
"Mama yang udah bunuh ayah! Dasar manusia berhati iblis!" Sekuat tenaga Sheerin mendorong bahu mama Anya hingga si pemilik bahu hampir saja tersungkur, beruntung ibu-ibu tetangga segera menahannya.
Semua orang yang ada disana tercengang, kenapa Sheerin bertindak seperti orang yang sedang kesurupan?
Ya, bagaikan semut yang jika diinjak-injak, pasti dia melawan dengan cara menggigit. Apalagi dengan manusia, Sheerin sudah merasakan sakit yang teramat sakit, dan ini adalah puncak tertinggi dimana dirinya di sakiti. Apa Sheerin masih harus tetap diam? Tidak!
"Apa yang kamu lakukan?" Mama Anya membentak Sheerin.
"Aku dengar semua rencana busuk mama untuk melenyapkan ayah di restoran tadi, dan aku nggak nyangka, mama bergerak begitu cepat dan perkataan mama jadi kenyataan dalam sekejap mata." Ucap Sheerin dengan lelehan air mata yang terus saja membanjiri kedua pipinya.
Baru kali ini Sheerin menumpahkan segala beban di hatinya terhadap mama Anya, rasanya sedikit lega memang, tapi tetap saja itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa sang ayah.
"Mama tidak melenyapkan ayahmu. Ayahmu mengalami kecelakaan sepulangnya dari kantor." Jawab mama Anya.
"Aku nggak percaya, pasti mama yang udah merencanakan kecelakaan itu. Kenapa mama bisa setega itu sama ayah?" Sheerin berkata sambil menuding-nuding ke arah mama Anya.
"Sabar non!" Bi Iin mengusap pundak Sheerin dan mencoba menenangkan anak majikannya itu.
Mama Anya jadi kebingungan sendiri, bagaimana dia bisa menjelaskan jika dirinya baru saja merencanakan hal itu tapi belum sempat menyentuh Lukman, namun Tuhan sudah terlebih dulu mencabut nyawa suaminya itu.
Akhirnya mama Anya hanya bisa diam, karena jika dia bicara tentang fakta yang ada, dirinya akan tetap disalahkan atas kematian Lukman.
"Tunggu!" Luis tiba-tiba saja menimbrung perdebatan antara anak dan ibu sambung itu.
"Dia, dia yang bersama mama di restoran tadi. Oh, aku paham sekarang, mama berselingkuh dengan dia, kalian ingin menyingkirkan ayah lalu kalian akan pergi membawa harta ayah. Begitu, kan?" Sheerin semakin tak terkontrol, dia begitu marah.
"Jaga bicaramu itu Sheerin!" Mama Anya bicara dengan tegas.
"Tenanglah dulu, apa kamu melihat kami di restoran tadi? Bukankah kamu baru saja tiba dari luar kota? Dan, dimana Bima? Kenapa dia tidak bersamamu?" Tanya Luis.
Sheerin kelabakan, sebenarnya siapa pria ini? Kenapa dia juga mengenal Bima? Sheerin tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Luis.
***
"Ayo kak!" Nindi menarik tangan Bima untuk cepat-cepat masuk, menerobos kerumunan bapak-bapak yang entah sedang apa di teras rumah Lukman.
"Tenanglah She!" Bima berusaha untuk menenangkan Sheerin palsu.
"Sheerin!" Seorang pria paruh baya menunjuk ke arah Nindi yang baru saja menginjakkan kaki diteras. Namun Nindi yang sudah panik setengah mati hanya mengabaikan orang itu dan terus melangkah kedalam.
Bima melirik sekilas, pria itu terlihat keheranan, terlihat dengan jelas kerutan di dahinya, dia menatap Nindi sampai tidak berkedip, bahkan telunjuknya masih menggantung di udara. Begitupun dengan beberapa orang yang ada disana.
Bima tak ingin ambil pusing, diapun segera pergi menyusul Sheerin palsu. Sedangkan bapak-bapak tetangga masih belum mengerti denhan apa yang sedang terjadi.
"Kalau itu Sheerin, terus yang tadi masuk kedalam siapa?"
***
Langkah Nindi tertahan saat melihat pemandangan didalam rumah Lukman, ada banyak orang di disana, mungkin mereka adalah pelayad. Namun satu yang menarik perhatiannya, mama Anya dan Luis terlihat sedang bersitegang dengan perempuan muda yang ada di hadapan mereka. Nindi tidak bisa mengenali perempuan itu karena posisinya yang membelakangi.
Bima tiba di detik berikutnya, diapun melihat pemandangan serupa dan berhenti tepat di samping Nindi.
"Ayah!" Ucap Bima saat melihat ayahnya ternyata sudah ada disana.
Sontak semua orang menoleh ke arahnya, begitupun dengan Sheerin.
__ADS_1
Wajah Nindi menegang saat tau jika perempuan itu adalah Sheerin, sedangkan Sheerin, dia merasa jika langit tengah runtuh dan menimpa dirinya saat itu juga. Dia tak menyangka jika Nindi akan muncul sekarang, ini semua diluar dugaannya. Namun apa mau dikata, mungkin ini akhir dari sandiwaranya.
"She!" Mungkin disini Bima yang paling merasa syok, wajah datarnya kini menunjukkan raut keterkejutan. Istrinya ada dua, dia menoleh kearah Sheerin dan Nindi secara bergantian untuk memastikan jika dia tidak sedang salah lihat, namun sekian kali dia mengulangi gerakan itu, wajah mereka tetap terlihat sama.
"Sheerin!" Mama Anya dan Luis memekik bersamaan, mata keduanya membulat dengan sempurna melihat dua orang manusia dengan wajah yang hampir tidak ada bedanya.
Ini benar-benar kejutan yang sungguh luar biasa, lutut mama Anya bahkan sampai melemas saat melihat Nindi dan Sheerin, Luis yang berada di sampingnya dengan cepat meraih tubuh mama Anya yang limbung.
***
Levin memarkirkan mobil milik ayahnya di luar pagar sebuah rumah yang cukup besar. Mobilnya tak bisa masuk ke halaman karena disana sudah penuh dengan mobil dari berbagai jenis dan model yang berjejer. Bendera kuning dan karangan bunga ucapan berduka cita menjadi hiasan di selanjang jalan menuju rumah itu, menandakan jika semua orang tengah berkabung atas kematian rekan bisnis papanya itu.
Tengku Lukmansyah Zifaran.
Begitu Levin membaca tulisan nama di salah satu karangan bunga yang ada, entah apa yang dia pikirkan, yang jelas dia merasa merinding setelah membaca tulisan itu.
"Ayo nak!" Papa menegur Levin yang berhenti melangkah.
"Ehh, iya pa, ayo!" Levin segera menepis pikiran anehnya itu, kemudian menyusul papanya yang sudah berjalan terlebih dulu.
Setelah berbasa basi sedikit dengan orang-orang yang ada di luar rumah itu, papa dan Levin akhirnya masuk kedalam untuk mengucapkan bela sungkawa pada keluarga almarhum.
Namun apa yang Levin dapatkan? Saat baru saja kakinya menginjak kotakan pertama keramik rumah itu, matanya langsung tertuju pada dua perempuan yang kini tengah saling menatap dan berhadapan, dan wajah kedua perempuan itu begitu mirip, wajah yang selalu dia rindukan, wajah yang selalu dia dambakan.
"Nindi!" Levin berseru ditengah ketegangan dan keheningan yang tercipta. Semua orang termasuk Sheerin menoleh ke asal suara itu.
Astaga!
Kenapa Levin bisa ada disini? Bukankah terakhir bertemu dia meminta izin untuk mengantar papanya melayad rekan bisnisnya yang meninggal? Atau jangan-jangan yang di maksud Levin adalah... Astaga! Astaga! Astaga! Kenapa semua menjadi semakin rumit!
Mama Anya masih bersandar pada Luis, tidak diragukan lagi jika salah satu dari mereka adalah bayi yang dulu hilang saat Fira kecelakaan. Meskipun saat itu polisi menyatakan jika Shireen meninggal, namun jasadnya sama sekali tak ditemukan.
Mama Anya dan Luis berpikir jika bayi itu benar-benar telah mati, tapi nyatanya saat ini dia ada disini dan kembali dengan wujud yang sama persis dengan Sheerin.
"Jadi, diantara kalian mana Sheerin yang asli?" Tanya Luis ditengah ketegangan yang dia rasakan.
"Ini Sheerin ayah, sedari tadi aku bersamanya." Bima menunjuk Nindi yang kini menunduk dalam. Dia tidak berani menatap Bima sekarang.
"Tapi dia yang tadi menangisi jasad Lukman." Mama Anya menunjuk kearah Sheerin.
Levin berjalan beberapa melangkah, kemudian dia berdiri tepat diantara Sheerin dan Nindi.
"Nin, jadi selama ini kamu punya kembaran? Kenapa nggak pernah cerita ke aku?" Levin menyentuh bahu Sheerin, dia langsung bisa mengenali Nindi dari baju yang dia kenakan masih sama persis saat terakhir kali mereka bertemu. Sedangkan Sheerin, hanya bisa menunduk tanpa sanggup untuk menjawab. Dia menitihkan air mata untuk yang kesekian kalinya, apa dia juga akan kehilangan Levin setelah ini?
Antara Sheerin maupun Nindi tidak ada yang berniat untuk menjelaskan.
"Bicaralah kalian! Jangan hanya diam saja, jelaskan semua ini!" Luis bicara dengan nada meninggi, sudah mulai muak dengan drama yang terjadi.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan ayah, ini Sheerin." Bima merangkul Nindi dan membawa kedalam dekapannya.
"Dan dia Nindi." Levin menunjuk Sheerin sambil tersenyum yakin.
"Levin, kamu mengenal mereka?" Tanya papa.
"Iya pa, ini Nindi, yang sering Levin ceritain." Jawab Levin.
__ADS_1
"Bukan Lev, aku Sheerin! Dia yang Nindi!" Sheerin akhirnya mau bicara, dia menunjuk Nindi yang berada dalam kungkungan Bima.
Levin melihat lelehan air mata dipipi perempuan itu, sesuatu yang sangat dibencinya, yaitu ketika Nindi menjatuhkan air mata. Tapi perkataannya itu yang membuat hati Levin mencelos, dia menyangkal jika dia adalah Nindi.
"Kamu lagi bercanda Nin?" Senyum Levin memudar seketika.
"Aku nggak bercanda, Nin, ayo ngomong!" Sheerin mendesak Nindi yang mendadak jadi gagu. Diapun bingung harus bicara apa sekarang.
"She! Bilang pada semua orang kalau kamu itu Sheerin, istriku." Bima melepaskan dekapannya kemudian memegang kedua bahu Nindi, meminta penjelasan.
Nindi bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak, bisa saja dia berkata jika dirinya adalah Sheerin asli untuk bisa tetap bersama dengan Bima. Hanya saja, Sheerin yang telah membuat skenario ini sudah mau mengakuinya, lalu untuk apa Nindi terus berpura-pura.
Jika kak Bima benar-benar tulus mencintainya, Nindi yakin Bima akan tetap memperjuangkan dirinya dan cintanya meski apapun yang terjadi. Besar kemungkinan, tapi mulai detik ini Nindipun harus mempersiapkan hatinya untuk terluka jika kak Bima merubah jalan pikirannya.
"Aku memang perempuan yang kak Bima nikahi waktu itu. Tapi maaf, aku Nindi bukan Sheerin!" Akhirnya penjelasan dari Nindi meluruskan kesalahpahaman ini.
"Dasar penipu! Jadi selama ini kamu sudah membohongi kami semua dengan berpura-pura menjadi Sheerin!" Mama Anya berjalan mendekat ke arah Nindi kemudian mendorong bahunya kuat-kuat.
Bima dengan sigap menahan tubuh Nindi.
"Tolong jangan sakiti dia!" Bima menghadang mama Anya yang hendak menyerang Nindi lagi.
Nindi hanya pasrah saja dan tak berniat untuk melawan, karena memang dirinya bersalah disini. Ehh, tapi kak Bima masih mau membela dirinya tadi.
"Apa? Kamu tidak perlu membela orang asing ini, berani-beraninya dia menipu keluarga kita. Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini, pergi!" Mama Anya mengibas-ngibaskan tangannya, matanya melototi Nindi.
"Dia tidak akan pergi, dia akan tetap disini." Ucap Bima dengan tegas.
"Tapi dia bukan Sheerin, ini Sheerin yang asli." Mama Anya menarik lengan Sheerin kemudian menghempaskannya.
"Aku tidak perduli siapa namanya, yang jelas dia adalah istriku, dia akan selamanya tinggal bersamaku." Sekali lagi Bima menegaskan.
"Kak Bima!" Nindi memeluk lengan Bima, matanya semakin berkabut akibat perkataan yang Bima lontarkan, dia sangat terharu, kak Bima masih bersikap baik meskipun telah mengetahui jika dirinya bukanlah Sheerin.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Bima mengusap tangan Nindi yang memeluk lengannya. Nindi mengangguk samar.
"Baik-baik saja apanya? Dia tidak pantas berada disini, orang ini tidak jelas asal usulnya dari mana. Jadi sekarang ayo pergi dari sini, ayo!" Mama Anya memaksa melepaskan Nindi dari Bima, kemudian mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
"Aww!"
Semua orang dibuat tercengang oleh tindakan mama Anya yang terkesan berlebihan.Tentu saja Bima adalah orang pertama yang menolong Nindi.
"Ma, mama tidak perlu melakukan ini. Jika dia harus pergi dari sini, maka aku juga akan ikut pergi bersamanya. Ayo She!" Bima kemudian membimbing Nindi untuk berjalan menuju pintu rumah itu.
Nindi tidak menyangka, jika Bima benar-benar menepati janjinya, untuk tetap bersama meski apapun yang terjadi, Nindi semakin yakin jika kak Bima adalah cinta sejatinya, yang selalu membuatnya merasa berarti.
"Makasih ya kak." Ucap Nindi dalam rangkulan Bima.
"Kita tidak akan berada di sekitar orang-orang yang tidak menyukaimu dan ingin melukaimu." Balas Bima.
"Nyonya, apa mungkin perempuan itu adalah bayi yang hilang ketika Nyonya Fira kecelakaan dulu? Wajah mereka begitu mirip." Bi Iin yang sedari tadi diam saja menyaksikan drama yang terjadi, kini mulai mengemukakan pendapatnya.
"Tunggu, apa maksudnya bi?" Tanya Sheerin yang mendengar ucapan bi Iin pada mama Anya. Sementara mama Anya balik memelototi bi Iin
____________
__ADS_1
Lanjut nanti yaa...