Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Habisi dia!


__ADS_3

"JELASKAN INI SEMUA PADAKU LUIS!" Ucap mama Anya penuh penekanan, membuat Luis semakin gelagapan.


"Aku bisa jelaskan semuanya Anya." Ucap Luis takut-takut.


"Ya, kamu memang harus menjelaskan semuanya Luis!" Tegasnya sekali lagi.


Luis sendiri dibuat kebingungan dengan desakan dari mama Anya. Harus dari mana dia mulai mengakui semuanya? Semua yang ia katakan pasti akan sia-sia. Anya akan tetap kecewa dan marah pada dirinya.


Melihat kegundahan di wajah Luis dan ia tak kunjung buka suara, membuat mama Anya naik pitam.


"Kamu tega Luis, kamu sudah membohongiku selama bertahun-tahun. Kamu bilang kamu telah melenyapkan dia malam itu. Tapi nyatanya? Dan dengan bodohnya aku selalu percaya kepadamu." Jika boleh jujur, hatinya serasa teriris belati tajam saat mengetahui jika Fira masih hidup selama ini. Saat orang yang ia pertahan mati-matian ternyata telah menghianati dirinya. Hati siapa yang tak terluka?


Dengan segenap jiwa dan raga ia mencintai Luis, ia rela mengorbankan hidupnya hanya untuk membalaskan dendam Luis terhadap keluarga Lukman. Tapi apa balasannya? Luis tega. Bagaimana bisa mama Anya menyembuhkan hatinya yang terluka hebat setelah ini?


"Bukan begitu Anya." Mencoba untuk menjelaskan, namun ia tak tau harus menggunakan alasan apa untuk membela diri. Ini semua terlalu mendadak, bahkan Luis belum sempat berpikir alasan apa yang harus ia gunakan agar membuat mama Anya percaya. Dia kira jika semua akan baik-baik saja, ia tak menyangka rahasianya akan terbongkar malam ini.


Fira tak menyangka jika sebenarnya Anya tidak tau tentang keberadaan dirinya disana. Fira bisa melihat kemarahan dimata Anya kepada laki-laki yang ia panggil Luis itu. Pantas saja selama ia menghuni rumah ini, Anya tidak pernah sekalipun datang menemuinya. Ternyata pria psikopat itu yang berinisiatif untuk mengurung Fira disana. Hanya untuk memuaskan hawa na*s*nya.


Bima masih tak percaya yang sedang menundukkan kepala di hadapan perempuan itu adalah ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya itu tunduk hanya pada seorang perempuan? Bukankah tak ada satu hal pun di dunia ini yang ayahnya itu takuti? Kenapa dia malah terlihat pasrah saat dimarahi mama Anya seperti itu?


Masih belum bereaksi, Bima ingin lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Nindi merasa senang karena kini mama Anya sedang memarahi Luis. Dia sudah sangat muak melihat perselingkuhan mereka selama ini, dia berharap jika setelah ini mereka akan segera insaf dan taubat.


Sedangkan Levin masih tak ingin melepaskan Sheerin dari dekapannya. Ia masih sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu, takut Sheerin mengalami trauma. Sheerin sendiri bahkan kini merasa malu untuk sekedar menunjukkan wajahnya di depan semua orang. Dia menyembunyikan wajahnya di ketiak Levin. Dia betah berlama-lama bersembunyi di sana. Ketiak Levin mengeluarkan wangi maskulin yang khas, membuat relax. Sheerin sangat menyukainya.


"Kamu tidak bisa menjelaskannya kan? Dasar PENGHIANAT, PEMBOHONG, tega kamu Luis, TEGA!" Mama Anya mendorong bahu Luis dengan kasar sambil menekan semua perkataannya. Emosinya sudah tak dapat di kendalikan. Sampai-sampai punggung Luis membentur tembok dan tak bisa berkutik lagi.


"Maafkan aku Anya. Aku tidak bermaksud membohongimu. Sungguh." Ucapnya bersungguh-sungguh. Namun mama Anya tak ingin lagi mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut Luis. Ia terlanjur kecewa dengan hanya melihat ternyata Fira masih hidup.


"Tolong maafkan aku Anya. Aku akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan ku." Ucap Luis kemudian.


"Baiklah kalau begitu. Habisi dia sekarang juga!" Ucap mama Anya sambil menunjuk ke arah Fira.


Semua tertegun, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja mama Anya katakan. Bima melangkah mendekati mama Anya dan Luis, dia merasa perlu menengahi perdebatan mereka. Atau ayahnya itu akan benar-benar memenuhi permintaan ibu sambung Sheerin itu.


"Anda tidak bisa menyuruh ayah saya untuk melakukan sebuah kejahatan. Anda tidak berhak atas ayah saya, ayah saya bukan boneka anda. Jadi tolong berhentilah meracuni pikiran ayah saya." Bima rasa, mama Anya lah yang selama ini telah meracuni pikiran ayahnya sehingga ayahnya kerap kali berbuat jahat.

__ADS_1


Raut wajah mama Anya yang semula tegang, kini melunak saat melihat Bima.


"Bima." Ucapnya lirih. Tangannya terulur, hendak meraih wajah yang sangat ia rindukan itu. Dan berhasil. Kedua tangannya kini menangkup wajah Bima.


Bima terdiam saat melihat kejanggalan dari tatapan mama Anya, matanya berkaca-kaca, sikapnya sangat aneh.


"Anya, apa kamu akan mengatakannya?" Tanya Luis.


"Ya, kamu adalah putraku." Ucap mama Anya yang dapat terdengar jelas oleh telinga Bima.


"Apa?" Tanya Bima untuk memastikan jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Kamu adalah putraku. Kamu berada di rahimku selama sembilan bulan. Aku yang menyusui mu selama dua tahun. Aku yang menimang mu saat kau menangis. Dan, kakiku lah yang kamu peluk saat aku akan pergi waktu itu." Ucap mama Anya yang membuat Bima terkejut. Benarkah ini semua? Bahkan Bima belum bisa mempercayai perkataan mama Anya sepenuhnya. Hatinya menolak. Bagaimana bisa mama Anya adalah perempuan yang melahirkannya? Sedangkan dalam mimpinya saja Bima tak pernah membayangkan memiliki sosok ibu pemaksa seperti mama Anya ini.


"Dan, hari ini tepat 26 tahun yang lalu aku melahirkan mu. Untuk pertama kalinya aku mendapat gelar ibu, kamu adalah anakku." Mama Anya meneteskan air mata, dia begitu lega karena akhirnya ia dapat mengatakan semuanya kepada Bima, jika Bima adalah darah dagingnya.


Deg!


Bima bahkan lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya. Begitupun dengan ayahnya, ayahnya sama sekali tak pernah ingat kapan dirinya dilahir kan. Namun, kenapa dari sekian banyak orang hanya mama Anya yang ingat akan hari istimewanya ini? Benarkah dia adalah ibu kandung Bima?


Pun dengan Nindi, yang tak bisa ia percaya adalah. Ia pikir, sifat murah hati dan lembut yang ada pada diri Bima itu turunan dari ibu kandungnya. Namun ternyata, ibunya pun sama jahatnya dengan Luis. Lantas, semua sifat baik yang melekat pada diri suaminya itu berasal dari mana?


"Maaf!" Bima melepaskan paksa tangan mama Anya yang menyentuh kedua pipinya. Kemudian setelahnya ia buang muka, menghindari tatapan penuh harapan dari mama Anya.


"Ayo Luis, habisi dia sekarang juga. Baru kita bertiga akan hidup bahagia setalah perempuan itu tiada." Mama Anya kembali mendesak Luis. Meskipun ia kecewa, namun ia masih mau memaafkan Luis. Asalkan Luis mau melakukan apa yang ia katakan.


Luis tak berniat sama sekali untuk melenyapkan Fira, Fira sama berartinya dengan Anya di hati Luis. Lantas, jalan mana yang harus ia pilih sekarang?


Nindi menahan amarah di dalam hatinya ketika mama Anya mendesak Luis untuk menghabisi ibu kandungnya.


Fira menggelengkan kepalanya, selama ini dirinya memang berharap jika Tuhan memcabut saja nyawanya. Bahkan ia kerap kali meminta pria psikopat itu untuk membunuhnya. Namun saat bertemu dengan kedua putri kembarnya, harapan itu kembali muncul kepermukaan. Ia berharap Tuhan memberinya umur panjang dan bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan putri-putrinya.


"Tega sekali kamu Anya."


"Tidak mungkin Anya. Ada banyak orang disini." Luis berbisik di telinga mama Anya.

__ADS_1


"Aku tidak percaya, jika aku dilahirkan dari rahim seorang perempuan berhati jahat seperti anda, ck!" Bima merendahkan. Membuat hati mama Anya patah. Apa yang ia takutkan terjadi. Bima menolak mengakui dirinya.


"Tapi itu adalah kenyataannya, aku adalah ibu kandungmu." Mama Anya menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.


"...ini, ini hadiah untukmu nak. Kamu pasti menyukainya. Terimalah. Aku menyayangimu." Wajah Mama Anya sudah lembab saat menyerahkan kotak sedang pada Bima. Bima menerimanya dengan tangan gemetar.


Kenapa ini? Kenapa hati Bima tersentuh saat melihat air mata yang terus mendesak keluar dari pelupuk mata itu. Bima tidak suka saat air mata itu keluar. Seperti ia tak suka saat melihat Nindi menangis.


Apa mungkin Bima mulai bisa menerima kenyataan? Tapi kenapa semudah ini? Sisi baik dalam diri Bima mulai bicara jika ia harus berlapang dada dan berdamai dengan takdir.


"Ayo Luis, tunggu apa lagi? HABISI PEREMPUAN ITU SEKARANG JUGA!" Mama Anya mendesak Luis lagi. Luis pikir Bima bisa mengalihkan perhatian mama Anya dan melupakan permintaannya itu. Namun Luis salah besar. Perempuan itu berambisi tinggi, apa yang telah menjadi keputusannya harus menjadi kenyataan.


Melihat Luis yang hanya diam saja, mama Anya semakin marah. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya.


Astaga!


Itu adalah sebuah pistol yang dulu Luis pernah berikan untuk mama Anya, ternyata dia masih menyimpannya. Apa yang akan dia lakukan dengan senjata api itu?


Semua orang yang ada di sana dibuat menganga dengan benda yang baru saja mama Anya acungkan ke udara itu.


"Jika kamu tidak mau menghabisinya, biar aku saja yang melakukannya." Mama Anya bersiap untuk menarik pelatuk pada pistol itu. Mata Fira terlihat membulat sempurna saat mama Anya mengarahkan senjata ke arahnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menghindar ia tak bisa, kakinya masih terpasung. Sedangkan kuncinya masih ada pada pria psikopat itu.


Apa ini akhir dari hidupnya? Apa umurnya cukup sampai disini? Apa ia akan berakhir di tangan mama Anya? Jika takdir sudah berkehendak, ia bisa apa. Bukankah selama ini ia ingin lenyap dari muka bumi ini? Namun mengapa sekarang rasanya menjadi sangat berat?


"JANGAN ANYA!" Luis berusaha untuk mencegah apa yang mama Anya lakukan, dia memegangi tangan perempuan itu agar menghentikan kegilaannya. Sehingga senjata yang ada di tangan mama Anya terayun-ayun di udara.


"Lepaskan aku Luis!" Karena Luis, fokus mama Anya menjadi buyar, pistolnya mengarah ke sembarang arah. Dan akhirnya...


DOOOOOORRR!


Pelatuk pun tertarik oleh jari mama Anya, sebuah peluru melayang. Menembus dan bersarang tepat di jantung...


___________________


Hayo, bersarang di jantung siapa? main tebak-tebakan dulu yuu 😙

__ADS_1


__ADS_2