
Malam kini telah berganti hati, sang surya kembali mengambil alih tahtanya merajai langit.
Kesempatan tak akan datang dua kali, oke sekarang Sheerin masih mengejar-ngejar dan mengharap permohonan dari anda. Tapi Sheerin adalah manusia, suatu saat dia pasti akan merasa jemu dan mungkin saja di saat itu anda baru akan menyadari seberapa besar anda mencintai Sheerin. Dan yang akan kamu dapatkan hanyalah SEBUAH PENYESALAN!
Sheerin itu bodoh banget sih kenapa bisa sampai jatuh cinta sama cowo banci kayak loe?
Kalimat yang Bima dan Nindi ucapkan semalam telah meninggalkan bekas yang mendalam dihati Levin, seolah itu menjadi tampatan keras bagi dirinya.
Dia tak dapat menghalau semua kalimat yang telah terekam dengan jelas dimemori ingatannya. Kalimat-kalimat itu seolah menari dan terus berulang secara bergantian.
Levin bisa membohongi seisi dunia jika dirinya benci akan perempuan itu, namun nyatanya, dia tak bisa membohongi hati kecilnya sendiri, jika dirinya memang masih menyimpan harapan yang besar terhadap Sheerin.
Ditambah lagi adegan fulgar yang dia saksikan secara live tadi malam, membuat kerinduannya akan sosok Sheerin kian menjulang hingga menembus atmosfer. Membuat dadanya bergemuruh, tak bisa membedakan antara hawa ***** dan rindu.
Masih dengan perasaannya yang tak menentu, Levin berjalan menyusuri lorong kampus mencari keberadaan sosok itu, sosok yang harus bertanggung jawab atas semua perasaan aneh yang semalaman penuh dia pikul di hatinya.
Hampir seantero kampus ia sapu dengan pandangannya, namun tak kunjung menemukan apa yang dia cari. Sedangkan perasaannya sudah tak dapat dia tahan lagi.
Sial!
Karena terlalu tegang dia jadi ingin buang air kecil. Kenapa harus sekarang? Disaat mendesak sebelum kelas dimulai sedangkan dirinya belum juga menemukan perempuan itu. Levin tak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi, dia pasti bisa gila.
Setelah menuntaskan urusannya di toilet, Levin keluar dengan tergesa untuk melanjutkan pencariannya.
Namun, disaat yang bersamaan, sosok yang dia cari-cari terlihat memasuki toilet sebelah, toilet perempuan!
Baiklah, setidaknya Levin tak perlu membuang lagi energinya untuk mencari, dia tinggal menunggu perempuan itu keluar dari toilet.
Levin menunggu dengan tidak sabaran, sudah menempelkan tangannya ke dinding, menatap lantai, mengerjapkan mata berkali-kali, menatap ke arah langit-langit, kemudian beralih melirik pintu toilet yang tak kunjung terbuka. Terlihat resah dan gelisah. Entah apa yang sebenarnya dia resahkan.
Dan saat dimana waktunya tiba, Sheerin keluar dari toilet itu, tanpa aba-aba Levin langsung menyeret Sheerin secara paksa. Membuat yang di seret kerlonjak kaget tak terkira.
***
Sheerin memperhatikan wajah sembabnya di depan cermin toilet, ada gurat lelah disana. Lelah menghadapi kenyataan, lelah menjalani takdir yang selalu saja tak berpihak kepadanya. Sampai kapan Sheerin harus menjalani hidup seperti ini? Raganya memang hidup, namun hasrat di jiwanya telah mati. Dia melewati hari-harinya dengan hati yang kosong.
Apalagi sekarang Sheerin tau kalau Levin sedang dekat dengan Clarissa, Sheerin merasa sangat bersedih mengetahui fakta itu, jika dulu dirinya begitu mudah melepaskan Alvin demi mendapatkan kata maaf dari Clarissa (yang sampai sekarang masih belum dia dapatkan), maka lain halnya dengan Levin, Sheerin tidak bisa berbesar hati apalagi berlapang dada menginklaskan Levin untuk Clarissa.
Ya, dia memang egois jika berhubungan dengan Levin, dia ingin memiliki Levin seorang diri. Meskipun dia sendiri tau jika jalan menuju pintu hati Levin telah tertutup rapat.
Baiklah, apapun yang akan terjadi, baik buruknya kehidupan, pahit getirnya kenyataan, harus Sheerin telan seorang diri. Dengan keyakinan, pelangi yang indah menanti setelah hujan badai berhenti. Lagi-lagi mantra itu yang selalu Sheerin pegang teguh dalam hati sebelum akhirnya akan ada orang yang kembali menghancurkannya.
Sheerin keluar dari toilet setelah merasa cukup dirinya merenung. Namun, kepanikan yang luar biasa dia rasakan ketika tiba-tiba saja dirinya ditarik paksa oleh seseorang. Dia menahan diri agar tak terseret oleh orang itu.
Wangi parfumnya, Sheerin hafal betul wangi parfum ini, wangi yang selalu Sheerin rindukan. Ahh, benarkah ini? Atau hanya sekedar imajinasi Sheerin saja?
"Levin!" Saat menyadari jika orang itu ternyata benar laki-laki yang selalu dia rindukan, Sheerin melonggarkan penolakannya, membiarkan laki-laki itu membawanya kemanapun dia mau.
Tak ada kata yang terucap dari bibir laki-lakibitu, dari samping Sheerin melihat wajah laki-laki itu nampak murung, tak terbaca sama sekali dia sedang marah atau apa.
Sampailah mereka di halaman belakang kampus, tempat yang jarang dijamah oleh mahasiswa lain.
BUKK!!
Levin mendorong Sheerin hingga punggung perempuan itu menyentuh dinding pagar pembatas, sama halnya saat semalam Bima melakukan itu pada Nindi.
Tangannya mencengkam dengan kuat bahu Sheerin agar dia tak terlepas. Sheerin memejamkan matanya, tak kuasa melihat wajah Levin dari jarak sedekat itu.
Padahal, tanpa dia mencengkam bahunya, Sheerinpun tak akan lari, dia akan memberikan apapun yang Levin inginkan sebagai bentuk permintaan maafnya dan juga cintanya.
Levin menatap kedua kelopak mata perempuan itu yang terpejam, lalu beralih pada bibirnya yang tertutup rapat. Bolehkah Levin merasainya lagi? Boleh kan?
Hap!
Levin melahapnya dalam satu kedipan mata, membuat mata Sheerin seketika terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang Levin lakukan terhadap dirinya.
Lagi-lagi air mata sialan itu haris keluar dari pelupuk mata Sheerin. Dia merasa menjadi perempuan paling bodoh di jagat raya ini, dia membiarkan laki-laki ini kembali melecehkannya, sedangkan tidak ada kepastian diantara hubungan mereka. Namun diapun tak menolak, menikmati kehangatan dibibirnya yang mungkin takan pernah dia dapatkan lagi kelak. Membiarkan lidah Levin menjamahi setiap sudut bibir dan mulutnya.
Levin tak dapat mengendalikan perasaan dihatinya. Rasanya masih sama, dadanya masih berdebar, bibirnya masih hangat, tak bisa diragukan lagi, Levin masih mencintainya. Dia semakin gencar menjelajahi mulut Sheerin.
__ADS_1
Tiba-tiba saja rasa manis itu berubah menjadi asin, membuat kegiatan Levin terganggu. Sial! Dia menangis. Pantas saja rasnya berubah menjadi asin. Terpaksa Levin melepaskan pautan bibirnya.
Terdengarlah suara isakan dari mulut perempuan itu.
"Kenapa Lev? Kenapa?" Kenapa dalam banyak artian disini.
"Kenapa kamu nggak bisa memaafkan aku?
Kenapa kamu menghindar dari aku?
Kenapa kamu bersikap seolah tak kenal aku?
Dan sekarang kenapa kamu bersikap seperti ini? Kenapa? Kenapa?" Lalu setelahnya, Sheerin menangis sesegukan.
"Maaf!" Satu kata yang terlontar dari mulut kurang ajarnya begitu ambigu. Dan, dia meminta maaf untuk kesalahannya yang mana? Maaf karena telah mencampakkannya atau maaf untuk perbuatannya tadi?
"Apa sebesar itu cinta kamu buat Nindi, Lev? Aku tau kamu kecewa Nindi sudah menikah. Aku tau gimana rasa sakitnya kehilangan orang yang kita cintai. Aku juga tau, nggak mudah memaafkan orang yang udah menghancurkan cinta kamu untuk Nindi, tapi Lev, terlepas dari itu semua, aku benar-benar menyesal. Aku hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari yang namanya kesalahan."
Apa? Dia mengira gue marah karena sakit hati melihat Nindi sudah menikah, begitu?
Nindi? Bahkan Levin sudah lupa nama itu pernah terukir didalam hatinya.
"Hukum aku Lev, apa saja. Asalkan kamu mau memaafkan aku, aku tau dengan cara ini nggak bisa mengembalikan Nindi ke kamu, tapi aku mohon maafin aku Lev!"
"Nggak usah sok tau! Dengarkan aku baik-baik. Aku sama sekali nggak merasa sakit hati atas pernikahan kembaranmu itu. Dan seharusnya kamu mengerti tanpa perlu aku jelaskan!"
Apa? Bagaimana Sheerin bisa mengerti tanpa dia menjelaskan? Kenapa Levin malah mengajaknya bermain tebak-tebakan?
"Lalu, apa yang membuat kamu menghindari aku dan sulit untuk memaafkan aku?"
'Aku sakit hati, sakit hati karena ternyata kamu hanya mempermainkan aku dan tak pernah ada sedikitpun rasa cinta dihatimu untuk aku. Cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.' Hanya menjawab dalam hati.
Apa salahnya kamu bicara langsung Lev, itu akan mempermudah jalanmu kedepannya, bukan hanya sekedar di pendam dalam hati dan membuat semuanya semakin rumit.
Setelah mendengar cerita dari Clarissa, Levin menyimpulkan jika Sheerin hanya mencintai Alvin, mantan pacarnya.
Belum selesai perdebatan diantara keduanya, belum sempat Sheerin mendapat jawaban dan kepastian, bel tanda kelas akan dimulai sudah terdengar.
Lagi-lagi semuanya menggantung, Sheerin masih belum bisa bernafas lega sebelum mendaptkan kata maaf dari Levin atas kesalahannya, bahkan pertemuannya dengan Levin barusan kembali menorehkan luka yang amat dalam di hatinya.
***
Luis melempar koper berisikan surat-surat penting didalamnya kehadapan mama Anya.
"Semua sudah selesai! Setelah menunggu belasan tahun, akhirnya misi kita berhasil." Ucap Luis dengan seringai menakutkan yang muncul disudut bibirnya.
"Benar kah Luis?" Mama Anya mulai membuka koper itu, dilihatnya satu persatu surat yang ada didalam sana. Benar! Kini semua aset kekayaan Lukman telah berpindah atas nama dirinya.
"Haha, kerja bagus Luis, ternyata tak sia-sia pengorbanan kita selama ini." Tertawa penuh kemenangan.
"Baiklah Anya, kita berlanjut pada rencana berikutnya."
"Tentu saja, aku sudah gatal ingin mendepak anak itu dari rumah ini."
"...dan kamu, lakukan juga tugasmu!" Imbuhnya lagi.
"Tentu saja Anya, akupun sudah muak melihat wajah menantang anak itu. Mereka harus secepatnya kita singkirkan!"
***
Siang itu, sepulangnya dari kampus, Sheerin berjalan memasuki pekarangan rumahnya setelah turun dari sebuah taksi online. Disana dia berpapasan dengan Bi Iin, ada yang aneh dengan barang bawaan bi Iin, pun dengan wajahnya yang terlihat ditekuk.
"Bi, apa bibi mau pulang kampung?" Tanya Sheerin.
"Tidak non, saya dan semua ART disini baru saja dipecat tanpa pesangon." Jawab Bi Iin dengan sendu.
"Apa? Semua ART dipecat? Kenapa?" Tanya Sheerin.
"Bibi juga kurang tau non, bibi mau pulang kampung sekarang. Non nggak apa-apakan bibi tinggal?" Terlihat berat sekali meninggalkan Sheerin dan rumah itu.
__ADS_1
"Ya tapi kenapa? Apa alasannya?"
Bi Iin tak menjawab, dia hanya menunduk, tak ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi di dalam rumah itu.
Sheerin beralih menatap koper dan beberapa tas besar yang berserakan dihalaman, Sheerin kenal barang-barang itu. Itu semuakan miliknya!
Apa maksudnya ini?
"Baguslah kamu datang, sekarang bawa barang-barang rongsokan kamu itu dan pergi dari rumah ini!" Suara angkuh itu menyambut kedatangan Sheerin. Sheerin menoleh, terlihat mama Anya sedang bertolak pinggang di teras. Segera Sheerin menghampirinya untuk minta penjelasan.
"Maksudnya ini apa ma? Kenapa barang-barang Sheerin ada disini?"
"Kamu tidak dengar? Saya bilang apa tadi? Mulai sekarang kamu tidak bisa tinggal dirumah ini lagi, karena mulai saat ini sayalah pemilik rumah ini yang baru. Jadi, silahkan angkat kaki dari rumah ini!"
"Kenapa bisa begitu? Mama pasti lagi bercanda kan?" Sheerin mencoba berkompromi, padahal hatinya sudah gelisah setengah mati.
"Baca ini!" Mama Anya melayangkan beberapa kertas foto copian tepat di wajah Sheerin, membuat mata perempuan reflek terpejam. Beberapa lembar kertas harus direlakan terjatuh ke lantai, Sheerin memungut salah satu yang menempel di tubuhnya.
Dibacanya dengan teliti, surat apa itu? Dan setelah paham akan isi surat yang dia baca, Sheerin langsung melayangkan protes terhadap ibu sambungnya itu.
"Ini nggak bener kan ma? Ayah memberikan semua aset perusahaannya ke aku, tapi kenapa disini semuanya tertulis atas nama mama?"
"Itulah kenapa sebabnya kamu harus angkat kaki dari sini. Karena semua kekayaan ayah kamu sudah berpindah tangan pada saya. Haha."
"Sheerin mohon ma, jangan usir Sheerin, Sheerin nggak tau harus kemana kalau nggak tinggal disini?" Sudah naik ke level memohon, dia menyentuh tangan mama Anya, namun secepat kilat mama Anya menepisnya.
"Saya sudah muak melihat kamu, dan saya juga sudah lama menunggu saat-saat ini sejak lama, mengusir kamu dari sini!"
Sheerin bergeming, kenapa semuanya semakin rumit saja? Cobaan apa lagi ini Tuhan? Tak bisakah Engkau menjeda memberiku masalah? Kenapa semua kesakitan ini bertubi-tubi menghampirinya?
"Ayo pergi dari sini!" Bahkan mama Anya harus mendorong bahu Sheerin karena Sheerin tak kunjung pergi.
"Awwh!" Sheerin mengaduh kesakitan saat tubuhnya berhasil ambruk di lantai akibat di dorong.
"Jangan pernah injakkan kaki dirumah ini lagi!" Mama Anya membalikan badan, hendak masuk kedalam rumah, secepat kilat Sheerin meraih kedua kaki mama Anya dan mendekapnya kuat-kuat.
"Ma, Sheerin mohon ma, biarin Sheerin tinggal disini, Sheerin janji Sheerin akan jadi anak penurut, Sheerin nggak akan bantah semua perkataan mama. Asalkan mama jangan usir Sheerin ya!" Meleleh lagi air matanya.
"Kepaskan kaki saya! Saya tidak akan berubah pikiran!" Mama Anya menghentak-hentakkan kakinya agar Sheerin bisa terlepas, namun nyatanya Sheerin semakin erat mendekap kaki ibu tirinya itu. Tidak ingin diusir.
"Sheerin mohon ma! Jangan!"
BUKK!
"Awwh!"
Dengan sekuat tenanga mama Anya menghentakkan kakinya, membuat Sheerin yang kehabisan tenaga akibat menangis akhirnya terpental hingga jarak dua meter. Sikutnya berdarah karena terbentur dinding penyangga.
"Jangan pernah sentuh saya, sialan!" Mama Anya menepuk-nepuk kakinya yang tadi di dekap Sheerin dengan jijik, seolah Sheerin adalah bakteri yang bisa membawa virus penyakit.
Sheerin kembali menangis, menangis meratapi nasibnya akan seperti apa sekarang. Kemana dia harus pergi? Tak ada lagi tempat baginya bernaung.
"Bawa semua barang-barang tak bergunamu ini!" Satu tas cukup besar mama Anya lemparkan ke pangkuan Sheerin, membuat Sheerin kesakitan karena tertimpa.
'jahat sekali dia!'
Mama Anya berbalik badan, takut Sheerin kembali berbuat ulah dan memohon-mohon untuk tidan diusir. Lalu masuk kedalam rumah, mengunci pintu.
Sheerin terperanjat, dia menggedor-gedor pintu yang baru saja tertutup itu dengan sisa tenaganya.
"Ma, Sheerin mohon buka pintunya! Jangan usir Sheerin, Sheerin takut ma!" Namun makhluk tak berhati itu tak mau membuka telinga untuk sekedar mendengar jeritan penuh kepiluan dari Sheerin.
Tuhan, aku tau aku salah. Tapi tak bisakah kau tak memberiku waktu dari satu masalah ke masalah yang lain? Kenapa semua terkadi secara beriringan? Membuat hati rapun ini semakin hancur.
Sheerin masih belum beranjak, berharap mama Anya mau berbelas kasih dan kembali membiarkannya tinggal disana.
Hingga dia lelah, hatinya juga jiwanya. Kenapa dirinya selalu saja diterpa nestapa dan dilanda lara? Kata orang roda kehidupan itu berputar? Tapi kenapa Sheerin saja yang terus menerus berada diposisi terendah ini? Apa Tuhan lupa untuk memutar roda kehidupan yang dijalani Sheerin?
__________
__ADS_1
Alhamdulillah bisa update 3 episode hari ini... cuma mau kasih tau kalau novel ini lagi mengikuti lomba update tim, jadi buat man teman yang punya poin bisa disumbangin buat vote kartaya ini disana...