang sedang kebingungan.


"Abah kenapa? Mengantuk? Selesai sarapan langsung tidur lagi saja ya!" Aku berusaha membaca air muka kakek.


Kakek terlihat mengusap tengkuknya berkali-kali.


"Begini, Hani!" Akhirnya kakek mau buka suara.


"Ya, kenapa?" Tanyaku.


Bukannya menjawab, kakek malah berjalan kearah belakang, tepat pada bak terbuka. Aku mengikuti langkahnya. Kemudian kakek menyibak terpal yang selalu digunakan untuk menutupi berbagai macam sayuran.


"Astagfirulloh, bah!" Mulutku terbuka lebar-lebar, aku menutupinya dengan tanganku sendiri, saking kagetnya aku saat melihat seorang perempuan yang ada dibalik terpal itu, bahkan bayi mungil terlihat masih melekat dengan sempurna dalam gendongannya.


"I... Ini siapa, bah?" Tanyaku dengan mulut yang gemetar.


"Abah juga tidak tau Ni, abah menemukannya dijalan tadi. Mereka masih bernafas, abah tidak tega meninggalkannya, jadi abah bawa saja mereka, abah rasa abah bisa mengobati kaki perempuan ini yang terluka parah." Kakek memang baik, tanpa pamrih dia selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongan, bahkan tanpa diminta sekalipun. Tak pernah mubazir kelebihan yang kakek miliki ini.


"Ya sudah, ayo kita bawa mereka masuk kedalam!"

__ADS_1


***


Kakek benar-benar merawat perempuan dan bayi itu dengan sangat baik, setiap pagi dan sore aku membantu menggantikan perban setelah kakek selesai memberinya obat herbal. Namun selang 3 hari berlalu, perempuan itu tak urung mau membuka matanya. Sebenarnya, kejadian apa yang telah menimpa perempuan itu sehingga membuat kondisinya menjadi sedrop ini? Terkadang rasa simpati aku rasakan kepadanya. Dan, dimana kekuarganya berada? Mengapa tak berusaha mencari mereka?


Aku beralih menatap bayi mungil yang aku baringkan tepat di samping perempuan itu, aku memperkirakan usianya 9 bulan, namun bayi itu berulang kali membalikkan badannya, tengkurap lalu bermain-main dengan wajah ibunya yang tak kunjung sadar.


Aku membawa bayi itu kedalam gendonganku, rasanya sudah lama sekali aku tidak menimang bayi seperti ini, Yuvi sekarang usianya sudah menginjak 8 tahun, mana mau dia digendong seperti ini. Ada kebahagiaan tersendiri saat aku melihat gelak tawa bayi ini saat aku mengajaknya bermain.


Bayi ini begitu aktif, meski dia baru saja sembuh dari demamnya. Bayi itu sepertinya terkena demam setelah di ajak sang ibu berhujan-hujanan. Bayi yang malang. Namun begitu, menurut kakek tidak ada yang perlu dicemaskan dengan keadaan sang bayi. Hanya saja bayi itu telah menelan obat tidur sehingga pada sore harinya dia baru terbangun.


"Ibu...!" Rumah panggung ini terasa bergetar saat Yuvi berlarian didalamnya. Aku segera menegurnya.


"Jangan berlarian, nak nanti bisa roboh rumahnya!" Ucapku selembut mungkin.


"Iya, maaf. Habisnya aku nggak sabar mau lihat adik kecil ini." Yuvi mencubit pipi gembul si bayi dengan gemas. Jika tidak ada aku, mungkin saja Yuvi akan menggigitnya karena merasa gemas.


"Gimana sekolahnya? Ada PR?" Tanyaku kemudian.


"Ada, nanti aku kerjain, sekarang aku mau ajak adik bayi ini main dulu. Boleh, kan bu?" Tanya Yuvi memperlihatkan wajah manisnya.


"Kamu ganti baju dulu, simpan tasnya, terus makan. Nanti baru main sama adik bayinya, ya!" Aku melihat kedua pipi putriku itu di gembungkan, pertanda protes mungkin, tapi Yuvi anak yang baik, dia langsung menurut dengan perkataanku.


"Iya udah deh bu! Dadah adik bayiiii!" Sebelum pergi, sekali lagi Yuvi mencubit pipi milik si bayi, bukannya menangis, bayi itu malah tertawa sambil menunjukkan giginya yang baru tumbuh empat biji. Sungguh bayi yang menggemaskan.


Aku kembali menyuapinya kerok pisang.


***


Satu minggu telah berlalu, namun belum ada pertanda perempuan itu akan terbangun. Aku dan kakek tidak berhenti memasukkan cairan herbal melalui mulutnya. Seperti sore ini, kakek baru saja pulang dari kebun untuk memanen sayuran.


Aku bertugas memegangi kepala perempuan itu agar sedikit terangkat, sedangkan kakek bersiap memasukkan sendok obat ke dalam mulut perempuan itu.


"Uhuk! Uhuk!"


Aku dan kakek menghentikan aktifitas kami saat mendapat respon positif, perempuan itu terbatuk-batuk.


"Dia sudah sadar, bah!" Mungkin Aku yang terlihat sangat bahagia ketika melihat mata perempuan itu perlahan mulai terbuka. Sedangkan kakek masih bisa tenang, tidak seantusias aku.


"Alhamdulillah, syukurlah." Ucap kakek.


Perempuan itu terlihat mengatur pernafasannya yang tersengal, kemudian memperhatikan setiap sudut kamar kecil milikku ini, berdindingkan anyaman bambu dan beralaskan papan.


"D... Dimana saya? Dan s... siapa kalian?" Tanya perempuan itu dengan gemetar, ada gurat ketakutan di wajahnya, apa mungkin perempuan itu mengalami trauma?


"Kamu ada di gubug saya, saya menemukanmu dibawah tebing pinggir sungai satu minggu yang lalu dan saya yang membawamu kemari." Ucap kakek.


Dia berusaha beranjak, namun kemudian meringis sambil memegangi kakinya yang di balut perban.


"Aww!" Dia merintih kesakitan.


"Jangan banyak bergerak dulu, kakimu terluka parah!" Aku menahannya agar tetap berada diposisi semula.


___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2