Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Mendapat teguran


__ADS_3

Sudah sekitar 2 bulan Dimas dan Anita menjalin hubungan, selama ini hubungan mereka terlihat baik - baik saja. Dimas berencana akan mengajak Anita untuk pulang bersama nya, dia berniat akan memperkenalkan gadis itu kepada keluarganya.


"Nit, minggu depan kita pulang ke rumah aku ya."kata Dimas sambil memakan makanannya.


"Emang kamu udah dapat ijin cutinya?"tanya Nita.


"Udah, kata bang Ben surat izinnya akan keluar minggu depan"


"Berapa lama?"tanya Nita.


"4 hari, lumayan la kalau buat ke kampung aku" kata Dimas.


"Baiklah, nanti aku akan mulai mempacking pakaian ku."kata Anita semangat.


"Apa kamu butuh bantuan?"tawar Dimas.


"nggak usah, kalau soal beginian mah aku juga bisa"kata Anita tersenyum, Dimas pun ikut tersenyum melihat kekasihnya itu tersenyum.


Setelah makan siangnya selesai, Dimas pun bergegas untuk pergi kembali ke pt. Tadi dia sengaja minta izin dengan alasan kalau KTPnya tertinggal. Tapi bukannya pulang ke rumahnya, Dimas malah pulang ke rumah Anita yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Yap, Anita dan Dimas sekarang sudah tidak tinggal serumah lagi. Dimas takut kalau ia masih tinggal bersama dengan gadis itu, dia takut akan khilaf dan akan berbuat hal yang tidak di inginkan.


Lagi pula, pak Henri juga sangat menentang kalau Dimas dan Anita tinggal serumah, apa lagi mereka belum memiliki status apapun kecuali status pacaran.


______


Ranti berjalan menuju kantin, dia melihat Rizal dan kedua temannya sedang menikmati makan siangnya. Walaupun ia tidak terlalu mengenal ketiga pria itu, tapi setidaknya dia tahu kalay mereka adalah sahabatnya Dimas.


"Hai..."sapa Ranti


Ketiga pria itu pun menoleh memandang kearah Ranti. "Iya, ada apa?"tanya Bima.


"Apa aku boleh duduk di sini?"tanya Ranti.


"Silahkan!..."


Ranti pun mendudukkan dirinya di kursi yang kosong, tepatnya di sebelah Yoga.


"Hmm.... Apa klian mengenalku?"tanya Ranti, seketika ketiga pria itu pun mengerutkan keningnya.


"To the poin aja?"sahut Yoga.


"Baiklah, aku ke sini ingin menanyakan keberadaan Dimas. Apa kalian tahu dia ada di mana?"tanya gadis itu.


Mendengar hal itu ketiganya pun saling pandang, mereka harus jawab apa? Kalau mereka mengatakan yang sebenarnya, mereka tahu pasti kalau gadis itu akan sakit hati. Ketiga pria itu tidak tega melihat gadis itu sedih. Tapi, mereka harus jawab apa, agar semuanya tidak berantakan.


"Kenapa kalian diam aja? Aku saranin agar kalian berkata jujur aja, karena aku lebih suka kejujuran walau pun sakit dari pada kebohongan yang pasti akan lebih menyakitkan"kata Ranti.


"Ehm... Ran, kita sebenrnya juga nggak terlalu tau keadaannya gimana, karena memang Dimas nggak ada bahkan nggak pernah cerita sama kita masalah pribadinya dia, jadi kita kurang tahu." jawab Rizal yang memang lebih dekat dengan Dimas dibandingkan dengan Yoga dan Bima/

__ADS_1


Ranti terdiam, dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi dengan hubungnnya yang belum jelas nasbnya itu. Tapi walau bagaimana pun ia ingin kepastian.


"Hiiks.... Hiks.."


Rizal, Bima dan Yoga saling pandang, mereka kaget mendengar suara isakan.


"Ran..." Ranti mendongak, dan ia pun mulai menceritakan semuanya. Gadis itu benar - benar merasa frustasi, sudah 2 bulan pria itu tidak ada kabar.


"Kamu yang sabar, kita akan mencoba bicara sama dia nanti." ucap Rizal.


"Iya, kamu tenang saja ya." tambah Bima.


"Terima kasih ya." ucap Ranti


"Iya, udah hapus tu air matanya dan ingusnya juga" goda Yoga. Ranti pun tersenyum malu mendengarnya.


____


Dimas masuk ke ruangan Ben, karena saat dia baru sampai tadi dia sudah dapat panggilan yang menyuruhnya untuk datang ke ruangan mandor itu.


Tokk.... Tokkk..


"Masuk!" Dimas pun masuk setelah mendengar suara Beni yang memperbolehkan dia masuk.


"Ada apa, bang? Kenapa tiba - tiba menyuruhku kemari?" tanya Dimas berjalan menghampiri Beni yang sedang duduk di kursinya.


"Duduk lah dulu!"


"Begini,aku akan to the pon aja. Akhir - akhir ini aku sudah terlalu sering mendapatkan keluhan tentangmu, apa kah semua itu benar?" tanya beni


"Maksudnya bang? Perasaan pekerjaanku beres semua dan nggakk ada tu yang nggak selesai." balas dimas,


" Aku harap, kamu nggak menyia - nyiakan kepercayaan yang sudah di berikan pak Rinald, karena sekalinya dia kecewa, maka kamu akan sangat menyesal dan kamu juga nggak akan pernah bisa membayangkan dengan hukuman yang akan di berikan oleh pak Rinald nantinya..." ucap Beni, Dimas hanya ia, dia nggak tahu harus berbuat apa, karena seingatnya, tidak ada kesalahan yang pernah di lakukannya.


___


Setelah keluar dari ruangan Beni, dimas langsung pergi ke tempat kerjanya, di sana dia melihat ketiga temannya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing - masing.


Yoga yang pertama kali menyadari kehadiran Dimas, dia pun memberi kode pada kedua sahabatnya yang lain. Mereka sama - sama mengerutkan keningnya saat melihat Dimas yang datang dengan wajah masamnya.


Tapi karena mereka sedang jam kerja, jadi mereka membiarkan Dimas dan kembai fokus pada pekerjaannya.


Dimas melakukan semua pekerjaannya, dia masih bertanya - tanya dengan semua yang dikatakan Beni tadi, dan juga bertanya- tanya siapa yang telah melaporkannya pada Beni.


"Apa yang telah aku lakukan ? Siapa sih yang ingin cari masalah denganku.' gumam Dimas.


Setelah selesaibekerja, ketiga sahabat Dimas datang menghampirinya yang sedang sibuk membuat laporan.


"Lo, kenapa?" tanya Rizal menepuk bahu Dimas. Dimas mendongak da sangat kaget dengan ke hadiran para temannya itu.

__ADS_1


"Jangan melamun nggak baik, apa lagi di sini sangat - sangat tidak di benarkan untuk melamun,apa lo ingin keserupan?" tanya Bima.


"Gue agi pusing." ucap dimas.


"Kenapa?" tanya Rizal


"aku..." Dimaspun menceritakan semua yang di katakan beni pada nya.


"Kurang kerjaan banget tu orang." umpat Bima


"Ntalah, gue juga la pusing mikirnya"ucap Dimas.


"Lo tenang aja, pokoknya lo semangat dan igat jangan sampai ada cela buat orang lain, mengerti?"lata Yoga.


Dimas mebgangguk pagam, tapi meski begitu dia masih saja tidam merasa tenang.


___


Seperti biasanya, Anita akan selalu menyiapkan makanan buat sang kekasi. Dia selalu menyempatkan waktunya buat memasak. Meskipun kadang dia merasa tidak ada waktu, karena di sekarang sudah kembali bekerja di PT, tempat dia dulu bekerja.


"Dimas pasti suka dengan ini"gumamnya sambil menyicipi masakanny.


Malam ini Anita memasakkan makanan ke sukaan Dimas, yaitu rendang udang dan goreng hati ayam.


"Akhirnya, semuanyas sudah jadi dan aku akan mandi terlebih dahulu, sebelum dia datang"ucapnya, kemudian berjalan ke kamar.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Anita tersenyum mendengarnya, sudah bisa di pastikan kalau itu adalah Dimas sang pujaan hati.


Dengan gerakan cepat, ia menyelesaikan mandinya dan cepat - cepat memakai baju.


Sementara di luar rumah, dengan tidak sabaran, Dimas terus mengetuk pintu rumah pacarnya.


"Dia kemana sih? Kenapa buka pintunya lama banget"gerutunya.


Tokkk... Tokkk...


"Anitaaaa,..." teriak Dimas.


Tokk.... Tokk...


"Anit..."


Ceklek!


Pintu terbuka dan betapa kagetnya Dimas saat melihat, wanita yang ada di hadapanya itu.


"Kamu?!..."


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜


__ADS_2