Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Karma


__ADS_3

"Kemana dia?" Dimas bingung harus mencari Anita kemana? Dia tidak terlalu tau pergaulan gadis itu. Kepada siapa dia harus bertanya mengenai keberadaan gadis itu.


Dimas pun berjalan meninggalan rumah itu, percuma dia ada di sana. Di sepanjang jalan Dimas terus memikirkan kemungkinan - kemungkinan Anita di mana.


"Kamu kemana Ta, kenapa kamu menghilang di saat aku sudah merasa yakin dan kamu pergi pun nggak ada kabar dulu." kata Dimas.


Karena asik dengan pikirannya, tidak terasa Dimas sudah sampai di depan rumahnya. Di menatap halaman rumahnya.


"Udah sampai rumah ternyata "gumam nya.


Dikas masuk kedalam rumah dan kembali menguncinya, mlam ini Dimas sedang tidak selera makan jadi dia memutuskan langsung mandi.


Setelah mandi, dengan langkah gontai ia menaiki tempat tidur. Sambil tiduran Dimas mencoba mencari - cari info keberadaan Anita melalui akun sosmed dan teman - teman gadis itu yang sekiranya Dimas tau.


"Kamu dimana Dih, Nit?"


"Aku Rindu, kenapa kamu menghilang di saat aku mulai yakin untuk memulai semuanya."


"Ternyata rasa ini tidak hanya, obsesi karena taruhan, Nit."


"Aku... Aku mencintaimu Nit."ucap nya Lirih.


___


"Hei Ben, apa kabat lu." Sapa Henri, yang nggak sengaja bertemu dengan Beini di sebuah restoran.


"Eh bapak.."Beni menoleh, dan membalas sapaan Henri.


"Kamu kesininya bareng siapa?"tanya Henri.


"Itu sama orang rumah pak. Bapak sendiri?"jawab Beni dan bertanya balik pada Henri.


"Ooo... Gue kira sama Dimas."kata Henri.


"Nggak pak, Dimas akhir - akhir ini terlalu galau kayanya, dia juga susah banget kalau di ajak keluarnya."balas Beni.


"Iya juga sih, nggak tau deh tu bocah kenapa. Yaudah kalau gitu lo lanjut aja. Gue cabut dulu"ucap Henri menepuk bahu Benni.


"Iya pak, hati - hati"ucap Beni


___


"Kok lama sih, mas?"tanya Vanya istrinya Henri.


"Iya itu tadi aku ketemu sama mandor, PT nya Rinald."jawab Henri, mengenakkan sabuk pengamannya.


"Ooo..."Vanya menganggukkan kepalanya. Henri pun mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pakiran restoran tersebut.

__ADS_1


Di perjalanan hendak pulang tiba - tiba anaknya Henri mibta di ajak ke rumahnya Dimas.


"Pah, kita kerumah nya kak Dimas yok."ajak anaknya.


"Tapi ini udah malam sayang, besok aja ya"jawab Vanya.


"Nggak mau, aku manya sekarang mah. Aku kangen dengerin suaranya kak Dimas." ucap anaknya kekeh.


"Baiklah, kita akan ke sana, lagian akhir - akhir ini aku dapat kamar kalau dia lagi sedih banget."ucap Henri.


"Kenapa dia?"tanya Vanya dengan nada khawatir.


"Katanya sih, di tinggalin cewek gitu"jawab Henri.Vanya hanya geleng - geleng.


"Kita beli makanan dulu ya, mana tau dia belum makan, biasanya orang yang lagi patah hati tu nggak terlalu peduli makan."ucap Vanya.


"Iya, aku tadi juga mau bilang itu"


____


Henri memakirkan mobilnya di depan halaman rumah Dimas. Anak Henri langsung berlari keluar mobil dan menggedor pintu rumah Dimas.


Tok... Tok... Tok...


Henri dan Vanya pun tersenyum melihat kelakuan anaknya itu.


"Dim... Tok ... Tok..."panggil Henri.


"Kak Dimasss."sapa anak Henri.


"Hai, sayang"ucap Dimas, tersenyum


"Ayo masuk"Dimas mengajak mereka semua masuk.


"Kamu udah makan Dim?"tanya Vanya.


"Belum tan, lagi nggak selerah."ucapnya.


Vanya menggeleng, "Kamu itu boleh galau, tapi nggak boleh lupa makan dong Dim"ujar Vanya, sambil mengeluarkan makanan yang tadi mereka belikan.


"Ayo makan dulu!" seru Vanya.


"Iya tan, nanti aja. Aku belum lapar"ucap Dimas


"Dim, gua nggak suka ya kalau lu kayak gini"ucap Henri.


Dimas menoleh, dan dengan terpaksa Dimas pun meraih makan yang ada di depannya.

__ADS_1


"Makan yang banyak ya Dim, semua ini sengaja kami bawa untuk di makan!"kata Vanya.


"Bapak sama Tante nggak makan? Masa aku aja"protes Dimas menghentikan makannya.


"Kita baru aja selesai, tadi kita ketemu sama Beni di restoran, dan katanya lu lagi galau makanya kita samperin ke sini"ucap Henri. Sambil menyalakan tv.


"Kenapa repot - repot sih pak, aku nggak kenapa - kenapa juga."balas Dimas.


"Nggak kenapa - kenapa gimana, kalau kita nggak kesini mungkin kamu udah mati kelaparan"kata Henri.


"Boleh galau, Dim. Tapi nggak boleh terlalu berlebihan, masa gara - gara cewek lu sampe kayak mayat hidup gini"kata Henri.


Dimas hanya diam, dia tidak bisa berkata apa - apa lagi.


___


Setelah makan, semua orang duduk berkumpul di ruang tv rumah Dimas. Henri dan Vanya menanyakan apa permasalahan Dimas. Karena mereka heran tidak biasanya Dimas seperti ini, galau karena cewek.


"Elu kenapa sih sebenarnya Dim, bukan kah sudah biasa kamu tinggalkan cewek. Lalu sekarang kenapa sampai kayak gini?"tanya Henri.


"Bukan di tinggalkan pak, tapi meninggalkan "sanggah Dimas yang tak terima jika dia di katai ditinggalkan karena selama ini dia lah yang meninggalkan.


"Sekarang apa bedanya? Apa baru sekarang kamu yang di tinggalkan?"tanya Vanya sambil menggosok - gosok punggung anaknya.


Dimas menarik napas dalam - dalam, dia tidak bisa berbohong dari kedua orang ini, karena mereka lah tempat Dimas berkeluh kesah. Jadi bagaimanapun Dimas pasti akan mengatakan nya.


Dimas pun menceritakan semua nya, dari mulai ia menjadikan Anita sebagai bahan taruhan sampai Anita menghilang tiba - tiba.


Bukannya sedih, Henri dan Vanya malah menertawakan Dimas.


"Itu namanya, karma Dim..."ledek Vanya.


"Makanya, kan udah pernah gue bilang . Jangan pernah mainin hati cewek,nyesek kan lu"Henri pun ikut menimpali.


Mendengar ledekan dari Henri dan Vanya, Dimas pun bersungut kesal. "Bukannya ngasih saran, eh malah ngeledekin"kata Dimas kesal.


"Gimana kita mau kasih saran, karena ini memang salah Dim. Bagaimana pun dia udah ada yang punya, jadi kalau nggak bisa memiliki jangan sedih dong, kan emang punya orang. Kalau dia jodohnya elu, dia pasti bakalan balik lagi ke elu"ujar Henri


"Iya, bener tu kata bapak Dim. Kamu nggak usah sedih - sedih gini, bego banget sih, masa hanya karena cewek kamu sampai nyiksa diri kamu sendiri"kata Vanya.


Dimas terdiam, benar kata kedua orang tua angkatnya ini. Kenapa dia bisa sampai seperti ini, dan dia lupa diri. Kalau dia seperti ini terus bisa hancur semua hidupnya, dan kalau sempat dia seperti ini dan di pecat karena tidak fokus dengan kerjaan. Bagaimana nasib keluarganya yang di kampung.


Kenapa dia tidak sampai kepikiran ke sana.


"Terima kasih pak, Tan. Aku nggak tau kalau nggak ada kalian hidup aku gimana? Aku benar - benar bodoh"Ucap Dimas, menatap Henri dab Vanya bergantian. Kedua orang itu pun tersenyum, mereka tau kalau Dimas itu orang nya paling mudah menerima nasehat dari orang lain.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜


__ADS_2