Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Urusan kita belum selesai


__ADS_3

Nindi terlihat sedang menonton televisi di kamarnya siang itu, saat terdengar suara klakson mobil, membuat fokusnya teralihkan. Dia berjalan menuju ke arah jendela, nampak lah pemandangan diluar sana. Ternyata itu adalah suara klakson mobil milik kak Bima.


"Tumben jam segini udah pulang." Bergumam sendiri. Kemudian dia berbalik arah, hendak turun ke bawah untuk mengintrogasi suaminya itu.


Saat melewati ruang tengah, dia berpapasan dengan ayah mertua yang berjalan menuju dapur. Tatapan mereka saling bertemu, seperti biasa, ayah mertua menatapnya dengan tatapan sinis dan tajam. Nindi tak menghiraukannya, namun satu yang menjadi pertanyaan Nindi selama ini. Apa sih sebenarnya pekerjaan ayah mertua? Kenapa dia dengan sesuka hatinya masuk dan bolos bekerja. Sudah seperti bos saja, jika dia memiliki perusahaan sendiri, lantas kenapa kak Bima malah bekerja di perusahaan orang lain? Aneh kan?


Ahh, memikirkan pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah ada jawabannya membuat Nindi pusing, langsung saja dia bergegas membukakan pintu untuk sang suami tercinta.


Namun belum sempat Nindi memegang handle, pintu sudah terbuka dengan sendirinya. Tentu saja kak Bima yang mendorongnya dari luar.


"Kak." Nindi meraih tangan kanan kak Bima dan menyaliminya. Setelahnya, Bima merangkul pinggang Nindi dan merekapun melangkah memasuki rumah. Terjadilah obrolan hangat diantara keduanya.


"Kamu sudah makan siang sayang?" Tanya kak Bima kemudian.


"Belum kak, kakak sendiri tumben pulang di jam makan siang, kenapa?" Menjawab lalu bertanya.


"Aku juga tidak tahu, ayah menyuruh ku untuk pulang siang ini." Jawab kak Bima.


"Hah? Ayah? Memangnya ada apa?" Yang ditanya hanya tersenyum sambil menggeleng samar, pertanda diapun tidak tau alasannya dengan pasti.


Nindi yang merasa penasaran disini, hatinya kembali bertanya-tanya. Ada apa? Ada apa?


"Mari kita temui ayah!" Seru kak Bima.


"Ayah ada di dapur." Jawab Nindi.


"Ayah ada disini." Suara berat itu muncul dari arah belakang, membuat Nindi dan kak Bima menoleh.


Aura mistis kembali bisa dirasakan Nindi saat senyuman penuh kemisterian di tampilkan dari wajah Luis.


"Apa yang membuat ayah menyuruhku pulang siang ini?" Tanya Bima setelah mereka bertiga duduk berhadap-hadapan.


Senyum misterius tak kunjung pudar dari bibir pria paruh baya itu, sambil tangannya menyodorkan selembar map diatas meja.


"Apa ini?" Bima menerimanya dengan dahi yang mengerut.


"Bacalah, dan tandatangani hari ini juga!"


Nindi hanya mengintip sedikit, apa sebenarnya isi map itu? Namun tak bisa melihat dengan jelas, sebab ayah Luis sudah menatapnya dengan tajam, seperti dia tidak menyukai perbuatan Nindi itu. Cepat-cepat Nindi mengalihkan pandangannya kearah lain.


Plak!


Kak Bima melempas map itu kembali ke atas meja dengan kasar, hingga suaranya menggema di tengah keheningan yang ada. Sampai membuat Nindi terlonjak kaget, sedangkan Luis masih bisa tersenyum aneh seperti itu.


"Aku tidak akan pernah menandatanganinya!" Ujarnya dengan sangat tegas.


"Apa? Kamu menolak perintah ayah?" Tanya Luis sinis.


"Tentu saja, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan istriku."


Apa? Tunggu dulu, menceraikan? Apa maksudnya ini? Nindi menyambar map tadi dan mulai membaca isinya. Sedangkan kak Bima dan ayahnya masih bersitegang dan beradu argumen.


"Surat gugatan cerai?" Gumam Nindi pelan. Hatinya berdebar tak karuan. Kapan dirinya pernah melayangkan gugatan cerai kepada kak Bima? Mana mungkin Nindi melakukan itu, mereka baru saja menikah ulang selang beberapa hari setelah kematian Lukman. Dan sekarang adalah masa dimana Nindi sedang cinta-cintanya kepada suaminya itu. Tak mungkin Nindi melakukan hal segila ini.


"Aku nggak pernah menggugat cerai kakak." Ucap Nindi ditengah ketegangan diantara ayah dan anak itu.

__ADS_1


"Memang, ayah yang menginginkan kalian berpisah. Jadi, tandatanganilah jangan banyak drama!" Ucap Luis sinis.


"Apa? Kenapa gitu? Apa alasanya?" Tanya Nindi.


"Kamu tidak perlu tau apa alasannya, pernikahan kalian cukup sampai disini. Dan setelah kamu menandatanganinya, kamu boleh pergi dari rumah ini." Jawab Luis.


Seketika mata Nindi berubah menjadi panas, dia ingin menangis, kenapa ayah mertua mempermainkan dirinya seperti ini? Setelah dulu dia bersikeras untuk menjodohkannya (Sheerin lebih tepatnya) dengan kak Bima, dan sekarang semudah itu dia meminta mereka untuk berpisah, tanpa memikirkan perasaan apa yang mulai tumbuh dan berkembang diantara keduanya.


Ingin protes, namun kak Bima memberinya kode untuk tidak angkat bicara saat ini.


"Ayah, aku tidak tau motif ayah dibalik perjodohan ini apa. Jika dulu aku hanya pasrah dan menuruti semua perintah ayah untuk mempersunting istriku, maka jangan harap kali ini aku akan bersikap sama." Menolak secara halus, namun dengan penuh ketegasan.


Mendapat penolakan, raut wajah Luis kini berubah menjadi murka, mungkin sebentar lagi akan meledak emosinya. terlihat jelas sekali dia sangat tidak suka di tentang perintahnya.


"Ayah sudah meminta padamu secara halus, jangan sampai ayah bertindak kasar untuk memaksa kalian menandatangani surat perceraian ini." Intonasinya sudah naik,


PLAK!!


Kali ini Luis melempar map tadi tepat ke wajah kak Bima. Nindi terperanjat kaget, ayah mertuanya itu benar-benar ringan tangan, dia tak segan-segan melukai orang yang menentangnya, termasuk anaknya sendiri. Nindi hampir lupa jika Luis bisa melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.


Mata Bima terpejam saat map itu melayang di wajahnya, sebelum akhirnya mendarat ke lantai. Namun pembawaannya masih terlihat tenang. Menarik nafas dalam-dalam.


Perlahan Bima meraih tangan Nindi, kemudian menggenggam jemarinya erat-erat.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkannya, aku menyayanginya. Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama, iya kan sayang?" Kak Bima melirik Nindi meminta persetujuan.


Nindi mengangguk dengan ragu, bukan ragu akan cintanya, namun ragu jika mereka tidak bisa melawan Luis yang berkuasa atas segala sesuatunya dirumah itu.


BRAKKK!!!


"Awww!" Nindi meringis saat meja keras itu menghantam lututnya. Lumayan sakit.


Kak Bima menyadari situasi mulai memanas, ayahnya itu sudah tak dapat dikendalikan, dia menyingkirkan meja itu kemudian beralih pada Nindi.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Panik dia melihat kaki Nindi, terlihat memar.


"Nggak apa-apa." Menjawab, namun matanya tak lepas dari Luis, kemudian menelan salivanya saat melihat Luis yang sudah berdiri dan memecak, wajah Luis kini merah padam. Jika dalam film kartun, pastilah muncul dua tanduk hitam di dua sisi kepalanya.


"Sayang, sayang! Tidak ada sayang, sayang. Kalian akan bercerai!" Suaranya meledak menuhi ruangan.


Dia melepaskan tangan Bima yang sedang menyentuh lutut Nindi, menyeret perempuan itu, melemparnya hingga wajahnya menyentuh map berisikan surat gugatan cerai tadi.


"Awh!" Bahkan hidung Nindi kini terasa ngilu. Apakah ini balasan karena waktu itu dia pernah membuat hidung Clarissa mengalami patah tulang? Dia ingat akan dosanya dulu.


Kak Bima tak terima istrinya diperlakukan seperti hewan. Dia beranjak dan mulai tersulut emosinya.


"Apa yang ayah lakukan?" Menyembunyikan Nindi dibelakang tubuhnya, takut ayahnya itu akan kembali melukai Nindi.


"Dia pantas mendapatkannya, setelah dia menipu keluarga kita. Dia berpura-pura menjadi Sheerin untuk bisa menikahimu. Jadi sekarang, tidak ada alasan lagi untuk kalian bersama. Dia harus pergi dari rumah ini dan menceraikan kamu!" Suaranya bak halilintar di langit, menggelegar.


"Gimana ini kak?" Gemetar dia berkata, Nindi menangis sekarang, dia rasa dirinya sudah berada di ujung tanduk sekarang. Luis sudah mengungkit-ungkit tentang penipuan yang Nindi lakukan, dan Nindk tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini, ini seperti kelemahan baginya. Nindi mengakui jika dirinya telah salah membohongi banyak orang.


"Jangan khawatir, ada aku." Berbisik tepat di telinga Nindi, Nindi mengangguk, dia percaya sepenuhnya kepada kak Bima.


***

__ADS_1


Suara brangkar didorong terdengar begitu mencemaskan, melewati lorong rumah sakit untuk sampai di ruang IGD. Sheerin yang terbaring lemah tak sadarkan diri diatas brangkar itu. Sementara darah segar tak berhenti mengalir dari kepalanya. Membuat jejak di atas lantai putih yang dilalui.


Kepanikan tak kunjung menghilang dari wajah Levin, sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, tak hentinya Levin menggenggam tangan Sheerin sambil mengucapkan kata-kata permintaan maaf dan penyesalannya.


"Mohon maaf, silahkan anda tunggu disini!" Seorang suster menghadang Levin saat akan menerobos pintu ruang IGD.


"Tapi saya mau menemani dia didalam." Suaranya parau karena habis menangis.


"Tidak bisa, biarkan tim dokter bekerja dengan tenang." Ucap sang suster sebelum akhirnya dia hilang ditelah pintu IGD itu.


Tinggallah Levin sendirian, bertemankan penyesalan yang teramat dalam. Dia membenturkan kepalanya pada dinding berkali-kali, mengutuki semua kebodohan yang dia lakukan, meratapi keadaan yang mencekam dan menyedihkan yang entah sampai kapan ini.


Kenapa? Kenapa disaat Levin mulai yakin akan perasaannya terhadap Sheerin, justru perempuan itu harus mengalami kejadian tak terduga seperti ini?


Lalu, bagaimana dia sekarang? Di dalam sana dia pasti sedang kesakitan, sedangkan disini Levin tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa sedikitpun mengurangi rasa sakit yang di derita Sheerin.


"Ya Allah, sembuhkanlah dia. Aku berjanji, aku tak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Aku bernazar tidak akan pernah membuat hatinya bersedih lagi. Asal berikan kesembuhan untuknya." Dalam tangisnya Levin meminta.


Resah, gelisah, ketakutan, kini tengah merajai hati Levin. Sedangkan belum ada tanda-tanda pintu ruang IGD akan terbuka. Berapa lama lagi dia harus menunggu dalam kegelisahan seperti ini? Ini sungguh-sungguh sangat menyiksa. Jika bisa bertukar posisi, Levin rela menggantikan rasa sakit yang di rasakan oleh Sheerin untuk menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan.


***


Luis masih kokoh dengan pendiriannya untuk menyuruh Bima dan Nindi bercerai, begitupun dengan Bima, pendiriannya tak bisa goyah begitu saja. Dua orang yang sama-sama sedang mempertahankan pendirian masing-masing. Nindi menutup telinga dibelakang tubuh Bima saat Luis membentak-bentak sambil mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan bahasa binatang juga ikut keluar dari mulutnya.


Ditengah ketegangan dan kekacauan yang menerpa rumah itu, ponsel Bima bergetar. Levin melakukan panggilan kepadanya.


Ada apa? Tumben. Segera Bima menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum."


'.... ... ..... .. ....... .... ....... ... ..... ....'


"Apa? Sheerin kecelakaan?" Wajah datarnya menunjukkan ekspresi kaget.


Nindi yang mendengar itu jadi ikut panik, dia menggoyang-goyangkan tangan kak Bima tak sabaran, meminta penjelasan.


'... ..... .. ...... .. ..... ..... .....'


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga." Setelahnya kak Bima memutuskan sambungan telfon.


"Sheerin kecelakaan dimana kak? Gimana keadaannya sekarang?" Nindi merengek meminta jawaban.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang untuk memastikan semuanya." Jawab kam Bima.


Entah kenapa kemarahan Luis seolah mereda saat mendengar berita itu, dia jadi tertarik akan bagaimana kondisi Sheerin saat ini. Tentu saja ini aka menjadi berita membahagiakan untuk mama Anya. Seringai jahatnya muncul lagi saat melihat kebahagiaan diwajah mama Anya saat dia datang membawa berita ini.


"Ayo kita kesana sekarang!" Pinta Nindi.


"Ya!" Bima menarik tangan Nindi dan merekapun berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah itu, meninggalkan Luis yang berteriak-teriak mengutuki kepergian mereka.


"Dasar anak kurang ajar, urusan kita disini belum selesai!"


__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....

__ADS_1


__ADS_2