
"Akkh!" Nindi berusaha untuk melepaskan diri, namun hasilnya nihil, tibuh kecilnya itu tak mungkin menang melawan postur tubuh besar milik kak Bima yang bak Bima sungguhan dalam tokoh pewayangan.
Nindi menutup rapat-rapat matanya untuk menghindari tatapan mata Bima.
"Sudah cukup selama ini aku bersabar, dan sekarang aku harus mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan."
"Kak, lepasin aku! Kasian Sheerin udah nungguin aku!" Ucap Nindi dengan suara tertahan.
"Jadi, suamimu itu sebenarnya siapa? Aku atau si Sheerin itu? Semenjak kamu bertemu dengannya, semua perhatianmu jadi teralihkan kepadanya. Sedangkan aku kamu abaikan begitu saja!" Ucap Bima.
Apa? Apa maksud perkataan kak Bima? Sungguh, Nindi ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi wajah Bima yang sendu saat mengatakan isi di hatinya barusan. Apa selama ini kak Bima cemburu kepada Sheerin? Saudara kembarnya sendiri? Astaga! Ini benar-benar lelucon yang sangat tak masuk akal.
"Bhhhhha hahaha." Awalnya suara tawa Nindi tertahan, namun akhirnya dia tak dapat lagi menahan tawanya sehingga meledak sudah suaranya kini di setiap sudut ruangan itu.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Bima.
"Jadi, ceritanya kak Bima lagi cemburu sama Sheerin gitu?" Tanya Nindi disela tawanya.
"Apa salah jika aku hanya ingin memiliki istriku sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain termasuk kembarannya sekalipun?" Tanya Bima lagi.
Oh astaga! Nindi tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jika kak Bima benar-benar sedang cemburu, kenapa dia tidak bicara di awal? Kenapa baru sekarang? Kenapa dia lebih memilih memendam semuanya dan menyakiti hatinya sendiri?
Tawa Nindi kembali meledak saat melihat wajah kusut kak Bima dari jarak sedekat itu. Meskipun wajahnya nampak kusut, namun itu tak sedikitpun menurunkan kadar ketampanan seorang kak Bima. Hihi.
"Hahahah :D" Nindi tak dapat menahan tawanya, wajah kak Bima begitu kocak saat menahan kesal seperti itu.
Bima sudah tak tahan lagi, bibir Nindi yang terbuka seolah melambai-lambai menyuruh bibir Bima untuk mendekat.
Hap!
Dalam satu kedipan mata, bima berhasil melahap bibir itu.
"Hmmmmpttt!" Tawa Nindi kini tertahan karena termasuki tamu tak di undang. Ya, saat ini bibir Nindi dan bibir Bima telah berpautan satu sama lain. Lebih tepatnya lidah Bima yang terus memaksa masuk kedalam rongga mulut Nindi.
"Hhmmmppt!" Nindi menggerakkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri untuk menghindari ciuman kak Bima.
Kedua tangan Nindi di cengkam kuat-kuat, Bima menyerang Nindi tanpa ampun.
"Itu hukuman karena selama ini kamu mengabaikanku." Ucap Bima setelah melepaskan pautan bibirnya.
Sedangkan Nindi, dia hanya sibuk mengatur nafasnya yang tersengal.
"Dan terima juga hukuman karena kamu tak menemaniku tidur lebih dari satu minggu kemarin!" Bima menyusupkan kepalanya di ceruk leher Nindi.
Oh, sungguh demi apapun! Rasanya begitu aneh, geli, tapi nikmat. Ahh, entahlah! Kak Bima membuat Nindi jadi gila, seperti ada aliran listrik yang baru saja menyengat seluruh tubuh Nindi.
Nindi malah tertawa tak jelas dan juga berguman kecil sambil menggeliat.
"Ahh, haha, kak ampuun, lepasin!" Nindi menjambak-jambak rambut pendek Bima agar dia mau menyingkir, namun bukannya terlepas, justru Bima semakin dalam menenggelamkan wajahnya di leher Nindi dan memainkan kumis tipisnya disana.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Sebuah tangan terdengar mengetik pintu dari luar diiringi dengan suara si pemilik tangan itu sendiri.
"Nin, loe lagi ngapain sih kok lama banget bawa baju doang?"
Astaga! Suara sialan itu!
Sejenak Bima menghentikan aktifitasnya dan menatap Nindi dengan dahi mengkerut, begitupun Nindi.
"Itu Sheerin!" Ujar Nindi, berharap suaminya itu melepaskan dirinya dan membiarkannya pergi.
"Lalu?" Dengan cueknya dia bicara.
"Hah?" Heran, kenapa kak Bima tidak mengerti.
"Biarkan saja, dia hanya menganggu kita. Dia tidak ingin melihat kita bahagia." Ucap Bima.
"Tapi, kak kasian dia, setiap tengah malam dia selalu kebangun karena mim... Mmptt..." Sebelum melanjutkan kalimatnya, Bima sudah terlebih dulu membungkamnya menggunakan bibir.
Sungguh ya, bibir itu sangat menggiurkan, apalagi jika sedang bicara nyeroscos seperti itu. Membuat Bima gemas dan ingin melahapnya bulat-bulat.
Tanpa memperdulikan Sheerin yang berteriak didepan pintu, Bima terus membantai bibir Nindi tanpa berbelas kasih, tanpa memikirkan teriak tertahan dari bibir Nindi yang minta dilepaskan.
Mendapat perlawanan seperti itu justru membuat Bima semakin gencar dan bernafsu untuk berbuat lebih kurang ajar terhadap istrinya itu.
***
Pagi harinya di meja makan.
Sheerin melahap roti bakar di tangannya dengan tak berselera. Pagi ini dia terlihat sudah rapi dengan dress merah muda yang dia kenakan, hah, dia harus kembali menjadi dirinya sendiri mulai pagi ini.
Ya, Sheerin akan kembali ke kampus hari ini dan kembali mengejar impiannya. Berharap pula dengan menyibukkan diri dengan belajar, bisa mengalihkan sedikit pikirannya dari laki-laki yang mungkin kini telah membencinya, Levin.
'Lev, aku nggak bermaksud untuk menyakiti kamu. Meskipun aku berbohong jika sebenarnya aku bukanlah Nindi, tapi aku jujur tentang perasaanku, tentang cinta aku ke kamu. Andai aja kamu bisa baca pikiran aku, pasti kamu nggak akan sebenci ini ke aku. Sampai telfon akupun kamu nggak mau angkat.'
Awan mendung tengah menyelimuti hati Sheerin di pagi cerah ini. Meskipun di bibir dia bisa berkoar dan menyemangati dari sendiri untuk kembali menata hati dan hidupnya yang sempat di terjang ombak, namun nyatanya Sheerin tak sekuat itu, dia bukanlah tipe perempuan yang pintar menyembunyikan kesedihannya dan berpura-pura tegar dihadapan orang-orang.
Sheerin sedih, benar-benar sedih. Karena kesalahan yang telah dia lakukan, menjadikan orang-orang yang dikasihinya pergi menjauh dari kehidupannya. Menyisakan sebuah kepiluan yang merobek-robek hati dan menguncang jiwa.
"Ayah, Levin aku rinduu." Jeritan hati Sheerin.
Tap... Tap... Tap...
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Sheerin mendongak. Terlihat foto copian dirinya sedang berjalan ke arahnya.
Sheerin segera tersadar dari lamunan panjangnya, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja belakangan ini, namun Nindi selalu bisa membuatnya sedikit berarti. Ya, Nindi adalah satu-satunya harapan Sheerin. Mungkin hanya Nindi yang dia miliki sekarang, yang hatinya bisa mengerti akan apa yang Sheerin inginkan, yang selalu mau memanjakannya, yang bahunya menjadi sandaran saat Sheerin butuh pegangan, yang telinganya mau mendengarkan keluh kesah yang Sheerin rasakan.
Ternyata Tuhan masih berbelas kasih terhadap Sheerin dengan menyisakan Nindi dalam hidupnya. Ahh, Sheerin harus mengakhiri kegalauannya pagi ini karena kehadiran Nindi.
"Nin, kenapa semalam loe nggak balik lagi ke kemar gue?" Sheerin langsung melayangkan protes kepada Nindi, memasang wajah ngambek.
"Sory She, kak Bima nggak kasih izin gue tidur bareng loe. Sory banget ya!" Nindi kemudian mengeser kursi di hadapan Sheerin dan mendudukinya.
__ADS_1
"Terus, kenapa pagi-pagi gini loe udah keramas? Loe mau kemana?" Tanya Sheerin saat melihat rambur Nindi yang masih setengah basah.
Sontak Nindi meraba rambutnya. Benar saja masih terasa basah. Astaga! Ini terlalu mencolok, perbuatan kak Bima berhasil membuatnya terpaksa harus keramas di pagi hari.
"Ahh, ini." Gelagapan Nindi bicara.
"Apa ada yang salah? Hal ini sangat wajar terjadi pada perempuan yang telah bersuami." Tiba-tiba saja si pelaku datang dan menimbrung percakapan antara Sheerin dan Nindi. Dan tanpa rasa canggung, dia meletakkan kedua tangannya di pundak Nindi dan melayangkan ciuman di pucuk kepala istrinya itu. Membuat pipi Nindi seketika merona menahan malu.
"Apa sih kak?" Ucap Nindi sambil meraba tangan kak Bima.
Sheerin mendengus kesal, kenapa kak Bima selalu saja bersikap ketus terhadapnya. Dan apa ini? Dia selalu mengumbar kemesraan bersama Nindi di hadapan matanya. Apa dia sengaja ingin memanas-manasi Sheerin? Apa dia masih dendam karena waktu itu dia lari dari perjodohan mereka?
"Ekhm." Akhirnya Sheerin hanya berdehem-dehem pelan lalu kembali mengunyah rotinya.
Bima tak menghiraukan Sheerin, fokusnya kini hanya tertuju pada Nindi.
"Apa semua pakaian sudah selesai di kemas?" Tanya Bima setelah duduk di kursi yang tersisa.
"Udah, tadi Bi Iin yang bantu, jadi cepet." Jawab Nindi.
"Kalian mau kemana?" Sheerin bertanya dengan dahi mengkerut.
"Hari ini kita akan kembali pulang karena acara tahlilan ayah sudah berakhir, lagi pula disini tidak begitu nyaman, terlalu banyak nyamuk penganggu ketika siang dan semakin ganas di malam hari." Ucap kak Bima dengan mimik wajahnya yang khas, datar tak berekspresi.
Sontak membuat Nindi yang mengerti dengan apa yang di maksud kak Bima dengan 'Nyamuk Penganggu', melayangkan pelototan ke arah kak Bima. Ternyata, suaminya itu bisa bersikap menyebalkan juga seperti itu. Kasihan kan Sheerin, dia pasti tersinggung dengan perkataan kak Bima. Nindi saja yang tidak pintar-pintar amat bisa mengerti, apa lagi Sheerin yang pintar.
Untung Nindi cinta, kalau tidak?!
"Ahh, sayang sekali ya, padahal gue masih kangen sama loe Nin, tapi nggak apa-apa deh. Nanti gue pasti bakal sering-sering nginep di rumah loe ya." Di awal kalimat Sheerin berkata dengan sendu, namun di akhir, dia tersemyum lebar, merasa telah menang banyak dari kak Bima.
Nindi menyadari wajah kak Bima yang seketika berubah menjadi pucat dan tegang setelah Sheerin mengemukakan keinginannya.
Sheerin dan Nindi cekikikan berjamaah saat melihat Bima seperti orang syok yang sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Entah apa itu.
'Tak bisa dibiarkan, aku harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka!' Bima bergumam dalam hati. Dan diapun telah memikirkan satu cara untuk mengalihkan perhatian Sheerin dari istrinya. Ya, ada seseorang yang pasti bisa membantu Bima keluar dari masalah ini. Bima harus menemui orang itu secepatnya. Meskipun dia sendiri tak yakin apa caranya ini akan berhasil atau tidak.
"Oh ya, di rumahku hanya ada dua kamar. Apa kamu bersedia tidur di sofa atau kamu mau tidur bersama ayahku, Sheerin?" Tanya Bima.
"Apa? Ya kali aku tidur sama om Luis. Yang ada aku tidur sama Nindi. Kak Bima tidur di kamar om Luis. Itu baru bener." Sheerin mengkoreksi perkataan Bima.
"Jika seperti itu, aku tak mengizinkan kamu menginap dirumahku!" Ucapan Bima begitu telak.
Hah, perdebatan macam apa ini? Sangat-sangat kekanakkan. Apa kak Bima masih cembutu dengan kedekatan yang tercipta antara Sheerin dan Nindi? Apa betul itu kak Bima? Sikap seperti ini tak pernah Nindi bayangkan sebelumnya akan ditunjukkan oleh suami kakunya itu.
Sebelum suasananya semakin memanas dan mungkin saja mampu membakar emosi, lebih baik segera di akhiri. Begitu Nindi berpikir.
"Oh ya She! Loe sendiri mau kemana? Tumben pagi-pagi gini udah rapih? Biasanya juga masih pake baju tidur." Tanya Nindi mengalihkan topik pembicaraan, sedangkan tangannya sibuk menyiukan nasi goreng pada piring kak Bima.
"Mulai hari ini gue aktif lagi di kampus Nin, do'ain ya biar semuanya lancar." Jawab Sheerin sambil tersenyum samar.
-------------------
__ADS_1
***Kira-kira gimana ya reaksi Sheerin saat tau kalau ternyata Levin satu kampus dengan dia? apalagi kedekatan antara Levin dengan Clarissa mulai terjalin.... Hmmm
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca***....