
"Ma, Sheerin mohon buka pintunya! Jangan usir Sheerin, Sheerin takut ma!" Namun makhluk tak berhati itu tak mau membuka telinga untuk sekedar mendengar jeritan penuh kepiluan dari Sheerin.
Tuhan, aku tau aku salah. Tapi tak bisakah kau tak memberiku waktu dari satu masalah ke masalah yang lain? Kenapa semua terkadi secara beriringan? Membuat hati rapun ini semakin hancur.
Sheerin masih belum beranjak, berharap mama Anya mau berbelas kasih dan kembali membiarkannya tinggal disana.
Hingga dia lelah, hatinya juga jiwanya. Kenapa dirinya selalu saja diterpa nestapa dan dilanda lara? Kata orang roda kehidupan itu berputar? Tapi kenapa Sheerin saja yang terus menerus berada diposisi terendah ini? Apa Tuhan lupa untuk memutar roda kehidupan yang dijalani Sheerin?
Lalu, kemana sekarang dia harus pergi?
"Non, bibi pamit ya! Maaf karena bibi nggak bisa berbuat apa-apa sekarang." Bi Iin menghampiri Sheerin dan menyentuh pundaknya, membuat Sheerin terpaksa harus menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
"Iya bi, nggak apa-apa, bibi hati-hati dijalan ya! Jangan lupain Sheerin!" Ucap Sheerin, reflek dia memeluk bi Iin yang sudah merawatnya sedari kecil.
Tangis haru kembali terdengar dari keduanya. Ternyata Sheerin bukanlah orang yang pandai menyembunyikan perasaannya, hatinya serapuh dandelion, sedikit saja diterpa angin, sudah dipastikan dia akan hancur lebur menjadi serpihan tak berarti.
"Pasti non, bibi nggak akan pernah melupakan non. Terus non mau pergi kemana sekarang?" Tanya Bi Iin.
"Sheerin nggak tau bi. Sheerin juga bingung. Huhuhu." Sudah berada diujung keputusasaan, Sheerin menangis meraung-raung dalam pelukan bi Iin. Apa lagi yang bisa dia pertahankan dalam hidup ini? Ketika satu persatu yang dia miliki perlahan pergi meninggalkannya, menyisakan sebuah kesakitan yang mungkin takan pernah bisa terobati.
"Maaf non, bibi nggak bisa bawa non pergi sama bibi, rumah bibi di kampung kecil, non juga pasti nggak biasa tinggal dikampung."
"Ya, nggak apa-apa bi, Sheerin bisa kok sendiri." Pura-pura tegar lagi, padahal dia sendiri begitu gelisah, bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya setelah ini?
"Jaga diri non baik-baik ya! Bibi pamit sekarang." Sekali lagi, Bi Iin menyentuh kepala Sheerin, Sheerin mengangguk pelan, berusaha menampilkan senyum palsu agar bi Iin tak begitu berat untuk meninggalkannya.
***
__ADS_1
Sheerin berjalan sendirian di atas trotoar, sorot matanya terlihat kosong menatap kearah depan. Waktu hampir senja kala ini, tak terasa dia menghabiskan banyak waktu memohon belas kasih dari mama Anya.
Namun nyatanya mama Anya terlalu kejam, dia takan semudah itu merubah jalan di pikirannya. Mencampakkan Sheerin seperti ini mungkin adalah cita-citanya sedari dulu. Sheerin akui, Sheerin memang sudah kalah disini, mama Anyalah pemenangnya. Semoga dengan ini ibu tirinya itu bisa berbahagia di atas penderitaan yang di rasakan Sheerin.
Sheerin ikhlas menjalani ini semua, asalkan itu bisa membuat mama Anya tak lagi memiliki alasan untuk menyakitinya. Sheerin berharap ini adalah terakhir kalinya dia merasakan kesakitan. Dia berpikir untuk memulai semuanya dari awal, hidup bersama dengan orang-orang yang bisa menerima kehadirannya dengan tulus.
Dan kini, Sheerin hanya memiliki satu tujuan, Nindi. Ya, Nindi. Hanya Nindi satu-satunya harapan Sheerin, Nindi satu-satunya keluarga yang Sheerin miliki.
Sheerin menyeret koper yang sedari tadi setia mengikuti langkah kakinya. Dua buah tas berukuran cukup besar dia tenteng di tangan kirinya. Masih ada beberapa tas lagi sebenarnya, namun sengaja ia tinggalkan dihalaman rumah karena tangan kecilnya tak mampu lagi menopang lebih banyak barang.
Sepintas jika ada orang memperhatikannya dengan seksama, Sheerin sudah terlihat seperti gembel. Dress putih yang dia kenakan terlihat kotor akibat jatuh saat didorong mama Anya tadi. Rambutnya sudah tidak berbentuk, habis diterpa angin sepanjang perjalanan. Alas kaki yang dia pakai juga mendadak putus, mungkin alas kakipun merasa lelah mengikuti permainan takdir hidup Sheerin. Sehingga sekarang Sheerin hanya beralaskan satu alas kaki saja.
Wajahnya, jangan ditanya! Wajahnya kini terlihat sangat menyedihkan. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia buang percuma hanya untuk menangisi takdirnya. Tapi dengan begitu tega takdir terus saja mengolok-olok dirinya.
***
"Dah siap?" Tanya Levin.
"Udah dong, yok!"
Motor Levinpun melesat, membelah jalanan kompleks yang tidak begitu ramai kendaraan.
Deg!
Belum satu kilo meter motornya melaju, hatinya sudah merasa tersayat saat melihat sosok yang dia kenal betul tengah berjalan sendirian sambil menyeret sebuah koper. Terlihat sangat menyedihkan dengan wajahnya yang begitu sembab.
'Apa yang terjadi, dan apa yang dia lakukan disini?' Tak sadar kecepatan motor Levin menurun karena fokusnya kini hanya tertuju pada perempuan itu.
__ADS_1
"Ehh Lev, berhenti dulu, itu kayanya si Sheerin deh." Ternyata Clarissa juga menyadari itu. Dan akhirnya motor Levinpun berhenti dengan sempurna.
Sheerin menoleh saat menyadari sebuah motor berhenti tepat di sampingnya.
Astaga!
Cobaan apa lagi ini? Kenapa Sheerin harus melihat laki-laki yang dia kasihi tengah bersama dengan perempuan lain? Dan, itu adalah Clarissa.
Astaga! Astaga! Astaga!
Kenapa Sheerin bisa sebodoh ini? Dia melupakan satu hal, jika kak Bima dan Clarissa itu bertetangga.
"Heh! Loe habis diusir ya sama kak Bima? Hahaha, kasihan banget sih loe. Pasti kak Bima sekarang baru sadar, gimana kelakuan loe yang sebenernya? Kelakuan loe kan busuk. Dia pasti nyesel udah nikahin loe. Hahaha." Tawa Clarissa terdengar begitu renyah, sepertinya dia bahagia sekali melihat Sheerin terpuruk seperti ini.
Apa? Clarissa menganggap jika perempuan yang sedang berdiri di hadapannya itu adalah istrinya kak Bima, Nindi begitu? Padahal Levin hafal betul jika itu adalah Sheerin, apa Clarissa benar-benar tidak tau jika Sheerin memiliki kembaran?
Dan kenapa Sheerin hanya diam saja saat Clarissa menganggapnya Nindi? Levin benar-benar tak habis fikir.
Sheerin tertunduk, merasa malu, kenapa Levin harus melihat dirinya dalam keadaan seperti ini lagi? Kira-kira apa yang Levin pikirkan tentang Sheerin? Dia pasti jijik dan juga ilfeel terhadap dirinya. Bolehkah Sheerin lari? Lari dari semua kenyataan ini? Bisakah angin menerbangkan dirinya untuk menghindar dari situasi ini?
"Loe itu bikin ulah apa lagi sih? Dan, loe itu udah diusir sama kak Bima, sekarang loe mau balik lagi kesana? Nggak tau malu banget loe ya! Gerbang kompleks itu sebelah sana, bukan kesana!" Clarissa menunjuk arah yang akan dia tuju, berlawanan dengan arah Sheerin.
"Nggak kok Ris." Menjawab seperti orang bodoh. Bahkan Sheerin ingin menampar dirinya sendiri sekarang. Kenapa dia seolah mati kutu jika berhadapan dengan dua orang ini? Bodoh bodoh bodoh!
________________
Lanjut kebawah!
__ADS_1