Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
48


__ADS_3

"Cukup?!" Teriak Abraham, memberhentikan pertandingan.


Bram langsung membungkuk hormat pada Elizabeth dan Elizabeth juga membalasnya


"Anda benar- benar hebat, nyonya" puji Bram.


"Biasa aja, kak. Aku masih sangat jauh dari kemampuanmu, kak"


Walaupun Elizabeth belum bisa mengalahkan Bram, namun kemampuan Elizabeth berkembang sangat cepat dengan jumlah latihan yang telah Elizabeth lakukan. Itu sungguh sangat luar biasa, untuk pemula yang melawan seorang yang sudah ahli seperti Bram. Yang artinya jika Elizabeth rajin berlatih, tidak perlu waktu yang lama untuk mengalahkan Bram.


"Apa kau baik-baik saja, Elis?" Tanya Abraham yang khawatir.


"Apa perlu saja panggilkan dokter Yoseph,tuan besar?" Ide gila Sekertaris Kim.


"Aku baik-baik saja, honey, kak kim. Kak Bram tidak benar-benar memukulku kok. Kalau ini benaran mungkin aku sudah kalah dari tadi"


"Jika dia benar-benar memukulmu, maka dia akan berhadapan denganku" ujar Abraham.


"Seharusnya saya rekam tadi saat tuan besar mengatakan aku boleh memukul nyonya. Untung aku masih waras untuk tetap berhati-hati tadi. Kalau tidak, matilah aku"


"Anda cukup hebat, nyonya" puji sekertaris Kim.


"Benarkah?! Tapi aku kalah telak sepertinya"


"Tidak! Kau sangat hebat, Elis. Lawanmu Bram. Masalah bela diri Bram tidak di ragukan lagi. Dialah yang terbaik dibandingkan dengan yang lain, dia bahkan lebih baik dari Dorris.


"Dorris?" Elizabeth mengingat sepertinya dia pernah mendengar nama Dorris.


"Anda pernah bertemu dengannya di kantor, nyonya" ucap Sekertaris Kim mengingatkan Elizabeth dia bertemu dengan Dorris.


"Yang ribut dengan dengan Bram ya?" Elizabeth mencoba memastikan.


"Kami tidak ribut, nyonya" Bram mengkonfirmasi.


"Mereka sudah biasa seperti itu, Elis. Bikin kepala pusing saja. Namun mungkin itu bentuk kasih sayang sepupu"


"Jadi Bram Dan Dorris sepupu, honey? Benarkah, kak Bram?" Ujar Elizabeth tidak percaya.


"Iya nyonya. Dorris adalah sepupu saya"


"Oh. Apa latihan selanjutnya, honey?"


"Sudahi latihan sore ini. Kita pulang"


"YA" ucap Elizabeth yang berasa latihan terlalu cepat dan dia masih ingin melanjutkan latihannya.


"Malam ini aku sudah berjanji dengan seseorang untuk mengajakmu makan malam dengan mereka"


"Siapa?!"


"Kau akan senang mengenal mereka nanti. Mereka orang-orang yang baik dan mereka juga berasal dari Indonesia. Negara yang kau bangga-banggakan itu"


"Benarkah?! ngapain mereka di Amerika?" Ucap Elizabeth yang cukup senang akan bertemu dengan orang dari Indonesia juga.


"Mengejar ilmu"


"Mereka kuliah, Honey? jurusan apa? Dimana?"


"Kau nanti bawa buku dan pena saja. Sekalian nanti wawancara" ejek Abraham tentang pertanyaan Elizabeth yang terus menerus.


"Dih" sungut Elizabeth.


"Di Harvad. Yang 1 Sekolah bisnis dan yang satu calon dokter"


"Harvad? wah mereka pasti hebat"


"Aku lebih hebat dari mereka, Elis" kumat deh sombongnya Abraham. "Sepertinya batalkan saja makan malamnya"


sombong apa cemburu nih?


"Batalkan? kenapa?" tanya Elizabeth yang mulai kecewa.

__ADS_1


"Kau belum bertemu saja kau terus bertanya tentang mereka dan kau bahkan sudah memuji mereka dan aku tidak suka itu!" ucap Abraham yang terlihat serius.


"Ais. Ya ya ya kau paling terhebat, honey. Kau yang paling hebat. Apalah aku yang hanya remahan biscuit"


"Apa kau lapar?" tanya Abraham yang mendengar kata biscuit dari mulut Elizabeth.


"Iya. tapi kita akan makan malam bersama mereka, kan? kau tidak akan membatalkannya kan? Aku ingin bertemu dengan mereka, honey" mohon Elizabet agar Abraham tidak membatalkan makan malam.


"Em"


"Kalau begitu, ayo kita pulang dan bersiap-siap. Jam berapa janjiannya?" Tanya Elizabeth yang sudah sangat tak sabaran.


"Jam 09.00. Kita masih ada banyak waktu, Elis"


"Cowok apa Cewek?"


"Sepasang suami istri dan juga anak mereka"


"Wah. Ayo kita pulang dan mandi. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu"


"Dan aku juga tidak suka menunggu" balas Abraham.


"Kita harus pulang, mandi dan bersiap, itu juga butuh waktu bukan? Kau tak suka dan mungkin mereka juga tidak suka, Honey"


"Iya iya"


"Bagiamana kalau kita berhenti di kebun terlebih dahulu? Kita memberikan mereka anggur dan beberapa jenis buah, mereka pasti suka"


"Terserah padamu"


Sampailah di tempat janjian.


Setelah Abraham dan Elizabeth turun dan masuk ke dalam Restoran, Bram dan masuk kembali ke mobil dan pergi.


"Kak Bram tidak ikut makan juga, honey?"


"Jangan kau pikirkan dia. Dia sudah besar. Dia bisa urus dirinya sendiri"


"Kau sungguh tidak sabaran ya, Elis. Mereka tidak di sini. Dan aku rasa mereka belum sampai"


"Ah tidak apa-apa. Kita kan bisa mencoba kue terlebih dahulu"


"Apa kau lapar. Kita bisa makan terlebih dahulu"


Seorang pelayan memberikan hormat pada Abraham dan Elizabeth.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan dan nyonya" ucapnya hormat.


"Atas nama Dion" ujar Abraham.


"Mari ikuti saya, tuan dan nyonya" ucap pelayan itu mempersilahkan.


Sampailah di sebuah ruangan. Pelayan itu, membukakan pintu. Terlihat seorang ibu yang lembut menyuapi anaknya kue.


Elizabeth langsung menatap Abraham yang memiliki tebakan yang salah, ternyata dia sudah datang dan bahkan sudah makan kue.


"Kalian sudah sampai, ya? Masuk-masuk, Ham" ucapnya mempersilahkan Abraham dan Elizabeth masuk.


"Uncle" panggil Anak laki-laki itu dengan mulut yang masih penuh dengan kue. Anak laki-laki itu adalah Shaquille dan ibunya adalah Anggraini.


"Telan dulu kue mu, Shaquille" Anggra mencoba mengingatkan anaknya.


Shaquille melihat Abraham langsung berlari ke Abraham. Abraham langsung menggendongnya..


Abraham dan Elizabeth duduk berdampingan.


"Ancle, ciapa waita antik ini?" tanya Shaquille menunjukkan pada Elizabeth.


"Ini istri, Uncle. cantik bukan?" Abraham memperkenalkan Elizabeth pada Shaquille.


"Antik. Api antikan unda, uwil" balas Shaquille.

__ADS_1


"Cantikan Istri uncle"


"Unda uwil"


"Hai. Shaquille ya? Saya Elizabeth. Karena Shaquille panggil dia uncle jadi Shaquille bisa panggil aunty" Elizabeth mencoba memberhentikan perkelahian. Elizabeth tau nama Shaquille, karena tadi Anggra pernah menyebutkan nama nya.


"Aunty? Hai aunty, Aya Shaquille" Shaquille memperkenalkan dirinya.


"Oh ini toh istrimu, Ham? Siapa namanya, Ham?" tanya Anggra melihat pada Elizabeth. Anggra merasa pernah melihat Elizabeth, begitu juga Elizabeth. Elizabeth sudah memperhatikan Anggra dari masuk tadi.


"Aku merasa pernah bertemu dengannya, Tapi dimana?" Dalam hati Anggra dan Elizabeth.


"Elizabeth, Nyonya" jawab Elizabeth.


"Hahahaha. Apa?!" Anggra tertawa dengan panggilan Elizabeth padanya. " Istrimu penuh humor, Ham. Aku dipanggil nya nyonya. Rini panggil saja Rini, kita sepertinya masih sejajar dan dia anakku Shaquille" Anggra mencoba memperkenalkan dirinya dan Shaquille lagi pada Elizabeth.


"Aduh maaf ya. Kami sudah makan duluan. Soalnya Shaquille sudah lapar tadi"


"Tidak apa-apa, Rin. Maklum anak kecil dan ini juga sudah lewat waktu makan malam" balas Elizabeth


"Mana Dion, Rin?" tanya Abraham.


"Dia urusan mendesak, Ham jadi tidak bisa datang. Dia hanya menitip salam untukmu, Ham dan juga istrimu" jawab Anggra.


"Salam balik untuknya. Aku harap urusannya cepat selesai. Jika butuh bantuan, jangan segan-segan mintalah padaku" ujar Abraham.


"Kami tidak akan segan, Ham" balas Anggra.


"Kalian sudah lapar ya? Aku tidak tau kapan kalian datang, jadi aku memesannya untuk membawanya saat kalian sampai.


"Tok tok" baru selesai Anggra bicara, pelayan masuk membawakan makanan.


"Selamat menikmati" ujar Anggra dan mempersilahkan. Tuan rumahnya Anggra, Karena Anggralah yang mengundang Abraham dan juga Elizabeth.


Sedikit-sedikit Anggra melirik Elizabeth dan begitu juga Elizabeth. Namun perhatian Anggra cukup teralihkan karena harus memperhatikan Shaquille juga.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Rin?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Elizabeth. Elizabeth seakan pernah bertemu Anggra tapi dia juga tidak yakin. Abraham melihat Elizabeth dan Anggra, terlihat Anggra cukup terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Elizabeth.


Anggra terkejut, karena dari tadi dia juga merasakan hal yang sama pernah bertemu Elizabeth, tapi di mana.


"Aku merasa seperti pernah bertemu denganmu" ujar Elizabeth kembali.


"Aku juga merasa begitu, Elis. Tapi di mana, ya?" balas Anggra.


"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Abraham yang tidak percaya.


"Sepertinya iya, tapi aku tidak tahu kapan, Ham"


"Aku begitu juga, Rin. Sepertinya bukan hanya perasaan saja" balas Elizabeth.


"Kau ingin sesuatu, sayang?!" tanya Anggra pada Shaquille yang mencoba mengambil sesuatu di meja.


"Au inum, unda" Jawab Shaquille.


Anggra mengambilkan minum dan menyuapi minum itu pada Shaquille lembut.


"Apa mungkin kita bertemu di mall atau kafe, Rin?" ujar Elizabeth menebak.


"Apa mungkin malah di Indonesia? Kau kan dari Indonesia juga, kan? bisa jadi kita pernah bertemu di sana" balas Angga


"Aku rasa itu tidak mungkin, Rin. Elizabeth hanya sebentar di Indonesia, itupun saat umurnya masih sangat kecil, namun katanya dia sangat suka dengan Indonesia"


"Benarkah? kapan-kapan bermainlah kesana. Jika kesana hubungi aku. Aku akan mengajakmu ke destinasi wisata yang terbaik"


"Benarkah? itu ide yang bagus kan, Honey?" tanya Elizabeth meminta persetujuan Abraham.


"Baiklah. Jika aku ada waktu luang, aku akan mengajak mu main ke Indonesia"


"Ide yang Bagus! aku aka ajak kalian ke.....bla bla"


Akhirnya mereka mengobrol dengan tanpa canggung lagi antara Anggra dan Elizabeth. Mereka malah terlihat sangat dekat. Abraham yang malah sibuk dengan Shaquille...

__ADS_1


see you


__ADS_2