Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bab 68


__ADS_3

"Kenapa kau begitu mencintai ku?" pertanyaannya itu yang keluar dari mulut Elizabeth.


Abraham sedikit terkejut dengan pernyataan Elizabeth itu, namun sedetik kemudian dia tersenyum dan mengecup kening Elizabeth.


"Apa yang ingin kamu ketahui, em?" tanya Abraham mengusap pipi Elizabeth.


Elizabeth mendudukkan tubuhnya dan menghadap Abraham yang masih rebahan. Akhirnya Abraham juga memilih duduk dan menghadap pada Elizabeth.


"Aku ingin tau, kenapa kau sangat mencintaiku, honey? Kenapa kau dengan mudah memaafkan aku saat aku membuat mu malu? Aku ini tau bagaimana kita bertemu? Ada beberapa yang memberi tau padaku, namun hanya sebagai. Aku...aku ingin tau segalanya, honey. Segalanya, sampai perasaanmu sekarang" ujar Elizabeth yang penuh semangat.


Abraham mengecup sekilas bibir yang sangat bersemangat itu. Rasanya sangat menggoda.


"Kalau begitu, Aku binggung harus mulai dari mana menceritakannya. Ha?" ujar Abraham.


"Jadi kau mau aku, mulai dari mana?"


"Aku mau tau, awal kita bertemu. Cerita kapan kita bertemu?"


"Ah. Kapan ya?" Abraham pura-pura berpikir. "Saat itu aku masih umur 8 tahun, berarti 20 tahunan yang lalu. Ya tepatnya 19 tahun lewat dikit. kau sekarang jalan 24 tahun kan? kau sekitar umur 5 tahunan lah ya jika di bulat-bulatkan"


"Saat itu aku bersama ayah dan bunda, juga unty dan uncle kedua orang tua Reno, Reno saat itu masih sangat kecil. Dia masih di gendong jadi masih pakai baby sister, serta paman Ayah Sekertaris Kim yang sebagai pengawal"


"Apa kau akan menceritakan kepergian orang tuamu dan Reno, Honey?" tanya Elizabeth memastikan.


"Kau pernah mendengarnya?" Abraham mengusap kepala Elizabeth.


"Em. Hanya sedikit. Kak Bram tidak berani cerita lebih, katanya jika aku ingin tau, aku bisa bertanya langsung padamu"


"Bram bukan hanya tidak berani, Elis, tapi karena dia juga tidak tau cerita sebenarnya. Hanya Aku dan paman ayah Sekertaris Kim yang tau akan kejadian itu dan aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun, bahkan pada Sekertaris Kim. Sekretaris Kim pun tahu semuanya cerita dari ayahnya"


"Kenapa? Kenapa kau tak mau bercerita?"


"Karena aku tidak ingin berbagi kesedihanku pada siapapun, Elis. Aku tak ingin terlihat lemah"

__ADS_1


"Lalu apa kau akan menceritakannya padaku?"


"Iya. Entah kenapa aku ingin menceritakan segalanya tentang ku padamu. Aku ingin berbagi segalanya padamu, bukan hanya kebahagiaan, tapi kepedihan ku" ucap Abraham tulus. Membuat hati Elizabeth makin merasa tidak karuan.


"Apa aku bisa melanjutkan ceritanya?" Tanya Abraham kembali. Sepertinya wanitanya ini masih penasaran tentang lain.


"Lanjutkan. Lanjutkan honey"


"Kami bertamasya saat itu. Kau ingat di usiaku 7 tahun, aku berhasil membuat senjata?" Elizabeth mengangguk.


"Atas keberhasilanku itu, ayah berjanji akan membawa kami jalan-jalan sekeluarga, jika tidak sibuk. Dan aku memilih jalan-jalan ke negara yang kau bangga-banggakan itu"


"Negara yang aku bangga-banggakan? Indonesia? Indonesia, Honey?"


"Iya. Indonesia. Kami jalan-jalan ke Indonesia dan bertepatan ayah ada pertemuan dengan investor di Jakarta. Semua berjalan lancar. Dan kami pindah ke kota yang terkenal dengan kota para turis"


"Yang kau maksud Bali kan, Honey?"


"Iya Bali" balas Abraham mengusap lembut kepala Elizabeth, karena merasa ngemas pada Elizabeth yang tampak bersemangat. "Saat itu aku melihat bahwa ada handpone pengeluaran terbaru dan aku sangat ingin. Walau aku tau harga di Amerika akan lebih murah, tapi aku ingin saat itu juga. Andai jika aku tidak memintanya" ada guratan menyesal pada Abraham saat mengatakan kalimat terakhir.


"Lalu?"


"Dan rencana selanjutnya setelah makan adalah ke taman bermain. Reno saat itu sudah tertidur dan terpaksa dia dan baby sisternya kembali ke kamar. Dan ayah juga berjanji akan membelikannya. Aku sangat senang saat itu. Tapi jangankan sampai wahana permainan yang menyenangkan, namun yang ada hanya permainan yang menyeramkan. Kami di hadang di tengah perjalan. Namun ayah, mama, anty dan uncle jangankan mengangkat senjata, bahkan untuk berdiri saja tak sanggup. Yang dapat berdiri dan melawan saat itu, hanya aku dan paman. Apalah kekuatan 2 orang dengan melindungi 4 orang lainnya yang sudah tak berdaya, bahkan aku masih sangat kecil. Dengan kekuatan yang tersisa, Ayah memerintahkan paman untuk membawaku pergi. Aku tak ingin pergi saat itu. Tapi tangan paman sangat kuat menarik ku. Aku menjauh dan yang terlihat hanya ayah dan uncle di hujan ni peluru. Aku terus berlari, tanpa bisa berbuat apa-apa"


Wajah Abraham sangat sedih, namun tak ada air mata disana. Mungkin sakit sedihnya, air mata pun tak bisa lagi menetes.


Elizabeth ingin memeluk Abraham, namun Abraham malah merebahkan kepalanya di pangkuan Elizabeth, Sehingga Elizabeth memilih mengusap kepala Abraham lembut.


"Tapi tak sampai situ, Elis. Di pertengahan jalan. Paman pun tumbang, musuh yang mengejar pun banyak. Mereka tak hanya ingin ayah dan uncle, tapi mereka juga mengincar ku. Mereka tak ingin ada penerus di Drakness" Ada kebencian di setiap kata-kata Abraham.


"Paman menyuruhku pergi dan aku tak mau. Aku tak mau meninggalkan paman dan juga mati mengenaskan. Tapi apa kata paman? "Pergilah tuan muda. Pergilah!" Aku masih di panggil tuan muda saat itu" Abraham tersenyum mengingat itu.


"Dan paman terus menyuruhku pergi "Pergilah tuan muda. Jika anda masih disini, dan mati. Siapa yang akan membalaskan dendam kami?" Benar? siapa yang akan balas dendam, jika aku juga mati? Aku merasa tidak berdaya. Lari saat disuruh lari. Aku pecundang!" Abraham memaki dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kau melakukan yang tepat, honey. Kau masih sangat kecil saat itu. Paman benar, kau harus pergi. Kau harus tumbuh dewasa dan tumbuh menjadi lebih kuat, jika kau ingin membalaskan dendam mereka. Jangan sampai pengorbanan mereka sia-sia. Jadi kau tak perlu menyalahkan dirimu seperti ini"


Abraham mengambil tangan Elizabeth yang mengusap kepalanya dan mencium tangan it.


"Kau benar, Elis. Aku harus hidup, harus ada yang kembali dengan selamat. Itulah yang aku pikirkan. Berlari dengan senjata ku. Dan mereka terus mengejar ku. Aku sampai tidak merasakan bahwa tubuhku sudah penuh dengan luka. Peluru ku pun habis. Saat ku yakin aku akan mati juga, musuh telah mengepungku di segala arah. Aku sudah pasrah saat itu. Namun tuhan mendatangi malaikat kecil yang menarik ke semak-semak dan masuk ke ruangan bawah tanah yang tertutup. Dia sama seperti ku, mungkin terluka lebih parah. Ada darah yang mengalir di pelipisnya. Dia terlihat lebih lemas, tapi masih sempat-sempatnya bertanya keadaanku "Kau baik-baik saja? Apa mereka juga mengejar mu? Apa mereka juga mau membunuh mu? Dan benar saja belum sempat aku menjawab, gadis itu jatuh tergeletak. Aku juga sudah tidak ada tenaga dan ikut bersama gadis kecilku, tertidur. Dan entah bagaimana bisa saat aku terbangun sudah lewat 5 hari dan aku sudah berbaring di atas kasur rumah sakit di Amerika" Abraham terhenti.


"Dan kau tau, Elis? Siapa gadis kecil itu?"


"Emang siapa, honey?" tanya Elizabeth dia sudah menebak, namun dia takut salah.


"Dirimu. Gadis kecil itu adalah kau, Elis. Dan setelah itu aku berjanji padanya untuk melindunginya dan selalu membuatnya bahagia"


"Bagaimana kau tau itu aku? Bukankah kau bilang kau terbangun di rumah sakit di Amerika? Dan kau bertemu denganku 2 tahun yang lalu kan? Bagaimana cara kau mengenaliku, sedangkan aku sudah berbeda"


"Kalung hati di lehermu itu" jawab singkat Abraham.


Elizabeth mengeluarkan kalung yang senantiasa di lehernya dari kecil itu.


"Aku hanya mengenalimu dari kalung itu. Berbekal dari kalung itu. Saat aku kembali pulih aku langsung mencari mu. Kota Bali sudah aku jelajahi semua, namun aku tidak menemukan mu. Kau hilang di telan bumi.aku mendapatkan informasi namamu di tempat kau di rawat pertama kali di Bali "Elizabeth Liman". Dan ternyata kau pindah ke Amerika. Dan aku akhirnya menemukanmu 2 tahun yang lalu"


Elizabeth terus menatap kalungnya.


"Bagaimana mungkin? Tapi aku tidak ingat kejadian itu sama sekali? Bahkan aku waktu kecil tak pernah ke Bali"


"Apa 2 tahun yang lalu, kau menemukan aku, karena kalung ini?" tanya Elizabeth mencari informasi lebih.


"Kau benar. Bedanya 2 tahun lalu, kau tidak memakainya, kau menyimpannya di tas mu dan takdir yang menemukan kita, walau dalam tas pun dia keluar dan aku bisa melihatnya. Dan setelah dapat informasi, nama, benar kau gadis kecil ku itu. Elizabeth Liman ku"


"Berarti kembarannya itu (orang yang mirip dengannya) yang menyelamatkan Abraham, orang itu punya kalung yang sama dengannya. Bagaimana bisa aku berharap akulah yang menyelamatkan Abraham. Tapi apakah mungkin ada 2 orang dengan wajah, nama dan kalung yang sama? Sedangkan kalungnya ada saat Elizabeth masih sangat kecil."


Penasaran kan? apa kelanjutannya.


******Nantikan kelanjutan hanya di BST******.

__ADS_1


See you next time


__ADS_2