Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Cara membungkam mulut Nindi


__ADS_3

Sementara itu, Nindi baru saja selesai menyetrika kemeja dan celana yang akan di pakai suaminya dan ayah mertua bekerja besok. Wajahnya nampak lesu, daya di tubuhnya mulai melemah, wajar saja, ini sudah waktunya manusia normal beristirahat kan?


Baru saja tubuhnya mendarat diatas kasur, matanya menangkap sesuatu yang janggal di atas nakas. Ponsel kak Bima tergeletak disana, bukankah kak Bima sedang bertemu dengan bosnya sekarang? Kenapa malah ponsel Nindi yang dia bawa? Bagaimana kalau kak Bima sangat memerlukan ponselnya untuk urusan pekerjaan?


Kasihan sekali suaminya itu, pasti dia kelabakan mencari keberadaan ponselnya.


Nindi berinisiatif untuk mengantarkan ponsel itu ke tempat kak Bima dan bosnya bertemu. Dia membuka ponsel itu dan mencari tau kira-kira dimana lokasi mereka bertemu.


"Maaf ya kak, bukannya nggak sopan, tapi aku perhatian, hehe." Bicara sendiri sambil jarinya menari diatas layar.


Matanya menyipit saat mendapati ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan chat dari seseorang. Dilihat dari foto profil nomor WhattsApp itu, Nindi sepertinya hafal, segera dia memperbesar foto itu.


"Ngapain si tengil telfon kak Bima?" Berpikir dengan keras, apa hubungannya dengan kak Bima coba?


Kemudian beralih pada chat, dibukanya pesan dari nomor yang sama, Levin siapa lagi.


'OTW!'


'Saya sudah sampai!'


'Anda dimana?'


'P'


'P'


'P'


'P'


Astaga! Apa maksudnya ini? Mereka janjian? Jadi tadi kak Bima bilang akan bertemu dengan atasannya itu bohong? Tapi kak Bima malah bertemu dengan Levin? Tapi untuk apa?


Nindi men-scroll pesan lebih dalam lagi.


'Oke, kita betemu disana pukul 8 malam!'


'Kita pernah bertemu sebelumnya, saya jamin pertemuan ini akan menguntungkan untuk anda, Levin!'


'Maaf, saya tidak mengenal anda.'


'Selamat malam, maaf menganggu waktu anda. Ada satu hal yang harus saya sampaikan, bisakah anda temui saya di taman Light Park malam ini juga?'


Nindi terperanjat, tanpa berpikir lagi, dia menyambar jaketnya, membawa beberapa lembar uang dan keluar dari kamar, melewati ruang tengah sambil mengendap seperti seorang maling, takut ketahuan ayah mertua.


Dia tidak bisa tinggal diam saja melihat mereka bertemu, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bertengkar misalnya. Yang Nindi tau, si tengilkan menyukai dirinya, dia PDKT dengan Sheerin karena mengira kalau Sheerin itu dia.


Bagaimana kalau kak Bima tak terima dan menghajar Levin disana? Tidak! Tidak! Nindi harus segera melerai mereka atau nanti kak Bima pulang sambil membawa wajah babak belurnya. Begitu Nindi berpikir dengan berbagai spekulasinya.


Ahh, kebetulan sekali ada taksi yang lewat, Nindi segera menyetop dan menaikinya.

__ADS_1


"Taman Light Park ya pak!" Serunya pada si supir taksi.


***


"Percayalah Levin, Sheerin sangat mencintaimu, dia begitu bersedih. Apa salahnya anda memaafkan Sheerin, tak baik menyimpan dendam terlalu lama, apa lagi terhadap orang yang anda cintai. Buang jauh-jauh ego anda, itu hanya akan membawa anda kedalam penyesalan nantinya!"


"Kenapa anda yakin sekali saya juga mencintainya?" Tanya Levin.


"Saya bisa melihat kekecewaan dimata anda saat itu, saat di hari kematian ayah mertua. Sama seperti saya, tapi saya tak sebodoh anda sampai menyia-nyiakan perempuan yang saya cintai."


"Kesempatan tak akan datang dua kali, oke sekarang Sheerin masih mengejar-ngejar dan mengharap permohonan dari anda. Tapi Sheerin adalah manusia, suatu saat dia pasti akan merasa jemu dan mungkin saja di saat itu anda baru akan menyadari seberapa besar anda mencintai Sheerin. Dan yang akan kamu dapatkan hanyalah SEBUAH PENYESALAN!"


Levin terdiam, menunduk dalam, bak seorang bocah yang tengah di nasehati ibunya. Iya, Levin akui jika dirinya mencintai perempuan itu, terlepas dari siapa dirinya. Sheerinkah atau siapakah? Saat melihatnya tadi siangpun, perasaan bergejolak itu masih dia rasakan.


Penyesalan? Apa iya Levin akan menyesal telah menyia-nyiakan perempuan itu?


"Saya sarankan, maafkanlah dia, terlepas anda ingin atau tidak lagi berhubungan dengannya. Bicaralah dengannya untuk meluruskan kesalah pahaman ini. Menghindar bukanlah solusi yang tepat. Itu hanya akan melukai hati anda dan Sheerin tentunya."


Levin tak bisa memaafkannya karena sebenarnya dia takut, takut jika dirinya harus kembali menelan pil pahit, mendapati kenyataan jika Sheerin sama sekali tak memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Saya tau hati kalian sama-sama tersakiti disini, tapi cobalah ikuti apa kata hatimu, bukan hawa nafsumu!"


Levin tak berkutik dan dibuat tak berdaya, terlalu menusuk semua perkataan laki-laki ini. Dan, semua yang Bima katakan memanglah benar. Terlalu besar cinta yang dia miliki untuk Sheerin, sehingga terlalu takut pula hatinya akan kembali tersakiti.


"Kak Bima!"


Ditengah keheningan yang tercipta, sebuah suara memecah keheningan itu. Keduanya terlonjak kaget, kemudian menatap ke arahnya.


Levin terlihat begitu saja saat melihat kedatangan Nindi, dia bahkan buang muka untuk menghindari melihat kak Bima yang langsung saja merangkul Nindi.


"Kamu sedang apa disini? Kenapa keluar malam-malam?" Bima berbisik ditelinga Nindi, ketahuan sudah dirinya jika sedang berbohong. Tapi tak apa, Bima kan bukan sedang melakukan sebuah kejahatan.


"Kak Bima nggak apa-apa kan?" Nindi meraba-raba tangan Bima, mencari luka yang tak pernah ada.


"Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?" Tanya Bima kebingungan.


Kemudian Nindi beralih pada Levin, menatapnya dengan tatapan pemburu.


'Pura-pura bego lagi ini orang! Hah, kebetulan sekali gue bertemu dia disini. Gue pastikan dia akan habis gue maki malam ini, berani-beraninya dia membuat Sheerin bersedih.' Batin Nindi bergemuruh emosi.


"Heh loe!" Nindi menendang kaki Levin sambil bertolak pinggang. Membuat Levin yang sedang duduk jadi ikut berdiri.


Bima yang terlihat kaget disini, kenapa istrinya itu bersikap kurang ajar kepada orang lain?


"Sayang!" Mencegah namun Nindi tak menghiraukannya.


"Apa loe? Main tendang-tendang kaki orang segala?" Levinpun kini mulai tersulut emosinya.


"Loe kurang ajar ya jadi cowo! Loe udah mainin perasaan Sheerin. Dulu aja loe baik-baikin dia, sekarang loe malah meninggalkan dia gitu aja? Dimana hati loe? Oh gue hampir lupa, loe kan nggak punya hati ya!" Jarinya sudah menunjuk-nunjuk di depan hidung Levin.

__ADS_1


"Diam loe! Loe nggak tau apa-apa disini!" Balas Levin.


"Apa? Loe bener-bener keterlaluan ya Lev! Sheerin itu bodoh banget sih kenapa bisa sampai jatuh cinta sama cowo banci kayak loe?"


Perkataan Nindi begitu telak, membuat harga diri Levin jatuh berceceran.


"Jaga mulut loe itu ya! Ayo ralat lagi kata-kata loe tadi!" Ucap Levin penuh penekanan.


"Nggak, loe itu mamang banci Lev! Loe bersembunyi dilubang tikus buat menghindari masalah, tanpa tau ada sebuah hati yang begitu terluka atas tindakan loe ini!"


"Sayang, sudahlah! Berhenti bicara seperti ini!" Lagi-lagi kata-katanya tak didengar Nindi.


"Oh atau gue tau! Loe masih belum bisa move on ya dari gue sampai-sampai loe semarah ini sama Sheerin? Hahaha menyedihkan banget sih loe!"


Bima menarik Nindi untuk mendekat kearahnya, mulai geram karena istrnya itu mulai bicara melantur.


"Sayang, kamu bicara apa sih?" Bima tak terima jika Nindi berdekatan dengan Levin, bagaimanapun juga Nindi memang benar, jika Levin pernah menyukainya dulu. Tapi kan situasinya berbeda, Levin mulai menyukai Sheerin bahkan Levin sepertinya sudah melupakan Nindi. Begitu Bima menafsirkan atas apa yang dia lihat.


Levin menyeringai, percaya diri sekali dia bicara seperti itu, bahkan sekarang dia sudah lupa bagaimana dulu dia mengagumi sosok Nindi, bahkan sekarang dia begitu menyesal karena pernah memiliki rasa pada preman ini, tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.


"Hahaha. Loe terlalu percaya diri! Gue akan buktikan ke kalian kalau gue bukan banci seperti apa yang loe bilang barusan!"


"...dan satu hal lagi! Gue menyesal karena pernah suka sama loe! Cewe preman, urakan! Loe cuma beruntung karena masih ada laki-laki yang mau sama loe! Kalau nggak ada dia, gue yakin 100% loe bakalan jadi perawan tua!" Mulai lagi bertengkar, seperti dulu, memang ya kedua mahluk ini sangat sulit untuk berdamai. Untung saja takdir tidak menyatukan mereka, jika sampai itu terjadi, makan hilang sudah semua bentuk kedamaian di dunia ini.


"Apa? Sialan loe! Gue sumpahin loe jadi bujangan lapuk. Nggak akan ada cewe yang mau sama loe. Inget ya Lev! Do'a orang terzolimi itu cepet diijabah, loe pasti akan dapat azab yang pedih atas perbuatan loe ini. Dan loe nggak ak..."


BUKK!


"Hmmmptt."


Bima tak percaya jika ini adalah istrinya, dia baru saja melihat sisi lain dari diri Nindi, bicaranya sudah mulai ngelantur, harus disudahi semua perdebatan yang mungkin tiada akhirnya ini. Dia harus merubah macan betina menjadi kucing peliharaannya lagi.


Saat perkataannya sama sekali tak digubris, Bima tau satu hal untuk bisa membungkam mulut istrinya itu. Bima mendorong tubuh Nindi hingga menyentuh pohon di samping kursi taman itu, lalu tanpa aba-aba, dia membungkam paksa mulut Nindi yang sedang bicara nyeroscos dengan menggunkan bibirnya. ******* bibir itu tanpa ampun. Balasan yang setimapal bukan, untuk mulutnya yang nakal itu?


Mata Nindi terbelalak, dalam sekejap dirinya berhasil diburu oleh sang pemangsa handal. Dan disaksikan pula oleh Levin!


Astaga! Apa yang kak Bima lakukan? Kenapa dia senekat ini? Kenapa menunjukkannya dihadapan orang lain? Ini sangat memalukan, apa lagi kak Bima melakukannya dengan sedikit kasar, seperti ada campuran emosi disana. Kemudian Nindi berpikir kak Bima sedang marah kepadanya, hanya saja melampiaskannya dengan sebuah ciuman. Masuk akalkah ini?


Kak Bima terus saja melahap bibir Nindi dengan rakusnya, bagian yang paling dia sukai dari istrinya itu, tanpa memikirkan ada seonggok tubuh yang menyaksikannya dengan lutut gemetar. Levin.


Rasanya, jantung Levin telah berhenti memompa darah dan membuat aliran darah ditubuhnya membeku seketika, dia tak menduga Bima akan senekat ini membungkam mulut istrinya itu. Apa harus dengan cara seperti ini? Memperlihatkannya di hadapan Levin?


Dengan susah payah Levin menelan salivanya, melihat adegan fulgar di hadapannya tanpa sensor. Levin pernah merasakannya satu kali, bersama Sheerin dulu, hanya Sheerin pemilik bibirnya. Ya meskipun Sheerin tak menerimanya sebagi kekasih, namun sudah sejauh itu hubungan diantara mereka.


Sheerin! Ahh, kenapa perempuan itu membohonginya?


Sial! Bayang-bayang perempuan itu kembali bermunculan dikepalanya, saat mereka melakukan adegan yang sama, Levin masih ingat betul bagaimana rasanya bibir itu, manis, sangat manis. Dan apa yang dia rasakan sekarang? Tubuhnya menegang akibat ulah pasangan suami istri itu. Sayangnya dia tak memiliki tempat untuk menyalurkan hasratnya yang mendadak membuncah.


__________

__ADS_1


Janga lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2