
Saat Elizabeth naik keatas dia berpapasan dengan Reno yang berjalan ke bawah.
"Pagi, kakak ipar" Sapa Reno.
"Reno, kau di sini?" tanya Elizabeth.
"Iya, kakak ipar. Aku tidak pergi dari kemarin" jawabnya.
"Kenapa tadi tidak ikut sarapan bersama"
"Aku memang jarang sarapan, kakak ipar"
"Jangan biasakan untuk tidak sarapan, Ren. Tidak baik untuk kesehatan"
"Jangan khawatirkan aku, kakak ipar. Aku akan selalu baik-baik saja"
"Terserah kau saja, Ren. Apa kau akan ke kantor?"
"Tidak, kakak ipar. Tugasku sudah di pindahkan ke rumah" jawab Reno "Menjaga kakak ipar agar selalu aman" lanjutnya.
"Aku akan selalu baik-baik saja, Ren. Emang akan ada apa di rumah?
"Bahaya akan selalu ada, kakak ipar. Dimana pun, termasuk tempat yang kita anggap aman sekalipun. Aku saja kemarin sudah mendapatkan tikus. Walau hanya tikus kecil, sekarang aku sedang mencari induknya"
"Tikus, Ren? Disini ada tikus, Ren? Kok seram, ya" ujar Elizabeth ngeri "Di kosan aku dahulu saja tak ada tikus. Kau ini, ada-ada saja"
"Ais kakak ipar lah. Kakak ipar, Sudah sarapan?" tanya Reno memastikan.
"Ah bisa tidak jangan ada iparnya. Kakak saja sepertinya lebih bagus"
"Baiklah, Mba bagaimana?"
"Ah. iya Mba lebih bagus"
"Kalau begitu, aku akan keluar sebentar, Mba" pamit Reno.
"Sarapan dulu, Ren"
"Besok saja, Mba"
"Jika di rumah makanlah bersama"
"Akan saya usahakan"
"Em. Berhati-hatilah"
Elizabeth kembali ke kamarnya.
Setelah siap-siap Elizabeth berangkat ke kampus.
"Pagi" Sapa Bram biasa.
"Pagi, kak" balas Elizabeth yang langsung masuk ke mobil.
Mobil berjalan menelusuri kota bergerak mendekati kampus. Elizabeth melihat keluar jendela.
__ADS_1
Memandang orang-orang yang sibuk di pinggir jalan.
"Kak, nanti kakak ke kantor tidak?" tanya Elizabeth pada Bram yang masih fokus pada setirnya itu.
"Saya kurang tau, nyonya. Tapi kemungkinan iya. Apa ada yang anda ingin saya lakukan, nyonya?"
"Emang dari sananya formal, aku tidak akan bisa merubahnya"
"Ah tidak. Tidak ada"
Elizabeth mengurungkan niatnya meminta Bram, melihat keadaan Abraham. Elizabeth sudah menelpon Abraham sekali, namun tidak di angkat Abraham.
"Sudahlah mungkin dia sibuk?"
#####
Seminggu kemudian, Abraham sudah seminggu tidak pulang. Elizabeth hanya mendapatkan kabar dari Bram, jika tugas tuan besarnya itu sedang banyak di kantor.
Gelisah? Ya Elizabeth gelisah, Entah kenapa? Entah bosan atau karena rindu, tapi hatinya berkecamuk. Bukankah harusnya dia senang, dia bisa bermain dengan Reyhan dan Raisya, Serta bisa mengerjakan tugas kampusnya dengan tenang.
Tubuh Elizabeth serasa pegal-pegal, Dia juga rindu latihan dengan Sekertaris Kim dan Bram. Ah dia rindu pada latihan atau pada pelatihnya Abraham.
Di kampuspun mulai tersebar rumor aneh, namun Elizabeth berusaha untuk tidak mendengarkannya.
"Emang mereka tau apa tentang diriku? Akupun sendiri tidak tau mana yang benar dan salah"
Elizabeth saat mendengar kata ayah dari Reyhan dia mencari tau dari handphonenya, tapi tak ada satupun riwayat panggilan atau pesan dari ayah itu. Elizabeth juga sudah mencari nomor-nomor yang tersimpan, tak ada juga dari orang selain teman kampusnya. Benarkah dia masih punya ayah? Namun ingatannya tentang ayah masih melekat di ingatan Elizabeth. Indonesia? Itulah dimana jawaban semua pertanyaannya. Namun saat ini mana mungkin dia kembali ke Indonesia?.
Elizabeth juga tidak tau harus bertanya pada siapa? Reyhan dan Raisya atau pada Abraham dan orang-orang di sini? Dari yang Elizabeth ingat mereka sangat berbeda, Perbedaan itu bahkan hampir 100%.
"Iya, pak. Saya akan segera turun" jawab Elizabeth setengah berteriak.
Elizabeth turun kebawah. Melihat nyonya nya itu, Pak Run langsung menarik kursi untuk Elizabeth duduk.
"Abraham tidak pulang lagi, pak?"
"Iya, nyonya"
"Oh. Reno mana, pak?"
"Aku di sini, Mba" ucap Reno yang mendekat dan duduk di salah satu kursi. Mengambil makanannya dan makan.
"Kau dari mana saja, Ren?"
"Dikamar, Mba" jawab Reno.
"Kau seperti sedang di pingit saja, Ren. Di kamar terus"
"Pingit? Apa itu pingit?"
"Ah pingit itu. Untuk wanita yang mau menikah dia tidak boleh keluar rumah, kerjaannya bisanya di kamar. Aku juga kurang tau, Ren. Soalnya aku bukan orang Jawa"
"Jawa? Apa itu Jawa"
"Jawa itu salah satu suku di Indonesia. Bermainlah ke sana, di sana sangat indah"
__ADS_1
"Apa Mba pernah ke Indonesia?"
"Iya, Ren. Aku tinggal di sana selama ini"
"Benarkah, kakak ipar?" tanya Reno tidak percaya.
"Iya. Kau tau Ren orang-orang Indonesia itu ramah dan Indonesia juga negara yang sejuk"
"Ah kapan-kapan saya akan berlibur ke sana"
"Kapan, Ren? Apa kau akan mengajak ku?"
"Tentu! Kalau Mba mau ikut. Tapi tidak sekarang ya Mba Pekerjaanku masih banyak dan itu juga harus dengan izin kakak"
"Iya, Ren. Apa kau tidak pernah ke kantor, Ren? Kau tidak bertemu dengan kakakmu?"
"Tidak, Mba. Aku di rumah saja. Ada apa, ya? Mba rindu, ya?!"
"Tidak! Tidak! Aku hanya ingin tau keadaannya saja"
"Kakak baik-baik saja kok, Mba"
"Bagaimana kau bisa tau?!"
"Aku menghubunginya lewat telepon. Mba coba telepon saja dan tanya keadaanya"
"Telepon, ya?!" Elizabeth terdiam, teleponnya pada Abraham tidak dia angkat dan chat nya tidak dibalas.
"Mba? Ada apa, Mba?" tanya Reno karena Elizabeth diam.
"Ah syukurlah kalau dia baik-baik saja" Eizabeth meneruskan makannya dan diam.
Suasana pun jadi sunyi.
"Aku langsung ke kamar, Ren" pamit Elizabeth.
"Terimakasih makanannya, pak" Ucap Elizabeth pada pak Run.
"Anda belum meminum obat anda, nyonya"
"Apa aku harus meminumnya tiga kali sehari, pak? Sebenarnya itu obat apa sih, pak?" Tanya Elizabeth yang mulai bosan meminum obat itu. Pak Run terdiam dia tidak tau harus menjawab apa?
"Minum saja, Mba"
"Tapi obat apa, Ren?"
"Mba sedang melupakan kami kan?"
"Tapi obat ini sebelum pemeriksaan ke dokter, Ren"
"Itu obat pilihan kakak, pasti yang terbaik untuk, Mba"
"Aku tak ingin meminumnya" Elizabeth pun melangkah pergi tanpa meminum obatnya.
"Nyonya anda..." ucap pak Run terhenti karena di hentikan Reno.
__ADS_1