Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
39


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Tuan besar, anda akan ada seminar di kampus nyonya, tuan" ujar Sekertaris Kim yang baru saja masuk ke ruangan Abraham. Tugas Abraham telah selesai, saat ini dia sedang membelakangi Sekertaris Kim dan melihat kearah luar jendela, jendela yang sama dengan Elizabeth waktu itu.


"Apa sudah siap semua, Kim?" tanya Abraham yang tidak merubah posisinya.


"Semua berjalan seusai dengan rencana anda, tuan besar"


"Em. Ayo kita berangkat!"


"Baik"


Sekertaris Kim dan Abraham berangkat ke kampus Elizabeth, mereka masuk ke jalur yang sudah di siapkan oleh pihak kampus.


Di sisi lain.


Elizabeth, Raisya, dan Reyhan, masih istirahat di sebuah kantin di kampus itu, dan sebentar lagi mereka akan masuk ke pelajaran ke dua.


"Boleh tidak sih? Kita bolos aja. Gua males loh ikut seminar" ujar Reyhan.


Kuliah mereka nanti akan diganti dengan seminar. Benar, seminar yang Abraham isi. Tema yang bagus untuk membawa mereka ke dunia kerja, membuat dosen Elizabeth memerintahkan semua muridnya untuk mengikuti seminar tersebut untuk mengganti pelajaran mereka.


"Ada toh! Gua mah mau ikut seminar. Loe tau engga sih Rey suapa pengisi seminar itu?"tanya Raisya.


"Mana gua tau. Tiba-tiba banget engga sih? Baru kemarin bilang akan ada seminar dan ternyata sekarang seminar nya. Dan gua engga peduli" jawab Reyhan.


"Emang kamu tau siapa, Sya?" Elizabeth mulai buka suara.


"Taulah" ujar Raisya sombong "Itu loh si penguasa sukses yang baru naik daun. Yang pernah posternya loe tunjuk itu loh, Lis" jawab Raisya.


"Abraham?" ucap Elizabeth pelan terkejut. Sudah seminggu lebih hilang dan sekarang datang di kampusnya.


"Nah benar. Tuan Abraham D. R." Jelas Raisya.


" R itu apa, ya? Jadi penasaran. Jangan-jangan R nya itu Raisya lagi" lanjut Raisya.


"Ngaco loe, Sya. R? Gua juga R" balas Reyhan.


"Dih. Engga bisa gitu, lihat temannya senang dikit aja" ucap Raisya penuh penekanan. "Abraham D. R. Dnya untuk Daken, tapi Rnya menjadi misteri" Jawab Raisya "Tapi tunggu! Lis gua rasa emang ada kemiripan sih sama pacar loe itu. Siapa nama pacar loe?"


"Ya samalah orang satu" ucap Elizabeth dalam hati


"Abraham" jawab Elizabeth.


"Jangan-jangan...." Ujar Raisya seakan menebak


"Ah loe ngaco low, Sya. Loe ngga baca berita, ya?..."


"Berita apa, Rey?" Tanya Elizabeth penasaran.


"Dia itu gay" jawab Reyhan cepat.


"Loe jangan ngomong sembarangan, Rey. Gua dengar bulan lalu dia hampir menikah tau. kamu tuh yang engga baca berita" jelas Raisya.


"Kan cuma hampir. Katanya sih ceweknya pergi karena tau dia gay"


"Kalau loe engga tau kebenarannya mending diam Rey. Engga bagus menyebarkan gosip yang salah tau!" Ucap Elizabeth yang kesal mendengar ocehan Reyhan.


"Tapi itu aku d..."


"Cari dulu kebenarannya baru ngomong" potong Elizabeth.


"Eh udah udah yuk. Kita berangkat. Seminarnya di Aula tau" Raisya memotong untuk memberhentikan pertengkaran kedua sahabatnya itu yang pastinya akan sangat panjang, sedangkan waktu sebentar lagi masuk.


"Yuk!"


Mereka bertiga melangkah bersama.


"Suts itu loh" ujar 1


"Yang mana?" tanya 2


"Yang tengah. Yang pakai baju coklat" jawab 1


"Oh itu. Emang anak orang kaya kali. Lihat deh pakaiannya harganya ratusan juta"jawab 3


"Kok loe tau harganya?" tanya 1 dan 2 bersamaan


"Gua..."


"Iya iya gua percaya, kalau loe mah. kalau dia gua engga percaya. Gua dengar ya, dia itu mahasiswi dari Indo yang masuk sini aja jalur beasiswa, mana mungkin..." potong 4


"Teman gua, bilang pas awal-awal dia malah biasa aja, malah seperti rakyat jelata"

__ADS_1


"Ada yang bilang dia jadi simpenan orang kaya. Punya suggar dady gitu"


"Loe tau dari mana?"


"banyak yang bilang, dia pernah dianter sama mobil limitid edision yang hanya ada 3 di dunia"


"Masak sih?"


"Dan tau engga pemiliknya itu pengusaha yang baru naik daun yang akan isi seminar nanti"


"jangan2"


"ngaco loe. Engga mungkinlah tuan Abraham. Engga selevel kali"


"lalu yang 2 milik siapa?"


"Yang satu di Indo milik tuan misterius"


"Tuan misterius?" ucap orang di sana kompak


"Masak kalian engga tau? Tuan Sasendri. dan yang satunya lagi milik tuan Dalton"


"Tuan Dalton itu yang istrinya 5 itu ya? apalagi aku dengar dia juga banyak jadi sugar dady beberapa artis dan model loh"


"nah kemungkinan hanya itu kan?"


"Dih jaman sekarang yang penting kaya ya. gua mah ogah sama tuan Dalton udah gendut, tua, botak lagi"


Disisi lain.


Raisya mendengar itu jadi penasaran, walaupun dia sudah tau teman dia Elizabeth lah yang dijadikan permbincangan, tapi sampai sekarangpun Elizabeth engga membuka suara membuat Raisya maupun Reyhan geram.


"Mereka ngomongin loe, Lis"


"Biarin aja" jawab Elizabeth santai.


"Yang mereka bilang itu benar apa engga, Lis?" tanya Reyhan yang penasaran


"Menurut kamu, Rey?" bukannya menjawab Elizabeth malah balik bertanya pada Raihan.


"Ya... Ya enggalah, Lis. Gua percaya sama loe" Potong Raisya yang percaya dengan Elizabeth


"Emang engga"


Elizabeth mengehembuskan nafasnya kuat


"Kalau loe engga mau konfirmasi, gua yang akan bilang sama mereka"


"Eh eh engga usah, Rey. Loe mau ngomongin apa?. Biarin aja mereka terus ngomong, Rey. Lagipula mereka engga mengganggu kan, ya?"


"Engga mengganggu kek mana, Lis. Itu sangat mengganggu tay"


Elizabet memijat keninggnya "Sebenarnya akar dari semua adalah kamu abraham dan kamupun menghilang"


"Loe engga apa-apa, Lis?" tanya Reyhan khawatir


"Aku baik-baik aja kok, Rey"


"Sya buku ekonomi yang kamu pinjam udah kamu balikin sama aku kan?" Tanya Elizabeth pada Raisya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Udah engga sih? Keknya udah, Lis"


Elizabeth membuka tasnya dan mencari buku itu tidak ada.


"Coba kamu periksa di tas kamu, Sya" perintah Elizabeth pada Raisya.


Raisya membongkar tasnya dan juga tidak menemukan buku Elizabeth.


"Gua engga buka tas tadi dan engga masukin apa-apa. Jadi engga mungkin ada" ujar Reyhan namun tetap membuka tasnya. " Nih engga ada akan" Reyhan menunjukkan isi tasnya dan hanya ada 3 buku tulis dan 1 buku cetak.


"Keknya lupa deh Lis. Ketinggalan di meja tadi" ucap Raisya yang merasa bersalah.


"Kamu ini kebiasaan deh, Sya"


"Yok kita ambil" Raisya mengandeng tangan Elizabeth.


"Udah biar aku aja. Kalian ke ruang seminar duluan. Cupin bangku"


"Sorry ya Lis"


"Tenang. Sekalian aku juga mau beli minum" balas Elizabeth dan kembali berjalan ke kantin tempat tadi mereka makan dan mengobrol.


Raisya dan Reyhan melanjutkan langkahnya. Tidak jauh dari situ Reyhan memberhentikan langkah.

__ADS_1


"Sya loe aja deh yang ngecupin bangku. Gua susul Elizabeth. Gua takut dia di bully. Loe taukan berita yang tersebar tentang dia"


"Oh iya ya. Sudah cepat sana. Nanti aku yang ngecupin bangkunya untuk kita bertiga"


"Oke" Reyhan berlari mengejar Elizabeth.


"Elis, Ini ada apa ya?!" Ujar Reyhan yang telah di samping Elizabeth.


"Loh kok kamu ke sini, Rey?"


"Oh. Gua mau nemenin loe. Ngomong-ngomong mereka siapa, Lis?" Tanya Reyhan pada Elizabeth untuk 2 orang yang ada di dekat Elizabeth saat ini.


"Reyhan, ya? Perkenalkan gua Sugya" ujar seseorang mengulurkan tangan pada Reyhan. Reyhan melirik sekilas Elizabeth. Elizabeth hanya tersenyum pada Reyhan.


"Gua Reyhan. Sahabatnya Elizabeth" jawab Reyhan tanpa menerima uluran gadis itu.


"Dih engga usah songong amat sih Rey. Kamu itu tampan tau. Kok mainnya cuma sama orang kek gitu sih aRey. Mending sama kita-kita. Iya engga Bin" ucap Sugya pada temannya itu.


"Iya Rey. Mending sama kita-kita Rey. Jelas..." Ucap seseorang yang lain


"Jelas? Orang kek gitu? Maksudnya apa ya?" Tanya Reyhan ketus.


"Jelas wanita baik-baik lah"


"Kek kalian wanita baik-baik?" Tanya Reyhan sambil melihat penampilan 2 gadis itu. "Yang jelas wanita baik-baik itu kek gini" lanjutnya sambil menunjuk Elizabeth


"Oh loe belum tau ya.? Dia itu cewek simpanan om om"


Reyhan melirik kearah Elizabeth.


"Saya peringatkannya sama kamu dan kamu sekali lagi. Saya bukan cewek simpanan! Kalau kalian belum tau kebenarannya mending diam deh" balas Elizabeth.


"Mana ada maling mau ngaku?! Ya ngga sih?" Sarkas Sugya.


"Yang pertama saya bukan simpanan yang kedua sepertinya bukan urusan anda. Ini hidup hidup saya, saya tidak pinjam uang anda. saya bahkan tidak kenal anda. Urus kehidupan anda tersebut, baru urus orang lain" ucap Elizabeth. Reyhan langsung menatap Elizabeth terkejut


"Ingat ya?! Sebelum menyebarkan gosip engga benar mending cari tau dulu kebenarannya. Engga baik tau!" Balas Reyhan dengan bahasa Elizabeth tadi.


"Udahlah Lis ayok. Kita udah telat nih" Reyhan menarik tangan Elizabeth.


"Dih Sug songong amat tuh anak. Jelas-jelas semua orang tau kalau dia itu simpanan. Masih juga engga ngaku"


"Tenang Bin. Gua udah punya rencana bagus"


#######


"Loe engga apaa-apa, Lis?"


"Gua baik-baik aja kok, Rey"


"Mereka sekarang sudah mulai berani, Lis. Loe harus buktikan sama mereka, kamu bukan seperti yang mereka katakan, Lis"


"Ada saatnya kok, Rey. Jujur aku juga bingung"


Benar saja buku yang di maksud memang tertinggal di kursi tempat mereka nongkrong tadi.


"Emang kebiasaan Raisya, Lis. Sembarangan"


"Yang penting barangnya engga hilang, Rey" balas Elizabeth


"Udah yuk! Buru, hampir telat nih!" Elizabeth mempercepat langkahnya.


"Lis?" Reyhan menghalangi jalan Elizabeth.


"Kenapa, Rey? Kita udah terlambat loh".


"Loe engga capek tah dengar omongan mereka? Gua aja capek, Lis" ujar Reyhan.


"Ada di dunia ini yang membuat kita bingung, Rey. Mana yang benar dan mana yang salah? Aku juga bingung, Rey, akulah yang salah atau takdir yang salah. Aku juga bingung Rey, kenapa dari sekian negara harus Amerika yang aku datangi"


"Maksudnya apa, Lis? Gua engga ngerti"


"Kadang ada yan semakin kita diberi penjelasan, maka seseorang akan semakin bingung" jelas Elizabeth menambah kebingungan Reyhan


"Rey?"


"Iya, Lis?"


Elizabeth seakan berhenti untuk berfikir.


"Em. Engga jadi deh. Yuk telat lag kita ini"


Ujar Elizabeth menerobos Reyhan. Reyhan hanya menggelengkan kepalannya saja.

__ADS_1


__ADS_2