
Keesokan harinya tepat 2 hari sebelum Abraham ke Universitas Elizabeth.
Abraham dan sekertaris Kim mengajak Doris dan Nick untuk makan siang.
Dorris Dan Nick kembali, baru juga masuk sekertaris Kim yang sudah siap di depan pintu menodongkan pistol di kepala Nick, begitu juga Dorris juga menodongkan pistolnya kepada Nick.
"Ada apa ini, tuan? Tuan besar? Siapa mereka, tuan?" Tanya Nick pura-pura tidak tau. Disana sudah ramai orang dan juga sudah ada Tiara dan Emi yang berlutut dan diikat tidak berdaya.
"Kau pura-pura bodoh atau bagaimana, Nickolas?" Tanya Sekertaris Kim. Abraham dengan santainya melemparkan map-map padanya Nick. Dengan santai Nick mengambil map-map tersebut dan membacanya.
"Katakan apa motif mu, Nick? Kita sudah seperti saudara kan? Aku tidak menyangka semua ini kau yang lakukan?Katakan! Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Sekertaris Kim. Nick hanya diam.
Brug. Satu pukulan keras di belakang, membuat Nick tersungkur.
"Cepat katakan?!"
"Anda ingin tau, tuan? Maka bunuh aku!" Jawab Nick.
"Kau kira. Nyawamu berharga? Tidak sama sekali" ujar Sekretaris Kim.
Abraham hanya menikmati makanannya. Makanan.
"Siapa yang menyuruhmu, Nick?" Tanya Sekertaris Kim lagi. "Brug" Sekertaris Kim memukul Nick kembali. Sekertaris Kim sibuk dengan Nick, Abraham mencoba mendekati Tiara yang sudah berlutut tak berdaya.
"Kalian. Bukankah nyonya ku sangat menyayangimu?" Tanya Abraham mendekat pada Tiara "Kau bahkan makan bersama dengannya. Tapi beraninya kau menghianatinya"
"Puih" Tiara meludah.
"Aku tidak pernah sudi menjadi temannya. Nyonya? Nyonya nyonya tai. Dia tidak pantas di panggil nyonya"
"Dor" Tiara pun mati.
"Lepaskan aku. Kau tidak tau kan siapa ayahku? Jika kalian tau, kalian akan gemetar ketakutan" ujar Emi.
__ADS_1
"Ayahmu? Siapa Amerkanda? Hanya seorang pecundang yang meninggalkan istrinya yang hamil dan kembali seakan menjadi pahlawan di mata anaknya yang bodoh" ujar Abraham.
"Ayahku bukan pecundang!" Ucap Emi tidak terima
"Lalu apa?! Ibumu pasti malu punya anak bodoh sepertimu"
"Jangan sebut nama ibuku dengan mulut kotor mu!"
Abraham melemparkan Map pada Emi.
"Itu bukti bahwa ayahmu yang membunuh ibumu" Emi membuka semua berkasnya dan melihatnya, tangan Emi sampai gemetaran.
"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin"
"Satu lagi, ayahmu itu sudah mati" Emi terdiam dan melihat isi dalam map itu.
Emi melihat kemeja makan ada pisau untuk memotong steak, dia berlari dan mengambil pisau itu. Dor dor Dorris menembak Emi, Emipun terjatuh.
"Tanpa kau tembak, dia juga mati bunuh diri" ujar Sekretaris Kim. "Dia hidup hanya untuk membalaskan dendam ibunya dan pelakunya sudah matikan?" jelas Sekertaris Kim.
"Kalian memang bodoh! Kalian pikir aku tidak mau berkembang. Bersama kalian membuat aku menyadari bahwa akulah yang patas duduk di singgah sana mu itu" ujar Nick sombong.
Nick menulis di kertas dan menunjukkan pada Abaraham
"Kau merasa kau lebih hebat dariku?" tanya Abraham.
"Iya. Aku memang lebih hebat dari an pecundang seperti kalian"
"Baiklah! ayo kita buktikan"
"Tuan besar?!"
Abraham mengisi peluru di dua pistol dan masing-masing berisi 1 peluru. 1 Pistol di lemparkan pada Nick.
__ADS_1
"Kita akan bertarung tanpa senjata terlebih dahulu, terserah mau kau pakai kapan senjata mu itu. pertarungan terhenti saat ada peluru yang bersarang di tubuh kita masing-masing. Ingat! tembak tepat di jantungku baru aku bisa mati"
"Tuan Besar?!" teriak Sekertaris Kim dan Dorris.
"Cih banyak bacot"
Akhirnya mereka bertarung, terjadi pertarungan segit antara Abraham dan Nick. Namun kemampuan Nick masih jauh di bandingkan Abraham. Akhirnya Nick pun babak belur.
Di sisi lapangan Sekertaris Kim memberikan isyarat pada Abraham.
Abraham mengambil pistolnya dan melihat itu Nick pun mengambil pistolnya dan mereka sama-sama saling menodongkan pistol.
"Dor Dor" 2 tembakan di lepaskan dengan sigap Abraham menghindari tembakan dari Nick. Namun Nick hanya memejamkan matanya tanpa bergerak sedikitpun. Dia tidak menghindar sedikitpun.
"Mereka memang memang pantas mati! Dasar penghianat?!" Ucap Abraham kesal.
"Bereskan segalanya"
"Baik, tuan besar" jawab mereka semua.
Abraham dan Sekertaris Kim meninggalkan ruangan.
"Aku juga" Ucap Dorris
Melihat kepergian Abraham dan sekertaris Kim, yang artinya dialah yang harus membereskan kekacauan ini.
"Kenapa anda begitu baik, tuan besar?" Tanya Sekertaris Kim pada Abraham. Abraham menatap sekertaris Kim tidak suka.
"Kau baru tau, Kim? Aku dari lahir memang baik" jawab Abraham yang sombongnya juga dari lahir.
"Anda benar, Tuan besar" sekertaris Kim membernarkan ucapan Abraham.
"Aku tidak ingin memisahkan anak itu dengan ayahnya. Dia terlihat sama sepertiku waktu itu. Saat ini pasti perjalanan hidupnya sudah cukup berat sebagai tawanan" ujar Abraham.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan anda lakukan tuan besar?"
Udah dulu ya hari ini. See you