Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Mimpi panjang


__ADS_3

Fira's POV


Aku terperanjat, tiba-tiba saja terjaga dari tidur panjangku saat bunga tidur itu kembali hadir, walau hanya sebatas mimpi, namun kesakitan itu terasa begitu nyata aku rasakan. Bahkan keperihan itu selalu melekat dalam hati dan telah mendarah daging di sekujur tubuhku.


Aku, perempuan yang telah Tuhan berikan entah berapa nyawa. Selalu saja berhasil lolos dari maut meskipun beberapa kali di celakai. Setelah selamat dari kecelakaan mobil hingga masuk jurang, lalu Tuhan kembali membiarkanku hidup setelah dilindas oleh mobil milik pria psikopat itu.


Sungguh miris, aku tak berharap bisa selamat, malah aku memohon agar Tuhan cabut saja nyawaku. Hancur. Itu yang ku rasakan. Gelap, dunia terasa gelap dimataku.


Entah berapa lama aku tak sadarkan diri setelah aku di lindas mobil itu, aku berfikir aku telah mati. Namun nyatanya, pria psikopat itu malah kembali menabur garam di atas lukaku yang masih belum kering.


Kenapa dia tidak menghabisiku saja saat itu? Mengapa dia malah merawatku hingga aku sembuh, lalu setelah itu dia kembali menorehlan luka yang lebih dalam dari sebelumnya.


Masih melekat dalam ingatan, bagaimana saat pertama kali aku membuka mata dan berada di tempat ini. Dan disaat itu aku menyadari jika ada yang hilang dalam diriku, kakiku telah tiada.


Aku menangis sejadi-jadinya didepan pria psikopat itu. Bertekuk lutut di bawah kakinya.


"Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini? Lebih baik kamu bunuh saja aku sekarang juga!" Teriakku dalam isak tangis saat itu, minta di habisi.


Namun apa tanggapannya, dia hanya tersenyum penuh kemisteriusan yang aku sendiri tidak dapat mengartikan senyuman iblis itu.


"Sepertinya aku berubah pikiran, belum saatnya aku menghabisimu, aku masih membutuhkanmu untuk melampiaskan nafsuku. Haha." Tawa itu terdengar mengerikkan ditelingaku, seluruh tubuhku bergetar hebat saat pertama kali dia menyetubuhiku.


Aku menyusut anakan sungai yang mengalir di kedua pipiku, sampai kapan aku akan berada di sini, menangisi nasibku yang tak pernah berubah sedikitpun. Mungkinkah ada keajaiban aku akan kembali melihat dunia luar?


Entah sudah berapa lama aku terpenjara disini, bahkan aku sudah lupa bagaimana caranya menghirup udara segar. Gila, ya! Mungkin aku sudah gila sekarang.


Rantai yang mengikat kedua tanganku bahkan kini mulai berkarat, mungkin sebentar lagi pria itu akan kembali menggantinya dengan yang baru. Dia pikir aku bisa apa dengan kakiku yang hanya tinggal sebelah ini sehingga aku diperlakukan seperti seekor anjing. Bahkan seekor anjingpun selalu diperlakukan dengan baik oleh tuannya.


Lalu teringat akan orang-orang yang aku kasihi, suaminku, putri-putriku. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa mereka merindukanku seperti halnya aku merindukan mereka? Apa mas Lukman percaya jika aku telah mati dalam kecelakaan itu sehingga tak sedikitpun berniat mencari keberadaanku?


Shireen, Sheerin, sudah sebesar apa mereka sekarang? Aku rindu memeluk kedua bayi kecilku. Pasti mereka sekarang telah tumbuh besar. Bagaimana rupa mereka? Apa mereka dalam keadaan baik-baik saja?


Bagaimana hari-hari yang Sheerin lalui bersama dengan Anya? Apa dia masih hidup? Atau perempuan tak berhati itu juga telah melenyapkan putriku? Aku mendengar kabar dari pria psikopat itu jika suamiku telah menikahi Anya sebulan setelah aku di nyatakan meninggal.


Patah, hatiku patah. Remuk, jantungku remuk. Kenapa Lukman begitu mudahnya melupakan aku dan menikahi Anya.

__ADS_1


Namun dibalik itu semua, aku mencoba untuk ikhlas, mungkin Tuhan telah menetapkan garis takdirku yang seperti ini. Aku selalu berdo'a agar Sheerin senantiasa selalu berada dalam lindungan Tuhan.


Shireen, aku yakin jika dia tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang sedikitpun di keluarga itu. Mereka begitu menyayangi Shireen, dan telah menganggap putriku itu bagian dari keluarga mereka. Pasti dia hidup dengan layak di tengah-tengah mereka.


Biarlah, biar aku yang menderita disini, tapi jangan dengan anak-anakku.


Dan akhirnya, di malam gelap ini hanya aku habiskan dengan menangis, meratap dan bersedih. Bukan hanya malam ini saja, malam-malam yang telah berlalu dan malam-malam yang akan datangpun hanya bisa aku habiskan dengan deraian air mata.


***


Hingga terdengar sebuah suara yang menggema dari atas langit, mengejutkan Sheerin. Dia bisa mendengar suara itu, namun tak dapat melihat wujud dari pemilik suara itu sendiri.


Apa ini?


"She, bangunlah. Aku janji aku nggak akan pernah mengabaikan kamu lagi."


"Aku sayang kamu She, tolong bangun, demi aku."


"Sheerin, bangun! Aku kangen. Apa kamu nggak kangen aku?"


Kenapa ini bisa terjadi? Dimana aku sebenarnya?


Buyar sudah semua bentuk kedamaian yang Sheerin rasakan selama ini, berganti dengan kegelisahan yang melanda hatinya. Jika suara itu mendesaknya untuk kembali, maka Sheerin mohon bawalah pergi jiwanya bersama dengan pemilik suara itu.


***


Tiga hari sudah semenjak Sheerin dipindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat inap ini. Namun, belum ada tanda-tanda perempuan itu akan bangun dari tidur panjangnya. Dia seperti terus saja asyik tenggelam di dalam dunianya sendiri.


Selama itu, Nindi belum berani pulang ke rumah Luis karena masih merasa takut kalau dirinya dipaksa untuk menandatangani surat gugatan cerai itu. Dia sama sekali tidak ada niatan untuk berpisah dengan kak Bima, begitupun sebaliknya.


Nindi menatap Levin yang sejak pertama kali Sheerin di pindahkan ke ruangan ini, tak pernah sedetikpun absen menggenggam tangan kembarannya itu. Paling-paling dia akan pergi untuk mengurus urusannya sebentar, setelah itu dia akan kembali dan duduk disamping Sheerin selama berjam-jam lamanya.


Seperti siang ini, di ruangan itu hanya sisa dirinya, Levin dan Sheerin yang masih belum sadarkan diri. Sedangkan kak Bima harus masuk kantor karena tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Setelah kemarin geng amburadul, tadi pagi giliran ibu dan kak Yuvi datang untuk menjenguk Sheerin. Mereka banyak mendo'akan agar Sheerin cepat sadar dan bisa kembali berkumpul ditengah-tengah mereka lagi.

__ADS_1


Nindi hanya bisa mengamini setiap do'a yang terucap.


Laki-laki itu tidak ada lelahnya, menatap lekat wajah pucat pasi milik Sheerin tanpa rasa jemu sedikitpun. Mungkin itu adalah bentuk ungkapan dari rasa bersalahnya. Hati Nindi mulai meluluh dengan sikap Levin yang seperti itu, sehingga perasaan murka yang selalu dia rasakan saat melihat Levin hilang seketika, kini digantikan dengan rasa iba.


Sisi lain dari dalam diri Nindi seperti mengatakan jika Levin benar-benar mencintai Sheerin.


Oke, kita lihat sejauh mana Levin akan memperjuangkan Sheerin.


"Makan siang dulu gih! Sheerin biar gue yang jagain." Seru Nindi ditengah kebisuan yang ada.


Levin sedikit menoleh kearah Nindi. Baru sadar jika selain dirinya dan Sheerin, juga ada Nindi disana. Saking tak perdulinya Levin dengan lingkungan sekitar, yang dia pikirkan sekarang adalah kondisi Sheerin yabg masih belum ada perkembangan.


"Nggak, nanti kalau dia sadar dan nyari gue gimana?" Jawab Levin.


"Hah, kepedean banget loe! Oke, biar gue yang beliin loe makanan. Tapi awas kalau sampai nggak loe makan! Gue bakalan sumpalin sama piring-piringnya ke mulut loe!" Bicara penuh ancaman.


Levin menatap Nindi dengan dahi yang mengerut, dari kalimat yang Nindi ucapkan, jelas sekali terdengar jika itu adalah bentuk perhatian. Hanya saja dia menyampaikannya dengan cara yang kurang tepat.


"Thanks ya kakak ipar." Ucap Levin tiba-tiba.


"Apa loe bilang? Hah, kakak ipar. Sebelum loe panggil gue pake sebutan itu, pastiin dulu Sheerin masih mau apa nggak sama loe!"


"Ini juga gue lagi nunggu." Ucap Levin sendu. Ahh, kenapa sih si tengil berubah jadi orang yang menyedihkan seperti ini?


Tapi, jika Nindi yang sedang berada diposisi Levin dan kak Bima yang sedang terbaring sakit, pasti dirinya takan bisa setegar Levin dalam menghadapi masalah ini.


KREK!


Tiba-tiba saja pintu ruangan rawat inap Sheerin di buka seseorang dari luar. Sontak itu membuat Levin dan Nindi menoleh bersamaan.


_________________


***Hayoo, kira-kira siapa yang datang??


Jangan lupa tinggalkan jejak anda setelah membaca***....

__ADS_1


__ADS_2