
Pagi itu, Sheerin dan Nindi habiskan hanya dengan berdiam diri sambil menikmati bubur kacang, beli dari si abang-abang yang lewat depan rumah. Cuaca yang sedang mendung cenderung berawan, membuat rasa hangat pada kudapan itu mampu menembus kedalam tubuh keduanya.
"Nin, ayah mertua loe itu sebenernya lagi kemana sih? Kok nggak pulang-pulang?" Tanya Sheerin disela makannya.
"Gue juga nggak tau pasti. Kak Bima bilang, ayah mertua lagi ke luar kota ngurusin kerjaannya. Tapi tempo hari, dia datang ke rumah ini secara diam-diam dan fitnah gue. Udah itu, gue nggak tau lagi deh dia kemana." Di akhir kalimat, Nindi mengedikkan bahunya.
"Fitnah gimana?" Tanya Sheerin lagi.
"Jadi gini, sebelumnya dia itu minta gue sama kak Bima cerai, tapi kita nolak dong. Nah mungkin dia itu masih berusaha buat bikin kita pisah dengan cara fitnah gue seakan-akan gue itu selingkuh dan tidur sama laki-laki lain. Gue terbukti nggak bersalah waktu itu, dan untung aja kak Bima percaya sama gue. Gue bener-bener nggak ngerti sama jalan pikirannya ayah mertua sih." Jawab Nindi, setelahnya dia membuang nafas.
"Hah? Jahat banget sih dia. Tapi sekarang masalahnya udah selesai, kan?" Tanya Sheerin.
"Udah sih. Malahan sekarang berkat kejadian itu, kepercayaan antara gue sama kak Bima semakin kuat." Jawab Nindi sambil tersenyum.
Sheerin menyenggol pinggang Nindi dengan sikutnya. "Cie... Cie..." Bersorak sorai memberikan ledekan. Nindi tak menggubris ledekan kembarannya itu.
"Terus, apa rencana loe selanjutnya?" Tanya Nindi. Sheerin meletakkan mangkuk yang telah tandas isinya diatas meja, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Kayaknya kita harus datang ke rumah dan bicara sama mama. Karena gimanapun juga kita berhak kan atas rumah itu kan Nin?" Sheerin meminta persetujuan.
Nindi mengangguk pelan pertanda jika dirinya sependapat dengan Sheerin.
"Gue curiga sesuatu deh She." Ucap Nindi tiba-tiba.
"Curiga apa?" Tanya Sheerin penasaran.
"Menurut gue, ada yang aneh deh sama ibu tiri loe itu sama ayahnya kak Bima. Mereka itu kayak punya hubungan yang kayaknya lebih dari pertemanan, iya nggak sih?" Nindi mengatakan ekspetasinya selama ini, membuat dahi Sheerin mengerut.
"Maksud loe, selama ini mereka selingkuh?" Tanya Sheerin meyakinkan.
__ADS_1
"Iya, mama Anya selingkuh dari ayah. Dia pasti cuma ngincer harta ayah dan bikin ayah meninggal. Dan mungkin aja sekarang mereka udah bersatu. Mama Anya sama ayah kak Bima tinggal dirumah itu dan menguasai semua harta kekayaan ayah." Jelas Nindi.
"Bisa jadi, gimana kalau kita pergi ke rumah sekarang juga buat membuktikan semuanya?" Ucap Sheerin yang terpengaruh dengan perkataan Nindi.
Sheerin merasa jika dirinya harus menuntut keadilan, ketakutan didalam dirinya pada mama Anya seolah meluap pergi karena di sampingnya kini telah berdiri dengan tegak seseorang yang pasti akan senantiasa selalu melindungi dirinya, yaitu Nindi. Nindi menjadi kekuatan bagi Sheerin untuk menghadapi mama Anya.
***
Sheerin dan Nindi benar-benar mengunjungi rumah Lukman siang itu, bermodalkan keyakinan keduanya tak ragu untuk menghadapi perempuan tak berhati itu.
Tok... Tok... Tok...
Nindi mengetuk pintu di hadapannya cukup keras karena penghuni rumah itu tak kunjung mau keluar, bahkan tangannya kini mulai terasa sakit karena mengetuk pintu terlalu kencang. Sheerin bersiri di belakang Nindi sambil berharap cemas, apa rencananya kali ini akan berhasil?
Kemudian Sheerin mengedarkan pandangannya ke sekitar. Bahkan tas besar miliknya masih tergeletak di halaman itu, terlihat kotor, sepertinya habis tertimpa hujan. Satpam yang biasanya bertugas di pos juga tak nampak berjaga.
"Sepi banget ya Nin." Ucap Sheerin merasa ragu jika mama Anya sedang ada didalam sana.
Krek!
Pintu terbuka, kemudian nampaklah sosok tinggi besar dari balik pintu itu. Ayah Luis. Nindi dan Sheerin sampai terperangah kaget saat melihatnya. Ternyata dugaan keduanya benar, Luis dan mama Anya berselingkuh. Tega sekali mereka.
Pun dengan Luis, pria paruh baya itu nampak kaget saat mendapati dua makhluk serupa sedang berdiri di hadapannya saat ini. Bukankah mereka adalah ancaman?
"Mau apa kalian kemari?" Bertanya dengan tajam, aura jahatnya mulai terpancar saat menatap Sheerin dan Nindi bergantian.
"Harusnya kita yang tanya. Apa yang sedang ayah lakukan disini? Ini rumah kita." Nindi yang menjawab.
"Jangan mimpi kamu, lebih baik sekarang kalian pergi dari sini jika kalian masih sayang pada nyawa kalian." Luis menunjuk gerbang, memberi arahan agar mereka segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja ama Anya keluar, handuk mandi masih melekat di tubuhnya, dan handuk kecil nampak melilit di kepalanya. Semua mata langsung menjadikannya pusat perhatian. Tampilannya itu terlalu mencolok, membuat dugaan Sheerin dan Nindi semakin kuat.
"Kalian." Mama Anya nampak terkejut, reaksinya hampir sama dengan Luis tadi.
"Sedang apa kalian disini? Pintu rumah ini sudah tertutup rapat untuk kalian!" Merasa ancaman datang, mama Anya berlagak dirinya yang paling berkuasa.
"Aku sudah mengusir mereka, tapi dengan tidak tau malunya mereka masih bersiri disini."
Apa dia bilang? Tidak tau malu? Bukankah mereka yang tidak tau malu? Bukankah Nindi dan Sheerin yang seharusnya mengatai mereka sebagai orang yang tidak tau malu? Keterlaluan sekali! Bahkan mereka pandai memutar balikkan fakta.
"Kita nggak akan pergi sebelum ayah sama mama membuat pengakuan kalau kalian yang udah bunuh ayah dan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kita." Sheerin kali ini yang berkata. Entahlah, keberaniannya mengalir begitu saja. Dia tak yakin jika Nindi tak ada di sampingnya dia akan berani bicara seperti itu.
"Apa? Kamu masih membahas soal kematian ayahmu? Dia itu mati karena kecelakaan, tidak ada sangkut pautnya dengan kami. Dan satu hal yang perlu kamu tau, semua harta kekayaan milik ayahmu sekarang sudah berpindah tangan menjadi milik mama. Dan mama tak sudi jika harus berbagi ini semua dengan kamu. Jadi lebih baik kalian pergi dari sini jika sudah tak ada yang harus di bicarakan lagi. Atau Luis akan menyeret kalian untuk angkat kaki dari sini!" Ucap mama Anya panjang lebar, tak ada kebohongan dalam perkataannya. Lukman memang meregang nyawa dalam kecelakaan itu.
Nindi menatap sebal mama Anya, pandai sekali dia bersilat lidah. Jika saja dia bukan orang tua, Nindi pastikan dia akan merasai bagaimana kasarnya tangan Nindi. Namun dia tak se bar-bar itu, dia masih tetap harus menghargai orang tua.
"Terus, ayah lagi apa disini? Kalian tinggal satu atap? Sebelum menikah? Itu kumpul kebo namanya. Astaga! Memalukan sekali." Nindi tak bisa bermain tangan, namun dia bisa bermain kata-kata, kan?
Luis dan mama Anya saling menatap satu sama lain. Merasa baru saja direndahkan oleh Nindi. Rahang Luis mulai menegang, antara marah dan juga kesal dengan perkataan Nindi.
"Apa kamu baru saja ditendang dari rumah oleh Bima sehingga kamu kembali mengemis disini? Tapi sayang, tak ada tempat lagi untukmu disini." Ucap Luis yang balik menyerang Nindi dengan kata-kata tajamnya.
"Ahh iya, aku baru inget lho, aku mau kasih informasi ke ayah, kalau ternyata rencana ayah yang waktu itu gagal. Ide ayah itu murahan, kak Bima percaya sama aku. Bahkan kalau ayah masih punya seribu satu cara buat pisahin aku sama kak Bima." Jawab Nindi dengan percaya diri.
Luis menelan salivanya pelan, melirik mama Anya. Terlihat mama Anya mengedikkan bahunya seperti mengatakan kenapa bisa rencana mereka gagal? Padahal mereka sudah menyusunnya dengan sangat apik.
"Dan kenapa ayah berbohong sama kak Bima? Ayah bilang ayah pergi ke luar kota. Tapi ternyata ayah malah bersenang-senang disini sama mama Anya?" Tanya Nindi.
___________
__ADS_1
Lanjut nanti ya, hihi 😁